Claim Missing Document
Check
Articles

Analisa Metode Kagan-Rodda Terhadap Analisa Hujan Rata-Rata dalam Menentukan Debit Banjir Rancangan dan Pola Sebaran Stasiun Hujan di Sub DAS Amprong Dermawan, Very; Hoesein, Abdul Azis; Firmansyah, Wahyu
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 1, No 2 (2010)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (660.854 KB)

Abstract

Pada perencanaan jaringan Kagan-Rodda berdasarkan data curah hujan rata-rata harian maksimum daerah dari metode Rata-rata hitung untuk tingkat kesalahan perataan (Z1) 5% didapatkan 4 buah stasiun hujan terpilih dari 8 buah stasiun hujan pada kondisi eksisting. Sedangkan pada perencanaan jaringan Kagan-Rodda berdasarkan data curah hujan rata-rata harian maksimum daerah dari metode Poligon Thiessen untuk tingkat kesalahan perataan (Z1) 5% didapatkan 4 buah stasiun hujan terpilih dari 8 stasiun hujan pada kondisi eksisting. Metode Rata-rata hitung mengahasilkan kesalahan relatif untuk setiap kala ulang tertentu adalah lebih kecil dari 5%, yaitu 1.12% - 4.49% . Dengan besarnya curah hujan rancangan tersebut dapat dihitung besarnya debit banjir rancangan dengan metode HSS Snyder sehingga diperoleh banjir rancangan yang terjadi antara 1009.00 m3 – 2001.60 m3 untuk setiap kala ulang tertentu. Sedangkan metode Poligon Thiessen menghasilkan kesalahan relatif untuk setiap kala ulang tertentu lebih kecil dari 5% yaitu antara 1.42% -4.68%. Sehingga dengan curah hujan rancangan tersebut pula dapat dihitung besarnya debit banjir rancangan dengan metode HSS Snyder sebesar 911.14 m3 –1806.90 m3 untuk setiap kala ulang tertentu. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk perencanaan jaringan Kagan Rodda di daerah studi, kedua metode ini bisa digunakan. Meskipun metode Rata-rata hitung memberikan hasil yang lebih baik daripada metode Poligon Thiessen, yaitu terlihat dari rata-rata besarnya kesalahan relatif yang terjadi. Besarnya kesalahan relatif untuk metode Rata-rata hitung adalah sebesar 3.0%, sedangkan kesalahan relatif untuk metode Poligon Thiessen adalah sebesar 3.6%.Kata Kunci: Analisa Metode Eksisting, Analisa Metode Kagan-Rodda, PolaPenyebaran Stasiun Hujan.
Studi Kerentanan Air Tanah Terhadap Kontaminan Di Cekungan Airtanah Negara Kabupaten Jembrana Provinsi Bali Frederich Gunawan, Wayan Andi; Sisinggih, Dian; Dermawan, Very
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 4, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.148 KB)

Abstract

The government of Jembrana Regency will exploit the groundwater to develop area potency. Seven thematic maps of the DRASTIC and SINTACS method were developed in order to asses the vulnerability of groundwater to contaminate and these include the depth to water table, recharge, aquifer media, soil media, topography, impact of vadose zone and hydraulic conductivity. Determination of the DRASTIC Index (DI) and SINTACS Index (SI) was done by multiplaying each parameter weight by its value rating and summing the total. Based on DI and SI values, a groundwater vulnerability map was produced using a Geographical Information System (GIS). The Result of this research is groundwater vulnerability in Negara groundwater basin consisted of medium to very high groundwater vulnerability. SINTACS Method is more suitable with the parameter of research location. The result of this research shown that Medium vulnerability is in a part of north Negara ground water basin, while in south area is dominated by high vulnerability level. It is mean that the parameter is give significant impact to the value are included recharge, soil media and topography. Jembrana regency area especially in north area is needed special treatment due to high potency of groundwater vulnerability.Keyword : Groundwater vulnerability, DRASTIC, SINTACS .
ANALISIS EFEKTIVITAS KERAPATAN JARINGAN POS STASIUN HUJAN DI DAS KEDUNGSOKO DENGAN MENGGUNAKAN JARINGAN SARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) Fathoni, Syarief; Dermawan, Very; Suhartanto, Ery
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1072.533 KB)

Abstract

Abstrak: Kualitas data curah hujan sangat bergantung pada kemampuan pos hidrologi dalam memantau karakteristik hidrologi dalam suatu Daerah Aliran Sungai. Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian, agar memperoleh jaringan pos stasiun hujan yang efektif dalam hal perletakan stasiun pos stasiun hujan yang optimum dan mampu menggambarkan varibilitas ruang DAS yang teramati dengan baik. Lokasi penelitian terletak di DAS Kedungsoko yang luasnya adalah 416,54 km2, dan terdiri atas 8 pos stasiun hujan. Analisis dilakukan dengan membandingkan debit AWLR tahun 2001 s.d. 2010 dengan debit hasil model Jaringan Saraf Tiruan (JST). Model JST ini digunakan untuk mendapatkan debit dengan variabel masukan terdiri atas curah hujan maksimum tahunan pos stasiun hujan dengan satuan mm (X1), jarak pos stasiun hujan dengan pos AWLR dalam satuan km (X2), beda tinggi pos stasiun hujan dengan pos AWLR dalam satuan m (X3), dan koefisien thiessen (X4). Berdasarkan perbandingan debit hasil JST dengan debit AWLR, maka kerapatan jaringan pos stasiun hujan yang paling efektif adalah kombinasi pos stasiun hujan yang terdiri atas 4 (empat) pos stasiun hujan yang terdiri atas Pos Stasiun Hujan Pace, Pos Stasiun Hujan Banaran, Pos Stasiun Hujan Prambon, dan Pos Stasiun Hujan Badong dengan rerata Kesalahan Relatif debitnya adalah 3,763%.Kata Kunci: Jaringan Saraf Tiruan, Stasiun Hujan, Kerapatan Stasiun Hujan, Efektivitas, Kesalahan Relatif Abstract: Quality of rainfall data is highly depend on the ability of hydrologic station in monitoring hydrological characteristics in the Watershed. Therefore it is necessary to get the accurate that is able to describe variability of the watershed. This study located in Kedungsoko Watershed with area is 416,54 km2, which there are 8 Rainfall Station. This analysis used to compare between AWLR flows with Artificial Neural Network (ANN) on years of 2001 to 2010. ANN used to obtain flows by input variables that are maximum rainfall on mm (X1), distance of rainfall station with AWLR station on km (X2), height difference betweenrainfall station with AWLR station on m (X3), and thiessen coefficient (X4). Based on comparison of ANN flows and AWLR flows, The most effective density of Rainfall Station is rainfall station combined with 4 rainfall station that are Pace Rainfall Station, Banaran  Rainfall Station, Prambon Rainfall Station, and Badong Rainfall Station within the  relative error is 3,763%.  Keywords: Artificial Neural Network, Rainfall Station, Density of Rainfall Station, Effectivity, Relative Error
Analisa Hidrolis pada Komponen Sistem Distribusi Air Bersih dengan Waternet dan Watercad versi 8 (Studi Kasus Kampung Digiouwa, Kampung Mawa dan Kampung Ikebo, Distrik Kamu, Kabupaten Dogiyai) Ibrahim, Mochammad; Masrevaniah, Aniek; Dermawan, Very
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 2, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1550.095 KB)

Abstract

Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat akan air bersih yang layak merupakan masalah yang berkembang di Kabupaten Dogiyai. Pendistribusian air bersih tidak merata,sehingga banyak kampung dan perumahan belum mendapatkan air bersih. Untuk mengatasi hal tersebut dibutuhkan jaringan distribusi air bersih yang baik dan mampu melayani kebutuhan air bersih bagi penduduk di daerah tersebut. Perencanaan sebuah jaringan distribusi air bersih dihitung dengan teliti dilihat dari berbagai macam segi, yaitu :kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Perencanaan tersebut dibuat secara utuh dan membentuk suatu sistem jaringan distribusi air bersih yang terpadu.Hasil perhitungan dan analisa kebutuhan air bersih di jaringan pipa air bersih kampung Ikebo, Mauwa dan Digiouwa, Kabupaten Dogiyai pada jam puncak sebesar 17,95 lt/dt (analisa watercad) dan 18,11 lt/dt (analisa waternet) pada jam rendah berkisar antara 3,19 lt/dt (analisa watercad) dan 2,9 lt/dt (analisa waternet). Kondisi aliran pada sistem jaringan pipa disribusi air di kampung Ikebo, Mauwa dan Digiouwa, Kabupaten Dogiyai dapat mengalir dengan selama 24 jam, baik pada saat penggunaan pipa Galvanized iron maupun pipa PE.Dari hasil analisa juga diketahui bahwa pipa jenis PE memiliki tingkat efisiensi yang lebih bagus daripada pipa jenis Galvanized Iron dalam hal kehilangan energi. Pipa PE memiliki permukaan yang lebih halus sehingga kehilangan energi yang diakibatkan oleh gesekan dengan dinding pipa menjadi kecil. Perbedaan nilai kehilangan energi tidak begitu terlihat pada jam rendah dikarenakan debit yang melalui pipa sangat kecil barulah padajam puncak terlihat perbedaan yang besar.Kata Kunci : Distribusi Air Bersih, Jenis Pipa dan Kehilangan Energi
EFEKTIFITAS GROUNDSILL TERHADAP PENYEBARAN SEDIMEN SUNGAI GRINDULU KABUPATEN PACITAN Budi, Susilo; Dermawan, Very; Yuliani, Emma
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 8, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.544 KB) | DOI: 10.21776/ub.jtp.2017.008.01.11

Abstract

ABSTRAK: Sungai Grindulu memiliki potensi bahan galian berupa pasir yang dimanfaatkan sebagai material pembangunan prasarana fisik. Penambangan pasir sungai menyebabkan penurunan dasar sungai yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur umum. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengendalikan penurunan dasar sungai adalah pembangunan groundsill. Penelitian ini menganalisis penyebaran sedimen di sungai Grindulu sebelum dan sesudah pembangunan groundsill serta pengaruh penambangan pasir terhadap perubahan dasar sungai menggunakan bantuan perangkat lunak HEC-RAS 4.1.0. Hasil simulasi menunjukkan bahwa tanpa groundsill, dasar sungai mengalami degradasi rata-rata 0,602 m dan agradasi rata-rata 0,505 m. Dengan groundsill tanpa penambangan pasir, terjadi degradasi rata-rata 0,659 m dan agradasi rata-rata 0,483 m. Dengan groundsill dan penambangan pasir, terjadi degdarasi rata-rata 1,017 m dan agradasi rata-rata 0,627 m. Direkomendasikan lokasi penambangan baru dengan kapasitas produksi 65 m3/hari. Dalam periode 5 dan 10 tahun yang akan datang, simulasi angkutan sedimen berdasarkan rekomendasi lokasi dan kapasitas penambangan pasir baru menunjukkan bahwa terjadi degradasi  rata-rata 0,569 m dan 0,846 m. Sedangkan agradasi yang terjadi rata-rata sebesar 0,487 m dan 0,545 m. Kata kunci: sedimen, HEC-RAS, penambangan pasir, degradasi, agradasi ABSTRACT: Grindulu river has potential minerals of sand that used as material of physical infrastructure construction. River sand mining causes riverbed degradation that result damage of public infrastructure. One of the efforts made to control riverbed degradation is construction of groundsill. This study analyze sediment distribution in Grindulu river before and after groundsill construction and the effect of sand mining on riverbed changes using HEC-RAS 4.1.0 software. The simulation result shows that without groundsill, the average of riverbed degradation is 0.602 m and average of aggradation is 0.505 m. With groundsill and without sand mining, the average of riverbed degradation is 0.659 m and average of aggradation is 0,483 m. With groundsill and sand mining, the average of riverbed degdaration is 1,017 m and average of aggradation is 0.627 m. New site of sand mining recommended with production capacity of 65 m3/day. In the period of next 5 and 10 years, sediment transport simulations based on recommended location and capacity of new sand mining site show that the average of riverbed degradation is 0.569 m and 0.846 m. While the average of aggradation is 0.487 m and 0.545 m. Keywords: sediment, HEC-RAS, river sand mining, degradation, aggradation
PENGARUH PERUBAHAN DAERAH KEDAP AIR, CURAH HUJAN DAN JUMLAH PENDUDUK TERHADAP DEBIT PUNCAK BANJIR DI SUB DAS BRANTAS HULU DI KOTA BATU Marzuqi, Achmad; Andawayanti, Ussy; Dermawan, Very
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.107 KB)

Abstract

Abstrak: Perkembangan Kota Batu ke depan adalah sebagai sentra pertanian dan sentra wisata sehingga penambahan sarana dan prasarana dari tahun ke tahun semakin meningkat. Salah satu permasalahan yang terjadi Kota Batu sebagai daerah resapan air semakin berkurang dikarenakan oleh pertumbuhan penduduk meningkat dan membutuhkan areal yang luas untuk tempat tinggal dan tuntutan pembangunan kota wisata sehingga pada musim hujan terjadi peningkatan aliran permukaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan daerah kedap air, untuk mengetahui hubungan perubahan daerah kedap air, curah hujan dan jumlah penduduk terhadap debit puncak banjir. Dalam analisis ini data yang digunakan adalah data hujan, penggunaan lahan dan penduduk pada  tahun 2003, 2008, 2009, 2010 dan 2014.  Untuk analisis hidrologi menggunakan metode Thissen dan analisis debit puncak banjir menggunakan metode Rasional dan untuk mengetahui hubungan daerah kedap, curah hujan dan jumlah penduduk terhadap debit puncak banjir dengan metode regresi linier ganda orde 3.Peningkatan secara signifikan terjadi pada daerah pemukiman yaitu tahun 2003 berkisar 28% ditahun 2014 meningkat menjadi berkisar 62%.  Curah hujan harian maksimum mulai tahun 2003 sampai 2014 tidak mengalami perubahan secara signifikan yaitu berkisar 60,80 mm sampai 77,80 mm, sedangkan debit puncak banjir mengalami perbedaan secara signifikan yaitu 115,2 m3/dt tahun 2003, 179,8 m3/dt pada tahun 2014.  Luas daerah kedap tahun 2003 yaitu 27,1 km2, ditahun 2014 meningkat menjadi 95,5 km2.Secara umum pendekatan hubungan dari variabel daerah kedap air (X1), curah hujan (X2) dan jumlah penduduk (X3) terhadap debit puncak banjir ( Y) diberikan oleh persamaan Ý = 199,89 + 2,157X1 + 0,57X2 – 1,190X3dengan R2 = 0,91.Kata kunci: Debit, Kedap, Curah Hujan dan Penduduk                                Abstract : The future development of Batu City is as a center for farming and tourist it is  requires additional infrastructure from year to year .  One of the problems that occur Batu as buffer zone increasing  diminishing due to increasing of population growth and it require large areas to stay and to tourism, so during the rainy season there is an increase of runoff.  The purpose of this study was to assess changes buffer zone, to determine the relationship changes buffer zone  area, rainfall and population against flood peak discharge. In this analysis the data used are rain data, land use and population in 2003, 2008, 2009, 2010 and 2014. For hydrologic analysis using methods Thissen and analysis of flood peak discharge using Rational method and to determine the relationship of watertight  area, rainfall and population against flood peak discharge by the method of multiple linear regression order 3.Significant increase occurred in residential areas, namely in 2003 ranges from 28% in the year 2014 increased to 62%. The maximum daily rainfall started in 2003 to 2014 did not change significantly which ranges from 60.80 mm to 77.80 mm, while the flood peak discharge experiencing significant difference is 115.2 m3 / sec in 2003, 179.8 m3/sec in 2014. The area of buffer zone  2003 is 27.1 km2, in the year 2014 buffer zone  to 95.5 km2.In general approach to the relationship of the variable regions buffer zone (X1), rainfall (X2) and population (X3) against the flood peak discharge (Y) is given by the equation y = 199.89 + 2,157X1 + 0,57X2 - 1,190X3 with R2 = 0.91.Keywords :  discharge,buffer zone, rainfall and population
EVALUASI DAN SIMULASI POLA OPERASI BENDUNG GERAK TEMPE PROVINSI SULAWESI SELATAN Rifai, A; Dermawan, Very; Sisinggih, Dian
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (954.122 KB)

Abstract

Abstrak: Bendung Gerak Tempe yang berada dihilir Danau Tempe diperuntukkan untuk menjaga elevasi muka air Danau Tempe. Elevasi muka air yang harus dipertahankan pada Danau Tempe adalah elevasi +5,00 m.  Dari hasil evaluasi dan simulasi, bulan Januari sampai dengan bulan Agustus rata-rata muka air Danau Tempe dan Bendung Gerak adalah lebih tinggi dari elevasi +5,30 m, sehingga Pintu utama dan pintu navigasi dibuka penuh sehingga banjir tidak membahayakan daerah hulu Bendung Gerak Tempe. Sedangkan pada bulan September sampai dengan bulan Desember muka air pada Danau Tempe dan Bendung Gerak lebih rendah dari elevasi +5,00 m, sehingga muka air perlu dinaikkan sesuai yang harus dipertahankan yaitu pada elevasi +5,00 m, dengan jalan melakukan pengoperasian (penutupan) Pintu Utama maupun Pintu Navigasi. Kata Kunci: Bendung Gerak Tempe, Pintu Sorong, Danau Tempe, Banjir, Simulasi HEC-RASAbstract: Tempe Barrage is located on the  downstream of Lake Tempe that it functioned to maintain water level of Lake Tempe. Water levels of Tempe Lake to be maintained at elevation of +5.00 m. The results of evaluation and simulation shown that from January to August the average water level of Lake Tempe and Tempe Barrage is higher than the elevation of +5,30 m, main gate and the navigation gate was fully opened to control flooding at upstream area of Tempe Lake. Furthermore, on September until December the water level on Tempe Lake and Tempe Barrage is lower than the elevation of +5,00 m, so that the water level should be increased to maintain the elevation of +5,00 m, by closed the  Main Gate and Navigation Gate.Keyword: Tempe Barrage, Sluice Gate, Tempe Lake, Flood, HEC-RAS Simulation
Studi Pengembangan Sistem Drainase Perkotaan Berwawasan Lingkungan (Studi Kasus Sub Sistem Drainase Magersari Kota Mojokerto) Supriyani, Endah; Bisri, M.; Dermawan, Very
Jurnal Teknik Pengairan: Journal of Water Resources Engineering Vol 3, No 2 (2012)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2037.562 KB)

Abstract

The purpose of this research is to understand the drainage system, to evaluate the capacity of drainage channel, and to acknowledge the applicable environment-based drainage method. Some data used area rainfall data, population rate, altimetry of channel in location area, land use, inundation and location map.The result of calculation and analysis, the ratio of average absorption area= 0.36, therefore, Magersari sub-drainage system is included within the category without environment-based. Channel capacity, Qs< Q2years, almost all of drainage channel cannot accommodate the discharge. By considering the land limit and the environment preservation principle, therefore, the inundation can be reduced by preparing the injection well method in 1 meter diameter and 3 meters depth, and the retarding basin with dimension 100 x 100 x 3 meter cubic with the filling-up period of 8.79 hours in the catchment area of Afvour Sinoman I.Key words: Drainage, inundation, injection well, retarding basin, environment-based
STUDI POLA DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN DI SALURAN TERBUKA PADA AMBANG LEBAR Kusuma, Roorkeindia Paramita; Dermawan, Very; Sumiadi, Sumiadi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Aliran pada saluran terbuka dapat mengalami pembendungan apabila ada struktur bangunan ambang. Aliran akan mengalami perubahan kecepatan baik sebelum dan setelah melalui ambang. Perubahan kecepatan ini mempengaruhi pola distribusi kecepatan aliran yang berbeda di tiap kondisi aliran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola distribusi aliran yang terjadi baik pada sebelum dan setelah ambang lebar. Selain itu, penggunaan ambang lebar pada penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui perubahan nilai koefisein debit (Cd) terhadap tinggi ambang lebar. Penelitian ini menggunakan saluran terbuka lurus (flume) berpenampang persegi dengan dasar tetap (fixed bed) dan tanpa kemiringan serta memiliki dimensi lebar (B)=7,6 cm, tinggi (H)=25 cm, dan panjang (L)=900 cm. Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan aliran pada penelitian ini adalah tabung pitot. Penelitian ini menggunakan 2 debit pengaliran (Q) dengan Q1=4,017 l/dt dan Q2=3,437 l/dt. Selain menggunakan 2 debit pengaliran, penelitian ini juga menggunakan 2 variasi tinggi (P) ambang lebar dengan P1 = 10 cm dan P2 = 12 cm. Dari hasil pengukuran dan perhitungan didapatkan bahwa aliran sebelum dan setelah ambang adalah subkritis. Pengukuran pada 4 section sebelum ambang menunjukkan bahwa semakin mendekati ambang kecepatan aliran semakin rendah, sedangkan pada 3 section sesudah ambang kecepatan aliran semakin ke hilir semakin tinggi. Kecepatan geser dihitung menggunakan metode Clauser. Pada hulu ambang pola distribusi aliran di daerah inner region memiliki nilai yang cukup berhimpit dengan perhitungan metode Logarithmic Law dan Von Karman tetapi di area outer region tidak. Pada hilir ambang pola distribusi aliran memiliki nilai yang jauh berbeda dengan perhitungan metode Logarithmic Law dan Von Karman baik pada daerah inner maupun outer region.Kata Kunci: saluran terbuka, distribusi kecepatan, ambang lebar, tabung pitotABSTRACT: An open channel flow over broad-crested weir will have different velocities in the upstream and downstream. This will also affect the velocity distribution that is vary in each flow condition. The objective of this study is to investigate the flow velocity distribution over broad crested weir. Moreover, the use of broad-crested weir was also to study the change of its discharge coefficient (Cd) over different weir heights. This study was conducted using a straight, rectangular channel (flume) with fixed horizontal bed and with dimensions of width (B)=7,6 cm, height (H)=25 cm, and length (L) = 900 cm. Pitot tube is used as flow velocity measuring instrument. There are 2 discharges used in this study, Q1 = 4,017 l/sec and Q2 = 3,437 l/sec. In addition, this study is also using 2 height variations (P) which are P1 = 10 cm and P2 = 12 cm. From the results of the measurements and calculations found that the flow in the upstream and downstream is subcritical flow. Velocity measurements in 4 sections before weir showed that the closer flow to the weir, the lower flow velocity. While in the 3 sections after the weir showed that the further the flow from weir, the higher flow velocity. Shear velocity was calculated using the Clauser method. Velocity distribution on the upstream inner region had values that coincide with Logarithmic Law as well as Von Karman but not on the outer region area. In the downstream, velocity distribution had values that is not in accordance with the calculation of Logarithmic Law and Von Karman method both in the inner and outer region.Keywords: open channel, velocity distribution, broad crested weir, pitot tube.
KAJIAN DISTRIBUSI KECEPATAN DAN TEGANGAN GESER PADA ALIRAN DIPERLAMBAT MENGGUNAKAN ACOUSTIC DOPPLER VELOCIMETER (ADV) Utomo, Gloria Dihan; Sumiadi, Sumiadi; Dermawan, Very
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Pengairan Vol 2, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Teknik Pengairan, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK: Saluran terbuka merupakan saluran yang memiliki parameter yang tidak teratur, sehingga penyelesaian pada saluran terbuka sulit untuk diselesaikan secara analitis. Pada saluran terbuka sering terjadi aliran tidak seragam salah satunya karena adanya bendung yang mengakibatkan terjadinya perlambatan laju aliran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui distribusi kecepatan aliran dan tegangan geser, serta arah vektor aliran. Dalam penelitian ini digunakan saluran dengan lebar 7.6 cm dan tinggi 25 cm. Kecepatan aliran diukur menggunakan Acoustic Doppler Velocimeter (ADV) tipe downlooking produk dari SonTek, San Diego USA. Dari hasil pengukuran inisiasi menggunakan ADV didapatkan debit sebesar 2.3 lt/det dengan sampling rate sebesar 50Hz dan velocity range sebesar 30 cm/det serta jumlah pengambilan data setiap titik pengukuran sebanyak 7500 data. Dari hasil pengukuran dengan menggunakan Acoustic Doppler Velocimeter menunjukkan bahwa nilai distribusi kecepatan aliran terbesar terjadi pada tinggi ambang 13cm section 180 pada kedalaman 11.908 cm sebesar 18.833 cm/det. Dan semakin ke hilir kecepatan aliran semakin kecil. Dengan menggunakan persamaan distribusi kecepatan teoritis (Von karman dan Logartimik) dibandingkan dengan data ADV menunjukkan bahwa section 30 sampai 180 memiliki bentuk grafik yang hampir berhimpit, sedangkan untuk section 10 memiliki grafik yang berbeda karena adanya pengaruh dari ambang tajam. Vektor aliran pada section 30 sampai 180 arah vektornya cenderung longitudinal, sedangkan pada section 10 arah vektornya cenderung vertikal karena pengaruh limpasan aliran diatas ambang. Nilai tegangan geser terbesar terjadi pada daerah inner region dikarenakan pengaruh dari gesekan dasar saluran.   Kata kunci: Aliran Diperlambat, Acoustic Doppler Velocimeter, Distribusi Kecepatan, Vektor Aliran, Tegangan Geser.   ABSTRACT: Open channel has irregular channel parameters, so the solutions of open channel it is hard to be solved analytically. In open channels there is often non uniform flow, for example because of the weir and it causes a decrease in the flow rate. The purpose of this study was to determine flow velocity and shear stress distribution, and the direction of the flow vector. In this study used a channel width of 7.6 cm and height of 25 cm. Flow velocity is measured using the downlooking type Acoustic Doppler Velocimeter, the product from SonTek, San Diego USA. From the result of the measurement of initiation using ADV the discharge was 2.3 lt/sec with a sampling rate of 50Hz and a velocity range of 30 cm/sec and the amount of data collection for each measurement point is 7500 data. The measurement using the Acoustic Doppler Velocimeter shows that the largest flow velocity distribution value occurs at a weir height of 13 cm in section 180 at a depth of 11.908 cm at 18.833 cm/sec. And the more downstream the flow velocity gets smaller. Using the theoretical velocity distribution equation (Von Karman and Logarithmic) compared with ADV data shows that section 30 to section 180 have a graph that is almost coincide, while for section 10 has a different graph because the effect of the sharp crested weir. The flow vector in section 30 to section 180 the direction of the vector tends to be longitudinal, while in section 10 the vector direction tends to be vertical because the effect of runoff flow above the sharp crested weir. The largest value of shear stress occurs in the inner region because the effect of the friction at the base of the channel. Keywords: Decelerated Flow, Acoustic Doppler Velocimeter, Velocity ​​Distribution, Flow Vector, Shear
Co-Authors Abdul Azis Hoesein Achmad Marzuqi, Achmad Adihaningrum, Anita Andriyani Adilah, Ahmad Daffa Aditiya, Achmad Rizkiawan Aji, Yahya Muchaimin Alam Semesta, Aji Rahmanda Alpikarigo, Jano Andre Primantyo H., Andre Primantyo Andre Primantyo Hendrawan Anggara Cahyo Wibowo Anggara Wiyono Wit Saputra, Anggara Wiyono Wit Aniek Masrevaniah Ardiyansah, Ilham Artha, Vevy May Augustiman, Yoggie Azhary Aulia, Nanda Bahreisy, Arzil Abdillah Beselly Putra, Sebrian Mirdeklis Budi, Susilo Budiarto, Fajar Dwi Danudoro, Muhammad Darmawan, Sevila Maulidina Dewi Amalia Dhitaisma, Elsya Dian Chandrasasi Dian Sisinggih Dian Sisingih, Dian Donny Harisuseno DRIANTAMA, AL GHIFARY Emma Yuliani Endah Supriyani Endang Purwati RN Eri Prawati Ery Suhartanto Evi Nur Cahya Fathinun Najib Fikhruddin, Ahmad Fitrina, Halita Hadi Kusuma, Fajar Sadewa Handoko, Shubhananda Aulia hari siswoyo Hidayah, Susi Hidayat, Muhammad Nurjati Ikhsanti, Lanthika Dwi Ilmiawan, Ahlun Nazar Indrajayatama, Ridho Satria Ivan, Hans Kurniawan Hasan, Dimas Tri Kurniawati, Oktavia Triana Kusuma, Roorkeindia Paramita Lily Montarcih Limantara Linda Prasetyorini Listyana, Kurnia Ulfi M. Amar Sajali M. Bisri M. Janu Ismoyo Martius, Alifa Fajriani mas'udi, oldvika nurma Maulana, Muhammad Adnan Mochammad Ibrahim Moh. Sholichin Mohammad Bisri Mohammad Solichin, Mohammad Muhamad Rodhita Muhammad Taufiqurrohman, Muhammad Nimas Ayu Anggraini, Nimas Ayu Nisa, Anggie Aqidahtun Nur Cahya, Evi Nurhayati, Ima Nurwijayanti Oktaviariyadi, Nabila Paksi, R. Susenatama Jatayu Pitojo Tri Juwono Prima Hadi Wicaksono Putra Ramadhani, Adhinda Dwi Putri, Aradila Tiara Rachmadani, Lucia Putri Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahawarin, Ridho Fahreza Reynaldo Jeffry Polie, Reynaldo Jeffry Rifai, A Rifnawati, Vina Rinaldy, Alif - Rispiningtati Rispiningtati Riyanto Haribowo Rizal Arifuddin K. Rizaldi, Odhi Rosamike, Mega Okvita Karinda Runi Asmaranto Rusardi, Olda Fadhilah Aprilia Salsabila, Sekar Saputra , Anggara Wiyono Wit Sholawatini, Nur Siregar, Jeremi Ishak Siswanti, Yuvika Rega Sri Wahyuni Suhardjono, - Suhartanto, Ery Sumanto, Hari Sumiadi, Sumiadi Suwanto Marsudi Swandani, Monique Adriana Syaiful Anam Syarief Fathoni, Syarief Tandisau, Deandy Gilang Tandju, Indah Nur Alifa Tri Budi Prayogo, Tri Budi Ussy Andawayanti Utami, Diah Tri Utomo, Gloria Dihan Vareza, Ervisto Thama WAHYU FIRMANSYAH Wahyudi, Aqsha Prahitna Wayan Andi Frederich Gunawan Widandi Soetopo Wirawan Putra, Rizky Almiraldi Wiryamanta, Dhimas Raditya Yanuar Hendra Pramana, Yanuar Hendra Yudha, Nevandria Satrya Zulkanzi, Achmad Kamili