Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Sexual Behavior in Students of Senior High School Gabungan Jayapura City, Papua Hursepuny, Ivanachela; Fatiah, Mona Safitri; Woapari, Beery I. S; Tambing, Yane; Nurdin, Muhammad Akbar
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 7 No. 1 (2023): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v7i1.643

Abstract

Abstrak Perilaku seksual berisiko pelajar di Kota Jayapura sudah sangat mengkhawatirkan. Berdasarkan studi pendahuluan ditemukan sekitar 13,3% remaja pernah melakukan seks bebas. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor yang mempengaruhi perilaku seksual remaja Sekolah Menengah Atas (SMA). Penelitian ini berdesain cross sectional dengan waktu penelitian ± 5 bulan terhitung bulan April–Agustus 2021. Populasi penelitian adalah semua siswa/i SMA Gabungan kelas X dan XI sejumlah 127 orang, sedangkan besar sampel 127 orang, dengan teknik sampling menggunakan sampel jenuh. Data penelitian menggunakan data primer dan instrumen penelitian berupa kuesioner yang diadaptasi dari kuesioner penelitian Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Remaja 2017. Variabel dalam penelitian ini adalah sumber informasi tentang HIV/AIDS, pengetahuan tentang HIV/AIDS, perilaku pacaran, perilaku konsumsi alcohol dan perilaku seksual remaja. Analisis data dengan Chi Square, diperoleh hasil untuk perilaku pacaran p-value: 0,001 dan PR: 0,16; dan perilaku konsumsi alkohol p-value: 0,004 dan PR:0,17. Kesimpulan penelitian adalah perilaku pacaran dan konsumsi alkohol berhubungan dengan perilaku seksual. Perlu sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota terkait dampak seks bebas pada remaja ke sekolah sehingga dapat meningkatkan pengetahuan tentang bahaya seks bebas yang nantinya dapat mencegah penyebaran HIV di kota Jayapura. Kata kunci: perilaku pacaran, minum alkohol, perilaku seksual pelajar, remaja Abstract The prevalence of risky sexual behavior among students in Jayapura City is a great concern. Based on a preliminary study around 13.3% of them have engaged in free sex. The objective is to examine the factors influencing the sexual behavior of high school adolescents. The study adopts a cross-sectional design, conducted over a period of approximately 5 months, from April to August 2021. The population was all students in combined classes of grades X and XI, totaling 127 individuals. The sample was 127, utilizing a saturated sampling technique. The primary data was collected through a questionnaire adapted from the 2017 Adolescent Demographic and Health Survey (DHS) questionnaire, encompassing variables such as sexual behavior, knowledge about HIV, exposure to sources of information, dating behavior, and alcohol consumption. The findings were analyzed using bivariate analysis through the Chi-square. The results indicated a significant correlation between dating behavior (p-value: 0.001 and PR: 0.16), alcohol consumption behavior (p-value: 0.004 and PR: 0.17), and sexual behavior. The study concludes dating behavior and alcohol consumption are related to sexual behavior. The City Health Office must educate teenagers in school about the dangers of free sex to prevent the spread of HIV in Jayapura. Keywords: dating behavior, alcohol consumption, sexual behavior, adolescents
Tattooing, Piercing, Drug Use and Their Associations with Sexually Transmitted Infections among Young Men Who Have Sex with Men Fatiah, Mona Safitri; Syarif, Afwan; Ruslan, Muhammad; Tambing, Yane
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 17 No 4 (2025): JIKM Vol 17, Issue 4, November 2025
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v17i4.823

Abstract

Background: Young men who have sex with men in Indonesia face a high vulnerability to sexually transmitted infections. However, evidence on the role of body modification and drug use remains limited. This study examined behavioral correlates of self-reported sexually transmitted infection symptoms. Methods: Data were obtained from the 2018–2019 Integrated Biological and Behavioral Survey, a cross-sectional respondent-driven sampling study involving 1,988 men aged 18–24 years across multiple Indonesian cities. Weighted logistic regression was used to estimate adjusted odds ratios for sexually transmitted infection symptoms in relation to tattooing, piercing, drug use, condom use, HIV prevention knowledge, and sociodemographic factors. Results: The prevalence of self-reported sexually transmitted infection symptoms was 22.8%. Tattooing, piercing, and drug use were not independently associated with these symptoms after adjustment. In contrast, low human immunodeficiency viruses (HIV) prevention knowledge (Adjusted OR = 8.53; 95% CI: 2.38–30.4) and inconsistent condom use (never: Adjusted OR = 32.3; 95% CI: 1.34–775.5; occasional: Adjusted OR = 3.57; 95% CI: 1.12–11.4) showed strong associations. Conclusion: The primary drivers of sexually transmitted infection symptoms among young men who have sex with men were gaps in HIV prevention knowledge and inconsistent condom use, rather than tattooing, piercing, or drug use. Interventions should prioritize sexual health education, condom promotion, and regulatory oversight for body modification practices.
INTEGRASI PENDIDIKAN KETERAMPILAN HIDUP SEHAT PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA Izaac, Fransina Alfonsina; Tambing, Yane; Fatiah, Mona Safitri; Pamangin, Lisda Oktavia Madu
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 2 (2024): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i2.22260

Abstract

Abstrak: Masalah kesehatan yang terjadi pada remaja menjadi bagian yang menjadi sorotan bagi pihak pemerintah, hal ini mengingat banyak ditemukan remaja yang telah melakukan hubungan seks pada usia 15-19 tahun baik pada laki-laki (59%) dan perempuan (74%) pada tahun 2018. Untuk itu tujuan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dilakukan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan anak usia sekolah dan remaja tentang pendidikan keterampilan hidup sehat, agar remaja mampu menghadapi berbagai masalah yang dilalui dalam tahapan perkembangannya. Kegiatan PkM dilakukan pada hari Minggu, 30 Oktober 2023 dengan kelompok sasaran adalah remaja dengan rentang usia antara 12 – 24 tahun sejumlah 40 orang. Kegiatan PkM ini dilakukan secara online pada siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Paulus, remaja gereja, Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih (FKM UNCEN), Politeknik Kesehatan (Poltekes Kemkes Jayapura). Kelompok sasaran yang ikut dalam kegiatan ini di ambil dengan teknik accidental, dimana metode yang digunakan pada 3 yaitu: metode tanya jawab, metode penyuluhan kesehatan dan metode pengumpulan data. Hasil kegiatan PkM ini diperoleh jika sebagian besar peserta yang ikut pada kegiatan PkM ini berusia paling banyak 13 tahun dengan jenis kelamin terbanyak adalah perempuan, selain itu diperoleh selisih peningkatan pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan sekitar 13,2%. Hasil ini didapatkan melalui evaluasi yang dilakukan setelah kegiatan PkM dengan menggunakan quis. Setelah menerima materi, kelompok remaja dapat menjawab soal pada kuis sekitar 8 bahkan 9 jawaban benar dari 10 soal, dibandingkan sebelum mendapatkan materi. Sehingga dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan antara penkesmas dengan tingkat pengetahuan. Saran yang dapat diberikan dari kegiatan ini adalah perlu adanya upaya berkesinambungan dan komprehensif yang melibatkan lintas sektor, seperti Dinas Kesehatan, BKKBN, pihak sekolah maupun akademisi dalam memberikan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dengan tujuan meningkatkan pemahaman dan juga sikap menuju remaja sehat.Abstract: Health problems that occur in adolescents are part of the spotlight for the government, this is considering that many adolescents have had sex at the age of 15-19 years both in men (59%) and women (74%) in 2018. For this reason, the purpose of Community Service (PkM) activities is carried out with the aim of increasing the knowledge of school-age children and adolescents about healthy life skills education, so that adolescents are able to face various problems passed in their development stages. The PKM activity will be carried out on Sunday, October 30, 2023 with the target group being adolescents with an age range between 12 – 24 years old totalling 40 people. This PKM activity was carried out online for Paul Junior High School (SMP) students, church teenagers, students of the Faculty of Public Health, Cenderawasih University (FKM UNCEN), Health Polytechnic (Poltekes Kemkes Jayapura). The target group that participated in this activity was taken by accidental techniques, where the methods used in 3 are: question and answer method, health counselling method and data collection method. The results of this PKM activity were obtained if most of the participants who participated in this PKM activity were at most 13 years old with the most gender being women, while the difference in increasing knowledge before and after counselling was given around 13.2% and a relationship was obtained between the health centre and the level of knowledge. Suggestions for this activity: the need for continuous and comprehensive efforts in involving the academic community and also the health office, BKKBN and schools in Jayapura City in providing counselling to increase knowledge in order to increase understanding and also attitudes of adolescents towards healthy adolescents.
Peningkatan Pengetahuan Remaja GKI Siloam tentang Pengenalan Alat Reproduksi Pria dan Wanita Pada Remaja melalui Implementasi Game Tebak Gambar Bela, Sarni Rante Allo; Fatiah, Mona Safitri; Mollet, Genoveva Chatleen C; Tambing, Yane; Irjayanti, Apriyana; Irmanto, Maxsi
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 6 No 1 (2026): I-Com: Indonesian Community Journal (Maret 2026)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/i-com.v6i1.9343

Abstract

Rendahnya pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja berkontribusi terhadap perilaku berisiko dan kehamilan usia dini, sehingga diperlukan edukasi yang sesuai dengan karakteristik remaja, dimana 78% remaja yang ada di lingkungan Persekutuan Anak Remaja (PAR) GKI Siloam Waena memiliki pengetahuan rendah tentang kesehatan reproduksi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi melalui permainan tebak gambar pada remaja Persekutuan Anak Remaja GKI Siloam Waena, Jayapura. Metode menggunakan Participatory Action Research dengan tahapan perencanaan, tindakan, dan evaluasi pada 93 peserta usia 10–17 tahun. Intervensi meliputi penyampaian materi, permainan edukatif berbasis visual, diskusi kelompok, dan tanya jawab anonim. Hasil pre-post test menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang alat reproduksi antara laki-laki dan perempuan, namun perempuan memiliki skor lebih tinggi pada materi payudara dan hubungan seksual. Pendekatan interaktif meningkatkan partisipasi dan keberanian bertanya, sehingga layak diterapkan sebagai model edukasi kesehatan reproduksi remaja berbasis komunitas.