Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Prevalensi Nematoda Gastrointestinal pada  Kambing Pasar Hewan di Kota Payakumbuh, Suatu Wilayah Dataran Tinggi di Sumatra Barat Triana Guspita Sari; Engki Zelpina
Jurnal Veteriner Vol. 26 No. 4 (2025)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Parasit cacing pada saluran pencernaan merupakan salah satu permasalahan utama yang berdampak negatif terhadap kesehatan dan produktivitas ternak, khususnya ruminansia kecil seperti kambing. Infeksi cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan, gangguan pertumbuhan, serta menurunnya daya tahan tubuh ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi serta mengidentifikasi jenis nematoda berdasarkan telur cacing yang terdapat pada feses kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh, suatu wilayah dataran tinggi di Sumatra Barat. Penelitian dilakukan pada bulan September hingga Desember 2023 di Pasar Hewan Kota Payakumbuh dan di Laboratorium Kesehatan dan Penyakit Hewan Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh. Sebanyak 50 sampel feses kambing diperiksa menggunakan metode metode apung (flotasi) yang dimodifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil identifikasi nematoda gastrointestinal pada kambing di Pasar Hewan Kota Payakumbuh terdiri atas empat jenis yaitu, Ostertagia sp., Haemonchus contortus, Trichostrongylus sp., dan Trichuris ovis. Prevalensi infeksi nematoda gastrointestinal adalah sebesar 20%, berdasarkan kelompok umur, prevalensi tertinggi ditemukan pada kambing berumur lebih dari dua tahun sebesar 25%, diikuti oleh kambing umur 1–2 tahun sebesar 19,35%, dan kambing umur kurang dari satu tahun sebesar 14,28%, berdasarkan jenis kelamin, prevalensi pada kambing jantan sebesar 21,42% dan betina sebesar 19,44%. Hasil ini menunjukkan pentingnya pengendalian infeksi nematode gastrointestinal untuk meningkatkan kesehatan dan produktivitas ternak kambing di pasar hewan.  Simpulannya, prevalensi nematoda gastrointestinal kambing di Payakumbuh sebesar 20%, serta jenis cacing yang menginfeksi adalah Ostertagia sp., H. contortus, Trichostrongylus sp., dan T. ovis.
Kualitas Telur Ayam yang Diberi Imbuhan Infusa Daun Tapak Liman dan Daun Sirsak dalam Air Minumnya Amir, Yurni Sari; Zelpina, Engki; Sujatmiko, Sujatmiko; Lefiana, Delli; Noor, Prima Silvia; Siregar, Ramond; Lutvi, Ulva Mohtar; Gelagar, Ario Ridho; Yuska, Dian Aulia Tri
Jurnal Veteriner Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19087/

Abstract

Telur merupakan salah satu pangan sumber protein hewani yang disukai masyarakat pada semua kalangan usia. Produksi telur ini akan selalu meningkat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pemberian pakan tambahan (feed supplement) dan pakan imbuhan (feed additive) pada pakan ayam dilakukan untuk meningkatkan produksi telur. Hal yang perlu diperhatikan pada produksi telur adalah kualitas telur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas telur ayam dengan suplementasi infusa daun tapak (Elepanthopus scaber L) dan daun sirsak (Annona muricata L) dalam air minum. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan dan Penyakit Hewan, Politeknik Pertanian Negeri Payakumbuh, dengan telur ayam yang digunakan sebanyak 36 butir, diproduksi dari ayam petelur berumur 80 minggu.Umur telur yang digunakan adalah berkisar antara ayam 1-7 hari. Perlakuan pada ayam petelur adalah penambahan infusa daun tapak liman, infusa daun sirsak dan keduanya ke dalam air minum. Ransum yang diberikan terdiri atas dedak padi, jagung giling, bungkil kedelai, kosentrat untuk ayam petelur (layer) dan mineral. Rancangan yang digunakan adalah RAL dengan enam perlakuan dan enam ulangan. Perlakuannya antara lain: A = infusa tapak liman 2% dalam air minum, B = infusa daun sirsak 2% dalam air minum, C = infusa daun sirsak 1% dan tapak liman 1% dalam air minum, D = infusa daun sirsak 1% dalam air minum, E = infusa tapak liman 1% dalam air minum dan F = kontrol (tanpa pemberian infusa pada air minum. Hasil penelitian didapatkan suplementasi infusa daun tapak liman (E. scaber L) dan daun sirsak (A. muricata L) dalam air minum sampai dengan kadar 2% tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata (P>0,05) terhadap indeks putih telur, indeks kuning telur, haugh unit dan warna kuning telur, dan suplementasi ini kurang memengaruhi kualitas telur ayam.