Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA SOSIAL EKONOMI DENGAN USIA PERTAMA PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI) PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS TUMINTING KOTA MANADO Sitepu, Cracety M.; Punuh, Maureen I.; Kawengian, Shirley E. S.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian Makanan Pendamping ASI (MPA-ASI) perlu memperhatikan ketepatan waktu pemberian, frekuensi, jenis, jumlah bahan makanan, dan cara pembuatannya (Maseko dan Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) merekomendasikan pemberian Makanan Pedamping ASI tepat pada usia 6 bulan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis apakah terdapat hubungan antara pendapatan, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian Makanan Pedamping Air Susu Ibu (MP-ASI) di Puskesmas Tuminting. Penelitian ini bersifat survei analitik dengan desain cross sectional study. Sampel pada penelitian ini berjumlah 82 bayi yang berusia 6-12 bulan, tidak sakit, cacat, dan tinggal di wilayah kerja Puskesmas Tuminting yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data statistik menggunakan Uji Chi-Square dengan α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat hubungan antara pendidikan dengan usia pertama pemberian MP-ASI (p=0,000), dan tidak terdapat hubungan antara pendapatan, pekerjaan, dan jumlah anggota keluarga dengan usia pertama pemberian MP-ASI pada bayi usia 6-12 bulan di Puskesmas Tuminting dengan nilai secara berurut (p=0,718), (p=0,501), dan (p=0,231). Perlu adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai pola pemberian MP-ASI yang baik dan benar.Kata Kunci: Sosial Ekonomi, Pendapatan, Pendidikan, Pekerjaan, Jumlah Anggota Keluarga, MP-ASI, Bayi Usia 6-12 BulanABSTRACTComplementary feeding of the breastfed child needs to pay attention to timeliness of administration, frequency, type and amount of food, and how to make (Maseko and Ogawa, 2012). World Health Organization (WHO) recommends giving complementary food right at the age of 6 months. The purpose of this study is to analyze whether there is a relationship between income, education, occupation, and number of family members with the age of first giving complementary food in Tuminting Public Health Care. This research is an analytic survey with cross sectional design. The samples in this research were 82 infants aged 6-12 months, no pain, disability, and living in Tuminting Public Health Care taken using purposive sampling technique. Statistical data analysis using Chi-Square test with α = 0.05. These results indicate there is a relationship between education and age of first administration of breastfeeding (p = 0.000), and there is no relationship between income, employment, and the number of family members with the first age giving breastfeeding in infants aged 6-12 months in Tuminting Public Health Care with sequential values (p = 0.718), (p = 0.501), and (p = 0.231). Mothers need to increase knowledge of complementary feeding patterns of provision is good and right.Keywords: Social Economy, Income, Education, Employment, Number of Family Members, Complementary Feeding Of The Breastfed Child, Babies Ages 6-12 Months
PENGARUH PENYULUHAN KEBERSIHAN TANGAN (HAND HYGIENE) TERHADAP PERILAKU SISWA SD GMIM 76 MALIAMBAO KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Kahusadi, Olivia A.; Tumurang, Marjes N.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 5 (2018): Volume 7, Nomor 5, September 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyuluhan kesehatan merupakan penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik belajar untuk mempengaruhi perilaku manusia secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk mencapai tujuan hidup sehat dengan menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sekolah dapat difungsikan secara tepat sebagai salah satu institusi yang dapat membantu dan berperan dalam upaya optimalisasi tumbuh kembang anak usia sekolah dengan upaya menanamkan perilaku hidup sehat sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat agar mereka tahu, mau dan mampu untuk memraktekan perilaku hidup sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan sekolah yang sehat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyuluhan kebersihan tangan (hand hygiene) terhadap perilaku siswa sebelum dan sesudah penyuluhan di SD GMIM 76 Maliambao Kecamatan Likupang Barat. Metode penelitian menggunakan desain penelitian quasi eksperimen dengan metode pendekatan One Group Pretest Posttest Design. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh nilai t hitung untuk pengetahuan sebelum –sesudah penyuluhan yaitu t hitung = -5,821 dengan pvalue = 0,000 artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan  sebelum-sesudah dilaksanakannya penyuluhan. Sedangkan untuk sikap sebelum-sesudah penyuluhan yaitu didapatkan t hitung = -4,602 dan pvalue = 0,000 yang artinya terdapat perbedaan yang signifikan antara sikap responden sebelum dan sesudah dilaksankan penyuluhan kesehatan tentang kebersihan tangan di SD GMIM 76 Maliambao.  Kata kunci :Perilaku, Cuci tangan siswa sekolah dasar                                                                         ABSTRACTHealth education is the addition of one's knowledge and abilities through learning techniques to influence human behavior individually, in groups and communities to achieve healthy living goals by instilling Clean and Healthy Life Behavior (PHBS). Schools can be functioned appropriately as one of the institutions that can help and play a role in optimizing the grow than ddevelopment of school-aged children by instilling healthy behaviors so that school children have the potential to be agents of change to promote Cleanand Healthy Behavior (PHBS) in the school environment. families, and communities so that they know, want and are able to practice healthy behaviors and play an active role in creating a healthy school. The purpose of this study was to determine the effect of hand hygiene counseling on student behavior before and after counseling at GMIM 76 Elementary School Maliambao, West Likupang District. The research method used a quasi-experimental research design with the One Group Pretest Posttest Design method. Based on the results of the data analysis, the value of t count for knowledge before counseling is t count = -5,821 with pvalue = 0,000 which means that there is a significant difference between prior knowledge and the implementation of counseling. Whereas for the pre-post counseling attitude, it is obtained t count = -4.602 and pvalue = 0,000, which means that there is a significant difference between the attitude of respondents before and after health education about hand hygien eat SD GMIM 76 Maliambao.  Keywords: Behavior, Wash hands of elementary school students
HUBUNGAN ANTARA ASUPAN ENERGI DAN PROTEIN DENGAN STATUS GIZI ANAK USIA 1-3 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS WALANTAKAN KECAMATAN LANGOWAN. Maradesa, Eirene; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 4, No 2 (2015): Volume 4, Nomor 2, Maret 2015
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Makanan sehari-hari perlu mengandung cukup energi dan zat yang esensial untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan tubuh dan mengatur proses tubuh. Ketiga jenis zat makro berupa karbohidrat, lemak, dan protein menghasilkan energi bagi tubuh melalui proses metabolisme (pembakaran). Sumber energi yang utama adalah karbohidrat dan lemak, sedangkan protein terutama digunakan sebagai zat pembangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional  yang dilaksanakan pada bulan September–November tahun 2014 di Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan dengan total responden sebesar 84 anak berumur 1-3 tahun. Penelitian ini menggunakan kuesioner Food Recall 2×24 Jam, alat timbangan berat badan, pengukuran tinggi badan/microtoice, program SPSS, dan program nutrisurvey sebagai instrument. Asupan energi yang kurang berjumlah 38.09% dan lebih berjumlah 26.19% selanjutnya asupan protein yang kurang berjumlah 10,71% dan lebih berjumlah 63,10% selanjutnya Status gizi menurut umur (TB/U), pendek berjumlah 31% dan normal berjumlah 53,6% selanjutnya status gizi menurut Indeks Massa Tubuh (IMT/U) gemuk berjumlah 3,6% dan normal 96,4%, hasil uji menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan energi dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,139) selanjutnya asupan protein dengan status gizi menurut TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) menunjukan bahwa tidak berhubungan antara asupan protein dengan status gizi pada anak usia 1-3 tahun di wilayah kerja Puskesmas Walantakan. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara asupan energi dan asupan protein dengan status gizi menurut TB/U, IMT/U di wilayah kerja Puskesmas Walantakan Kecamatan Langowan. Kata Kunci : Asupan Energi, Asupan Protein, Status Gizi ABSTRACT Daily food should caontain adeqnate energy and essential nutrition for  reputation types of substances are carbohydrates macro, fats and for the body through metabolic processes (combustion). The main energy source is carbohydrate and fat and protein is mainly used as a builder substance and maintain the cells and tissues of the body. This study was anobservational analytic with cross sectional approach conducted in September-November 2014 in PHC walantakan District Langowan with total subject 84 children aged 1-3 years. this researchuse the questionnaire, Food Recall 2×24 hours, the scale weight, height measurement/microtoice, SPSS and nutrisurvey programas a research instrument. Data processing with Spearman Rank test with α=0,05, CI=95%. Less energy intake amounted to 38,09% and amounted to 26,19%, intake of protein is less amounted to 10,71% and amounted to 63,10% subsequent nutritional status according to age (TB/U), amounting to 31% shorter and amounted to 53,6% next normal nutritional status according to the nutritional status of the index according to the Body Mass Index (IMT/U) amounted to 3,6% fat and 96,4% of normal, test results shows that there is correspondence between energy intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p =0,139) protein intake and nutritional status TB/U (p=0,926), IMT/U (p=0,363) address that is notnot related between. There’s no relationship between energy intake and protein intake with nutritional status according to TB/U, IMT/U in the working area of community health center walantakan langowan. Keyword: Energy intake, Protein Intake, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANGTUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA BALITA USIA 24-59 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TOULUAAN KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Kairupan, Calista A.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Balita adalah anak yang berumur 0-59 bulan, pada masa ini ditandai dengan proses pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) yang diakibatkan karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama sehingga anak terlalu pendek untuk umurnya. Penelitian bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain penelitian studi potong lintang (cross sectional). Populasi yaitu orang tua kandung yang mempunyai balita berusia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, sehingga di dapati 100 sampel. Variabel stunting diukur menggunakan microtoise dan timbangan digital, kemudian menghitung Z-Score. Hasil penelitian ini diperoleh, status gizi pada15 anak (15,0%) berstatus stunting. Distribusi prevalensi tinggi badan ayah, pada kategori pendek sebesar 3,0%, dan distribusi prevalensi tinggi badan ibu pada kategori pendek sebanyak 8,0% .Berdasarkan hasil uji Fisher’s Exact diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dengan kejadian stunting tidak berdapat hubungan antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting dan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan orangtua dengan kejadian stunting pada balita usia 24-59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Touluaan Kabupaten Minahasa Tenggara. Disarankan bagi orang tua untuk lebih memperhatikan lagi pola makan balitanya dan melakukan pengecekan kesehatan status gizi pada balita secara berkala di puskesmas.Kata Kunci : Orang tua, Stunting, Anak usia 24-59 bulanABSTRACT Toddlers are children aged 0-59 months, at this time marked by a very rapid process of growth and development. Stunting is a failure to grow in children under five (infants under five years) due to chronic malnutrition so that the child is too short for his age. This study aims to determine whether there is a relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency.This research is analytic observational with cross sectional study design. The population is biological parents who have children aged 24-59 months in the Touluaan Health Center work area. Sampling using purposive sampling technique, so that found 100 samples. Stunting variables are measured using microtoise and digital scales, then calculate the Z-Score. The results of this study were obtained, the nutritional status of 15 children (15.0%) was stunting. Distribution prevalence of father’s height, in the short category of 3.0%, and the distribution prevalence of mother’s height in the short category 0f 8.0%. Based on the Fisher's Exact results obtained that there was no relation between father's height with the incidence of stunting, there was no relation between mother’s height with incidence of stunting, and there was no relationship between parents height with the incidence of stunting on toddlers aged 24-59 months in the work area of the Touluaan Health Center in Southeast Minahasa Regency. It is recommended for parents to pay more attention to their toddlers diet and check the health of nutritional status regularly at the health center. Keywords: Parents, Stunting, Children aged 24-59 months
HUBUNGAN ANTARA STATUS SOSIAL EKONOMI DENGAN STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI PUSKESMAS KOLONGAN KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Mirip, Eda; Punuh, Maureen I.; Malonda, Nancy S. H.
KESMAS Vol 6, No 3 (2017): Volume 6, Nomor 3, Mei 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Status gizi pada bayi dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu menyangkut faktor yang ada dalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai masalah makan pada anak sedangkan faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga, sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa sebagian besar anak kurang gizi berasal dari keluarga miskin, anak–anak yang tumbuh dalam suatu keluarga miskin merupakan kelompok yang paling rawan terhadap gizi kurang. Kemiskinan berdampak pada sumber keuangan sehingga mengurangi kesempatan untuk makan yang sehat. Sosial ekonomi merupakan suatu kedudukan yang diatur secara sosial dan menempatkan seseorang pada posisi tertentu dalam masyarakat, pemberian posisi itu disertai pula dengan seperangkat hak dan kewajiban yang harus dimainkan oleh orang yang membawa status tersebut. Diantara 33 provinsi di Indonesia, 19 provinsi memiliki balita gizi kurang di atas angka prevalensi nasional yaitu 19,7% dan Sulawesi utara termasuk dalam 19 provinsi dengan memiliki prevalensi balita gizi kurang 16,5% namun berdasarkan target MDGs tahun 2015 : 15,5% Sulawesi Utara tergolong tidak mencapai sasaran. Laporan penimbangan balita di posyandu di Kabupaten Minahasa Utara diketahui status gizi balita yang gizi baik sebanyak 11364 anak (98,0%), gizi kurang sebanyak 227 anak (19,5 %), gizi buruk sebanyak 3 anak (25,8 %). Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik, dengan pendekatan cross sectional yaitu untuk melihat hubungan antara status sosial ekonomi dengan status gizi bayi usia 6-12 bulan. Tidak terdapat hubungan antara status sosial ekonomi dengan status gizi pada bayi usia 6 – 12 bulan.Kata Kunci : Sosial Ekonomi, Status Gizi Bayi ABSTRACTNutritional status in infants is affected by internal and external factors. Internal factors namely concerning factor is inside a child psychologically appears as a problem eating in children whereas external factors concerning the limitations of the family economy, so that the money available is not enough to buy food. The World Health Organization (WHO) States that most of the malnourished children coming from poor families, children who grow up in a poor family is the group most vulnerable to malnutrition. Poverty impact on financial resources so as to reduce the opportunity for healthy eating. The social economy is a position of socially organized and put someone on a certain position in society, granting that position accompanied by a set of rights and obligations that should be played by the person who brings the status such. Among the 33 provinces of Indonesia, 19 provinces have less nutritional toddler above national prevalence i.e. 19.7% and North Sulawesi included in 19 provinces having the prevalence of nutritional toddler less 16.5% but based on the MDGs 2015 year target: 15.5% of North Sulawesi pertained not to reach the target. Report on toddler posyandu weighing in the Regency of Minahasa in North of the known nutritional status a toddler nutrition both as much as 11364 (98.0%), nutrition less as much as 227 children (19.5%), malnutrition is as much as 3 children (25.8%). This research use analytic observational design, with cross sectional approach is to look at the relationship between socio-economic status with the nutritional status of infants aged 6-12 months. There is no relationship between socio-economic status with nutritional status in infants ages 6 – 12 months.Keywords: Socioeconomic, Nutritional Status Of Infants
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN KELUHAN LOW BACK PAIN PADA PERAWAT DI RUANGAN RAWAT INAP RS BHAYANGKARA TINGKAT III MANADO Yacob, Desriana M.L; Kolibu, Febi K.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low Back Pain merupakan rasa sakit yang membuat tidak nyaman di daerah punggung bawah yang sebabnya adalah tulang belakang daerah spinal,juga otot,dan saraf, atau struktur daerah tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara masa kerja dan beban kerja dengan keluhan low back pain pada perawat di ruangan rawat inap Rs Bhayangkara Tk.III Manado. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survei analitik dengan pendekatan studi potong lintang. Jumlah sampel yang didapat sebanyak 42 responden, dan instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Beban Kerja dan Low back pain. Penelitian ini dilaksanakan di ruangan rawat Inap RS Bhayangkara Tk.III Manado pada bulan Mei-Agustus 2018. Analisis Bivariat menggunakan uji Spearman Rank (É‘= 5% dan CI=95%) dengan bantuan program komputer. Hasil analisis bivariat masa kerja dengan keluhan low back pain menunjukan nilai p=0,403 dan r=0,132 yang berarti tidak ada hubungan, beban kerja dengan keluhan low back pain menunjukan nilai p=0,124 dan r=0,214 yang berarti tidak ada hubungan.Kata Kunci : Keluhan Low Back Pain, Masa Kerja, Beban KerjaABSTRACTLow back pain is the pain that makes it uncomfortable in the lower back area, which is why the spinal region, as well the muscles, and nerves or structure of the area, is the cause. The purpose of this study was to determine the relantionship between working times and workload with low back pain complaints on the nurse in the inpatient rooms of Bhayangkara Tk.III Hospital in Manado. This study was descriptive analytic study with cross sectional approach. The sample obtined was 42 respondents, and the resarch instrument is workload and low back pain questionnaire. This study was conducted in inpetient room of Bhayangkara Tk.III Hospital in Manado start on May-Agust 2018. Bivariate analysis was performed using rank Spearman test (É‘=5% and CI=95%) with Computer Programs. The result of bivariate analys of Working times with the low back pain complaints showed probality p=0,403 and r=0,132 thats mean no relanthionship, and the wokload with low back pain complaints showed probality p=0,118and r=0,214thats mean no relantionship.Keyword : Low Back Pain Complaints, Working Time, and Workload
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI PADA BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KOLONGAN KECAMATAN KALAWAT KABUPATEN MINAHASA UTARA Latta, Jasmiaty; Punuh, Maureen I.; Malonda, Nancy S.H
KESMAS Vol 6, No 4 (2017): Volume 6, Nomor 4, Juli 2017
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik yang diberikan pada bayi usia 6 bulan pertama kehidupannya. ASI eksklusif akan berpengaruh pada status gizi bayi, karena ASI mengandung semua asupan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh bayi. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Kolongan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara yang mendapat ASI eksklusif hanya 12 bayi (36,3%). Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi pada bayi usia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kolongan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional Study. Sampel dalam penelitian ini yaitu bayi berusia 6-12 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kolongan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara sebanyak 93 bayi sesuai dengan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi. Hasil analisis data menggunakan uji statistik Chi Square. Hasil penelitian dari 93 bayi didapatkan sebanyak 76,3% bayi yang diberikan ASI eksklusif, berdasarkan indeks BB/U sebanyak 87,1% bayi berstatus gizi baik, berdasarkan indeks PB/U sebanyak 88,2% bayi bestatus gizi normal, dan berdasarkan indeks BB/PB sebanyak 83,9% bayi bestatus gizi normal. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu tidak ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi bayi (p>0,05) berdasarkan indeks BB/U (p=0,542), PB/U (p=0,291), dan BB/PB (p=0,716) di Wilayah Kerja Puskesmas Kolongan Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara. Semua ibu diharapkan agar lebih memperhatikan kesehatan dan gizi bayinya dengan cara selalu aktif datang ke Posyandu dan mencari informasi yang benar tentang peningkatan gizi bayinya.Kata Kunci : Pemberian ASI Eksklusif, Status Gizi ABSTRACTBreast milk is the best food to give for babies of the first 6 months of their life. Exclusive breastfeeding will affect nutritional status of the baby, since breast milk contains all the nutrients needed by the baby. The coverage of exclusive breastfeeding in the working area of Kolongan Health Care Center, Kalawat, North Minahasa with exclusive breastfeeding was only 12 babies (36.3%). The purpose of this study is to determine the relationship between exclusive breastfeeding with nutritional status of infants 6-12 months in the working Area of Kolongan Health Care Center, Kalawat, North Minahasa. This research is using cross-sectional study. Samples in this study were 93 infants of 6-12 months in the working Area of Kolongan Health Care Center, Kalawat, North Minahasa as accordance with the inclusion and exclusion criteria. Data analysis using Chi-Square test. The result of the research was 93.3% of the babies were given exclusive breastfeeding, based on weight-for-age index 87.1% of the infants were in good nutritional status, based on the height-for-age index 88.2% of the infants were normal, and based on weight-for-height index 83.9% of the infants were normal. The conclusion of this research is that there is no relationship between exclusive breastfeeding and infant nutritional status (p> 0,05) based on index of weight-for-age (p = 0,542), height-for-age (p = 0,291), and weight forheight (p = 0.716) in the working Area of Kolongan Health Care Center, Kalawat, North Minahasa. All the mothers are expected to pay more attention to the health and nutrition of their babies by always active visiting Posyandu and finding the right information about baby nutritional improvement.Keywords : Exclusive Breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN KELUHAN LOW BACK PAIN PADA PERAWAT DI RUANGAN RAWAT INAP RS BHAYANGKARA TINGKAT III MANADO Yacob, Desriana M.L; Kolibu, Febi K.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Low Back Pain merupakan rasa nyeri yang dirasakan pada punggung bawah yang sumbernya adalah tulang belakang daerah spinal (punggung bawah), otot, saraf, atau struktur lainnya di sekitar daerah tersebut.Tujuan penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan antara masa kerja dan beban kerja dengan keluhan low back pain pada perawat di ruangan rawat inap Rs Bhayangkara Tk.III Manado. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode penelitian survei analitik dengan pendekatan studi potong lintang. Jumlah sampel yang didapat sebanyak 42 responden, dan instrumen yang digunakan yaitu kuesioner Beban Kerja dan Low back pain. Penelitian ini dilaksanakan di ruangan rawat Inap RS Bhayangkara Tk.III Manado pada bulan Mei-Agustus 2018. Analisis Bivariat menggunakan uji Spearman Rank (É‘= 5% dan CI=95%) dengan bantuan program komputer. Hasil analisis bivariat masa kerja dengan keluhan low back pain menunjukan nilai p=0,403 dan r=0,132 yang berarti tidak ada hubungan, beban kerja dengan keluhan low back pain menunjukan nilai p=0,124 dan r=0,214 yang berarti tidak ada hubungan.Kata Kunci : Keluhan Low Back Pain, Masa Kerja, Beban KerjaABSTRACTLow back pain is the pain that is felt in the low back, the source of which is the spinal, muscles, nerves, or other structures around the area. The purpose of this study was to determine the relantionship between working times and workload with low back pain complaints on the nurse in the inpatient rooms of Bhayangkara Tk.III Hospital in Manado. This study was descriptive analytic study with cross sectional approach. The sample obtined was 42 respondents, and the resarch instrument is workload and low back pain questionnaire. This study was conducted in inpetient room of Bhayangkara Tk.III Hospital in Manado start on May-Agust 2018. Bivariate analysis was performed using rank Spearman test (É‘=5% and CI=95%) with Computer Programs. The result of bivariate analys of Working times with the low back pain complaints showed probality p=0,403 and r=0,132 thats mean no relanthionship, and the wokload with low back pain complaints showed probality p=0,118and r=0,214thats mean no relantionship.Keyword : Low Back Pain Complaints, Working Time, and Workload
HUBUNGAN ANTARA PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN STATUS GIZI ANAK PADA USIA 6-24 BULAN DI DESA KIMA BAJO KECAMATAN WORI KABUPATEN MINAHASA UTARA Pesik, Leidy F.; Punuh, Maureen I.; Amisi, Marsella D.
KESMAS Vol 8, No 5 (2019): Volume 8, Nomor 5, Juli 2019
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kekurangan gizi pada awal kehidupan akan berdampak serius pada kualitas dan sumber daya manusia dimasa depan. Kurangnya gizi akan menyebabkan gagalnya pertumbuhan, berat badan lahir rendah (BBLR), kecil, pendek, kurus serta daya tahan tubuh yang rendah dan akan meningkatkan resiko terjadinya gangguan kesehatan. Anak yang diberikan ASI eksklusif akan terhindar dari penyakit seperti diare dan pneumonia, dan akan memiliki manfaat jangka panjang untuk ibu dan anak seperti mengurangi risiko kelebihan berat badan atau obesitas. Cakupan ASI eksklusif di Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara hanya 20 anak (33,3%). Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak pada usia 6-24 bulan di Desa Kima Bajo Kecamatan Wori Kabupaten Minahasa Utara. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan pada bulan Juni sampai agustus tahun 2019. Populasi penelitian ini adalah anak yang berusia 6-24 bulan dan jumlah sampel yaitu 60 anak. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan Fisher Exact. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak (p<0,05) berdasarkan indeks BB/U (p<0,043). Tidak ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan status gizi anak berdasarkan indeks PB/U (p>0,699) dan indeks BB/PB (p>639). Kata Kunci: ASI Eksklusif, Status Gizi ABSTRACTMalnutrition in the early stages of life will have a serious impact on human qualities and resources in the future. Lack of nutrition will cause growth failure, low birth weight (LBW), small, short, skinny and low body endurance and will increase the risk of health disorders. Children who are given exclusive breastfeeding will avoid diseases such as diarrhea and pneumonia, and will have long-term benefits for both mothers and children, such as reducing the risk of overweight or obesity. Coverage of exclusive breastfeeding in Kima Bajo Village, Wori District, North Minahasa Regency is only 20 children (33.3%). The aim of this research was to determine the relationship between exclusive breastfeeding and nutritional status of children at the age of 6-24 months in Kima Bajo Village, Wori District, North Minahasa Regency. This research uses analytic observational research with cross sectional research design conducted in June to August 2019. The population of this research is infants aged 6 to 24 and the number of sample is 60 babies. Data analysis in this research used chi-square and fisher's exact tests. The results of this research, there was a relationship between exclusive breastfeeding and the nutritional status of children (p<0.05) based on BB/U index (p <0.043). There was no relationship between exclusive breastfeeding and children's nutritional status based on PB/U index (p>699) and BB PB index (p> 639). Keywords: Exclusive breastfeeding, Nutritional Status
HUBUNGAN ANTARA TINGGI BADAN ORANG TUA DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 24-59 BULAN DI KECAMATAN TOMBATU KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Aring, Enjelia S.; Kapantow, Nova H.; Punuh, Maureen I.
KESMAS Vol 7, No 4 (2018): Volume 7, Nomor 4, Juli 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Prevalensi stunting mengalami peningkatan pada tahun 2013 dengan prevalensi sebesar 37,2%. Tiggi badan orang tua menjadi faktor yang berpegaruh terhadap kejadian stunting. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah tinggi badan orang tua berhubungan dengan masalah stunting. Jenis penelitian ini yaitu penelitian observsional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahsa Tenggara, bulan Juli-Oktober tahun 2018. Populasi penelitian ini yaitu semua balita yang berumur 24-59 bulan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa dan jumlah sampel 75 responden. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling dengan instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dan alat ukur tinggi badan. Uji statistik dengan Fisher’s Exact pada a=0,05. Penelitian ini menunjukkan prevalensi ayah pendek dan ibu pendek sebesar 5,3% dan 30,7% dan stunting pada balita berjumlah 42,7%. hasil uji bivariate didapatkan tidak terdapat hubungan antara tinggi badan ayah dan tinggi badan ibu dengan kejadian stunting. Uji statistik menggunakan Fisher’s Exact didapatkan antara tinggi badan ayah, ibu, orang tua dihubungkan dengan kejadian stunting berturut-turut yaitu p value=0,307, p value=0,451, p value=1,000. Tidak ada hubungan antara tinggi badan ayah, tinggi badan ibu dan tinggi badan orang tua dengan kejadian stunting pada anak usia 24-59 bulan di Kecamatan Tombatu Kabupaten Minahasa Tenggara.Kata Kunci : Stunting, Tinggi badan ayah, Tinggi badan ibu, AnakABSTRACTStunting prevalence experienced an increase in 2013 with a prevalence of 37.2%. Parental body disease is a factor that influences the incidence of stunting. This study was conducted to see whether parental height was associated with stunting problems. This type of research is analytic observational research with cross sectional approach. This research was carried out in Tombatu District, Southeast Minahsa District, July-October 2018. The population of this study were all toddlers aged 24-59 months in Tombatu District, Minahasa Regency and a total sample of 75 respondents. The sampling technique was purposive sampling with the research instruments used, namely questionnaires and height measuring instruments. Statistical test with Fisher’s Exact at a = 0.05. This study shows the short prevalence of short fathers and mothers by 5.3% and 30.7% and stunting in infants amounted to 42.7%. The results of the bivariate test showed that there was no correlation between father's height and maternal height with the incidence of stunting. Statistical tests using Fisher's Exact were obtained between father's, mother's, parents' height and were associated with consecutive stunting, p value = 0.307, p value = 0.451, p value = 1,000. There was no correlation between father's height, maternal height and parental height with the incidence of stunting in children aged 24-59 months in Tombatu District, Southeast Minahasa RegencyKeyword : Stunting, Father’s height, Mother’s height, Children
Co-Authors ., Ernawaty Adha, Tri Y. Amisi, Marsella D. Angela, Indri I. Aring, Enjelia S. Boseren, Agustinus Cendy A.A. Oroh, Cendy A.A. Christin, Angel Eirene Maradesa, Eirene Gimon, Novela Keren Gobel, Lafita Abella Grace Debbie Kandou Haryanti, Clarista M. Irot, Rodela A. Kahusadi, Olivia A. Kairupan, Calista A. Kalesaran, Angela Fitriani Clementine Kaunang, Delalia Christy Kawatu, Paul A.T Kolibu, Febi K. Kumayas, Valentine Kurusi, Fazni D. Lamia, Filia Latta, Jasmiaty Lenette, Novranka Lucia C. Mande, Lucia C. Makikama, Caren V. Malonda, Nancy S. H Malonda, Nancy S.H Mandagi, Chreisye Kardinalia Fransisca Mantjoro, Eva M. Mantur, Riska P. Maramis, Marsita S. L. Maringka, Ferlina mawu, christine Mirip, Eda Mulalinda, Chendany W. Musa, Ester C, Musa, Ester C. Nancy S. H. Malonda Nancy S.H. Malonda, Nancy S.H. Nova Hellen Kapantow Nurdin, Nurhalisa Oktavia, Anggriani Ondang, Ribka Pangalila, Yesenia Veronika Paul A. T. Kawatu, Paul A. T. Pesik, Leidy F. Pojoh, Alda R. Pusida, Jesika Natalia Rahayu H. Akili, Rahayu H. Ransun, Gita Natalia Rares, Belina Pingkan Sultika Rattu, A .J.M. Ratu, Novelinda Ch. Ratu, Veronika N. Ricky C. Sondakh Rudolf B. Purba, Rudolf B. Rumais, Mariani Rumende, Mada Sagune, Novanda Sri Regina Sahalessy, Christina C. Saisab, Jacklin B. Sandala, Thania C. Sari, Rinanda Laura Shirley E. S. Kawengian Shirley Kawengian, Shirley Sianjpar, Monika M. Simangunsong, Nella P Sindar, Cindy Cicilia Sitepu, Cracety M. Steve, David Sulaemana Engkeng, Sulaemana Sumilat, Milianike Fresye Suoth, Lery F. Tangkilisan, Bella C. Tumiwa, Militia Christy Rebcca Tumurang, Marjes N. Wenur, Senny Arshelia Winerungan, Richard Winowatan, Gabrielisa Wulanta, Ellena Yacob, Desriana M.L Yocom, Jonna F. Yulianty Sanggelorang