Claim Missing Document
Check
Articles

Keragaman Karakter Morfo-Agronomi dan Keanekaragaman Galur- galur Cabai Besar (Capsicum annuum L.) Nur Indah Agustina; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1608

Abstract

The objective of this research was to study the variability of morpho-agronomic characters, genetic distance, and genetic diversity of 39 chili pepper lines. The experiment was conducted from January until June 2017, in Agro Techno Park of Universitas Brawijaya, at Jatikerto, Malang Regency. This research was conducted by using randomized block design (RBD) with treatment of 39 chili pepper genotypes repeated two times. Observation was made on agronomic characters. The variability was analyzed by principal components analysis (PCA) with the approach of the Pearson correlation. Agglomerative hierarchical clustering (AHC) with the Pearson correlation coefficient of similarity and agglomeration method unweighted pair-group average was performed for lines grouping. Genetic diversity was obtained using Shannon index (H’) and Simpson index (D). The agronomic characters variability of chili pepper lines based on principal component analysis (PCA) was divided into 9 principal components  with cumulative variability value 82,59%. Genetic distance was divided into four main groups at coefficient of 91% -100%. Mantel test of genetic distance based on 24 qualitative and 18 quantitative characters showed a significant positive correlation coefficient (r = 0,173 and P <0,0001). Diversity index based Shannon index (H’) included category 1-3 showed that the level of diversity was medium, and based on Simpson index 0,39 showed a low level diversity. The percentage proportion of the abundance in four groups showed a variation. Group A had the highest abundance and group D was the lowest.
Variabilitas genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik beberapa karakter kuantitatif galur F3 kedelai hasil persilangan Anna Satyana Karyawati; Gita Novita Sari; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5174

Abstract

Parameter genetik seperti keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik diperlukan untuk merakit kultivar unggul. Untuk itu dialukan evaluasi keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik populasi galur F3 kedelai dari 16 kombinasi persilangan dengan 6 tetua pada beberapa karakter kuantitatif diantaranya yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman. Penelitian untuk menyiapkan materi genetik dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jatikerto, Malang pada tahun 2013-2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompk (RAK) dengan tiga ulangan. Populasi setiap galur F3 dan tetua pada setiap petak masing-masing 120 tanaman untuk setiap ulangan. Dari hasil keragaman genetik yang diamati, karakter tinggi tanaman, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman memiliki nilai keragaman genetik yang luas, sedangkan jumlah cabang memiliki keragaman genetik yang sempit. Nilai heritabilitas karakter pada kombinasi persilangan memiliki nilai sedang hingga tinggi yang berkisar antara 0,25-0,75. Pada karakter tinggi tanaman dari hasil persilangan galur (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) dan (UB1 x UB2) memiliki nilai heritabilitas sedang yaitu 0,46; 0,39; 0,37; 0,46; 0,46; 0,47; 0,46; 0,25; dan 0,47. Pada nilai kemajuan genetik dari 16 galur hasil persilangan, galur (UB2 x Tanggamus) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling tinggi yaitu 64,35%, sedangkan galur (UB1 x Argopuro) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling rendah yaitu 25,84%.ABSTRACT The F3 soybean progenies derived from 16 cross combinations with six parents were evaluated for their genetic variability, heritability and genetic advances of quantitative traits i.e. plant height, number of branches, number of pods, number of active nodes and seeds weight per plant. The genetic material preparation was conducted at Research Station of Agriculture Faculty, Brawijaya University, Jatikerto, Malang from 2013 to 2016. The experiment was arranged in a randomized block design with three replications. Plant population of each F3 progenies and their parents were 120 plants at each replication. Among the quantitative characters observed, the variability of plant height, number of active nodes, number of pods and seeds weight per plant was wide, and number of branches was narrow. Heritability value in each cross combination had moderate to high value estimates ranged from 0.25 to 0.75. The character of plant height from crossing lines of (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) and (UB1 x UB2) had moderate heritability, i.e. 0.46; 0.39; 0.37; 0.46; 0.46; 0.47; 0.46; 0.25; and 0.47, respectively. The genetic advance from 16 cross combinations, the line of (UB2 x Tanggamus) had the highest mean of genetic advance for 64.35%. The line of (UB1 x Argopuro) had the lowest mean of genetic advance for 25.84%.
Keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan silang pada hibridisasi interspesifik ciplukan (Physalis spp) Zainyah Salmah Arruum; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9368

Abstract

Tanaman ciplukan digunakan untuk menghasilkan buah segar, bahan baku nutraceutical, dan biofarmasi. Kapasitas genetik ciplukan dapat ditingkatkan dengan hibridisasi interspesifik. Ketidakcocokan adalah masalah yang muncul pada persilangan antarspesies. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang hibridisasi interspesifik ciplukan. Penelitian dilaksanakan di Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya pada bulan Januari sampai Juni 2020. Penelitian menggunakan bahan 5 spesies ciplukan, yaitu Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, dan P. ixocarpa. Pola perkawinan dialel digunakan serta pengamatan terhadap hasil penyerbukan diamati. Hasil penyerbukan silang interspesifik memiliki derajat kompatibilitas yang berbeda. Kompatibilitas penyerbukan sendiri pada setiap spesies tinggi. Penyerbukan silang interspesifik P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) kompatibel. Inkompatibilitas parsial terdapat pada penyerbukan silang interspesifik P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2) , P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), dan P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Inkompatibilitas lengkap terjadi pada penyerbukan silang P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) dan P. ixocarpa (PIX-4418-2). Penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang yang kompatibel menghasilkan perbedaan pada karakteristik buah dan benih. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), dan P. pubescens (PPB-68154-04) menghasilkan jumlah benih yang berbeda pada penyerbukan silang interspesifik.AbstractCiplukan is used as a fresh fruit, nutraceutical raw materials, and biopharmaceuticals. Genetic capacity of ciplukan can be increased by interspecific hybridization. Incompatibility is an issue obtained during the interspecific hybridization. Research objective was to study success rate and compatibility of self-pollination and cross-pollination ciplukan interspecific hybridization. Research was conducted at Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya from January to June 2020. Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, and P. ixocarpa were species included in this study. A diallel mating design pattern was used as well as observations of pollination. Interspecific cross pollination was found to have differing degrees of compatibility. Compatibility of self-pollination in each species is high. Interspecific cross-pollination of P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) is compatible. Partial incompatibilities exist in interspecific cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), and P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Complete incompatibility occurred in cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) and P. ixocarpa (PIX-4418-2). Compatible self-pollination and cross-pollination resulted differences in fruit and seed characteristics. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), and P. pubescens (PPB-68154-04) developed different numbers of seeds following interspecific cross-pollination.
Analisis Diversitas Morfologi dan Potensi Persebaran Maja (Aegle marmelos (L.) Corr. dan Crescentia cujete L.) di Mojokerto Fakhri Hafidh; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8808

Abstract

Tanaman maja memiliki sejarah vital bagi masyarakat Mojokerto. Selain sebagai simbol budaya, maja dimanfaatkan untuk pangan, keperluan medis, dan pertanian. Sekarang, keanekaragaman hayati tanaman lokal ini terancam karena minimnya upaya pelestarian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, memetakan sebaran dan potensi sebaran maja serta menganalisis keanekaragaman dan kekerabatannya berdasarkan morfologi. Metode eksplorasi didasari pada survey ekogeografi dan pemetaannya menggunakan model maxent di aplikasi DivaGIS. Indeks Shannon digunakan untuk menganalisis keanekaragaman. Analisis kekerabatan menggunakan aplikasi DARwin dengan metode Neighbor-Joining dan Hierarchical clustering. Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya penurunan populasi maja secara masif di mayoritas wilayah Mojokerto. Kecamatan Trowulan, Jetis, Kota Mojokerto, dan Ngoro menjadi pusat distribusi aktual maja. Indeks Shannon menunjukkan bahwa keanekaragaman morfologi maja pada parameter kualitatif (0,15) jauh lebih rendah dibanding kuantitatif (4,95). Secara umum, keanekaragaman morfologi maja di Mojokerto tergolong dalam kategori sedang (1,95). Ada 4 kategori maja di Mojokerto berdasarkan pengelompokan menggunakan Neighbor-Joining dan 3 kategori menggunakan Hierarchical Clustering.Maja has a vital role in Mojokerto civilization. Aside as a cultural symbol, maja also used as religious festivals, medical purpose, and agricultural practice. Today, the diversity of maja is endangered because of the minimum conservation. The research was conducted to map the actual and potential distribution of Maja. The research also analyzes the diversity and kinship of maja. The Maxent model in DivaGIS was used as the bases of the ecogeographical survey and mapping.. The morphological diversity of maja was assessed by Shannon index and the cluster analysis was carried out based on Neighbor-joining dan Hierarchical clustering method using DARwin software. The result shows that the diversity index of maja in Mojokerto is classified as medium with the value of 1.95. Maja's kinship is divided into 4 groups based on qualitative and 3 groups based on quantitative traits. Maja was spread in Mojokerto and concentrated in 4 sub districts of Trowulan, Jetis, Mojokerto, and Ngoro. Based on the comparison with maxent predictions, there is a massive maja population loss in Mojokerto. Land conversion and plant substitution is a major cause of decrease of maja population.
Keanekaragaman genotipe-genotipe potensial dan penentuan keragaman karakter agro-morfologi ercis (Pisum sativum L.) Rawina Saragih; Darmawan Saptadi; Chindy Ulima Zanetta; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 5, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3230

Abstract

Ercis (Pisum sativum L.) merupakan salah satu tanaman kacang komersial yang penting di dunia termasuk di Indonesia. Ercis lokal merupakan sumber populasi untuk meningkatkan kapasitas genetik hasil panen polong dan biji melalui seleksi galur murni. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari jarak dan keanekaragaman genetik, serta keragaman karakter 37 genotipe potensial ercis hasil seleksi galur murni varietas lokal. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga Juni 2018 di Desa Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 37 genotipe sebagai perlakuan dan diulang tiga kali, sehingga terdapat 111 satuan percobaan. Pengamatan dilakukan pada masing-masing tanaman yakni karakter agronomi dan morfologi. Pengelompokan genetik didasarkan pada agglomerative hierarchical clustering dengan similiritas koefisien kolerasi Pearson dan metode aglomerasi unweighted pair group method average (UPGMA). Keanekaragaman genetik didasarkan pada indeks Shannon-Wiener (H’) dan indeks Shimpson (D). Keragaman karakter agronomi dan morfologi 37 genotipe ercis menggunakan principal component analysis (PCA) dengan pendekatan tipe korelasi Pearson. Berdasarkan analisis klaster 37 genotipe ercis terbagi menjadi 6 kelompok berdasarkan 61 karakter agro-morfologi dengan koefisien kemiripan 89-99%. Diversitas genetik ercis dikategorikan sedang dengan nilai indeks Shanon-Wiener 1,5 dan nilai indeks Simpson 0,26 yang menunjukkan tidak terdapat kelompok genetik yang mendominansi. Tiga puluh tujuh genotipe ercis memiliki keragaman yang luas. Keragaman kumulatif berdasarkan 61 karakter agro-morfologi yang diamati mencapai 87,83% yang melibatkan 44 karakter pada 16 komponen utama pertama.Pea (Pisum sativum L.) is one of the important commercial legumes in the world, including in Indonesia. The aims of the research were to study  genetic distance, diversity, and characters variability of 37 genotypes of pea. The experiment was conducted on March to June 2018 in Pendem, Junrejo, Batu City. The experimental design used a randomized block design with 37 genotypes as treatments and replicated three times. Observations was made on agronomic and morphological characters. Genetic grouping according to agglomerative hierarchical clustering with Pearson correlation coefficient similarity and unweighted pair group average agglomeration method (UPGMA). Genetic diversity based on Shannon-Wiener (H') index and Shimpson (D) index. Variability of agronomic and morphological characters in 37 genotypes was analyzed by principal component analysis (PCA) with Pearson correlation approach. The results showed that cluster analysis of 37 genotypes was divided into six groups in 61 agro-morphological characters with similarity coefficients of 89-99%. Genetic diversity was medium categorized with Shanon-Wiener index value of 1.5 and Simpson index value of 0.26. It was indicated that no dominating on genotypes group. Thirty seven genotypes of pea showed high variability. Cumulative variability on 61 observed agro-morphological characters reached 87.83% which involved 44 characters in 16 first principal components.
Keragaman genetik dan heritabilitas karakter komponen hasil dan hasil ciplukan (Physalis sp.) Effendy Effendy; Respatijarti Respatijarti; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/1864

Abstract

Ciplukan (Physalis sp.) merupakan salah satu tumbuhan yang potensial untuk dikembangkan sebagai sumber biofarmaka dan buah di Indonesia. Peningkatan produksi ini dapat dilakukan melalui penyediaan varietas-varietas unggul ciplukan dengan meningkatkan kapasitas genetik melalui program pemuliaan tanaman. Pemuliaan tanaman akan berhasil jika terdapat keragaman genetik yang luas dan heritabilitas tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keragaman genetik dan heritabilitas pada karakter komponen hasil dan hasil ciplukan. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 34 aksesi ciplukan sebagai perlakuan diulang tiga kali. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Areng-Areng, Kecamatan Junrejo, Kota Batu pada bulan Mei - September 2017. Karakter pada tanaman ciplukan ada yang mempunyai keragaman luas dan ada yang mempunyai keragaman sempit. Keragaman yang luas terdapat pada tinggi batang, jumlah bunga per tanaman, bobot per buah tanpa kelopak, bobot per buah dengan kelopak, jumlah buah per tanaman, jumlah buah segar per tanaman, bobot buah per tanaman dan bobot buah segar per tanaman. Keragaman yang sempit terdapat pada karakter diameter batang, jumlah cabang tersier, jumlah bunga per cabang tersier, panjang tangkai buah, panjang kelopak, diameter kelopak, panjang buah, diameter buah, dan kemanisan buah. Nilai heritabilitas pada semua karakter termasuk kriteria tinggi. Hal ini menunjukkan pengaruh genetik lebih besar dibandingkan dengan faktor fenotip pada penampilan karakter tanaman ciplukan. Ciplukan (Physalis sp.) is one of the potential plant to be developed as a source of medical plant and fruit in Indonesia. Increase production of this plant can be done through the provision of improved varieties of ciplukan by increasing the genetic capacity through plant breeding programs. Plant breeding will be successful if there is high genetic variability and heritability. This study aimed to study genetic variability and heritability on the character of yield component and yield in Physalis. The experiment used a randomized block design with 34 accessions of ciplukan as treatment repeated three times. The research was conducted in Areng-Areng sub-district, Junrejo District, Batu City from May until September 2017. Characters in ciplukan plants have wide and narrow variability. Characters that have a wide variability are stem height, number of flower per plant, number of fruits per plant, number of fruits per plant, weight per fruit without husks, weight per fruit with husk, weight of fruit per plant, and weight of fresh fruit per plant. Characters that have narrow variability are stem diameter, number of tertiary branching, number of flower per tertiary branching, length of fruit stalk, husk length, husk diameter, fruit length, fruit diameter, and sweetness. All characters have high heritability. This shows a greater genetic influence compared to phenotypic factors on the appearance of ciplukan characters. Physalis, genetic variablity, heritabilityKey words : 
PENGARUH ELISITOR KITOSAN TERHADAP KANDUNGAN WITHANOLID TUNAS IN VITRO AKSESI TANAMAN Physalis angulata DARI PULAU MADURA Retno Mastuti; Jati Batoro; Budi Waluyo
Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia Vol 14 No 1 (2021): Jurnal Tumbuhan Obat Indonesia
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22435/jtoi.v14i1.4301

Abstract

ABSTRACT Chitosan is often applied to in vitro culture systems to induce the biosynthesis of a plant's secondary metabolites. The accumulation and profile of secondary metabolites of the same plant species growing in different environments can vary. This study aims to identify and measure withanolide compounds of in vitro shoots of Physalis angulata accessions. Samples obtained from three regions in Madura Island, namely Sampang (A1), Sumenep (A2 and A4), and Pamekasan (A5). Withanolide compounds of in vitro shoots derived from different types of explants after treated with chitosan were also identified and measured. In vitro nodal and apical shoot explants were used for shoot induction on MS medium + BAP 2 mg/L + 0.05 mg/L IAA. In vitro shoots were elicited for six weeks in the shoot induction medium supplemented with 125 mg/L chitosan. Subsequently, in vitro culture of shoots regenerated from explants of nodal (B) and apical shoots (C) without (B1) and with (B2 and C) elicitation of chitosan were extracted and analyzed by HPLC to detect and measure the withanolide compounds. In vitro shoot extracts from all regions contained 38 types of withanolide compounds. The level of the withanolide compound in each region was different. Chitosan increased withanolide levels in vitro shoots regenerated from nodal explant A1, A2, and A4. The withanolide level in vitro shoot regenerated from apical shoot explants A1 and A4 were higher than that in A2 and A5. These results indicated that the in vitro shoots of P. angulata plant accession in Sampang, Sumenep, and Pamekasan had different levels of withanolide. Chitosan was able to increase the accumulation of withanolide compounds in vitro shoots of P. angulata. The types of explants showed different responses in the synthesis and accumulation of withanolide. This study showed that in vitro systems can be used to produce P. angulata plants and increase the level of withanolides compounds. These results indicated that the use of the in vitro system was able to supply P. angulata and withanolide production to support the supply of traditional medicine raw material. Keywords: accession, chitosan, elicitor, Physalis, withanolides ABSTRAK Elisitor kitosan sering digunakan pada tanaman untuk menginduksi biosintesis senyawa metabolit sekunder secara in vitro. Akumulasi dan profil senyawa metabolit sekunder spesies tanaman sama yang tumbuh di lingkungan berbeda dapat bervariasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur senyawa withanolid pada tunas in vitro aksesi Physalis angulata yang diperoleh dari tiga wilayah di Pulau Madura, yaitu Sampang (A1), Sumenep (A2 dan A4) dan Pamekasan (A5). Senyawa withanolid pada tunas in vitro yang berasal dari jenis eksplan yang berbeda setelah dielisitasi dengan kitosan juga diidentifikasi dan diukur. Eksplan nodus dan tunas apikal in vitro digunakan untuk induksi tunas pada medium MS + BAP 2 mg/L + IAA 0,05 mg/L. Tunas in vitro dielisitasi selama enam minggu di medium induksi tunas yang ditambah dengan kitosan 125 mg/L. Selanjutnya kultur tunas in vitro hasil regenerasi eksplan nodus (B) dan tunas apikal (C) tanpa (B1) dan dengan (B2 dan C) elisitasi kitosan diekstrak dan dianalisis dengan HPLC untuk mendeteksi dan mengukur senyawa withanolidnya. Ekstrak tunas in vitro dari semua wilayah mengandung 38 jenis senyawa withanolid. Jenis withanolid yang sama menunjukkan kadar yang berbeda di setiap wilayah. Kitosan meningkatkan rata-rata kadar withanolid tunas in vitro hasil regenerasi eksplan nodus dari wilayah A1, A2 dan A4. Tunas in vitro hasil regenerasi eksplan tunas apikal setelah elisitasi menunjukkan kadar withanolid lebih tinggi pada aksesi A1 dan A4, tetapi lebih rendah pada aksesi A2 dan A5. Pada penelitian ini diketahui bahwa tunas in vitro setiap aksesi dari setiap wilayah di Pulau Madura memiliki kadar withanolid yang berbeda. Elisitor kitosan mampu meningkatkan akumulasi senyawa withanolid pada tunas in vitro P. angulata. Jenis eksplan memberikan respons berbeda pada sintesis dan akumulasi withanolid. Hasil ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sistem in vitro berpeluang untuk penyediaan bahan tanam P. angulata maupun produksi withanolid dalam rangka mendukung penyediaan bahan baku jamu. Kata kunci: aksesi, elisitor, kitosan, Physalis, withanolid
Hubungan Karakter Agronomi Dan Karakteristik Fisik Biji Terhadap Hasil Biji Dan Hasil Minyak 20 Galur Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) Perlakuan Kolkisin Generasi Ke-5 Bela Purnama Sari; Budi Waluyo
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 4, No 2 (2019)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.024 KB) | DOI: 10.21776/ub.jpt.2019.004.2.7

Abstract

Jarak kepyar adalah tanaman sumber minyak nabati dari famili Euphorbiaceae. Tanaman jarak kepyar sangat berpotensi dengan hasil produksi minyak yang tinggi. Produksi jarak kepyar di Indonesia pada tahun 2000-2014 cenderung mengalami penurunan, sedangkan kebutuhan minyak jarak kepyar sebagai bahan industri masih tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari hubungan karakter agronomi dan karakteristik fisik biji terhadap hasil biji dan hasil minyak 20 galur jarak kepyar hasil perlakuan kolkisin generasi CT5. Penelitian telah dilaksanakan di desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang pada bulan Januari 2018 hingga Mei 2018. Alat yang digunakan ialah seperangkat alat budidaya jarak kepyar, beberapa macam alat ukur, kamera, panduan Descriptor Draft National Guidelines for the Conduct of Tests for Distinctness, Uniformity and Stability Castor dan deskriptor dari Geneva (2016). Bahan yang digunakan ialah 20 galur CT5 dan pupuk NPK. Masing-masing galur terdapat 6 tanaman dengan 2 kali ulangan dengan jarak tanam 100x100 cm. Pengamatan terdiri dari karakter-karakter agronomi dan karakteristik fisik biji serta uji minyak. Data kuantitatif dianalisis dengan analisis varians, kovarians, dan korelasi. Terdapat korelasi genetik dan fenotip antara karakter agronomi dan karakteristik fisik biji dengan hasil biji dan hasil minyak galur-galur jarak kepyar CT5. Karakter yang berkorelasi genetik dan fenotip nyata terhadap hasil biji ialah tinggi tanaman, diameter batang atas, panjang batang utama, diameter ruas, panjang tangkai daun, panjang helai daun, lebar helai daun, jumlah jari-jari daun, jumlah buah, berat tandan, berat buah, jumlah biji, bobot 100 biji, panjang biji, diameter aritmatik biji, dan luas permukaan biji.
Pendugaan Jarak Genetik Berdasarkan Karakter Agromorfologi Genotip Jarak Kepyar Hasil Penerapan Kolkisin Generasi Ke-4 Hariyati Khasanah; Budi Waluyo
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.798 KB)

Abstract

Jarak kepyar (Ricinus communis L.) adalah salah satu komoditi penghasil sumberdaya nabati yang banyak dimanfaatkan menyebabkan permintaan bijinya di berbagai negara meningkat. pendugaan jarak genetik diperlukan sehingga dapat dimanfaatkan dalam program pemuliaan tanaman. Tujuan penelitian untuk menduga keragaman karakter agromorfologi jarak kepyar hasil penerapan kolkisin generasi ke-4 (CT4) aplikasi kolkisin serta untuk mempelajari jarak genetik dan pengelompokan genotip jarak kepyar generasi CT4 aplikasi kolkisin berdasarkan karakter agromorfologi. Penelitian dilaksanakan di Kepuharjo, Malang pada bulan April sampai September 2017. Bahan yang digunakan adalah 25 genotip jarak kepyar generasi CT4 aplikasi kolkisin, pupuk kompos, dan pupuk Urea, SP36 dan KCl. Setiap genotip terdapat 8 tanaman dengan 2 kali ulangan, jarak antar tanaman 90 x 50 cm. Pengamatan jarak kepyar dilakukan dengan mengamati  karakter agronomi dan karakter morfologi. Terdapat keragaman karakter agromorfologi pada 25 genotip jarak kepyar generasi CT4 mencapai 92,64% yang melibatkan 16 komponen utama pertama. Karakter yang berkontribusi terhadap keragaman terdapat pada karakter tinggi tanaman, lebar tanaman, panjang tangkai daun, bobot tandan utama, jumlah buah tandan utama, bobot buah per tanaman, berat tandan sekunder dan tersier, jumlah biji tandan utama, bobot biji tandan sekunder dan tersier serta bobot biji per tanaman. Pengelompokan genotip berdasarkan 72 karakter agromorfologi pada genotip jarak kepyar CT4  terbagi menjadi 6 kelompok yang memiliki jarak genetik yang bervariasi dengan rentang 0 – 0,08. Genotip yang memiliki jarak genetik 0 terdapat pada genotip C1012(CT4)-18[(M)] dengan C1012(CT4)-19[(K)] serta genotip yang memiliki jarak genetik mencapai 0,08 adalah genotip C864(CT4)-7[(T0 I)] dengan C1012(CT4)-19[(K)].
Korelasi Antara Komponen Hasil dengan Hasil pada Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) Intan Widia Santika; Budi Waluyo; Noer Rahmi Ardiarini
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.626 KB)

Abstract

Produksi biji bunga matahari belum memenuhi kebutuhan pasar di Indonesia, Salah satu upaya untuk mengingkatkan produksi biji bunga matahari adalah melalui seleksi yang memiliki hasil tinggi. Analisis korelasi digunakan untuk mengetahui hubungan karakter komponen hasil dan hasil prouksi biji bunga matahari. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari korelasi genetik dan korelasi fenotip karakter komponen hasil pada tanaman bunga matahari. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-September 2017 di Kepuharjo, Malang. Bahan penelitian terdiri dari 9 genotip bunga matahari yang berasal dari koleksi plasma nutfah Laboratorium Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Metode yang digunakan yaitu rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa  komponen hasil yang memiliki korelasi genetik dan fenotip nyata terhadap hasil adalah tinggi tanaman, panjang daun, lebar daun, jumlah daun, inisiasi bunga, hari berbunga, diameter bunga, hari panen, total biji per bunga dan total biji per tanaman.
Co-Authors Adiredjo, Afifuddin Latif Afina Reformasintansari Afina Reformasintansari Agung Karuniawan Agung Kurniawan Agung Sri Darmayanti Agung Sri Darmayanti Agustiani, Nur Wulan Aikmelisa, Rizka Alfarina Kardiana Sari Alfia Nurfajrin Rohmatillah Amali, Mukhlash Andy Soegianto Anggun Trisnanto Hari Susilo Anita Firdaus Anna Satyana Karyawati Ardhani, Dhiya Nabilla Ariesoesilaningsih, Endang Ariffin Ariffin Bakti, NH. Dias Prayudha Bamratama, Muhammad Rafi Bela Purnama Sari Bimantara, Yusuf Mufti Daffa Dzakwan Pambudi Damanhuri Damanhuri Damanhuri Damanhuri Danniary Ismail Faronny Danniary Ismail Faronny Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Darmawan Saptadi Della Amelinda Chaniago Descha Giatri Cahyaningrum Dewi Nawank Sary Effendy Effendy Eggy Akhmad Armandoni Endang Arisoesilaningsih Eries Dyah Mustikarini Eryck Azwary Abraham Surbakti Eva Saulina Sihotang Fadhillah Laila, Fadhillah Faidah, Ahmadah Fakhri Hafidh Fildza Abidah Firdausi Firdausi Gigih Ibnu Prayoga Gita Novita Sari Hadi, Mohamad Iqbal Sohibul Hanna Sinthia Wati Siahaan Hariyati Khasanah Hatta Maulana Hera Livia Damara Hidayati Nafi’ah, Hanny Hikmah, Siti Nurul Iklillah Maulidiyah Warda Intan Widia Santika Izmi Yulianah Jati Batoro Khoiriyah, Lulu Lazimatul Kurniawan, Agus Prayitno Kurniawan, Ainur Rofiq Edy Kurniawan, Puput Kuswanto . Kuswanto . Kuswanto Kuswanto Kuswanto, Kuswanto Lailatul Badriyah Larasmita, Karina Ayu Lestari, Linda Dwi Lily Dasinta Norasary Putri Lulu Lazimatul Khoiriyah Mahmuddin Ridlo Maulana, Hatta Mayang Ayudya Handini Merlya Balbeid Mohammad Jusuf Muhammad, Raihan Fadhil Mulyani, Prinsip Trisna Nihayati, Ellis Niken Kendarini Noer Rahmi Ardiarini, Noer Rahmi Nur Azima Nur Indah Agustina Nurhalisah Nurul Aini Pamulatsih, Dila Permatasari, Lalita Phubby Wilisaberta Praptoko, Regina Sotya Rahagi Prinsip Trisna Mulyani Puguh Irkhamhulhuda PUJI LESTARI Putra, Anggara Ista Putri, Galuh Rahma Prandiny Rachma, Izza Azkiya Raihan Fadhil Muhammad Ramadhanti, Salsabila Rarasatidan, Maharani Gadis Ratna Santi Ratna Santi, Ratna Ratna Zulfarosda Rawina Saragih Raymon BT Debataraja Respatijarti Respatijarti Respatijarti Respatijarti Retno Mastuti Ricoh Darisman Sihombing Rohmatillah, Alfia Nurfajrin Rukmi, Kirana Saptadi, Darmawan Setiawan, Indra Karra Shandila, Puji Sumeru Ashari Sumeru Ashari Sumeru Ashari Susinggih Wijana Tati Nurmala Tatik Wardiyati Thoriq Ahmad Syauqy Utami, Putri Sri Wahyu Alfian Widyatama, Putri Devita Winismasari, Imtikhanna Dyanuar Wiwin Sumiya Dwi Yamika Yulianti, Novi Dwi Zainyah Salmah Arruum Zanetta, Chindy Ulima