Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Karakteristik Edible Film Berbasis Agar (Geledium sp.) Dan Tepung Tapioka Dengan Persentase Agar Yang Berbeda Dewi, Kartika; Widyaningsih, Dhea; Asih, Eka Nurrahema Ning; Insafitri, Insafitri; Prastari, Cindytia
Juvenil Vol 6, No 4: November (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i4.31920

Abstract

ABSTRAKTepung tapioka merupakan salah satu bahan hidrokoloid dalam pembuatan edible film namun memiliki sifat gel yang lemah dan mudah robek sehingga perlu penambahan agar (Gelidium sp.). Penambahan agar dalam pembuatan edible film berbasis tepung tapioka bertujuan agar edible film yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi agar terbaik sebagai polisakarida tambahan untuk memperbaiki nilai kuat tarik pada edible film berbahan tepung tapioka.  Perlakuan yang diberikan berupa perbedaan konsentrasi agar, yaitu P1= 0,12%, P2= 0,14%, dan P3= 0,16%. Karakteristik yang di uji berupa ketebalan, water vapor transmission rate (WVTR), kuat tarik, kadar air, dan kelarutan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam satu arah (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan konsentrasi agar pada edible film berbeda nyata terhadap ketebalan sebesar 0,042-0,52 mm, kuat tarik sebesar 15,39-21,43 MPa, tetapi tidak berbeda nyata terhadap water vapor transmission rate (WVTR), kadar air, dan kelarutan. Formulasi P3 menghasilkan karakteristik edible film terbaik. Perlakuan ini menunjukkan kuat tarik tertinggi (21,43 MPa), WVTR terendah (3,84 g/m²/hari), serta nilai ketebalan, kadar air, dan kelarutan yang masih dalam batas ideal karakteristik edible film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi tepung tapioka dan agar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan kemasan ramah lingkungan yang aplikatif pada industri pangan.Kata kunci: kelarutan, ketebalan, kuat tarik, water vapor transmission rate (WVTR)ABSTRACTTapioca flour, a hydrocolloid substance utilized in the production of edible films, possesses limited gelling capabilities and is prone to tearing; hence, the addition of agar (Gelidium sp.) is required. The addition of agar in the process of making tapioca flour-based edible films aims to ensure that the edible film possesses the desirable qualities. This research aims to determine the optimal concentration of agar as an additive polysaccharide to improve the tensile strength of edible films made from tapioca flour. The given treatments consisted of varying agar concentrations: P1 = 0.12%, P2 = 0.14%, and P3 = 0.16%. The evaluated characteristics included thickness, water vapor transmission rate (WVTR), tensile strength, moisture content, and solubility. The data obtained were analysed using one-way ANOVA (analysis of variance). The research results showed that different agar concentrations in edible films significantly affected thickness (0.042-0.52 mm) and tensile strength (15.39-21.43 MPa), but did not significantly affect water vapour transmission rate (WVTR), moisture content, and solubility. Formulation P3 produced the best edible film characteristics. This treatment showed the highest tensile strength (21.43 MPa), the lowest WVTR (3.84 g/m²/day). Thickness, moisture content, and solubility values were all within the optimal ranges for edible film properties.Keywords: solubility, tensile strength, thickness, water vapor transmission rate (WVTR)
SOSIALISASI DAN PRAKTIK PEMBUATAN PESTISIDA NABATI UNTUK MENDUKUNG PERTANIAN RAMAH LINGKUNGAN DESA SEBONG LAGOI Natasya, Nurul; Rizwana, Nurul Atiqah; Patricya, Vanessa; Anisa, Nurstefani; Rozahana, Seffi; Syafitri, Kinasih Dewi; Olyvia, Jessyola; Febrianty, Wan Jesica; Prastari, Cindytia; Febrilian, hanisah
Jurnal Pemberdayaan Maritim Vol 8 No 1 (2025): Journal of Maritime Empowerment
Publisher : Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, dan Penjaminan Mutu, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/jme.v8i1.7655

Abstract

Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 30 Universitas Maritim Raja Ali Haji dilangsungkan di Desa Sebong Lagoi dengan tema “Daun Pepaya Senjata Hijau Lawan Hama” yang berfokus pada penyuluhan serta praktik pembuatan pestisida berbahan alami. Alasan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mengatasi isu yang dihadapi oleh petani yang masih bergantung pada pestisida kimia, yang berdampak buruk bagi tanah, tanaman, lingkungan, serta biaya produksi. Melalui pendekatan observasi, diskusi, dan praktik langsung, mahasiswa berperan sebagai penghubung untuk memperkenalkan pemanfaatan daun pepaya sebagai cara alternatif dalam mengendalikan hama secara ramah lingkungan. Hasil dari kegiatan ini memperlihatkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilan masyarakat mengenai pembuatan dan penggunaan pestisida nabati. Warga menunjukkan minat yang tinggi, ikut berperan aktif dalam praktik, dan mengungkapkan keinginan untuk menggunakan pestisida alami karena lebih terjangkau, mudah didapatkan, serta aman bagi lingkungan. Dengan cara ini, program ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap masalah hama, tetapi juga membantu mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan, sehat, dan ramah lingkungan, sekaligus memperkuat kontribusi nyata dari perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat desa. Selain itu, kegiatan ini juga selaras dengan tujuan Kuliah Kerja Nyata yaitu membangun masyarakat kepulauan melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai budaya, meningkatkan kemampuan kepemimpinan serta kerja sama mahasiswa lintas disiplin, serta mencari solusi atas permasalahan pembangunan masyarakat desa secara berkelanjutan.
Sosialisasi Pengembangan Produk Pie Berbasis Rumput Laut sebagai Inovasi Ekonomi Kreatif di Desa Resun, Kabupaten Lingga Prastari, Cindytia; rahman, R Fathul; Anggraini, Anna; Benny Manullang; Aidil Fadli Ilhamdy; Anggrei Viona Seulalae; Azwin Apriandi; Jumsurizal; R Marwita Sari Putri; Karla Amalia; Raja Afriansyah; Kartika Dewi
JDISTIRA - Jurnal Pengabdian Inovasi dan Teknologi Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Yayasan Rahmatan Fidunya Wal Akhirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58794/jdt.v6i1.1916

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengembangkan inovasi apple pie berbasis rumput laut (Eucheuma cottonii) sebagai upaya peningkatan nilai tambah komoditas lokal dan penguatan ekonomi kreatif masyarakat pesisir di Desa Resun, Kabupaten Lingga. Program ini dilaksanakan melalui rangkaian sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan pembuatan produk yang berorientasi pada peningkatan keterampilan, pengetahuan, serta minat kewirausahaan masyarakat. Apple pie berbasis rumput laut diperkenalkan sebagai alternatif produk pangan inovatif yang dapat diterima konsumen sekaligus mudah diaplikasikan oleh masyarakat desa. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa produk apple pie berbasis rumput laut memiliki tingkat penerimaan yang baik dan pelatihan mampu meningkatkan pemahaman serta kepercayaan diri peserta dalam mengolah dan mengembangkan produk secara mandiri. Mayoritas peserta menilai kegiatan bermanfaat dan menunjukkan minat untuk menjadikan produk sebagai peluang usaha. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini tidak hanya menghasilkan inovasi produk pangan berbasis sumber daya lokal, tetapi juga berkontribusi nyata dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi kreatif desa secara berkelanjutan.
Pemberdayaan Masyarakat Desa Pangkil melalui Inovasi Brownies Fortifikasi Tepung Ikan Rucah untuk Peningkatan Nilai Tambah Manullang, Benny; Prastari, Cindytia; Ilhamdy, Aidil Fadli; Seulalae, Anggrei Viona; Jumsurizal, Jumsurizal; Putri, R Marwita Sari; Rahman, R Fathul; Amrizal, Sri Novalina; Viruly, Lily; Oktavia, Yulia; Apriandi, Azwin; Harefa, Sedianto; Darmawan, Faiz Maulana; Armandaris, Muhammad Ja’far; Fitri, Syarifah Aida; Istiqhomah, Istiqhomah
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 10, No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v10i1.115038

Abstract

Empowering The Pangkil Village Community Through Innovation of Fortified Brownies Made from By-catch Fish Flour. Pangkil Village, Teluk Bintan District is one of the small islands in the Riau Islands Province that has abundant fishery potential, including bycatch fish, but has not been optimally utilized. Bycatch fish have great potential as cheap and highly nutritious fortified food ingredients in the form of fish meal. This activity aims to improve the knowledge and skills of the Pangkil Village community in processing bycatch fish into innovative products in the form of bycatch fish meal fortified fudgy brownies and to increase the added value of local fishery products. The methods used included socialization, training in making bycatch fish meal-fortified fudgy brownies, organoleptic testing, and activity evaluation. The preparation of fudgy brownies is divided into three parts: preparation of chocolate dough, egg dough, and addition of wheat flour and bycatch fish meal. The resulting fudgy brownies had a whole appearance, a slightly dense texture from the outside but soft inside, chocolate aroma, sweet taste, and brown color. The results of the organoleptic test showed that the panelists liked the bycatch fish meal fortified fudgy brownies in all sensory attributes. The questionnaire analysis results showed that the average training achievement score was 4.42, which fell into the "agree-strongly agree" category. This value indicates that the training activities were effective and well received by the participants. The results of the activity benefit test showed that p>0.05. This indicates that the benefits of the training were felt equally by all participants, both experienced and beginner. These findings indicate that the participatory training methods and hands-on practice used were able to reach all participants equally well. Overall, this activity has contributed to improving the economy of coastal communities and developing local potential based on fishery products.