Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Studi Epidemiologi Penderita Leukemia Granulositik Kronis pada Komunitas ELGEKA di Jawa Barat Muhammad Sayyid Hidayatullah; Agung Firmansyah Sumantri
Jurnal Riset Kedokteran Volume 2, No.2, Desember 2022, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.vi.1536

Abstract

Abstract. This research is a descriptive observational study, with a cross sectional research design. The number of subjects in this study was 63 people. The selection of subjects using non-probability purposive sampling techniques or research subjects met the inclusion criteria, using the Slovin formula. Data analysis using the SPSS statistical application. The characteristics to be described include domicile, age, sex, occupation, race, age at diagnosis, latest education, medication, initial and final BCR-ABL values, leukocytes, platelets and hemoglobin. The results showed the highest prevalence was in Bandung (20%), with an age range of 30-39 years (38.1%), suffered mostly by women (55.6%), most of them were private employees (28.6%), people with Sundanese race (68.3%), the average age of diagnosis was 34 years, the latest education was higher education graduate (57.1%), the most drug used was imatinib (81.3%), the initial dominant BCR-ABL value was > 10% and end dominant was < 0.1%, the results of a routine dominant hemoglobin blood test were 8-12 g/dL, the results of dominant leukocytes were 5000-10,000/mm3, and the yield of dominant platelets was 150,000 to 400,000 mm3. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan karakteristik penderita leukemia granulositik kronis pada komunitas ELGEKA Jawa Barat. Penelitian ini adalah sebuah penelitian deskriptif observasional, dengan desain penelitian cross sectional. Jumlah Subjek dalam penelitian ini adalah 63 orang. Pemilihan subjek dengan teknik non probability purposive sampling atau subjek penilitian memenuhi kriteria inklusi, menggunakan rumus slovin. Analisis data menggunakan aplikasi statistik SPSS. Karakteristik yang akan digambarkan meliputi domisili, usia, jenis kelamin, pekerjaan, ras, usia diagnosis, pendidikan terakhir, pengobatan, nilai BCR-ABL awal dn akhir, leukosit, trombosit dan hemoglobin. Hasil menunjukan bahwa pravelensi tertinggi berada di Kota Bandung (20%), dengan rentang usia 30-39 tahun (38,1%), jenis kelamin terbanyak wanita (55,6%), pekerjaan terbanyak pegawai swasta (28,6%), Ras terbanyak sunda (68,3%), usia rata-rata diagnosis 34 tahun, pendidikan terakhir perguruan tinggi (57,1%), penggunaan obat terbanyak imatinib (81.3%), nilai BCR-ABL awal dominan >10% dan akhir dominan <0,1%, hasil pemeriksaan darah rutin dominan hemoglobin 8-12g/dL, leukosit dominan dengan hasil 5000-10.000/mm3 dan trombosit dominan dengan hasil 150.000-400.000 mm3.
Karakteristik Status Gizi Pasien Anak Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) Sebelum dan Sesudah Kemoterapi di RSUD Al-Ihsan Bandung Putri Aulya Mustafa Yasin; Agung Firmansyah Sumantri; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10584

Abstract

Abstract. Leukemia is a malignant disease of abnormal white blood cells in the bone marrow. One of the treatments for leukemia patients is chemotherapy which can affect nutritional status. Nutritional status is a person's health status which is related to energy intake in the form of food in a person's country. This study aims to determine the characteristics of nutritional status in pediatric acute lymphoblastic leukemia (ALL) patients before and after chemotherapy. The sample selection technique used a total sampling technique from the entire population of ALL pediatric patients at Al-Ihsan Hospital, Bandung Regency. This research uses an analytical observational method with a cross-sectional approach. The data used is secondary data taken from pediatric patients with LLA in the form of medical record data at Al-Ihsan Regional Hospital, Bandung. The research results showed that the majority of patients before chemotherapy had normal nutritional status, 34 subjects (52.3%), and the majority of patients after chemotherapy had normal nutritional status, 40 subjects (61.5%). Child patients with ALL before chemotherapy had normal nutritional status as many as 34 people (52.3%), overweight nutritional status as many as 3 people (4.6%), and with underweight nutritional status as many as 28 people (43.1%). with ALL after chemotherapy had normal nutritional status as many as 40 people (61.5%), overweight nutritional status as many as 3 people (4.6%), and with underweight nutritional status as many as 22 people (33.8%) These results were caused by errors one factor is chemotherapy drugs which are corticosteroids. The use of corticosteroid drugs can increase appetite which can be a factor in improving the patient's nutritional status during chemotherapy treatment. Abstrak. Leukemia merupakan penyakit keganasan pada sel darah putih abnormal di sumsum tulang, salah satu pengobatan pada pasien leukemia salah satunya adalah kemoterapi yang dapat berpengaruh terhadap status gizi. Status gizi merupakan status kesehatan seseorang yang berkaitan dengan asupan energi berupa makanan di negara seseorang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik status gizi pada pasien anak leukemia limfoblastik akut (LLA) sebelum dan sesudah melakukan kemoterapi. Teknik pemilihan sampel menggunakan teknik total sampling dari seluruh populasi pada pasien anak LLA di Rumah Sakit Al-Ihsan Kabupaten Bandung. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data sekunder yang diambil pada pasien anak LLA berupa data rekam medik di RSUD Al-Ihsan Bandung. Hasil penelitian menunjukkan data mayoritas pasien sebelum kemoterapi memiliki status gizi normal 34 subjek (52.3%), dan mayoritas pasien setelah dilakukan kemoterapi memiliki status gizi normal 40 subjek (61.5%). Pasien anak dengan LLA sebelum kemoterapi memiliki status gizi normal sebanyak 34 orang (52,3%), status gizi overweightsebanyak 3 orang (4,6%), serta dengan status gizi underweight sebanyak 28 orang (43,1%).Pasien anak dengan LLA sesudah kemoterapi memiliki status gizi normal sebanyak 40 orang (61,5%), status gizi overweight sebanyak 3 orang (4,6%), serta dengan status gizi underweight sebanyak 22 orang (33,8%) Hasil ini disebabkan karena salah satu faktor berupa obat kemoterapi yang merupakan golongan kortikosteroid. Penggunaan obat kortikosteroid dapat meningkatkan nafsu makan yang dapat menjadi faktor meningkatnya status gizi pasien saat pengobatan kemoterapi.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Ketidakpatuhan Pasien Thalassemia dalam Mengonsumsi Obat Kelasi Besi di RSUD Al Ihsan Bandung 2023 Ridwan Maulana Assidiq; Agung Firmansyah Sumantri; Ayu Prasetia
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.10957

Abstract

Abstract. Thalassemia is a hereditary disease that causes disturbance in hemoglobin molecules. Currently, a curative treatment that is accessible to people is blood transfusion. To treat side effects that may arise. Thalassemia patients are given iron-chelating agents to treat excess iron in the body. However, patients often lack compliance with treatment. So, this study aims to identify factors influencing thalassemia patients’ non-compliance in taking iron chelating agents at Al Ihsan Hospital, Bandung 2023. This study was a cross-sectional study conducted at Al Ihsan Hospital, Bandung on 46 patients. Data were obtained by filling out the questionnaire to identify factors influencing thalassemia patients’ non-compliance with taking iron-chelating agents, analyzed with univariate. This study was divided into two groups based on age, child and adult. Both ages group was dominated by patients who had low compliance rates, the child with 18 patients (75%) and adult also with 18 patients (81.8%). After the analysis was carried out, it was found that belief, ferritin level, number of drugs, busyness, drug administration, social stigma, economic, and adverse effects of drug factors could influence thalassemia patients’ non-compliance in taking iron chelating agents. The majority of adult patients are caused by number of drugs factor (68.2%) and the majority of children patients are caused by number of drugs and drug administration factors (50%). Patients at Al Ihsan Hospital Bandung 2023 found that the majority of adult patients are caused by number of drugs factor while the majority of children patients are caused by number of drugs and drug administration factors. Abstrak. Thalassemia merupakan penyakit herediter yang menyebabkan gangguan pada molekul hemoglobin. Pengobatan kuratif yang dapat diakses masyarakat saat ini adalah transfusi darah. Untuk menangani efek samping yang mungkin timbul. pasien Thalassemia diberikan agen kelasi besi untuk mengatasi berlebihnya zat besi dalam tubuh. Namun, seringkali pasien kurang patuh dalam pengobatan. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan pasien thalassemia dalam mengonsumsi obat kelasi besi di RSUD Al Ihsan Bandung 2023. Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional yang dilakukan di RSUD Al Ihsan Bandung pada 46 pasien. Data diperoleh dari pengisian kuesioner untuk mencari faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan pasien thalassemia dalam mengonsumsi obat kelasi besi dan dianalisis dengan uji univariat. Data penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan usia, yaitu anak dan dewasa. Kedua kelompok usia didominasi oleh pasien yang memiliki tingkat kepatuhan rendah, pada usia anak terdapat 18 pasien (75%) dan usia dewasa 18 pasien (81.8%). Setelah dilakukan analisis ditemukan bahwa faktor kepercayaan, kadar ferritin, jumlah obat, kesibukan, administrasi obat, stigma sosial, ekonomi, dan efek samping dapat memengaruhi ketidakpatuhan terhadap konsumsi kelasi besi. Pada mayoritas pasien dewasa disebabkan oleh faktor jumlah obat (68.2%) dan mayoritas pasien anak disebabkan oleh faktor jumlah obat juga administrasi obat (50%). Pasien di RSUD Al Ihsan Bandung 2023 ditemukan mayoritas pasien dewasa disebabkan oleh faktor jumlah obat sedangkan mayoritas pasien anak disebabkan oleh faktor jumlah obat dan administrasi obat.
Hubungan Kadar Trombosit dan Jenis Kelamin dengan Kejadian DSS pada Pasien Rawat Inap di RSUD Al-Ihsan Bandung Fadilul Fatihah Razi; Agung Firmansyah Sumantri; Abdul Hadi Hassan
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12398

Abstract

Abstract. Indonesia is one of the tropical countries so it has a high risk of dengue virus transmission. Although not all cases of dengue hemorrhagic fever (DHF) are followed by shock, but the fact is that the mortality rate of DHF patients followed by shock will be much greater than patients who do not experience shock. Males have a higher risk of experiencing shock than females. In addition, patients who experience shock generally experience thrombocytopenia. Based on this phenomenon, is there a relationship between platelet levels and gender with the incidence of DSS in the inpatient room of Al Ihsan Bandung Hospital. This study used a cross sectional approach from January to December 2022, with purposive sampling. With the large sample formula collected as many as 78 patients. Testing relationship between platelets and gender with incidence of DSS using Chi The results showed that platelet levels were significantly associated with the incidence of DSS because the Pearson Chi Square value was smaller than P=0.05. Meanwhile, gender has no relationship with the incidence of DSS because the Pearson Chi Square value of 0.276 is greater than 0.05. In this study, the incidence of DSS was significantly associated with platelet levels but not gender. In other words, during DHF, male and female patients have the same chance of experiencing shock or developing DSS. Abstrak. Indonesia merupakan salah satu negara tropis sehingga memiliki risiko yang tinggi terhadap penularan virus dengue. Meskipun tidak semua kasus demam berdarah dengue (DBD) diikuti syok, namun faktanya dari tingkat kematian pasien DBD yang diikuti syok akan jauh lebih besar dibandingkan pasien yang tidak mengalami syok. Jenis kelamin laki-laki memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami syok dibandingkan Perempuan. Selain itu, pasien yang mengalami syok pada umumnya mengalami trombositopenia. Berdasarkan fenomena tersebut apakah ada hubungan antar kadar trombosit dan jenis kelamin dengan kejadian DSS di ruang rawat inap RSUD Al Ihsan Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dari Januari- Desember 2022, dengan purposive sampling. Dengan rumus sampel besar terkumpul sebanyak 78 pasien. Pengujian hubungan antara trombosit dan jenis kelamin dengan kejadian DSS menggunakan Chi Square serta data diolah dengan SPSS versi 25. Hasilnya kadar trombosit secara signifikan berhubungan dengan kejadian DSS dikarenakan nilai Pearson Chi Square lebih kecil dari P=0,05. Sementara itu, jenis kelamin tidak memiliki hubungan dengan kejadian DSS dikarenakan nilai Pearson Chi Square sebesar 0,276 lebih besar dari 0,05. Dalam penelitian ini kejadian DSS memiliki hubungan sangat bermakna dengan kadar trombosit pasien tetapi tidak berhubungan denga jenis kelamin. Dengan kata lain, pada saat DBD pasien laki-laki maupun perempuan memiliki peluang yang sama untuk mengalami syok atau terkena DSS.
Hubungan Antara Kemiskinan dengan Kejadian Anemia Defisiensi Zat Besi pada Ibu Hamil di Kota Bandung Tahun 2015–2020 Nurul Izzati Fauzia; Agung Firmansyah Sumantri; Ismet Muchtar Nur
Bandung Conference Series: Medical Science Vol. 4 No. 1 (2024): Bandung Conference Series: Medical Science
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsms.v4i1.12415

Abstract

Abstract. Anemia is a condition where red blood cells do not meet the body's physiological needs, this occurs because the erythrocytes in the body are not balanced. The condition of anemia often occurs in pregnant women, the most common occurrence is iron deficiency anemia and this condition has serious consequences for the mother and fetus. There are several factors that can cause pregnant women to experience iron deficiency anemia, one of which is economic level. Economic level is measured from the poverty level based on daily calorie intake. Poverty is a condition caused by cultural factors in a partickeular area that occur in a particular person or group of people, thereby causing them to remain attached to poverty. This study aims to determine the relationship between economic level and the incidence of iron deficiency anemia in pregnant women in Bandung City. The method used in this research was a retrospective cohort approach. The data used is secondary data from the Bandung City Health Service and the Bandung City Central Statistics Agency. Statistical tests use Spearman rank. The research results show a value of p=0.704 (p>0.05). The conclusion is that there is no relationship between economic level and the incidence of iron deficiency anemia in pregnant women in Bandung City in the 2015-2020 period. This is because economic level is a factor that indirectly influences the incidence of anemia. Abstrak. Anemia merupakan kondisi sel darah merah yang tidak memenuhi kebutuhan fisiologis tubuh, ini terjadi karena eritrosit didalam tubuh tidak seimbang. Kondisi anemia pun sering terjadi pada wanita hamil, insidensi yang sering terjadi adalah anemia defisiensi zat besi dan keadaan ini memiliki konsekuensi serius untuk ibu dan fetus. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan wanita hamil mengalami anemia defisiensi zat besi, salah satunya tingkat ekonomi. Tingkat ekonomi dinilai dari tingkat kemiskinan berdasarkan asupan kalori per hari. Kemiskinan merupakan keadaan yang disebabkan oleh faktor budaya suatu daerah tertentu yang terjadi pada seseorang atau sekelompok masyarakat tertentu sehingga membuatnya tetap melekat dengan kemiskinan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat ekonomi dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil di Kota Bandung. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kohort retrospektif. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Kota Bandung dan Badan Pusat Statistika Kota Bandung. Uji statistik menggunakan rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan nilai p=0,704 (p>0,05). Kesimpulannya tidak ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan kejadian anemia defisiensi zat besi pada ibu hamil di Kota Bandung pada periode tahun 2015-2020. Hasil ini disebabkan karena tingkat ekonomi merupakan faktor yang mempengaruhi secara tidak langsung terhadap kejadian anemia.
Sosialiasi Pola Hidup Sehat dan Senam Kebugaran Pada Warga di Lingkungan Gelora Bandung Lautan Api Sudradjat, Agus; Candra Fatihah, Dian; Kusdiantini, Andini; Fitriyani, Sani; Dwi Ariani, Nurul; Firmansyah Sumantri, Agung
PADMA Vol 3 No 2 (2023): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PADMA)
Publisher : LPPM Politeknik Piksi Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56689/padma.v3i2.1158

Abstract

Kesehatan masyarakat memiliki peran sentral dalam pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan praktik pola hidup sehat di kalangan warga Lingkungan Gelora Bandung Lautan Api. Melalui serangkaian sosialisasi, workshop, dan kegiatan senam kebugaran, peserta diajak untuk memahami pentingnya pola hidup sehat dan kebugaran dalam meningkatkan kualitas hidup. Sesi senam kebugaran menjadi elemen penting dalam program ini, dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dan merangsang partisipasi aktif warga dalam aktivitas fisik. Melalui pendekatan yang interaktif, kegiatan ini menciptakan lingkungan yang mendukung dan menginspirasi masyarakat untuk terlibat dalam perubahan positif dalam gaya hidup mereka. Evaluasi hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan warga mengenai pentingnya pola hidup sehat, dan sekaligus mencatat pertumbuhan dalam partisipasi kegiatan senam kebugaran. Dengan meresapnya kesadaran kesehatan dalam komunitas ini, diharapkan kegiatan ini akan menjadi landasan bagi adopsi gaya hidup sehat yang berkelanjutan. Berfokus pada pendekatan interaktif, kegiatan ini mengintegrasikan informasi tentang nutrisi, olahraga, dan manajemen stres untuk membentuk pola hidup seimbang. Hasilnya menunjukkan peningkatan pengetahuan dan partisipasi aktif dalam kegiatan senam kebugaran. Melalui abstrak ini, diharapkan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dapat menjadi model inspiratif untuk edukasi kesehatan yang berkelanjutan di lingkungan komunitas.
Pengenalan Konsep Fisioterapi Wellness dan Pemeriksaan Kesehatan Dasar di SMAN 6 Cimahi Qudus, Abdul; Firmansyah Sumantri, Agung; Halomoan, Roni; Thesalonika, Lona; Sudrajat, Agus; Kusdiantini, Andini; Trimastuti, Wahyu; Gunawan, Ramdhan; Mecca Sufyana, Candra
PADMA Vol 2 No 2 (2022): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PADMA)
Publisher : LPPM Politeknik Piksi Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56689/padma.v5i1.2245

Abstract

The student period is a critical time for forming lifestyle patterns. Wellness physiotherapy emphasizes prevention, health promotion, and the formation of safe physical activity habits.The purpose of introducing the concept of wellness physiotherapy and conducting basic health checks for students at SMAN 6 Cimahi is to increase health awareness and detect early risk factors.The PKM activity took the form of group education and basic health screening (pre-activity questionnaires such as PAR-Q+, blood pressure measurement, body mass index, resting heart rate, sit-and-reach flexibility, and screening for health problems). The PKM activity took the form of group education and health screening examinations (pre-activity questionnairessuch as PAR-Q+, blood pressure measurements, body mass index, resting heart rate, sit-and-reach flexibility, and simple functional fitness measurements). The results were reported descriptively, and clinical follow-up was recommendedwhen necessary. Results from 120 participating students showed that 18% exhibited signs of high blood pressure/other risk factors requiring follow-up, 32%did not meet physical activity recommendations, and >85% reported increasedknowledge after the session. This program is effective as an initial intervention toincrease student health awareness and detect health issues requiringreferral.
Penerapan Sistem Monitoring Biomarker Kesehatan berbasis Google Sheet untuk Meningkatkan Kesadaran Kesehatan pada Masyarakat Berisiko Metabolik di Klinik Prima Husada Firmansyah Sumantri, Agung; Thesalonika, Lona; Alim, Agus; Nurul Huda, Ilham; Dewi Utami Hamid, Nuke; Wahab, Syaikhul; Widyaningrum, Desy; Irma Suryani, Ade; Arif Setyawan, Adhita
PADMA Vol 4 No 2 (2024): JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PADMA)
Publisher : LPPM Politeknik Piksi Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56689/padma.v4i2.2263

Abstract

Changes in modern lifestyles, which tend to be sedentary, have increased theprevalence of metabolic diseases such as diabetes mellitus, hypertension, anddyslipidemia in urban communities. Regular monitoring of health biomarkersis an important step in the early detection of metabolic risks. However,the limited availability of simple and easy-to-use monitoring facilitieshas resulted in low public awareness of their health conditions.This Community Service Activity (PKM) aims to increase awarenessof health among people at risk of metabolic disorders through the implementation of aGoogle Sheet-based biomarker monitoring system at the Prima Husada Clinic in Bandung. The methodsused in this activity include socialization, training in the use of Google Sheet HealthTracker, and evaluation of health awareness levels and changes inbiomarker parameters (blood pressure, BMI, blood sugar levels, and cholesterol). The resultsof the activity showed a 52% increase in participants' understanding of the importance ofhealth monitoring, and 68% of participants began to routinely recordhealth indicators for one month. The Google Sheet system proved to be effective, simple, and accessible via mobile phones, making it easier forthe community to independently monitor their health conditions. This activity demonstratesthat simple digital innovations can be a promotive and preventive solutionin community physiotherapy to reduce the risk of metabolic diseases.
Faktor Risiko Kanker Payudara pada Wanita Muda di RSUD Al Ihsan Tahun 2025 Eriantiningrum, Salsabila; Sumantri , Agung Firmansyah; Maharani, Winni
Jurnal Riset Kedokteran Volume 5, No.2, Desember 2025, Jurnal Riset Kedokteran (JRK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrk.v5i2.8307

Abstract

Abstract, Currently, the world is experiencing a shift in disease trends, from predominantly infectious diseases to an increasing prevalence of non-communicable diseases (NCDs). One of the leading causes of death among NCDs is breast cancer, which ranks as the second leading cause of mortality worldwide. The incidence of this disease is rising among young women, triggered by various risk factors that contribute to the development of cancer cells, such as Body Mass Index (BMI), family history, early menarche, long-term use of hormonal therapy, smoking habits, and marital status. This study aims to describe the risk factors associated with breast cancer in young women at RSUD Al Ihsan, West Java, during the year 2025. This study is a descriptive study with a cross-sectional approach was conducted using secondary data obtained from the medical records of young female breast cancer patients at RSUD Al Ihsan, with a total of 64 respondents. The results indicate that the majority of respondents had a normal BMI with an average of 19.30, were married (96.88%), non-smokers (93.75%), did not undergo hormonal therapy (71.88%), had no family history of breast cancer (73.44%), and did not experience early menarche (98.44%). These findings suggest that most respondents did not present classical risk factors such as a family history of breast cancer, early menarche, smoking habits, or long-term hormonal therapy. This indicates the potential involvement of other factors, such as diet, physical activity, environmental exposure, or more complex genetic predispositions. Abstrak, Saat ini, dunia mengalami perubahan tren penyakit, dari dominasi penyakit menular menjadi peningkatan penyakit tidak menular (PTM). Salah satu PTM yang menjadi penyebab utama kematian adalah kanker payudara. Penyakit ini merupakan penyebab kematian kedua di dunia dan semakin banyak ditemukan pada wanita usia muda. Beberapa faktor risiko dapat memicu perkembangan kanker payudara, di antaranya Indeks Massa Tubuh (IMT), riwayat keluarga, menarche dini, penggunaan obat hormonal jangka panjang, kebiasaan merokok, dan status pernikahan. Studi ini bertujuan untuk menggambarkan faktor risiko kejadian kanker payudara pada wanita muda di RSUD Al Ihsan, Jawa Barat, periode tahun 2025. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Data dikumpulkan dari rekam medis pasien kanker payudara wanita usia muda di RSUD Al Ihsan. Total subjek penelitian sebanyak 64 responden. Mayoritas responden memiliki IMT normal dengan rata-rata 19.30, sudah menikah (96.88%), tidak merokok (93.75%), tidak menjalani terapi hormon (71.88%), tidak memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara (73.44%), dan tidak mengalami menarche dini (98.44%). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak memiliki faktor risiko klasik. Ini menunjukkan kemungkinan peran faktor lain seperti pola makan, aktivitas fisik, paparan lingkungan, atau predisposisi genetik dalam kejadian kanker payudara.