Claim Missing Document
Check
Articles

PERBANDINGAN PASAL KUHP LAMA DAN KUHP BARU TENTANG PERTANGGUNGJAWABAN TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN HEWAN Saputra, Rian Prayudi
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024 (Special Issue)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.32625

Abstract

Tujuan penelitian menganalisis perbandingan kualifikasi tindak pidana pembunuhan terhadap hewan menurut KUHP lama dan KUHP baru. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian hukum normatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) KUHP lama tindak pidana pembunuhan hewan diatur dalam Buku 2 (dua) yaitu mengenai pidana kejahatan, sedangkan dalam KUHP baru tindak pidana pembunuhan hewan diatur dalam Buku 2 (dua) tentang Tindak Pidana. Selain itu pidana penjara terhadap orang yang melakukan tindak pidana tersebut dalam KUHP lama lebih tinggi dibandingkan yang ada dalam KUHP baru, serta dalam KUHP lama memiliki pasal tersendiri mengenai tindak pidana tersebut, sedangkan dalam KUHP baru tidak ditemukan adanya demikian melainkan terjadi penggabungan antara pasal tindak pidana pembunuhan hewan dengan pasal tindak pidana penganiayaan hewan. (2) Pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana pembunuhan hewan menurut KUHP lama yaitu secara garis besar terletak pada unsur kesalahan dimana dalam hal ini haruslah unsur kesalahan yang disengaja agar dapat pelaku mempertanggungjawabkan pidananya, sedangkan dalam KUHP lama mengenai unsur kesalahan tidak diatur secara jelas.
PENYULUHAN KONSEKUENSI HUKUM MAIN HAKIM SENDIRI OLEH MASYARAKAT TERHADAP PENCURI DI KAMPAR Rian Prayudi Saputra; Ratna Riyanti; Bella Citra Dewi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 6 (2025): Vol. 6 No. 6 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i6.55880

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan kesadaran hukum masyarakat di Kabupaten Kampar mengenai larangan tindakan main hakim sendiri (eigenrichting) terhadap pelaku pencurian. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus insiden pengeroyokan pencuri motor di Kampar Kiri Hilir pada Januari 2026, penelitian ini menganalisis bahwa fenomena tersebut dipicu oleh faktor internal seperti rendahnya pendidikan dan kesadaran hukum, serta faktor eksternal seperti melemahnya wibawa hukum dan provokasi massa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan main hakim sendiri melanggar prinsip negara hukum serta pasal-pasal dalam KUHP, seperti Pasal 170 dan 351, yang dapat menjerat pelaku kekerasan dengan sanksi pidana. Sebagai upaya penanggulangan, diperlukan strategi komprehensif yang meliputi tindakan preventif melalui patroli kepolisian, tindakan abolisionistik untuk memberantas akar masalah sosial, serta tindakan pre-emtif melalui penyuluhan hukum secara rutin guna mengubah pola pikir masyarakat agar lebih mempercayakan penyelesaian tindak pidana kepada aparat penegak hukum.
Sosialisasi Strategi Daerah Pencegahan Perkawinan di Bawah Umur 19 Tahun di Kabupaten Kampar Tahun 2020–2025: Pengabdian Ratna Riyanti; Rian Prayudi Saputra
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7380

Abstract

Perkawinan anak masih menjadi salah satu permasalahan sosial yang memerlukan perhatian berbagai pihak. Kabupaten Kampar merupakan salah satu daerah yang berupaya menekan angka perkawinan anak melalui penyusunan Strategi Daerah (STRADA) Pencegahan Perkawinan Anak. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai batas usia perkawinan berdasarkan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 serta memperkenalkan strategi daerah pencegahan perkawinan anak. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan, diskusi interaktif, dan evaluasi melalui pre-test dan post-test. Sasaran kegiatan adalah remaja, orang tua, tokoh masyarakat, dan perangkat desa. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai dampak perkawinan anak, pentingnya pendidikan, kesehatan reproduksi, serta peran keluarga dalam pencegahan perkawinan di bawah usia 19 tahun. Kegiatan ini diharapkan dapat mendukung implementasi Strategi Daerah Kabupaten Kampar dalam menurunkan angka perkawinan anak.
Dinamika Sistem Pemerintahan Presidensial di Indonesia dalam Mewujudkan Stabilitas Politik dan Efektivitas Penyelenggaraan Negara: Penelitian Ratna Riyanti; Rian Prayudi Saputra; Silfina Agustin
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.401

Abstract

-Sistem pemerintahan presidensial di Indonesia pasca-amandemen Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengalami penguatan signifikan yang ditandai dengan pemilihan Presiden secara langsung dan mekanisme pemberhentian berdasarkan hukum (impeachment). Namun, penataan konstitusional ini menghadapi tantangan besar dalam praktiknya akibat penerapan sistem multipartai yang menyebabkan fragmentasi parlemen dan mendorong terbentuknya koalisi pragmatis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika sistem pemerintahan presidensial setelah amandemen UUD 1945 serta merumuskan upaya konkret dalam mewujudkan stabilitas politik dan efektivitas penyelenggaraan negara. Metode penelitian yang digunakan adalah metode hukum normatif dengan pendekatan konseptual dan pendekatan peraturan perundang-undangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penguatan normatif sistem presidensial belum sepenuhnya menjamin stabilitas dan efektivitas karena kuatnya kecenderungan politik transaksional yang melemahkan peran oposisi. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan redesain hubungan kelembagaan eksekutif-legislatif yang seimbang, penyederhanaan sistem kepartaian yang sehat, pembentukan koalisi yang programatik, evaluasi berkala terhadap pemilu serentak, serta peningkatan partisipasi publik guna menjaga legitimasi demokratis yang responsif terhadap kepentingan rakyat.
Tinjauan Yuridis Tindak Pidana Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam Putusan PN Bangkinang Nomor 258/PID.SUS/2020/PN.BKN: Penelitian Dede Sati Kurniawan; Hafiz Sutrisno; Rian Prayudi Saputra
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 1 February - May 2
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i1.422

Abstract

Salah satu konflik yang terjadi dalam rumah tangga yang dapat menimbulkan akibat hukum adalah kekerasaan dalam rumah tangga. Kasus kekerasan dalam rumah tangga adalah segala jenis kekerasan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh anggota keluarga kepada anggota keluarga yang lain. Kekerasan dalam rumah tangga kebanyakan terjadi terhadap perempuan. Tingkat kekerasan khususnya kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh suami terhadap pasangannya atau keluarga lain dalam lingkup rumah tangga semakin meningkat dalam masyarakat, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Salah satu kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di daerah Kabupaten Kampar adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh seorang suami terhadap istri dalam Putusan PN Bangkinang Nomor 258/Pid.Sus/2020/PN.Bkn. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana perlindungan hukum terhadap istri sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga dan bagaimana pertimbangan hukum oleh hakim dalam menjatuhkan pidana pada kasus Putusan Nomor 258/Pid.Sus/2020/PN.Bkn. Metode yang digunakan adalah yuridis normatif. Hasil yang didapatkan yang pertama adalah penerapan tentang perlindungan hukum terhadap istri sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga Berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Kedua adalah pertimbangan hakim dalam menjatuhkan pidana pada kasus kekerasan dalam rumah tangga Putusan Nomor 258/Pid.Sus/2020/PN.Bkn. Hakim menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama 9 (sembilan) bulan dengan mempertimbangkan keadaan yang memberatkan dan meringankan dakwaan. Keadaan yang memberatkan adalah perbuatan pelaku yang membuat korban merasakan sakit fisik. Keadaan yang meringankan adalah terdakwa belum pernah dihukum, terdakwa mengaku terus terang perbuatannya sehingga memperlancar jalannya persidangan, terdakwa berlaku sopan di persidangan dan terdakwa menyesali perbuatannya dan tidak akan mengulangi lagi.
Pelaksanaan Penyidikan Tindak Pidana Kehutanan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Dinas Kehutanan Provinsi Riau: Pengabdian Syahrial; Maya Intan Pratiwi; Rian Prayudi Saputra
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.4878

Abstract

PPNS Kehutanan adalah lingkup instansi kehutanan pusat dan daerah yang oleh UU diberi wewenang khusus penyidikan di bidang kehutanan dan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Untuk itu diperlukan adanya pengawasan hutan secara terpadu sehingga dapat meminimalkan kerusakan yang terjadi khususnya kasus penebangan liar. Masalah pokok dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pelaksanaan penyidikan tindak pidana kehutanan oleh Penyidik PPNS di Dinas Kehutanan Provinsi Riau dan apa saja kendala-kendala yang dihadapi dalam penyidikan tindak pidana kehutanan oleh PPNS di Dinas Kehutanan Provinsi Riau. Metode penelitian adalah Penelitian Hukum Yuridis Empiris dengan cara survey. Penelitian ini bersifat deskriptif analitis yaitu memberikan gambaran suatu kejadian yang terjadi secara jelas dan terperinci. Berdasarkan hasil penelitian, Pelaksanaan penyidikan tindak pidana kehutanan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di Dinas Kehutanan Provinsi Riau menunjukkan bahwa, secara hukum kewenangan PPNS telah dijalankan sesuai dengan ketentuan Pasal 50 ayat (3) huruf e dan Pasal 50 ayat (4) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan jo. Pasal 1 ayat (1) dan Pasal 6 ayat (1) huruf b KUHAP, namun efektivitas penegakan hukum masih terkendala oleh keterbatasan sumber daya manusia, sarana-prasarana penyidikan, serta koordinasi antar aparat penegak hukum, sehingga berdampak pada belum optimalnya perlindungan dan pengamanan hutan di wilayah Provinsi Riau. Dan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan penyidikan tindak pidana kehutanan oleh PPNS yaitu lemahnya koordinasi antar penegak hukum, pelaku utama (aktor intelektual) yang sulit ditembus oleh hukum, adanya otonomi daerah, kurangnya sarana dan prasarana serta keterbatasan dana.
Erosi Konstitusionalisme Analisis Yuridis Terhadap Independensi Mahkamah Konstitusi Dalam Dinamika Politik Hukum Kontemporer: Penelitian Ratna Riyanti; Rian Prayudi Saputra; Hafiz Sutrisno
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 3 (Januari 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i3.5512

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan dekonstruksi analitis terhadap posisi Mahkamah Konstitusi (MK) dalam struktur ketatanegaraan Indonesia di tengah arus legalisme otokratis yang kian menguat. Sebagai lembaga yang lahir dari rahim reformasi, MK memegang mandat sakral sebagai The Guardian of the Constitution dan The Protector of Human Rights. Namun, seiring berjalannya waktu, independensi lembaga ini menghadapi tantangan eksistensial yang berasal dari politik hukum rekrutmen hakim dan intervensi regulatif melalui perubahan Undang-Undang Mahkamah Konstitusi.​Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah yuridis normatif dengan pendekatan doktrinal yang mendalam, mencakup analisis terhadap teori pemisahan kekuasaan (separation of powers), prinsip independensi peradilan (judicial independence), dan doktrin kebijakan hukum terbuka (open legal policy). Penelitian ini membedah bagaimana mekanisme rekrutmen yang melibatkan tiga cabang kekuasaan—Presiden, DPR, dan Mahkamah Agung—menciptakan loyalitas ganda yang berpotensi mereduksi objektivitas hakim konstitusi. Lebih jauh, kajian ini mengevaluasi fenomena judicial capture yang terjadi ketika lembaga peradilan dikooptasi oleh kepentingan politik melalui penentuan masa jabatan dan pemberhentian hakim secara sepihak.​Hasil kajian menunjukkan bahwa terdapat ambiguitas dalam penerapan doktrin open legal policy oleh MK, yang seringkali digunakan sebagai instrumen untuk menghindari konfrontasi politik dengan pembentuk undang-undang, sehingga mengabaikan perlindungan terhadap hak konstitusional warga negara dalam perkara-perkara strategis seperti ambang batas pencalonan presiden dan regulasi pemilu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa diperlukan reorientasi fundamental dalam sistem HTN Indonesia, khususnya melalui pembentukan mekanisme seleksi hakim yang independen, transparan, dan partisipatif, serta penguatan jaminan konstitusional terhadap masa jabatan hakim guna memastikan MK tetap menjadi benteng terakhir dalam menjaga negara hukum yang demokratis (democratische rechtsstaat). Tanpa adanya reformasi sistemik, eksistensi MK dikhawatirkan hanya akan menjadi legitimator bagi kehendak mayoritas yang mengabaikan prinsip-prinsip konstitusionalisme.
Implikasi Pengaturan Baru Tindak Pidana Perzinahan terhadap Perlindungan Hak Asasi Manusia di Indonesia: Penelitian Rian Prayudi Saputra
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 3 Nom
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v3i3.187

Abstract

The changes to the criminal provisions for adultery in the New Criminal Code (Law No. 1 of 2023) have sparked debate regarding the relationship between public morality and human rights protection. This reformulation represents a significant shift from the Old Criminal Code, particularly in expanding the scope of the offense, reporting subjects, and strengthening norms of order and morality. This study aims to analyze the implications of the new provisions for adultery on human rights principles, particularly the rights to privacy, non-discrimination, individual autonomy, and family protection, and to assess their compliance with the principles of the rule of law, the balance between public morality and individual freedom, and the limits of legitimate human rights restrictions. The method used is normative legal research with a legislative, conceptual, and analytical approach, using sources from regulations, criminal law literature, human rights instruments, court decisions, and analysis of official institutions. The results of the study indicate fundamental differences between the Old and New Criminal Codes, particularly in the expansion of the criminalization of extramarital sexual relations and the increase in the number of complainants. This expansion creates the potential for family conflict, misuse of complaints, and the criminalization of the private sphere. From a human rights perspective, this could violate the right to privacy, personal liberty, and the principle of non-discrimination, particularly for couples without registered marriages. However, the offense of complaint remains a relative barrier to prevent repressive use of criminal law. Challenges also arise in terms of evidentiary aspects, the capacity of authorities, and the diversity of societal values. The study concluded that although the new regulation is intended to strengthen morality and family order, it has the potential to conflict with human rights principles if not implemented carefully. Therefore, harmonization of morality, legal certainty, and respect for human rights is necessary to ensure that the implementation of the New Criminal Code does not violate citizens' fundamental freedoms.
Penegakan Hukum Ilegal Loging Berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan di Wilayah Hukum Polres Kampar Tasya Ulfa Yahya; Rian Prayudi Saputra; Hafiz Sutrisno
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 3 No. 3 (2025): Vol. 3 No. 3 (2025): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 3 Nom
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v3i3.199

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empiris tindakan Kepolisian Resor Kampar dalam menangani pelaku tindak pidana illegal logging berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan. Illegal logging masih menjadi persoalan nyata di wilayah hukum Polres Kampar, khususnya di Kecamatan Kuok, meskipun telah terdapat regulasi yang tegas dan sanksi pidana yang berat. Praktik tersebut berdampak langsung terhadap kerusakan lingkungan, meningkatnya risiko bencana alam, serta terganggunya kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis empiris dengan sifat deskriptif. Data diperoleh melalui penelitian lapangan dengan teknik observasi, wawancara, kuesioner, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi aparat kepolisian yang menangani perkara illegal logging, pelaku tindak pidana, serta masyarakat yang terdampak langsung oleh aktivitas pembalakan liar. Data sekunder diperoleh dari peraturan perundang-undangan dan dokumen resmi Polres Kampar terkait penanganan perkara illegal logging. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan kepolisian terhadap pelaku illegal logging telah dilaksanakan melalui dua pendekatan, yaitu preventif dan represif. Tindakan represif dilakukan melalui penyelidikan, penyidikan, penangkapan pelaku, penyitaan barang bukti berupa kayu hasil pembalakan dan alat angkut, serta pelimpahan perkara ke tahap penuntutan. Sementara itu, tindakan preventif dilakukan melalui patroli rutin di kawasan rawan illegal logging, sosialisasi hukum kepada masyarakat, serta koordinasi dengan instansi terkait. Namun, berdasarkan temuan lapangan, penegakan hukum tersebut belum berjalan secara optimal dan belum sepenuhnya menimbulkan efek jera bagi pelaku. Hambatan utama yang ditemukan antara lain keterbatasan jumlah personel kepolisian, minimnya sarana dan prasarana pendukung, luasnya wilayah pengawasan, serta rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam melaporkan tindak pidana illegal logging. Selain itu, faktor ekonomi masyarakat sekitar kawasan hutan turut mempengaruhi keberlangsungan praktik illegal logging. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun tindakan kepolisian telah sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013, efektivitas penegakan hukum masih memerlukan penguatan melalui peningkatan kapasitas aparat, optimalisasi koordinasi antarinstansi, serta pelibatan aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan pengawasan perusakan hutan.
Hukum Pidana dalam Perspektif Global: Analisis Komprehensif Perbandingan Hukum Pidana dan Sistem Peradilan Dunia: Penelitian Rian Prayudi Saputra
Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Pustaka Cendekia Hukum dan Ilmu Sosial Volume 4 Nomor 2 June - September
Publisher : PT PUSTAKA CENDEKIA GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70292/pchukumsosial.v4i2.517

Abstract

Studi perbandingan hukum pidana memegang peranan krusial di era globalisasi guna memahami dinamika sistem peradilan dan penegakan keadilan di pelbagai negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif hakikat, urgensi, klasifikasi keluarga hukum (legal families), metodologi, serta perbandingan hukum pidana materiil dan formal di tingkat global. Metode penelitian yang digunakan berlandaskan pada pendekatan fungsional, historis-kontekstual, serta pemetaan makro dan mikro perbandingan. Hasil pembahasan menunjukkan perbedaan mendasar antara rumpun hukum Civil Law, Common Law, Hukum Islam, dan Hukum Sosialis dalam merumuskan sumber hukum, konsep kesalahan (mens rea vs schuld), doktrin pembelaan diri, hingga tata cara persidangan (inkuisitorial vs adversarial). Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun sistem hukum yang memegang monopoli kebenaran mutlak; masa depan perbandingan hukum pidana kian mengarah pada konvergensi hukum demi membentuk sistem peradilan domestik yang berkepastian hukum, humanis, dan responsif.