Claim Missing Document
Check
Articles

Variabilitas Genetik dan Heritabilitas Karakter Agronomi Galur-Galur Sawi (Brassica juncea L.): Variabilitas Genetik dan Heritabilitas Karakter Agronomi Galur-Galur Sawi (Brassica juncea L.) Raihan Fadhil Muhammad; Budi Waluyo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 3 No 2 (2019): AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.348 KB) | DOI: 10.33019/agrosainstek.v3i2.72

Abstract

The objective of this research was study genetic variability, heritability, and select the appearance of superior agronomic character genotypes in 57 Indian mustard for use in raw materials of consumption and industrial. This research was conducted at Seed Bank and Nursery, Agrotechno Park Brawijaya University, Jatikerto Village, Malang Regency in December 2018 - April 2019. The method used for this research was an augmented design. The treatment given was 60 genotypes of Indian mustard which consisted of 57 tested genotypes and 3 varieties as checks. The tested genotype will be spread into 5 blocks, while the three varieties of checks will be planted on each block, so there are 72 experimental units. The observation variables of agronomic characters consisted of 15 qualitative characters and 24 quantitative characters. Wide variability is found in the character of seeds per pod, number of pods per plant, and fresh weight. High heritability was found in the character of cotyledons, number of leaf consumption, fresh weight, age of seed harvest, number of pods per plant, length of pods, width of pods, and number of seeds per pod. There are Indian mustard which have superior characteristics for raw materials of consumption and industry.
Analisis Korelasi antara Karakter Komponen Hasil dengan Hasil pada Beberapa Genotipe Semangka (Citrullus lanatus): Analisis Korelasi antara Karakter Komponen Hasil dengan Hasil pada Beberapa Genotipe Semangka (Citrullus lanatus) Prinsip Trisna Mulyani; Budi Waluyo
AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian Vol 4 No 1 (2020): AGROSAINSTEK: Jurnal Ilmu dan Teknologi Pertanian
Publisher : Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/agrosainstek.v4i1.86

Abstract

Watermelon [Citrullus lanatus (Thunberg) Matsum & Nakai] is a plant that is widely cultivated and contains important nutritional compounds such as citrulline, arginine, and glutathione. In the last few years, the consumption of vegetables and fruits in Indonesia has tended to increase but cannot be fulfilled by domestic production. Yields are influenced by the character of yield components. This research aims to study the relationship between yield component traits and yield of watermelon. The study was arranged in augmented design and planting material are 75 watermelons genotypes and 3 checks varieties. The results showed that there are some characters of yield components that correlated with yields. The characters of yield components that have positive genetic correlation and positive phenotype correlation with fruit weight are stem length, number of branches, fruit stalk length, fruit length, fruit diameter, thickness of pericarp, number of seeds per plant, and weight of seeds per plant. The yield components characters that have a negative genetic correlation with fruit weight are day to flowering. The characters of yield components that have positive genetic and phenotype correlation with seed weight per plant are fruit weight, stem length, fruit length, fruit diameter, number of seeds per plant, seed length, and seed width. The Characters of yield components that have a negative genetic correlation with seed weight are day to flowering and the first female flower emerges. The characters of yield components that correlate with the yield are used as selection markers for indirect selection.
KOMPONEN HASIL UMBI DAN KANDUNGAN FISIKOKIMIA 43 GENOTIP UBI JALAR BERDAGING UMBI JINGGA PADA PENANAMAN DI LAHAN KERING DAN LAHAN BASAH Hanny Hidayati Nafi'ah; Tati Nurmala; Agung Kurniawan; Budi Waluyo
JAGROS : Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology Science) Vol 2, No 1 (2017): JAGROS: Jurnal Agroteknologi dan Sains (Journal of Agrotechnology and Sciences)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jagros.v2i1.316

Abstract

Ubi jalar berdaging jingga potensial untuk bahan pangan karena mengandung karbohidrat, untuk pangan fungsional karena mengandung beta karoten dan untuk industri karena bisa dijadikan pati dan alkohol. Ada 43 genotip ubi jalar berdaging jingga yang telah terseleksi dari penelitian pendahuluan untuk diuji komponen hasil umbi dan kandungan fisikokimianya di lahan kering dan lahan basah yang bertujuan untuk melihat perbedaan karakter genotip pada kedua agroekosistem. Metode yang digunakan adalah Augmented design tahap I dengan 5 check. Blok percobaan dibagi menjadi 4 (empat) blok, plot berbentuk guludan dengan panjang 5 meter dan lebar 1 meter. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan respon karakter pada 43 genotip ubi jalar berdaging jingga di laha tegalan dan lahan bekas sawah. Karakter yang menjadi penciri spesifik adalah karakter pada sektor V adalah jumlah umbi per plot (G), pada sektor ini genotip yang beragam ada 17 genotip di lahan tegalan, yaitu 194 (276), 186 (322), 193 (275), 199 (294), 195 (281), 42 (10), 217 (493), 219 (473), 190 (350), 201 (295), 28 (106), 110 (237), 117 (240), 112 (232), 119 (247), 203 (290), dan 113 (222). Sedangkan di lahan bekas sawah tidak ada genotip yang beragam. Genotip dengan jumlah rata-rata karakter tertinggi paling banyak adalah 224 (399b), 42 (10), dan 199 (294) yaitu masing-masing 17, 16, dan 15. Kata kunci : Ubi jalar jingga, beta karoten, lahan basah, lahan kering.
Phenological of Cutleaf Groundcherry (Physalis angulata L.) Based on BBCH Scale Anita Firdaus; Sumeru Ashari; Lulu Lazimatul Khoiriyah; Budi Waluyo
JURNAL AGRONOMI TANAMAN TROPIKA (JUATIKA) Vol 4 No 2 (2022): Volume 4 No. 2 Tahun 2022, Jurnal Agronomi Tanaman Tropika (JUATIKA)
Publisher : LPPM UNIVERSITAS ISLAM KUANTAN SINGINGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36378/juatika.v4i2.2063

Abstract

Cutleaf groundcherry (Physalis angulata L.) is a plant that belongs to the Solanaceae family. In Indonesia, this plant grows spread in various regions and has different names in each region. However, this plant is rarely cultivated and is generally considered a weed by farmers. Recently many studies have shown that cutleaf groundcherry contains many substances that are beneficial for the health sector, so it has the potential to be developed as a cultivation plant for exotic fruit sources that function as nutraceuticals. Plant breeding programs can be a solution in responding to these problems. As the first step in developing cutleaf groundcherry through a breeding program, the Plant Breeding Laboratory, Faculty of Agriculture, Brawijaya University, collected accessions of cutleaf groundcherry from various regions in Indonesia. The phonological stage of its growth is one piece of information that is useful in better understanding the cutleaf groundcherry life cycle and, as a result, simplifying cutleaf groundcherry cultivation management. This research aims to provide practical knowledge on the cutleaf groundcherry life cycle to develop a more efficient plant management approach for cultivation, including plant breeding initiatives. The BBCH scale was used to make observations (Biologische Bundesanstalt, Bundessortenamt und CHemische Industrie). The descriptive statistics obtained from observations and presented in descriptive narrative form using the BBCH scale with 3-digit coding numbers and documentation images were used in the data analysis. The results showed that the BBCH scale was used to define and describe cutleaf groundcherry phenology, which included germination (stage 0), leaf development (stage 1), side shoot formation (stage 2), the emergence of inflorescence (stage 5), flowering (stage 6), fruit development (stage 7), fruit and seed ripening (stage 8) and senescence (stage 9)
Pengaruh Perbedaan Genotipe pada Perkecambahan dan Pertumbuhan Kacang Ercis (Pisum sativum L.) sebagai Dasar Pemilihan Bahan Baku Microgreen Daffa Dzakwan Pambudi; Darmawan Saptadi; Budi Waluyo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 8 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1442

Abstract

Bentuk lain untuk memanfaatkan kacang ercis guna mempertahankan dan meningkatkan nutrisi yang terkandung di dalamnya adalah dengan cara mengkonsumsi tanaman muda (microgreen) dari kacang ercis. Manfaat dari mengkonsumsi microgreen salah satunya yaitu terdapat pada kandungan nutrisi, sayuran microgreen lebih tinggi dibandingkan sayuran yang sudah tumbuh dewasa. Kacang ercis yang berasal dari daerah yang berbeda dapat memiliki karakter perkecambahan yang berbeda. Begitu pula dengan karakter dan kualitas microgreen dari masing-masing genotipe kacang ercis yang dapat menunjukkan karakter morfologi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh perbedaan genotipe pada perkecambahan dan pertumbuhan kacang ercis (Pisum sativum L.) sebagai dasar pemilihan bahan baku microgreen. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Maret 2020 di Laboratorium Bioteknologi dan Laboratorium Sumber Daya Lingkungan, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 9 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Perlakuan yang digunakan yaitu 9 genotipe kacang ercis yang terdiri dari benih yang berasal dari Berastagi (BTG-4), dari Garut (GRT-04(3)-1, GRT 04(3)-2, GRT PSO-2-1, 03-16-3-1, dan 05 (16) (2)-1), serta dari Semarang (SMG (C) (1), SMG (H)(05),dan SMG (H)(05)-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe 03-16-3-1, genotipe 05(16)(2)-1, dan genotipe SMG (H)(05)-1 merupakan genotipe yang memiliki keunggulan untuk dijadikan bahan baku microgreen lebih dibandingkan dengan genotipe lainya.
Uji Daya Hasil 30 Genotipe Terung (Solanum melongena L.) Della Amelinda Chaniago; Budi Waluyo; Respatijarti Respatijarti
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 7 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1434

Abstract

Terung adalah jenis sayuran yang populer dan digemari oleh masyarakat Indonesia. Dalam kurun waktu tahun 2013-2014 hasil panen terung mengalami peningkatan. Namun akibat adanya peningkatan jumlah penduduk di Indonesia menyebabkan pemenuhan kebutuhan terung untuk masyarakat masih belum tercukupi. Salah satu usaha yang  dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas terung  adalah  dengan perakitan varietas unggul hibrida yang mempunyai tingkat produktivitas tinggi. Perakitan yang digunakan pada penelitian kali ini adalah menggunakan metode persilangan double cross, yaitu persilangan yang melibatkan empat tetua galur murni yang tidak berhubungan satu sama lain. Guna mengetahui potensi dari hasil persilangan double cross, maka perlu dilakukan uji daya hasil. Tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk menguji daya hasil 30 genotipe terung, mendapatkan deskripsi tanaman untuk setiap genotipe, dan membandingkan daya hasil 30 genotipe terung dengan tetuanya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2019-September 2019 di Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kabupaten Malang. Bahan yang digunakan adalah 30 genotipe terung hasil persilangan double cross dan 6 genotipe terung tetua sebagai pembanding. Parameter pengamatan meliputi tinggi tanaman, diameter batang, lebar kanopi, panjang buah, diameter buah, rata-rata jumlah buah pertanaman, bobot buah pertanaman, bobot per buah, dan potensi hasil. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam. Jika hasil yang didapatkan berbeda nyata maka dilanjutkan dengan menggunakan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa genotipe terung yang memiliki rata-rata melebihi tetuanya diantaranya adalah Tangguh x Ratih hijau, Tangguh x Ratih hijau, Pontia x Ratih hijau dan Hijau jty x Kania, Kania x Ratih hijau dan Bruno x Hijau jty.
Keragaman Karakter Morfologi Dan Komponen Hasil Beberapa Klon F1 Hasil Seleksi Pendahuluan Tebu (Saccharum officinarum L.) Hanna Sinthia Wati Siahaan; Alfarina Kardiana Sari; Budi Waluyo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 11 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1482

Abstract

Tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman penghasil bahan pangan dan bahan industri. Tebu di Indonesia merupakan tanaman yang difokuskan oleh pemerintah untuk mencapai swasembada gula. Maka, perakitan varietas unggul dengan cara persilangan tetua unggul untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi tebu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaman komponen hasil klon tebu melalui analisis morfologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari - Juni 2020. Bahan yang digunakan 2434 klon tebu  hasil persilangan tahun 2018 dengan 5 kombinasi persilangan dari 7 varietas tebu (PS 864, GMP 3, Cenning, SP 80-3280, PS 882, Polycross, dan VMC 71-238).  Keragaman komponen hasil 8 komponen utama dengan nilai keragaman total sebesar 73,55% dan karakter morfologi yang berpengaruh terhadap keragaman total. Hubungan filogenetik menunjukkan hasil jarak genetik yang menyebar antara 0–25 atau koefisien kemiripan 75%–100%. Klon yang jarak genetik terdekat yaitu klon 29 (F1 SP 80-3280 X Cenning)  dan klon 30 (F1 SP 80-3280 X Cenning) sebesar 1,7 dan jarak genetik terjauh adalah klon 8 (F1 PS 864 X GMP 3)  dan klon 18 (F1 PS 864 X Cenning) sebesar 33,66.  Sedangkan klon tebu yang memiliki komponen hasil tinggi berdasarkan produktivitas dan nilai brix yaitu  klon 13 (F1 PS 864 X Cenning) dan klon 27 (F1 SP 80-3280 X Cenning) merupakan klon tebu harapan yang memiliki produktivitas dan nilai brix tinggi
Identifikasi Duplikasi Aksesi Ciplukan (Physalis angulata L.) Koleksi Universitas Brawijaya Berdasarkan Karakter Morfologi Danniary Ismail Faronny; Noer Rahmi Ardiarini; Budi Waluyo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1511

Abstract

Ciplukan (Physalis angulata L.) merupakan tumbuhan yang diidentifikasi menyebar di wilayah Indonesia. Ciplukan potensial dikembangkan sebagai bahan baku nutrasetikal dan farmasetikal karena memiliki kandungan nutrisi dan senyawa aktif yang tinggi. Studi secara etofarmakologi menunjukkan tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk pengobatan beberapa penyakit klinis. Banyaknya koleksi yang dikumpulkan oleh Universitas Brawijaya dan tersebar dari berbagai daerah dan wilayah yang sama diduga memunculkan efek duplikasi pada aksesi ciplukan yang dikumpulkan. Aksesi yang berduplikat dapat menyebabkan tidak efisiensinya pengelolaan dan peningkatan biaya pemeliharaan plasma nutfah. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari keragaman ciplukan dan mengidentifikasi duplikasi aksesi ciplukan koleksi Universitas Brawijaya berdasarkan karakter morfologi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2019 – September 2019 di Seed dan Nursery Industry Agrotechno Park Universitas Brawijaya, Penelitian ini menggunakan bahan berupa 39 aksesi ciplukan (Physalis angulata L.) koleksi Universitas Brawijaya. Penelitian menggunakan metode observasi dimana aksesi ditanam dalam barisan tunggal dengan jumlah 3 tanaman. Hasil penelitian menunjukan Karakter pada 39 aksesi ciplukan mempunyai keragaman yang bervariasi bedasarkan karakter morfologi. Terdapat 3 pasangan aksesi dengan jarak genetik sangat dekat yaitu KLT-KT(06) dengan MLG-TP(02), KLT-KT(04) dengan MNK(3), dan LPG-SA(01) dengan TSK-IH(B-01). Namun karena penampakan fenotip dari ketiga pasangan genotip tersebut tidak identik sehingga tidak ditemukan duplikasi aksesi pada 39 koleksi aksesi ciplukan Universitas Brawijaya berdasarkan karakter morfologi.
Kodifikasi dan Deskripsi Tahapan Pertumbuhan Fenologi Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Menurut Skala BBCH Afina Reformasintansari Afina Reformasintansari; Budi Waluyo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1521

Abstract

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman merambat tahunan dari famili fabaceae yang diketahui memiliki banyak manfaat dan memiliki potensi besar untuk kalangan industri. Namun mengetahui manfaat serta potensi dari tanaman tersebut, informasi terkait siklus hidup atau fenologi bunga telang masih terbatas. Sehingga penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari tahap pertumbuhan fenologi tanaman bunga telang dan diharapkan dapat menjadi informasi dasar dalam perakitan varietas bagi pemulia tanaman dan praktik manajemen budidaya bunga telang. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan acuan dari skala BBCH (Biologische Bundesanstalt, Bundessortenamt and CHemical industry). Analisis data yang digunakan adalah statistika deskriptif yang diperoleh dari data observasi yang disajikan secara naratif deskriptif dan menggunakan skala BBCH dengan 3 digit nomor serta dokumentasi pada setiap fase yang diamati. Tahap pertumbuhan fenologi pada tanaman bunga telang meliputi seluruh siklus pertumbuhan, dimulai dari tahap perkecambahan hingga pematangan buah dan biji. Tahap pertumbuhan tanaman bunga telang dapat dideskripsikan menggunakan skala BBCH menjadi 8 dari 10 tahap pertumbuhan utama, yaitu tahap perkecambahan (tahap 0), penampakan daun (tahap 1), pemanjangan batang (tahap 3), munculnya perbungaan (tahap 5), berbunga (tahap 6), perkembangan buah dan biji (tahap 7), pematangan buah dan biji (tahap 8), dan penuaan (tahap 9). Masing-masing dari 8 tahap pertumbuhan utama dibagi menjadi beberapa tahap pertumbuhan sekunder yang dapat mendeskripsikan atau menggambarkan peristiwa yang lebih rinci dalam perkembangan fenologi tanaman bunga telang
Karakterisasi dan Penilaian Variabilitas Morfologi Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Asal Pulau Berbeda di Indonesia Firdausi Firdausi; Budi Waluyo
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 3 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1522

Abstract

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) merupakan salah satu tumbuhan liar yang termasuk dalam keluarga Fabaceae dengan nomor kromosom 2n=16, untuk merakit varietas bunga telang unggul langkah utama yang diperlukan adalah mengetahui keragaman karakter baik karakter pada morfologi maupun agronomi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Mei 2020 di Agrotechno Park Universitas Brawijaya, yang berlokasi di Desa Jatikerto, Kabupaten Malang menggunakan 41 genotipe bunga telang yang dikoleksi dari Pulau Jawa, Madura dan Ternate. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman karakter dan mengetahui jarak genetik aksesi bunga telang. Penelitian dilakukan berdasarkan observasi terhadap genotipe bunga telang menggunakan deskriptor. Keragaman karakter dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA), pengelompokan dan jarak genetik dihitung dengan analisis kluster berdasarkan metode aglomerasi unweighed pair-group method average (UPGMA) berdasarkan similaritas menggunakan ukuran koefisien korelasi gower. Keragaman karakter 41 genotipe bunga telang berdasarkan analisis komponen utama terbagi menjadi 2 komponen utama. Kontribusi masing-masing komponen utama satu dan dua adalah 31,651% dan 21,253% dan didapatkan keragaman total sebanyak 52,94%. Hasil analisis jarak genetik pada 41 genotipe bunga telang menunjukkan bahwa bunga telang terbagi menjadi 4 kelompok, genotipe yang memiliki jarak genetik terjauh berada pada kelompok ke 2 yakni genotipe 69281-03 dengan nilai jarak genetik sebesar 0,45 atau koefisien kemiripan 55%, sedangkan genotipe yang memiliki jarak genetik terdekat berada pada kelompok 4 yang terdiri dari genotipe 69281-02, 69281-04 dan 69281-05 dengan nilai jarak genetik sebesar 0,0375 atau dengan nilai koefisien kemiripan sebesar 96,25%.
Co-Authors Adiredjo, Afifuddin Latif Afina Reformasintansari Afina Reformasintansari Agung Karuniawan Agung Kurniawan Agung Sri Darmayanti Agung Sri Darmayanti Agustiani, Nur Wulan Aikmelisa, Rizka Alfarina Kardiana Sari Alfia Nurfajrin Rohmatillah Amali, Mukhlash Andy Soegianto Anggun Trisnanto Hari Susilo Anita Firdaus Anna Satyana Karyawati Ardhani, Dhiya Nabilla Ariesoesilaningsih, Endang Ariffin Ariffin Bakti, NH. Dias Prayudha Bamratama, Muhammad Rafi Bela Purnama Sari Bimantara, Yusuf Mufti Daffa Dzakwan Pambudi Damanhuri Damanhuri Damanhuri Damanhuri Danniary Ismail Faronny Danniary Ismail Faronny Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Della Amelinda Chaniago Descha Giatri Cahyaningrum Dewi Nawank Sary Effendy Effendy Eggy Akhmad Armandoni Endang Arisoesilaningsih Eries Dyah Mustikarini Eryck Azwary Abraham Surbakti Eva Saulina Sihotang Fadhillah Laila, Fadhillah Faidah, Ahmadah Fakhri Hafidh Fildza Abidah Firdausi Firdausi Gigih Ibnu Prayoga Gita Novita Sari Hadi, Mohamad Iqbal Sohibul Hanna Sinthia Wati Siahaan Hariyati Khasanah Hatta Maulana Hera Livia Damara Hidayati Nafi’ah, Hanny Hikmah, Siti Nurul Iklillah Maulidiyah Warda Intan Widia Santika Izmi Yulianah Jati Batoro Khoiriyah, Lulu Lazimatul Kurniawan, Agus Prayitno Kurniawan, Ainur Rofiq Edy Kurniawan, Puput Kuswanto . Kuswanto . Kuswanto Kuswanto Kuswanto, Kuswanto Lailatul Badriyah Larasmita, Karina Ayu Lestari, Linda Dwi Lily Dasinta Norasary Putri Lulu Lazimatul Khoiriyah Mahmuddin Ridlo Maulana, Hatta Mayang Ayudya Handini Merlya Balbeid Mohammad Jusuf Muhammad, Raihan Fadhil Mulyani, Prinsip Trisna Nihayati, Ellis Niken Kendarini Noer Rahmi Ardiarini, Noer Rahmi Nur Azima Nur Indah Agustina Nurhalisah Nurul Aini Pamulatsih, Dila Permatasari, Lalita Phubby Wilisaberta Praptoko, Regina Sotya Rahagi Prinsip Trisna Mulyani Puguh Irkhamhulhuda PUJI LESTARI Putra, Anggara Ista Putri, Galuh Rahma Prandiny Rachma, Izza Azkiya Raihan Fadhil Muhammad Ramadhanti, Salsabila Rarasatidan, Maharani Gadis Ratna Santi Ratna Santi, Ratna Ratna Zulfarosda Rawina Saragih Raymon BT Debataraja Respatijarti Respatijarti Respatijarti Respatijarti Retno Mastuti Ricoh Darisman Sihombing Rohmatillah, Alfia Nurfajrin Rukmi, Kirana Saptadi, Darmawan Setiawan, Indra Karra Shandila, Puji Sumeru Ashari Sumeru Ashari Sumeru Ashari Susinggih Wijana Tati Nurmala Tatik Wardiyati Thoriq Ahmad Syauqy Utami, Putri Sri Wahyu Alfian Widyatama, Putri Devita Winismasari, Imtikhanna Dyanuar Wiwin Sumiya Dwi Yamika Yulianti, Novi Dwi Zainyah Salmah Arruum Zanetta, Chindy Ulima