Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Optimization of Mango Flour Formulation (Mangifera indica L) Arumanis Variety using Response Surface Methodology Yudiastuti, Silvia Oktavia Nur; Budiati, Titik; Wibisono, Yossi; Ardhiarisca, Oryza; Kusumasari, Findi Citra; Handayani, Wiwik; Hariyanti, Yesi Indah Dwi Kusuma
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol. 13 No. 4 (2024): December 2024
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v13i4.1334-1343

Abstract

Mango (Mangifera indica L) is one of commodities with high food loss rate due to the characteristics of mango, which is easily spoiled and difficult to store. One of the strategies to reduce mango food loss caused by post-harvest handling is the diversification of mango products. Mango flour can be developed to minimize mango food waste and enhance its added value. This study aimed to determine the optimum formulation for making mango flour. The study used Response Surface Methodology (RSM) type Central Composite Design (CCD) to optimize mango flour yield, using three factors: rice flour concentration (X1: 2 5%), maltodextrin concentration (X2: 2-5%), and tapioca flour concentration (X3: 2-5%). The significance of response was carried out using analysis of variance (ANOVA) at the 95% confidence level (p<0.05). The linear model was the model suggested by software. Model analysis showed that rice flour and tapioca flour concentration significantly affected mango flour yield, while maltodextrin did not have a considerable impact. Based on the results of this study, the optimum conditions in making mango flour were found using rice flour concentration of 4.94%, maltodextrin concentration of 2.25%, and tapioca flour concentration of 4.88% to produce mango flour yield of 20.9578%. Keywords: Mango flour, Optimization, Response surface methodology, Yield.
Nutrien Residu Biokonversi Maggot Black Soldier Fly pada Berbagai Ukuran Partikel Media dan Potensi Pemanfaatannya sebagai Pakan Ternak Utomo, Budi; Anwar, Saiful; Surateno; Wibisono, Yossi; Dewanto, Wahyu Kurnia; Wahyono, Agung; Subagja, Hariadi; Nugroho, Wendy Triadji; Nurfitriani, Rizki Amalia; Sriwahyuningsih; Hadi, Gading Noerratama
Jurnal Nutrisi Ternak Tropis Vol. 9 No. 2 (2026): JNT Jurnal Nutrisi Ternak Tropis September
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/

Abstract

Biokonversi limbah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF; Hermetia illucens) menghasilkan biomassa larva dan material residu yang masih berpotensi mengandung komponen nutrien bernilai. Karakteristik fisik substrat, khususnya ukuran partikel, diperkirakan memengaruhi proses biokonversi serta distribusi nutrien antara biomassa larva dan residu yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ukuran partikel substrat terhadap proses biokonversi, bobot maggot, hasil residu, serta kandungan nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) pada residu sebagai informasi awal mengenai potensinya sebagai bahan pakan ternak. Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial 3 × 2 dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah ukuran partikel substrat yang terdiri atas bahan tanpa penggilingan (T0), penggilingan menggunakan ukuran 40 mesh (T1), dan penggilingan menggunakan ukuran 60 mesh (T2), sedangkan faktor kedua adalah kondisi sebelum (A1) dan setelah (A2) biokonversi. Substrat yang digunakan terdiri atas limbah organik rumah tangga, sisa pakan ternak, dan kotoran domba. Parameter yang diamati meliputi waktu biokonversi, pH, bobot maggot, bobot residu, serta kandungan N, P, dan K. Data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada taraf P<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel substrat berpengaruh nyata terhadap parameter yang diamati. Perlakuan T2 menghasilkan waktu biokonversi tercepat, yaitu 1,60 hari, dengan bobot residu akhir sebesar 30,00 g. Konsentrasi N, P, dan K tertinggi pada residu setelah biokonversi juga diperoleh pada perlakuan T2, masing-masing sebesar 45,33; 63,67; dan 147,33 ppm. Sebaliknya, bobot maggot akhir pada T2 sebesar 29,67 g, lebih rendah dibandingkan dengan T0 yang mencapai 187,67 g. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ukuran partikel substrat memengaruhi pemanfaatan substrat dan distribusi nutrien selama proses biokonversi BSF. Residu yang dihasilkan masih mengandung komponen nitrogen dan mineral yang berpotensi untuk dievaluasi lebih lanjut sebagai bahan pakan ternak. Namun, diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap komposisi nutrien, kecernaan, palatabilitas, dan keamanan sebelum residu tersebut dapat direkomendasikan untuk digunakan dalam ransum ternak.