p-Index From 2021 - 2026
6.103
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Jurnal Farmasi Klinik Indonesia Medika Tadulako Journal of Islamic Pharmacy Preventif: Jurnal Kesehatan Masyarakat Jurnal Profesi Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Farmasains : Jurnal Ilmiah Ilmu Kefarmasian JRST (Jurnal Riset Sains dan Teknologi) Majalah Farmasi dan Farmakologi (Trends in Pharmacy and Pharmaceutical Sciences) JRB-Jurnal Riset Bisnis JSFK (Jurnal Sains Farmasi & Klinis) JFL : Jurnal Farmasi Lampung PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia Pharmaceutical Journal of Indonesia Majalah Farmasetika Pharmacoscript Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal) Health Information : Jurnal Penelitian PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Jurnal Farmagazine Hubungan Tingkat Pengetahuan Petugas Pengelola Obat dengan Tingkat Ketersediaan Obat Di Puskesmas Kota Malang Jurnal Ekonomi Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako) Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Pharmaceutical Sciences and Research (PSR) Sciences of Pharmacy Eduvest - Journal of Universal Studies Innovative: Journal Of Social Science Research Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Jurnal Sains dan Kesehatan Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi dan Kesehatan Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Obat Antivirus Oseltamivir dan Favipiravir pada Pasien Covid-19 Derajat Sedang di Rumah Sakit Sentra Medika Cisalak Depok Arif Rahmandani; Prih Sarnianto; Yusi Anggriani; Fredrick Dermawan Purba
Majalah Farmasetika Vol. 6, Supl. 1, Tahun 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v6i0.36667

Abstract

Analisis Efektivitas biaya (CEA) merupakan metode farmakoekonomi yang digambarkan dalam rasio biaya-efektivitas agar dapat membantu pengambilan keputusan dalam memilih obat yang efektif secara manfaat dan biaya. Tujuan penelitian ini untuk menentukkan terapi yang lebih cost-effective antara penggunaan Oseltamivir dan Favipiravir pada pasien Covid-19 derajat sedang. Penelitian ini menggunakan metode penlitian cross sectional dengan pengumpulan data secara prospektif dan observational non eksperimental yang merupakan analisa deskriptif kuantitatif menurut perspektif pasien untuk memperoleh efektifitas biaya. Sampel pada penelitian ini terdiri dari 108 pasien yaitu 50 pasien yang menggunakan antivirus Oseltamivir dan 58 pasien menggunakan antivirus Favipiravir. Hasil penelitian diperoleh dari parameter efektivitas perbaikan nilai C-Reaktif Protein (CRP) pasien yang menggunakan Oseltamivir rata-rata mengalami perbaikan nilai CRP 18.52 mg/L tidak ada perbedaan yang signifikan dengan pasien yang menggunakan antivirus Favipiravir rata-rata mengalami perbaikan nilai CRP 19.36 mg/L. sedangkan dari parameter Length of Stay (LOS) pasien yang menggunakan Oseltamivir rata-rata dirawat inap selama 7.42 hari lebih cepat dibandingkan pasien yang menggunakan antivirus Favipiravir 9.21 hari, untuk rerata biaya total perawatan pasien yang menggunakan antivirus Oseltamivir sebesar Rp32.794.002,- lebih kecil dibandingkan rerata biaya total perawatan pasien yang menggunakan antivirus Favipiravir Rp42.504.281,- sehingga didapat nilai CER Oseltamivr Rp4.419.677,- lebih kecil dibandingkan nilai CER Favipiravir Rp4.615.014,- oleh karena itu penggunaan obat yang lebih cost-effective yaitu antivirus Oseltamivir dibandingkan Favipiravir.
ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGGUNAAN ERITROPOETIN (HEMAPO® , EPOTREX®, NEORECORMON®) PADA PASIEN HEMODIALISIS DI RSUP PERSAHABATAN Chandra Widianti; Yusi Anggriani; Tri Kusumaeni; Okpri Meila
Jurnal Kedokteran Syiah Kuala Vol 18, No 3 (2018): Volume 18 Nomor 3 Desember 2018
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jks.v18i3.18017

Abstract

Abstrak. Penerapan INA-CBGs (Indonesia Case Base Groups) di era JKN mendorong penyedia layanan kesehatan, untuk menghitung biaya yang dikeluarkan agar tidak merugi. Pada pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang menjalani hemodialisis, prevalensi anemia cukup tinggi, sehingga diberikan eritropoetin (EPO). Dibutuhkan penelitian untuk mengetahui dari beberapa jenis EPO, mana yang lebih cost-effective. Penelitian deskriptif non-eksperimental dilakukan di Unit Hemodialisa Rumah Sakit Persahabatan. Efektivitas terapi ditentukan oleh peningkatan kadar hemoglobin (Hb) setelah 3 (tiga) bulan berturut-turut mendapatkan terapi EPO yang sama. Analisis efektivitas-biaya diperoleh dengan menghitung nilai CER (Cost-Effectiveness Ratio). Hasil menunjukkan penggunaan Neorecormon® memiliki efektivitas yang lebih tinggi dengan persentase jumlah pasien yang mengalami peningkatan Hb sebesar 56,41% dibandingkan Hemapo® (54%) dan Epotrex® (52,63%). Total biaya pengobatan rata-rata dengan Hemapo® , Epotrex® dan Neorecormon® masing-masing Rp. 32.552.117, Rp. 34.787.487 dan Rp. 32.866.969. Hasil perhitungan nilai CER dalam penggunaan Neorecormon® untuk pasien yang mengalami peningkatan Hb adalah Rp 58.264.437, lebih kecil daripada Hemapo® (Rp. 60.281.698) and Epotrex® (Rp. 66.098.208). Berdasarkan nilai CER dan tabel efektivitas-biaya, menunjukkan bahwa Neorecormon® adalah pilihan terapi yang lebih cost-effective daripada Hemapo® dan Epotrex®.Kata-kata kunci: Analisis efektivitas-biaya, hemodialisis, eritropoetinAbstract. INA-CBGs (Indonesia Case Base Groups) in JKN era, encourages health care providers to calculate costs incurred so as not to lose money. In Chronic Renal Failure (CRF) patients who undergo hemodialysis, anemia prevalence is high enough to require administration of erythropoietin (EPO). It’s necessary to investigate the therapeutic treatment from several types of EPO, which is more cost-effective. Descriptive non-experimental research conducted in the Hemodialysis Unit in Persahabatan Hospital. The effectiveness determined by an increased in hemoglobin (Hb) levels after three (3) months earned the same EPO therapy. Cost-effectiveness analysis is obtained by calculated the CER (Cost-Effectiveness Ratio). The results shows that Neorecormon® have a higher effectiveness with the percentage of patients whose Hb level increase by 56.41% comparing to Hemapo® (54%) and Neorecormon® (52.63%). The average total cost with Hemapo®, Epotrex® and Neorecormon® each successive Rp. 32.552.117, Rp. 34.787.487 and Rp. 32.866.969. The CER value of Neorecormon® show cost-effectiveness of Rp 58.264.437 for a patient with an increase in Hb, smaller than Hemapo® (Rp. 60.281.698) and Epotrex® (Rp. 66.098.208). Based on CER value and cost effectiveness grid, shows that Neorecormon® is the choice that is more cost-effective than Hemapo® and Epotrex®. Keywords : Cost effectiveness analysis, hemodialysis, erythropoetin
BIAYA MEDIS LANGSUNG PASIEN HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) ARJAWINANGUN DAN RSUD WALED KABUPATEN CIREBON Dosi Ahmad Yani; Prih Sarnianto; Yusi Anggriani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.8 KB) | DOI: 10.37874/ms.v4i1.123

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan global dengan biaya tinggi. Terapi Pengganti Ginjal (TPG) yang paling sering dilakukan yaitu hemodialisis (HD). Saat ini sebagian besar pasien PGK yang melakukan HD dijamin pembiayaannya oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-K) dengan besaran jaminan sesuai tarif Indonesian Case-Base Groups (Ina-CBGs) yang pernah mengalami penurunan pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripskan biaya medis langsung pasien yang menjalani hemodialisis untuk mengetahui rata-rata biaya pelayanan selama satu tahun (real cost), mengetahui besaran biaya apabila pelayanan diberikan sesuai standar pelayanan menurut Perhimpunan Nefrologi Indonesia, PERNEFRI (ideal cost) serta membandingkan ideal cost dengan tarif Ina-CBGs untuk RS pemerintah tipe B. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dari sudut pandang pemberi pelayanan (Rumah Sakit) pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data biaya diambil dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan data klaim InaCBGs. Analisis data dilakukan untuk melihat rata-rata biaya medik langsung dan membandingkannya dengan biaya untuk pelayanan ideal. Dari 93 pasien yang dianalisis, 51,6% berjenis kelamin laki-laki, usia rata-rata (minimal-maksimal) 48 (20-75) tahun, 86% menikah, pendidikan sekolah dasar atau dibawahnya 49,5%. Biaya medis langsung Rp. 791.967; 9,9% lebih kecil dari biaya klaim InaCBGs. Namun biaya ideal HD rata-rata Rp 958.467; 8,7% lebih besar dari biaya klaim InaCBGs. Kesimpulan penlitian adalah biaya InaCBGs HD masih lebih besar dari real cost, namun lebih kecil dari ideal cost.
Analisis Perbandingan Kualitas Hidup Pasien Skizofrenia Fase Stabil pada Pengobatan Kombinasi Risperidon-Haloperidol dengan Kombinasi Klozapin-Risperidon-Haloperidol di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat Yusi Anggriani; Dian Khairunisa; Wilson Wilson; Nurita Andayani
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2022.11.1.1

Abstract

Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa kompleks yang dapat menimbulkan beban berat bagi individu dan keluarga. Pengobatan skizofrenia perlu masa yang panjang dan menahun karena merupakan penyakit kronis yang berpotensi terjadi kekambuhan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kualitas hidup/Health-Related Quality of Life (HRQoL) pasien skizofrenia yang mendapatkan terapi antipsikotik kombinasi risperidon dan haloperidol (RH) dengan kombinasi klozapin, risperidon, dan haloperidol (CRH). Penelitian ini berjenis kohort selama pengobatan pada 95 pasien rawat inap skizofrenia (fase stabil sampai fase pulang) yang diambil menggunakan teknik consecutive sampling. Pengambilan data dilakukan secara prospektif dari bulan Maret–Mei 2020 di Rumah Sakit Jiwa (2020) Provinsi Kalimantan Barat. Data kualitas hidup diambil menggunakan kuesioner the 5-Level European Quality of Life 5 Dimensions (EQ5D-5L) versi Bahasa Indonesia yang diisi oleh dua responden, baik perawat dan pasien pada saat bersamaan, pada saat pre- dan post-pengobatan. Uji Mann-Whitney digunakan untuk melihat perbedaan antarterapi, sedangkan uji Wilcoxon digunakan untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah pengobatan. Hasil uji beda antarkelompok menggunakan uji Mann-Whitney pada sebelum pengobatan/fase stabil (pre) menunjukkan tidak terdapat perbedaan HRQoL antara kelompok RH dan CRH baik versi pasien maupun perawat (p>0,05), dan tidak terdapat perbedaan HRQoL yang signifikan antara kelompok RH dan CRH baik versi pasien maupun perawat pada fase pulang (post) (p>0,05). Uji beda sebelum dan sesudah pengobatan dalam tiap kelompok menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan terdapat perbedaan signifikan dari awal pasien masuk fase stabil sampai fase pulang baik pada kelompok RH (p=0,006) maupun kelompok CRH (p<0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa kombinasi RH dibandingkan dengan kombinasi CRH tidak memberikan perbedaan yang signifikan dalam peningkatan kualitas hidup pasien skizofrenia. Kata kunci: Antipsikotik, the 5-Level European Quality of Life 5 Dimensions, kualitas hidup, skizofrenia Comparative Analysis of the Quality of Life of Schizophrenic Patients between Combination Therapy of Risperidone-Haloperidol and Clozapine-Risperidone-Haloperidol in a Mental Health Hospital in West Kalimantan ProvinceAbstractSchizophrenia is one of the most complex mental disorders that can burden individuals and families, and it requires long-term treatment since it is a chronic disease that can potentially relapse. Therefore, this study compared the Health-Related Quality of life (HRQoL) of schizophrenic patients receiving a combination of antipsychotic therapy of risperidone and haloperidol (RH) antipsychotic therapy to clozapine, risperidone, and haloperidol (CRH). This was an observational cohort, prospective, pre-post observation study of schizophrenic inpatients at the Mental Hospital of West Kalimantan Province in the stable and discharge phases. Data were collected prospectively from March–May 2020, and consecutive sampling was conducted on 95 respondents. The Indonesian version of The 5-Level European Quality of Life 5 Dimensions (EQ5D-5L) questionnaire was filled by nurses and patients simultaneously to measure the HRQoL. The pre-therapy analysis performed at the stable phase using the Mann-Whitney test showed no difference in HRQoL between RH and CRH groups (p>0.05). Meanwhile, during the discharge phase (post-therapy), the HRQoL of the RH and CRH groups was not significantly different (p>0.05). The Wilcoxon test showed a significant difference in the RH and CRH groups from the beginning of the patients’ stable phase to the discharge (p<0.05). Therefore, there is a significant difference between RH and CRH combination therapy as well as the HRQoL improvement of schizophrenic patients.   Keywords: Antipsychotics, the 5-Level European Quality of Life 5 Dimensions, HRQoL, schizophrenia
ANALISIS PROFIL PENGOBATAN, BIAYA DAN CLINICAL OUTCOMES PASIEN DM KARTU JAKARTA SEHAT DAN UMUM DI RSUD TARAKAN Nanang Erlana; Yusi Anggriani; Briliana Sabirin
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 3 No 1 (2018): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.494 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v3i1.141

Abstract

Pemerintah provinsi DKI Jakarta telah menerapkan UU Nomor 23/1992 berupa pembiayaan kesehatan yaitu dengan menetapkan penjaminan kesehatan melalui Kartu Jakarta Sehat (KJS). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui  dampak dari pelaksanaan JKN terhadap pofil pengobatan, biaya dan clinical outcomes pasien DM tipe 2 yang beralih menjadi BPJS serta mengetahui gambaran HRQoL pasien KJS dan pasien Umum.Penelitian ini dilakukan secara longitudinal time dengan mengambil data  secara restrospektif dari rekam medik, dokumen/kuitansi dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan dokumen/kuitansi dari bagian keuangan periode Juli 2013 sampai Desember 2014 untuk pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Subjek penelitian adalah pasien diabetes mellitus tipe 2 rawat jalan di RSUD Tarakan Jakarta sebanyak 108 pasien KJS dan 20 pasien Umum yang menjadi sampel penelitian. Penelitian ini merupakan analisis korelasi untuk mengetahui hubungan antara karakteristik penduduk dengan frekuensi masalah kesehatan. Populasi yang digunakan sama, namun pada waktu yang berbeda yaitu sebelum JKN dan sesudah JKN. Analisa data dilakukan dengan tahapan analisa secara deskriptif untuk mengetahui persentase setiap variabel yang diuji. Secara deskriptif terdiri dari 4 (empat) variabel yaitu demografi pasien, profil pengobatan, biaya dan clinical outcomes. Analisa perbedaan profil pengobatan dan biaya  sebelum dan sesudah JKN menggunakan uji statistik Wilcoxon. Kuesioner yang dibuat dan diberikan kepada pasien bertujuan untuk menilai Health Related Quality of life (HRQoL) yang digunakan adalah Diabetes Quality of Life Clinical Trial Questionanaire (DQLCTQ) yang telah divalidasi versi Indonesia. Kueisoner ini disusun oleh United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS).Hasil penelitian secara statistik pada profil pengobatan tidak ada perbedaan bermakna antara pasien KJS dengan pasien Umum pada  obat DM dan  obat Non DM. Secara statistik pada biaya tidak ada perbedaan bermakna antara pasien KJS dengan pasien Umum pada biaya obat Non DM. Sedangkan secara statistik ada perbedaan bermakna antara pasien KJS dengan pasien Umum pada biaya pengobatan, biaya total obat dan rata-rata biaya obat DM. Pada pengukuran clinical outcomes pasien KJS dan  pasien Umum menunjukkan perbedaan pada jumlah pasien dengan GDP dan HBA1c membaik, stabil dan memburuk. Pada pengukuran kualitas hidup (DQLCTQ) tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok pasien KJS dan pasien Umum pada semua domain.
ANALISIS EFEKTIVITAS TERAPI ANTIRETROVIRAL PADA PASIEN HIV/AIDS RAWAT JALANDI RSUP FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2016 Yusi Anggriani; Alfina Rianti; Jenny Pontoan; Yulwa Juwita
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2019): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.813 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v4i1.212

Abstract

The increasing of HIV/AIDS every year become a health problem in Indonesia. Patients of HIV/AIDS should use longterm Antiretroviral (ARV) therapy of antiretroviral therapy to support the success of antiretroviral therapy. The objective of this study was to know and compare the effectivity of four ARV combination. The four ARV combination are combination A (AZT+3TC+NVP), combination B (AZT+3TC+EFV), combination C (TNF+3TC+NVP), combination D (TNF+3TC+EFV) base on increasing CD4. This study cohort-longitudinal design. Samples for this study were taken by total sampling using all data of HIV/AIDS outpatients at RS Fartmawati on 2016. The inclusion criteria were patients of (≥17 years old), received treatment of either one of the four ARV combination, and had data of CD4 from laboratory result before and 6-12 months after the treatment. Data were taken from patients medical record and analyzed with non-parametric Kruskal Wallis-test. The study results showed of 124 patients had increased the CD4 mean >100 sel/mm3 one year after the treatment. The average rate of increment of each combination of antiretroviral therapy on a median CD4 cell count of 1 year was a combination of A (73.93), combination B (70.87), combination C (48.73), combination D (55.57) and there was a significant difference in CD4 cell gain in patients taking combination A-C (p value = 0.047), combination A-D (p value = 0.041), and combination B-D (p value = 0.045) at the evaluation on 1 year. Conclusion, combination A is more effective than combination B, D and C.
Jumlah Kunjungan, Profil Pengobatan, dan HRQoL Pasien Rawat Jalan DM Tipe 2 pada Era JKN YUSI ANGGRIANI; MITA RESTINIA; NURLAYLI NURLAYLI
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 14 No 2 (2016): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1993.384 KB)

Abstract

Asuransi kesehatan pemerintah bertransformasi dari Asuransi Kesehatan (ASKES) menjadi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) sejak 1 Januari 2014. Terdapat perbedaan metode pembayaran antara ASKES dan JKN. ASKES menggunakan metode fee for services dan JKN menggunakan metode INA-CBGs. Tujuan penelitian yaitu untuk melihat dampak pelaksanaan JKN terhadap jumlah kunjungan, profil pengobatan, dan Health Related Quality of Life (HRQoL) pada pasien DM tipe 2 rawat jalan pada salah satu RS tipe B di Jakarta. Penelitian dilakukan secara time series longitudinal. Total sampel yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 103 pasien. Pasien laki-laki sebanyak 36(35%) dan perempuan 67(65%). Terdapat 98% pasien memiliki usia lebih dari 45 tahun. Sebanyak 95(92%) pasien dengan diagnosa DM tanpa komplikasi dan 8(8%) pasien DM dengan komplikasi. Setelah pelaksanaan JKN, terdapat penurunan jumlah kunjungan pasien dan jumlah obat perpasien baik pada pasien DM tanpa komplikasi dan komplikasi. Kami juga menemukan bahwa persentase obat non DM lebih tinggi dibandingkan dengan obat DM. Secara statistik, jumlah obat DM dan non DM tidak berbeda secara signifikan antara sebelum dan setelah JKN (P>0,05). Rata-rata skor HRQoL pada era JKN lebih besar dari 80. Skor ini menunjukkan bahwa pasien memiliki kualitas hidup yang baik. Berdasarkan analisa statistik, kualitas hidup pasien berbeda berdasarkan jenis kelamin dan usia. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan jumlah obat dan profil pengobatan setelah pelaksanaan JKN dan pasien memiliki kualitas hidup yang baik pada era JKN baik.
Peranan Kebijakan Obat dalam Memperbaiki Keterjangkauan Obat Yusi Anggriani
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 16 No 2 (2018): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.972 KB) | DOI: 10.35814/jifi.v16i2.550

Abstract

Medicine is a pharmaceutical product that has imperfect market characteristics. This affects affordability to the community, and therefore it is necessary for the government to regulate medicine prices. Medicine prices can be regulated in the medicine supply chain by the industry, importers, distributors and health facilities such as pharmacies, hospitals and medicine sellers. Developed and high income countries generally regulate the prices of medicines and are part of a health insurance system. In contrast with the situation in developed countries, medicine pricing regulation in developing countries and Lower Middle Income Countries is not well established. The regulation of mark-ups in distribution channels is the most common strategy used by LMIC. Small country with only a few pharmaceutical facilities has a weak bargaining position, generally the government cannot set prices. The application of cost-plus pricing is quite effective if it is implemented in a small country. In developing countries with a large market segment and adequate pharmaceutical industry facilities the price competition method is an effective strategy option to get lower prices. In practice, the application of medicine pricing policy is dynamic. The medicine pricing system in a country can be changed or combined with other methods if the evaluation does not provide optimal results or generates unintended impacts.
Analisis Dampak Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) Dalam Meningkatkan Outcome Klinis Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas Jakarta, Indonesia Reise Manninda; Yusi Anggriani; Astrid Kartika Sari
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 19 No 2 (2021): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v19i2.1107

Abstract

Prolanis is a Chronic Disease Management Program under the Indonesian National Health Insurance for promoting and preventing chronic disease. Main activities of Prolanis program are disease control and counseling, scheduled education, scheduled exercise, participant’s remainder, and home visit. The aim of this study was to evaluate the impact of prolanis on the clinical outcome in type 2 Diabetes Mellitus (DM) patients. An observational retrospective study was evaluated for 12 months. Data was collected from medical record. 426 patients from five primary health care center in Jakarta was selected by simple random sampling and divided into prolanis and non-prolanis groups. The indicators were the difference of clinical outcome between prolanis and non-prolanis patients was analyzed using Mann-Whitney test; the correlation of adherence with clinical outcome was analyzed using Chi-Square test.The results showed that prolanis patients had a significant improvement in Fasting Blood Glucose (FBG) compared with non-prolanis patients (P<0.05). The adherence of prolanis patients showed a significant improvement on FBG (124 patients-58.2%). Patients with nonadherence had lower improvement on FBG, the improvement was observed only at 16 patients (7.5%) and 60 patients (28.17%) was poor FBG. Prolanis is an effective program to improve the clinical outcome of DM patients.
Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan Kombinasi Zidovudin, Lamivudin, Nevirapin dan Kombinasi Tenofovir, Lamivudin, Efavirenz Pada Pasien HIV/AIDS di RSUD Kota Bekasi Yusi Anggriani; Fredrick D. Purba; Reise Manninda; Tarsinah Tarsinah
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 18 No 2 (2020): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35814/jifi.v18i2.905

Abstract

HIV/AIDS has become a global issue in many countries. The implementation of ARV / HAARTprograms is always changing, due to clinical reasons, population factors, and aff ordability. Pharmacoeconomic studies can be one of the considerations in the policy process for procurement and selection of therapy regimens. The aims of this study were to determine the eff ectiveness of treatment based on CD4 increase and cost eff ectiveness analysis of HAART A and HAART B treatment regimens. This study used a cross sectional observation method. Retrospective data collection and non-experimental observation where conducted followes by a quantitative descriptive analysis according to the patient's perspective to obtain costeffectiveness data. Data were statistically analyzed to obtain the cost-eff ectiveness of treatment. The results showed that the cost-eff ectiveness analysis (CEA) of two regimens found that HAART A was more dominant than HAART B with a signifi cant diff erence p<0.05. While ACER regimen HAART A (16,227) was greater than the value ACER therapy B (28,330.7).
Co-Authors Abillah, Syamsudin Ade Rosanti AGUS PURWANGGANA Agusdini Banun Agusdini Banun Saptaningsih Ahmad Subhan AHMAD SUBHAN Ahriansyah, Andi Alfina Rianti Alfina Rianti Andalucia, Rizka Annisa Nadya Pratiwi Annisa, Rifka Aries Meryta ARIES MERYTA Arif Rahmandani Aris Aris Aritonang, MGS Arman Astrid Kartika Sari Ath-Thobari, Jarir Atmiroseva Atmiroseva Banun, Agusdini Briliana Sabirin Candra Junaedi Chaerul Y, Ricky Chandra Widianti Cipto Darmodjati Kumolo Citra Jaya Debi Susanti Desweri Muhareni Dewiyana Andari K Dian Khairunisa Dian Ratih Laksmitawati Dosi Ahmad Yani Dosi Ahmad Yani Dwi Puspita Sari, Dwi Puspita Eduward Gunawan Edwina Dharmawati Elisabeth Ninung Yuliarti Elisna Syahruddin Elsa Maulidya Erfan Chandra Nugraha Erna Kristin Evy Yunihastuti Fadhlia Majidiah Faradiba Faradiba Faridah Syamsiah Fitri Nurhayati Fitriana, Irna Fredrick D. Purba Fredrick Dermawan Purba Fredrik Dermawan Purba Hanafy, Dudy Arman Hardi, Devita Harissa, Nola Herayanti Hermawan Herty Nur Tanty Herty Nur Tanty Hesty Utami Hesty Utami Hesty Utami R Hesty Utami R Hesty Utami R Hesty Utami R Hesty Utami Ramadaniat Hidayat Hidayat ida yuliasari Ilham Maulana Irmin Irmin Irna Fitriana Jayati, Turpuk Mannaria Juju Jumiati L, Dian Ratih Leny Ramadhan M. Kenli Kendi Tampoliu Maria Sukmawati Lesilolo Maria Sukmawati Lesilolo Maura Linda Sitanggang Mawaddati Rahmi Mayasari, Yeshi Melinda, Venni MGS Aritonang MGS. Aritonang Mita Restinia Muhammad Reza Mulatsari, Esti Nanang Erlana Nanang Erlana Neneng Sri Purwaningsih Nurita Andayani NURLAYLI NURLAYLI Nurlela Nurlela Okpri Meila Petrus Kabul Togarma Pontoan, Jenny Prasasta Sutedjo Pratiwi, Annisa Nadya Prih Sarnianto Prih Sarnianto Prih Sarnianto Prih Sarnianto Prih Sarnianto R, Hesty Utami Ramadaniati, Hesty Utami Rasta Naya Pratita Reise Manninda Retnaningrum, Dyah RIA PUSPITA WARDHANI Rianti, Alfina Ricky Chaerul Yazid Rifka Annisa Rina Rosdiana Rochsismandoko Rochsismandoko Rosanti, Ade Rosdaniati Rosdaniati Rosiana, Rosiana Rulliani Bianca Wijaya S.Farm., M.Farm., Apt, Sondang Khairani Sabirin, Briliana Sahat Saragi Sahat Saragih Sari, Ratna Permana Sarnianto, Prih Sarnianto, Prih Sarwono Waspadji Septa, Tendry Setianti Haryani Setyawati Permata Siti Aisyah Siti Aisyah Suratni Suratni Suratni Suratni Tanty, Herty Nur Tarsinah Tarsinah Tarsinah, Tarsinah Tri Kusumaeni Tri Kusumaeni Tri Kusumaeni Tri Kusumaeni TRI KUSUMAENI Tri Kusumaeni, Hesty Utami R. Tri Murtini Trisna Lestari Umar Santosa Utami R, Hesty Venessya Cikita Mitakda Widya Wulan Ayu Puspitaningrum Wijaya, Rulliani Bianca William Nathanial Tj Wilson Wilson Wulan Puspitasari Wulan Puspitasari Y, Ricky Chaerul Yacob Ruru Yani, Dosi Ahmad Yati Sumiati Yati Sumiyati Yava Rony, Devi Yulia Trisna Yulia Trisna, Yulia Yuliani YULIANI Yulwa Juwita