Abstract: This article discusses the formation of morals or character in the education process and has recently been increasingly discussed in the midst of Indonesian society, especially by academics. Many of the events that have occurred indicate a decline in morals. We must examine the causes, solutions, and how this nation is built for a better future, success in the world and happiness in the hereafter. This study uses a qualitative approach with a literature study method. The thoughts of Thomas Lickona, a Western character education expert, emphasize the importance of integrating character education into the school curriculum, through a holistic approach that includes moral knowledge, moral feelings, and moral actions, while Ibn Miskawaih is widely discussed in this article where the research results obtained Character education according to Lickona focuses on three main dimensions: moral knowing (moral knowledge), moral feeling (moral feelings), and moral action (moral actions) while maskawih Ibn Maskawih bases the concept of moral education on Islamic philosophy, which emphasizes the purification of the soul (tazkiyah al-nafs) and the formation of good habits as the foundation of morals. Influenced by Greek philosophers such as Plato, Zeno, and Aristotle, in addition, he was also influenced by Muslim philosophers such as al-Kindi, al-Farabi, and ar-Razi. The purpose of education according to Ibn Miskawaih is to realize an inner attitude that is able to spontaneously encourage all good deeds to obtain true and perfect happiness. Ibn Miskawaih who emphasizes the formation of morals through habituation, role modeling, imitation and continuous training is very much in line with the current curriculum in Indonesia. The conclusion of this article is that character/moral education according to both Thomas Lickona and Ibn Maskawih has high relevance in building people with integrity, although their approaches come from different backgrounds. Lickona offers an approach based on psychology and social practice, while Ibn Maskawih provides a deep spiritual and philosophical dimension. The integration of these two perspectives can provide a holistic character/moral education model, covering rational, emotional, spiritual, and practical aspects, which are relevant to both modern and traditional contexts. Abstrak: Artikel ini berbicara mengkaji tentang pembentukan akhlak atau karakter didalam proses Pendidikan serta akhir-akhir ini semakin banyak diperbincangkan di tengah-tengah masyarakat Indonesia, terutama oleh kalangan akademisi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi, banyak sekali yang menunjukkan terjadinya kemerosotan akhlak. Hal tersebut harus kita telaah penyebabnya, solusi pemecahannya, dan bagaimana bangsa ini dibangun untuk masa depan yang lebih baik, sukses di dunia dan bahagia di akhirat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Pemikiran Thomas Lickona seorang ahli pendidikan karakter dari Barat, menekankan pentingnya mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah, melalui pendekatan holistik yang mencakup pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral sedangkan Ibnu Miskawaih banyak dipedalam pembahasan artikel ini dimana hasil penelitian yang didapat Pendidikan karakter menurut Lickona berfokus pada tiga dimensi utama: moral knowing (pengetahuan moral), moral feeling (perasaan moral), dan moral action (tindakan moral) sedangkan maskawih Ibnu Maskawih mendasarkan konsep pendidikan akhlak pada filsafat Islam, yang menekankan penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) dan pembentukan kebiasaan baik sebagai fondasi akhlak.ngaruhi oleh filsuf Yunani seperti Plato, Zeno, dan Arisoteles, disamping itu, ia juga dipengaruhi oleh filsuf muslim seperti al-Kindi, al-Farabi, dan ar-Razi. Tujuan pendidikan menurut Ibnu Miskawaih adalah untuk mewujudkan sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan yang bernilai baik agar memperoleh kebahagiaan yang sejati dan sempurna. Ibnu Miskawaih yang menekankan pembentukan akhlak dengan cara pembiasaan, peneladanan, peniruan dan pelatihan secara kontinyu sangat sesuai dengan kurikulum di Indonesia saat ini, Kesimpulan dari artikel ini Pendidikan karakter/akhlak baik menurut Thomas Lickona maupun Ibnu Maskawih memiliki relevansi yang tinggi dalam membangun manusia yang berintegritas, meskipun pendekatan keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda. Lickona menawarkan pendekatan berbasis psikologi dan praktik sosial, sedangkan Ibnu Maskawih memberikan dimensi spiritual dan filosofis yang mendalam. Integrasi kedua perspektif ini dapat memberikan model pendidikan karakter/akhlak yang holistik, mencakup aspek rasional, emosional, spiritual, dan praktikal, yang relevan untuk konteks modern maupun tradisional.