Claim Missing Document
Check
Articles

KETANGGUHAN KELANGSUNGAN PEMBELAJARAN PONDOK PESANTREN DARUL ILMI BANJARBARU DI MASA PANDEMI COVID 19 Surawardi, Surawardi; Amaliyah, Amaliyah; Munawarah, Munawarah; Fitria, Nur Fadillah
Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 23, No 2 (2023): Published in September of 2023
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v23i2.305

Abstract

AbstractThe continuity of learning for students is very important, especially during the Covid-19 pandemic, because after all students must continue to develop in the learning process optimally. The author is interested in researching how the resilience of the Continuation of Learning at the Darul Ilmi Banjarbaru Islamic Boarding School During the Covid 19 Pandemic. The method used is descriptive qualitative. The qualitative approach in this study is based on Phenomenological Research or the results of observations through interviews related to data that are not in the form of numbers, but in the form of a description of the resilience of the continuity of learning at the Darul Ilmi Banjarbaru Islamic Boarding School during the Covid-19 period. The results of the study stated that the learning system continues to be maximized by the Islamic boarding school so that it can provide knowledge for its students. In addition to the obstacles faced in the learning system, the Islamic boarding school also always monitors and pays attention to the health of all students by providing complete nurses and medicines to always maintain the health conditions of the students.Keywords: Covid 19, Resilience, Strategy/Learning System.AbstrakKeberlangsungan belajar pada peserta didik sangat penting terutama pada masa pandemic Covid-19, karena bagaimanapun peserta didik harus terus berkembang dalam proses pembelajaran secara optimal. Penulis tertarik untuk meneliti bagaimana Ketangguhan Kelangsungan Pembelajaran Pondok Pesantren Darul Ilmi Banjarbaru Di Masa Pandemi Covid 19. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini didasarkan pada Phenomenological Research atau hasil observasi melalui wawancara yang  berkaitan dengan data yang tidak berbentuk angka, namun berupa penjabaran mengenai ketangguhan kelangsungan pembelajaran pondok pesantren Darul Ilmi Banjarbaru di masa covid-19. Hasil penelitian menyebutkan bahwa sistem pembelajaran terus dimaksimalkan oleh pihak pondok pesantren agar bisa memberikan ilmu untuk para santri-santrinya. Selain mengenai kendala-kendala yang dihadapi pada sistem pembelajaran, pihak pondok pesantren juga selalu mengawasi dan memperhatikan kesehatan seluruh para santri dengan menyediakan perawat dan obat-obatan yang lengkap untuk selalu menjaga kondisi kesehatan para santri. Kata Kunci: Covid 19, Ketangguhan, Strategi/Sistem Pembelajaran.
PENDIDIKAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN PADA KEGIATAN HARI BESAR ISLAM DI DESA MANARAP TENGAH HANDIL BAHALANG KECAMATAN KERTAK HANYAR Surawardi, Surawardi; Pradina, Nabila
AL-FALAH: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 24, No 1 (2024): Published in March of 2024
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v24i1.403

Abstract

AbstractIslamic holiday activities carried out by some people, especially in Manarap Tengah Handil Bahalang Village, Kertak Hanyar District, Banjar Regency, South Kalimantan Province, are very interesting to study considering the conditions with religious values, this is of course beneficial for religious and social life as well as having a good relationship. charity. The values of commemorating religious holidays in the community in the village of Manarap Tengah Handil Bahalang include the following values, namely the value of faith, the value of worship and the value of morals/mu'amalah. Therefore, it is very important to inculcate religious values, especially through religious activities such as Islamic holidays in order to build a nation that is peaceful and harmonious and prosperous in accordance with religious teachings. Islamic holidays that are held in the village of Manarap Tengah Handil Bahalang are Islamic New Year or 01 Muharram, Ashura Day 10 Muharram, Maulid Nabi, Isra Mi'raj, Nuzulul Qur'an or the night of 17 Ramadan, Eid Al-Fitr and Eid Al-Adha.The supporting and inhibiting factors for the education of religious values in the activities of Islamic holidays in the Middle Manarap Village, Handil Bahalang. First, the supporting factors include: the interest and participation of the community in participating in the implementation of Islamic holidays. Second, the inhibiting factor is the heterogeneous environment of the surrounding community where there are still pro and con attitudes about the commemoration of the Islamic holiday. On the basis of these findings, it is necessary to have an attitude of empathy and sympathy for all people in maintaining the tradition of commemorating Islamic holidays, because it contains many educational values of religious values and social values / muamalah which are very useful in boosting the economic movement of Muslims and the people. Keywords: Education, Muamalah, Religious, Social, Values. Abstrak Kegiatan hari besar Islam yang dilakukan oleh sebagian masyarakat, khususnya di Desa Manarap Tengan Handil Bahalang Kecamatan Kertak Hanyar Kabupaten Banjar Propinsi Kalimanatan Selatan, sangat menarik untuk diteliti mengingat syarat dengan nilai nilai keagamaan,hal ini tentu saja bermanfaat bagi kehidupan beragama dan bermasyarakat serta bermu’amalah. Adapun nilai-nilai peringatan hari besar keagamaan  pada masyarakat yang terdapat di  Desa Manarap Tengah Handil Bahalang mencakup nilai nilai sebagai berikut yakni nilai  akidah, nilai ibadah dan nilai akhlak/mu’amalah. Maka dari itu penting sekali adanya penanaman nilai keagamaan khususnya melalui kegiatan keagamaan seperti hari besar Islam dalam rangka membangun bangsa yang damai dan harmonis serta berkemakmuran sesuai dengan ajaran agama. Kegiatan hari besar Islam yang dilaksanakan di Desa Manarap Tengah Handil bahalang adalah tahun baru Islam atau 01 muharram, hari asyura 10 muharram, maulid Nabi, isra mi’raj, nuzulul quran atau malam 17 ramadhan, hari raya idul fitri dan hari raya idul adha. Adapun faktor pendukung dan penghambat pendidikan nilai-nilai keberagamaan pada kegiatan hari besar Islam di Desa Manarap Tengah Handil Bahalang. Pertama faktor pendukung diantaranya: adanya minat dan partisipasi masyarakat  dalam mengikuti pelaksanaan hari besar Islam. Kedua, faktor penghambatnya yaitu lingkungan dari masyarakat sekitar yang heterogen yang masih terdapat adanya sikap pro dan kontr akan adanya peringatan hari hari besar Islam tersebut. Atas dasar temuan inilah diperlukan adanya   sikap empati dan simpati bagi segenap masyarakat dalam  mempertahankan  tradisi peringatan hari hari besar Islam, karena di dalamnya banyak mengandung pendidikan nilai nilai  keberagamaan dan nilai sosial/muamalah  yang sangat bermanfaat dalam mendongkrak pergerakan ekonomi umat Islam dan kerakyatan . Kata Kunci:  Keberagamaan, Muamalah, Nilai-Nilai, Pendidikan, Sosial. 
Nilai Nilai Pendidikan Islam Dalam Mengenakan Cadar Mahasiswi Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan UIN Antasari Banjarmasin Surawardi, Surawardi
Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 21, No 2 (2021): Published in September of 2021
Publisher : STAI AL FALAH Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/alfalahjikk.v21i2.165

Abstract

This research was motivated by a phenomenon of the use of veils in the campus environment of UIN Antasari Banjarmasin, especially the Faculty of Tarbiyah and Teacher Training. Users believe in many values of Islamic education obtained, namely First; Aspects of civilization and progress, habituation of well-dressed. Clothing like this will be able to protect her religious beliefs, reputation, and the highest value of women is to maintain shame and self-respect. Second; The value of moral education in a more perfect direction, both zhahir and batin. Third; Keeping his holiness, taking better care of himself, is very authoritative in all his motions and silence, the more self-esteem and height of his position in the eyes of men, so that they are easier to know and not disturbed.  Fourth; Responsibility to themselves, education values moral values to obey worship, maintain morality and improve themselves a lot from the mistakes they once did in the past. Fifth;  The intention of obeying the teachings of Islam and the intention of worship because of Allah. The main thing is the fulfilment of Islamic religious norms well, although the Qur'an does not explain the obligation to cover the face there is no harm if it is done by women in keeping themselves from something unwanted. The results of the study found there were several supporting factors and obstacles for students of the Faculty of Tarbiyah and UIN Teacher Training Antasari Banjarmasin in wearing the veil. Keywords: values, education, wearers and veils.
WASAKA Concept Implementation in Islamic Education towards Banjar Society of South Kalimantan in 4.0 Era Syaifullah, A.; Surawardi, Surawardi
Khalifa Journal of Islamic Education Vol 4 No 1 (2020): March
Publisher : Islamic Studies and Development Center (ISDC) Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/kjie.v4i1.53

Abstract

This paper is aimed to analyze WASAKA concept as Banjar society, Islamic education and how to implement it in Banjar society in 4.0 era. WASAKA (Waja Sampai Kaputing) is pronounced by Antasari Prince, national hero from South Kalimantan, and be the society character in South Kalimantan The character values are religious, tough, honest, intelligent and caring .These values can be relevant and synergize with Islamic education in Banjar society in 4.0 era due to education character in 4.0 era receives a lot of challenges from outside. Nowadays, foreign character and culture from outside intrude without filtering process so it can influence and be character degradation of our education. Therefore, it is important to understand deeply and comprehensively how innovation based Islamic education and WASAKA character implementation in 4.0 character education. Then, WASAKA character values in character education in the 4.0 era will be assessed using the literature study methodology and relevant literature materials as the sources. The results is WASAKA concept in Islamic education in Banjar society of South Kalimantan is as reinforcement of character education in the 4.0 era. In sum, WASAKA concept implementation in Banjar society in 4.0 era can be solutions to face character degradation in 4.0 era.
Pendekatan Multidisipliner dalam Andra-Pedagogi Pembelajaran PAI Siswa pada Sekolah Dasar Islam Terpadu di Kalimantan Selatan Surawardi, Surawardi; Ihsan, Muhammad Adli Nurul; Hamdi, Saibatul; Maulidi, Ahmad Riyadh
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 4 : Al Qalam (Juli 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i4.3739

Abstract

Pendekatan multidisipliner dalam Andra -Paedagogi pada pembelajaran PAI siswa SDIT di Kalimantan Selatan. Pertama; dalam pembelajaran PAI metode yang diterapkan pada SDIT Ukhuwah  dan SDIT Al Firdaus serta SDIT Al Hikmah sangat  beragam namun  menyesuaikan dengan materi yang sedang diajarkan dan siswanya hal sesuai dengan pendekatan pedagogik yang disebut dengan transfer of knowledge. Tapi dibeberapa kesempatan ada beberapa materi yang harus menggunakan metode yang lebih melibatkan siswa seperti misalkan active learning, metode diskusi, kwl (know, want to know, dan learn. Pada penerapan pembelajaran ini dapat dikatakan menerapkan pendekatan andragogi yang disebut dengan transfer of methodologi. Kedua: dalam Pembelajaran guru melibatkan siswa dalam pembelajaran,kegitan pembelajaran ini sesuai dengan pendekatan andragogi yang disebut dengan teacher centered namun disisi lain juga masih mempertahankan student centered. Ketiga; bentuk keterlibatan siswa dalam pembelajaran adalah dengan membuat siswa menjadi individu yang aktif didalam kelas seperti  dalam metode diskusi dan KWL (know, want to know, dan learn). Bentuk keterlibatan siswa adalah dengan lebih aktif dalam hal mencari pengalaman dan pengetahuan dalam pembelajaran. Bentuk kegiatan ini mencerminkan pendekatan andragogi yang disebut dengan learning by doing yag terintegrasi pula dengan pendekatan pedagogi yang dikenal dengan  learning by thinking. Keempat; bentuk penguatan terhadap materi PAI dilakukan baik dikelas maupun diluar kelas serta ekstrakurikuler. Bentuk kegiatan ini sejalan dengan pendekatan andragogi yakni problem oreinted  yang dipadukan dengan pendekatan pedagogi yakni content oriented. Kelima; pola komunikasi yang dibangun dan terapkan dalam pembelajaran adalah guru memberi kesempatan kepada siswa utk bertanya atau menjelaskan materi ajar.Pola komunikasi yang diterapkan dalam pembelajaran biasanya dengan menggunakan metode yang beragam . Pola komunikasi yang ini pada pendekatan andragogi ini, dikenal dengan sebutan (multi-ways traffic communications. Integrasinya berupa learning by thinking and learning by doing. Keenam; pemberian Tugas dalam bentuk keterlibatan siswa dalam pembelajaran PAI,jalan dengan pendekatan andragogi yakni self discovery dengan tetap memperhatikan sistem penyampaian pembelajaran dalam pendekatan pedagogik yakni delevery system.Ketujuh; praktikum diberikan kebebasan melakukan sesuai pengalamanya di rumah atau harus mengikuti kesepakatan dengan guru PAI. Pendekatan pembelajaran PAI ini juga sejalan dengan pendekatan andragogi yakni self discovery dengan tetap memperhatikan sistem penyampaian pembelajaran dalam pendekatan pedagogik yakni delevery system. Kedelapan; amaliah agama yang sering dipraktikkan didalam dan diluar kelas. Pendekatan pembelajaran PAI ini tentu saja sejalan dengan pendekatan andragogi yakni learning to do dengan tetap memperhatikan sistem penyampaian pembelajaran dalam pendekatan pedagogik yakni learning to know. Keunggulan pendektan multidisipliner dalam Andra -Paedagogi pada pembelajaran PAI siswa pada SDIT Ukhuah dan SDIT Al Firdaus serta SDIT Al Hikmah  di Kalimantan Selatan . Pertama; Karakteristik pembelajaran dan kegiatan keagamaan yang  dimiliki oleh sekolah  yang  berbasis pendidikan Islam Terpadu dan memadukan pembelajaran umun dengan pembelajaran agama Islam. Kedua; anak-anak mempunyai jaminan kualitas karakter dan attitude kemudian ketika lulus dari sekolah tersebut anak dijamin bisa dan terampil membaca Al Qur’an, hafalan juz 30, pengamalan shalat 5 waktu nya lebih baik serta puasa sunah senin kamis,pembiasaan shalat sunag dhuha, tahajjud , Mabbit dan sobit . Ketiga; adanya bentuk keterlibatan masyarakat/orang tua dalam kegiatan keagamaan anak. Contoh bentuk keterlibatan masyarakat atau orang tua terhadap kegiatan keagamaan adalah disediakan buku penghubung antara orang tua dan perilaku siswa ketika dirumah misalnya shalat 5 waktu, mengaji tilawah lalu diparaf oleh orang tua. Usaha dalam mempertahankan  keunggulan dan mengatasi kelemahan  pendekatan multidisipliner dalam Andra -Paedagogi pada pembelajaran PAI siswa pada SDIT Ukhuah dan SDIT Al Firdaus serta SDIT Al Hikmah di Kalimantan Selatan . Pertama; Bentuk pemecahan masalah yang sering dilakukan guru dalam pembelajaran PAI  dalam hal kognitif biasa dilakukan remedial.Kedua; pada bidang afektif yaitu sikap, guru PAI melakukan pemecahan dengan melibatkan wali kelas. Wali kelas berperan untuk membantu mencarikan solusi terkait apakah siswa yang berperilaku kurang baik karena lingkungan disekitar rumahnya atau karena temannya sebayanya. Ketiga; pendekatan yang digunakan  dalam pembelajaran PAI baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler  yakni pendekatan interdisipliner andra pedagogi. Keempat; upaya terobosan yang perlu dilakukan sebagai langkah konkret dari pengembangan pendidikan Islam khususnya pembelajaran PAI  adalah dengan  cara menutupi keterbatasan sistem pengajaran  serta pendekatan pedagogi dengan andragogi menjadi andra-pedagogi secara bersamaan dan terintegrasi.Kelima; integrasi ilmu dengan amal, akhlak dengan iman melaui proses objektifivikasi pedagogi diharapkan dapat menghasilkan konsep dan teori baru dalam teoti Ilmu Pendidikan Islam dan pelaksanaan pendidikan Islam pada tatanan pembelajaran PAI  yang terdapatdi Kalimanatan Selatan.
Pembinaan Terhadap Anak Putus Sekolah Melalui Program Sekolah Terbuka di SMP Terbuka Kota Banjarmasin Surawardi, Surawardi; Ihsan, M. Adly Nurul
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 13, No. 2, Juli-Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v3i2.3535

Abstract

Pembinaan anak putus sekolah di SMP Terbuka Kota Banjarmasin yang meliputi; Pertama: Memberikan keterampilan berupa: Kriya Tekstil dalam bentuk; membuat kain sasirangan dan menjahit. Keterampilan pemanfaatan pengggunaan benda benda bekas seperti kaleng, botol dan benda bekas lainya dalam bentuk tempat bunga, hiasan dinding, dan hiasan kunci serta pernak pernik hiasan lainya. Keterampilan tata boga dalam bentuk membuat wadai tradisonal dalam bentuk; cara mangamir roti dan ontok, cincin, pais pisang dan waluh, gaguduh, babungku, wajik dan sebagainya.  Keterampilan Informatika dalam bentuk; mengetik dalam program word dan exel. Kedua: Mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam bentuk; mengajarkan pendidikan agama setiap satu kali dalam seminggu pada kegiatan intrakurikuler, Ketiga: mengajarkan praktik wudhu, shalat dan tayamum, melatih dan membiasakan shalat berjama’ah waktu Ashar, membaca syair al Habsyi dan membiasakan memperingati hari-hari besar Islam seperti; Maulid Nabi, tahun baru Islam serta Isra Mi’raj. Keempat; Memberikan pendidikan baik umum maupun agama yang meliputi seluruh materi pelajaran yang tertera pada kurikulum intrakurikuler yang terdiri dari: Kriya Tekstil, PAI, Biologi, Bhs.Indo, Pkn, Bhs. Inggris, Seni Budaya, Fisika, Bhs. Inggris, Seni Budaya, Fisika, Sejarah, Geo & Sos, Ekonomi, Moluk serta SBTA. Faktor-faktor yang mendukung atau menghambat anak putus sekolah yang meliputi: Pertama, Latar belakang keluarga; ada keluarga yang menyadari pentingnya pendidikan bagi anak dan sebagian keluarga yang belum menyadari pentingnya pendidikan wajib belajar 9 tahun bagi anaknya di SMP Terbuka Kota Banjarmasin. Kedua:Faktor ekonomi: semua anak yang ada di SMP Terbuka Kota Banjarmasin berlatar belakang keluarga tidak mampu yang menyebabkan mereka tidak dapat sekolah secara reguler di SMP pada waktu pagi hari. Ketiga, Faktor lingkungan; Semua anak yang ada di SMP Terbuka Kota Banjarmasin berada pada lingkungan tempat tinggal yang kurang mendukung terhadap kesadaran wajib belajar 9 tahun yakni lingkungan buruh pasar dan kerja serabutan serta buruh bangunan, disamping itu anak masih berada pada lingkungan anak yang masih banyak putus sekolah dan tidak bersekolah lagi. Sementara faktor lingkungan sekolah merupakan faktor yang sangat mendukung yakni dengan gurunya yang berkompeten serta prasarana yang memadai yakni standar SMP reguler.
Pendidikan Nilai Nilai Kebangsaan Indonesia pada Ponpes Khalafiah di Kalimanatan Selatan Surawardi, Surawardi
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 15, No. 2, Juli-Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v15i2.3527

Abstract

Bentuk Pendidikan Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia  pada Ponpes  Al falah Putera dan Puteri Banjarbaru dan   Ponpes Darul Hijrah Putera dan Puteri serta An Najah Puteri  Cindai Alus  Martapura Kabupaten Banjar  terdiri dari :  Pertama ;kegiatan Intra Kurikuler  yang terdiri dari ; kurikuler yakni  nilai nilai kebangsaan Indosesia melalui matapelajaran Pancasila dan PPKn serta mata pelajaran Sejarah;  Kokurikuler : yang dilakukan dalam menanamkan nilai nilai kebangsaan Indonesia dalam bentuk  kegiatan apel bendera setiap hari senin  dan apel bendera  setiap peringatan  hari kemerdekaan 17 Agustus.   Kedua ; kegiatan ekstra kurikuler  yang meliputi ; Ekstrakurikuler Pramuka pada al Falah putera dan puteri sifatnya pilihan artinya boleh memilih dan boleh tidak . Ekstrakurikuler pramuka pada ponpes Darul Hijrah Putera dan Puteri serta An Najah Puteri sifatnya wajib. Nilai-Nilai Kebangsaan Indonesia  yang ditanamkan pada Ponpes  Al falah Putera dan Puteri Banjarbaru  Ponpes Darul Hijrah Putera dan Puteri Serta An Najah Puteri  Cindai Alus  Martapura Kabupaten Banjar  meliputi :  Pertama ; Menurut Pancasila ;Nilai nilai kebangsaan Indonesia yang ditanamkan pada ponpes Al Falah Putera dan Puteri , Darul Hijrah Putera dan Puteri serta An Najah Cindai Alus  Martapura  meliputi; nilai nilai kebangsaan yang terdapat pada Trisatya dan nilai nilai kebangsaan yang terhimpun dalam dasadharma bagi pramuka penggalang.  Pramuka siaga juga menghimpun nilaia nilai kebangsaan Indonesia yang meliputi Dwisatya dan Dwidarma.  Kedua;  menurut UUD 1945 yang terdiri dari nilai ;nilai relegius, nilai kemanusiaan, nilai produktivitas, nilai demokrasi, nilai keseimbangan, nilai ketaatan hukum  serta nilai kesamaan derajat. Ketiga ; Menurut NKRI ;  menanamkan nilai-nilai Kesatuan Republik Indonesia  tercermin dalam visi dan misinya serta apa yang telah ditanamkan melalui kegiatan kepramukaan yang merupakan kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh semua santri baik putera maupun puteri. Nilai-nilai kesatuan Republik Indonesia juga ditanamkan melalui, membangun semangat berlomba baik dalam bentuk kegiatan keagamaan seperti lomba membaca kitab kuning, al Habsyi, rebana, pidato 2 bahasa yakni arab dan inggris baik dilakukan di dalam Ponpes maupun yang dilakukan oleh lembaga lain yang terdapat di luar Ponpes tersebut,  tanpa melihat dari lembaga atau instansi manapun. Sementara itu nilai nilai kesatuan republik Indonesia yang ditanamkan diluar daripada kegiatan keagamaan lainya berupa sepakbola yang pernah menjadi juara pada tingkat propinsi Kalimantan Selatan, lomba pramuka ,PMR dan lomba pidato . Keempat : menurut  Nilai Nilai ajaran Agama Islam ;  menanamkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang ditanamkan dalam kaitanya dengan penanaman pendidikan nilai nilai kebangsaan Indonesia adalah melalui afiliasi kurikulum pondok dengan kurikulum kementerian agama. Nilai nilai pengkajian fiqih tentang khilafah yang  diarahkan kepada bagaimana semangan cinta kepada Negara  Kesatuan Republik Indonesia setia kepada Pancasila dan UUD 1945. Nilai pendidikan cinta terhadap bangsa diantaranya dapat dilihat melalui pengkajian Al qur’an dan Hadits yang dijiwai oleh ajaran Islam antara lain  surah al hujuran ayat 13 .Nilai Nilai cinta terhadap bangsa diantaranya dapat dilihat dari pengkajian Sejarah Islam/Tarikh Islam . Nilai-nilai aqidah dan akhlak bangsa diantaranya dapat dilihat dari pengkajian mata pelajaran Aqidah Akhlak. Faktor-faktor yang mendukung atau menghambat  pendidikan nilai-nilai Kebangsaan Indonesia  meliputi :  Pertama : Latar belakang pendidikan Ustadz . Ponpes Al Falah Putera dan Puteri , Darul Hijrah Putera dan Puteri serta Ponpes An Najah Cindai Alus  Martapura  data yang terambil dari dokumen bahwa secara umum  latar belakang Ustadz & Ustadzah berlatar belakang pendidikan yang  sangat mendukung terhadap pendidikan nilai-nilai Kebangsaan Indonesia yakni ; rata-rata Ustadz/Ustadznya berlatar belakang pendidikan S1 bahkan sudah ada beberapa orang yang sudah berlatar belakang pendidikan S2 bahkan S3. Kedua;  Kurikulum Pondok. Ponpes Al Falah Putera dan Puteri , Darul Hijrah Putera dan Puteri serta Ponpes An Najah Cindai Alus  Martapura,  dengan data yang terambil dari dokumen bahwa  Kurikulum Ponpes ada tiga Versi yakni Versi Pondok dan Versi Kementerian Agama, serta versi kementerian pendidikan nasional . Berdasarkan kurikulum tersebut sangat mendukung terhadap pendidikan nilai-nilai Kebangsaan Indonesia, dimana tidak hanya  mementingkan pengetahuan agama saja tetapi pengetahuan umumpun sangat dipentingkan sebagai bagian dari menanamkan nilai nilai kebangsaan Indonesia.Ketiga ; Budaya akademis Pondok. Budaya akademik Pondok sangat mendukung terhadap pendidikan nilai-nilai Kebangsaan Indonesia yang terlihat dari visi dan misi serta strategi pencapaian Visi dan misi yang mencerminkan nuansa akademik yang diciptakan untuk mendukung nilai-nilai kebangsaan Indonesia baik yang tertera dalam kegiatan Kurikuler dan kokurekuler, bahkan ekstrakurikuler yang mewajibkan ikut kegiatan pramuka  yang pada kegiatan tersebut sangat kental mengajarkan akan kesetiaan terhadap pancasila dan UUD 1945 dan NKRI serta nilai nilai yang ditanamkan dalam ajaran agama Islam tersebut.Keempat ; Media Teknologi .Media dan teknologi  sangat tidak memberikan dukungan terhadap pendidikan nilai nilai kebangsaan Indonesia. Oleh karena itu selama mondok santri tidak boleh memiliki dan mengakses segenap hal melalui media Teknologi. Santri tidak boleh memiliki dan menyimpan HP, TV dan seterusnya yang masih berbau IT.Alasanya adalah selama di Pondok mereka fokus belajar oleh karena itu segala hal yang menyangkut IT sedikit banyaknya mengganggu konsentrasi mereka belajar.
Pendekatan dan Komunikasi Pembelajaran Pendidikan Islam pada MAN Insan Cendekia Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan Surawardi, Surawardi; Ihsan, M. Adli Nurul
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Al Qalam Vol. 14, No. 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i2.3503

Abstract

Jenis pendekatan dan komunikasi pembelajaran pendidikan Islam  yang dilakukan dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler serta ekstrakurikuler di MAN Insan Cendekia Tanah Laut Propinsi Kalimantan Selatan terdiri dari ; Pertama ; Keteladanan,  dilakukan hampir disemua sektor pembelajaran pendidikan Islam baik pada kegiatan intrakurikuler , kokurikuler  dan kegiatan kokurikuler. Kedua ;  Pengalaman, pendekatan ini dilakukan hampir disemua sektor pembelajaran pendidikan Islam . Ketiga ; pendekatan disiplin ; pada kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler  pionernya adalah para guru guru yang tepat waktu sesuai jadwal melakukan pembelajaran . Dan yang sangat menarik untuk pendekatan displin ini , lebih banyak melibatkan Osis  dalam menkoper kegiatan ekstrakurikuler . Keempat; . Rasional , pendekatan ini dilakukan hampir disemua sektor pembelajaran pendidikan Islam pada kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Kelima; terpadu ; pendekatan terpadu inilah menjadi ciri khas MAN Insan Cendekia Tanah laut dengan  di Asramakan dan belajar secara full Day School.  Pendekatan terpadu dalam pendidikan agama Islam baik dalam kegiatan intrakurikuler, kokurikuler serta ekstra kurikuler pada MAN Insan Cendekia Tanah laut meliputi; keimanan, pengalaman ,pembiasaan , rasional , emosional, fungsional dan Keteladanan. Keenam; emosional ; pendekatan ini digunakan kepada siswa siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut beupa ; Nilai perasaan pada diri manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan sekitarnya dalam kehidupan sehari hari.Ketujuh; fungsional; pendekatan ini diterapkan pada kegiatan intrakurikuler dan kokurekuler terhadap siswa siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut berupa ; usaha memberikan materi agama dengan menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari hari  sesuai dengan tingkat perkembanganya. Kedelapan; kemandirian ; pendekatan kemandirian ini lebih ditekankan pada  kegiatan keasramaan melalui, kemandirian dalam menjaga kebersihan kamar dan Asarama, kemandirian mencuci dan melipat pakaian, kemadirian mengelola uang belanja dan sekolah, kemandirian untuk tidak berkomunikasi dengan orang tua kecuali dalam keadaan yang memang sudah di kondisikan seperti hari sabtu atau hari minggu. Jenis  komunikasi  yang digunakan dalam proses pembelajaran pendidikan Islam di MAN Insan Cendekia Tanah Laut Propinsi Kalimanatan Selatan  terdiri dari: Pertama : Komunikasi satu arah ;Penerapan komunikasi ini pada siswa siswi MAN Insan Cendekia Tanah Laut baik dalam kegiatan intrakurekuler dan kokurekuler bahkan ekstrakurikuler dimana  dalam komunikasi ini guru dan tenaga kependidikan pada MAN Insan Cendekia Tala lainya berperan sebagai pemberi aksi dan peserta didik sebagai penerima aksi. Guru aktif dan peserta didik pasif. Kedua :Bentuk Komunikasi sebagai interaksi atau komunikasi dua arah; komunikasi ini antara guru /tenaga kependidikan lainya serta peserta didik  pada MAN Insan Cendekia Tanah laut memiliki peranan yang sama yakni pemberi aksi dan penerima aksi  dengan arti keduanya dapat saling memberi dan menerima aksi. Ketiga ; komunikasi sebagai transaksi atau komunikasi banyak arah; komunikasi ini tidak hanya melibatkan interaksi yang dinamis antara guru dan tenaga kependidikan lainya serta peserta didik yang terdapat di MAN Insan Cendeia Tanah Laut  tetapi juga melibatkan interaksi dinamis antara siswa dan siswa lainya. Bentuk komunikasi ini nanpak sekali terlihat  pada kegiatan Osis yang terdapat di MAN Insan Cendekia Tala. Faktor Pendukung ; Sistem Asrama/Full Day School , sistem Pengasramaan bagi Guru guru, sistem Rekrutmen Siswa Siswi yang ketat, sistem Rekrutmen Guru -guru yang juga ketat, faktor sarana dan Prasarana yang memadai, sistem Manajemen sekolah yang baik.. Faktor Penghambat  terdiri dari :latar belakang kebiasaan siswa, belum maksimalnya Akses Sumber Belajar Melaui IT, faktor kejenuhan, faktor Pembiasaan bahasa asing(Arab dan Inggris) yang belum terkoordinir, disiplin yang masih longgar.
SOSOK PESERTA DIDIK IDEAL DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM DALAM MENYIAPKAN GENERASI MENYONGSONG ERA 5.0 Surawardi, Surawardi; Syafawi, Ahmad; Rizami, Ahmad; Rahman, M. Khalilur; Naufal, Muhammad Raihan
DARRIS: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah Vol 7, No 1 (2024): APRIL
Publisher : Program Studi PGMI STAI Al Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/darris.v7i1.500

Abstract

 Abstract: This research was conducted to find a description of the character of an ideal student according to the view of education in Islam, as an effort to prepare human resources that are able to compete among the current generation to face an increasingly developing era. Apart from the above intentions, this research is motivated by the development of the times which are always developing, both in terms of technology and science. Meanwhile, as a Muslim human being, one must be prepared to deal with progress so as not to lag behind in knowledge and be able to face challenges. This research was conducted using the library method, in which the sources were obtained from reading materials, both books and journals. The research results obtained are that the ideal student in the perspective of Islamic education must be someone who has good morals, understands moral values, is able to face or solve problems, and thinks critically, has creative abilities, is capable of using digital technology, has and has leadership spirit and initiative to make plans. In addition, ideal students are also seen as individuals who are able to solve problems with their abilities and have activeness in responding to the learning process. Keywords: Era Society 5.0, Islamic Education, Students. Abstrak: Penelitian ini dilakukan untuk mencari gambaran tentang karakter dari sosok seorang peserta didik ideal menurut pandangan pendidikan dalam Islam, sebagai salah satu upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di kalangan generasi sekarang guna menghadapi era yang semakin berkembang. Selain dari maksud diatas, penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perkembangan zaman yang selalu berkembang, baik dari segi teknologi maupun ilmu pengetahuannya. Sedangkan sebagai seorang insan muslim haruslah siap untuk berhadapan dengan yang namanya kemajuan sehingga tidak menimbulkan ketertinggalan pengetahuan serta mampu jikalau ada tantangan yang menghadang. Penelitian ini dilakukan dengan metode pustaka, yang mana sumber-sumbernya didapat dari bahan bacaan baik itu buku ataupun jurnal. Hasil penelitian yang didapat ialah bahwa peserta didik yang ideal dalam perspektif pendidikan Islam harus menjadi sosok yang berakhlakul karimah, memahami nilai-nilai moral, mampu menghadapi atau memecahkan masalah, dan berpikir secara kritis, memiliki kemampuan kreativitas, cakap menggunakan teknologi digital, mempunyai serta memiliki jiwa kepemimpinan dan berinisiatif membuat perencanaan. Selain itu, peserta didik yang ideal juga dipandang sebagai individu yang mampu mengatasi persoalan dengan kemampuannya serta memiliki keaktifan dalam menanggapi pada proses pembelajaran. Kata Kunci: Era Society 5.0, Pendidikan Islam, Peserta Didik.
PENDEKATAN ANTROPOLOGI SEBAGAI EPISTEMOLOGI HUKUM ISLAM Irsyadi, Amrul; Surawardi, Surawardi
MAQASHIDUNA: JURNAL HUKUM KELUARGA ISLAM Vol 2, No 2 (2024): December 2024
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam STAI Al-Falah Banjarbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47732/maqashiduna.v2i2.566

Abstract

AbstrakPenyematan redaksi kata “jahiliyyah” kepada bangsa Arab di mana Islam diturunkan menjadi polemik tersendiri yang memiliki ragam sudut pandang berbeda. Masih sedikitnya cendekiawan dan para terpelajar yang mengkaji isu ini semakin memperjelas adanya lubang menganga yang seakan memisahkan Arab pra-Islam dan pasca Islam, khususnya terkait dengan bangsa Arab yang dianggap sebagai bangsa terbelakang, tertinggal, bodoh, dan tanpa peradaban.Khalil Abdul Karim dalam karyanya al-Jużur wa at-Tārīkhiyyah li as-Syarīah al-Islāmiyyah adalah salah seorang cendekiawan yang agresif menunjukkan bahwa bangsa Arab bukanlah bangsa bodoh dikala itu sehingga dengan mudah doktrin Islam mampu menyebar luas di tengah-tengah masyarakatnya, seperti apa yang selama ini banyak dituduh oleh beberapa da’I. Khalil Abdul Karim dalam penelitiaannya mengkomparasikan sisi sejarah pra-Islam dan hukum yang ditetapkan oleh Nabi Muhammad dengan analisis data dengan pendekatan yang memadukan antara normatif dan antropologi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bangsa Arab sebelum Islam tidaklah seperti yang banyak disematkan banyak cendekiawan dan pendakwah sebagai jahiliyyah dengan segala bentuk kegelapannya. Bangsa Arab memiliki pengetahuan dalam berbagai aspek alkulturasi kebudayaan dan tradisi yang menunjukkan peradaban dan kemajuan.  Tradisi Arab pra-Islam dan respon positif al-Qur’ān pada sifat kedemawanan, berani, memuliakan tamu merupakan contoh dari tradisi baik yang memiliki relevansi sama yaitu menjunjung nilai kemanusiaan dan tidak bertentangan dengan fitrah manusia.Kata kunci:  tradisi, bangsa Arab, jahiliyyah, Arab pra-Islam, warisan