Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

History and Relationship of Qur'an Verses to Rebo Wekasan Tradition at the Darul Ulum Islamic Boarding School in Banyuanyar, Pamekasan Romziana, Luthviyah; Lutfi, Lutfi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol. 20 No. 1 (2023)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v20i1.17500

Abstract

Rebo Wekasan is a tradition believed by the Indonesian people, especially the Madurese community, who believe that Allah sends calamities and diseases as many as 320,000 in a day. This study aims to discuss the origin of the Rebo Wekasan ritual tradition at Darul Ulum Banyuanyar Islamic Boarding School in Madura and the correlation of Quranic verses written in the Rebo Wekasan amulet with the history of Rebo Wekasan. This research used a qualitative method with a field approach located at Darul Ulum Banyuanyar Islamic Boarding School. The results show that this ritual originated with KH. Abdul Hamid bin Istbat, who performed the ritual, and then the students and the surrounding community followed his example until now. As for the correlation of Quranic verses with the history of Rebo Wekasan, the verses written in the amulet contain the meaning of salvation and a good reward for those who are patient in facing the given test.
PEMBOROSAN MAKANAN DALAM MUKBANG: TINJAUAN AL-QUR’AN TENTANG ISRAF DI ERA DIGITAL Sofiyaturrozibala; Luthviyah Romziana
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10 No. 02 Juni 2025 In Build
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.25251

Abstract

Fenomena Mukbang sebagai konten digital yang menampilkan seseorang mengonsumsi makanan dalam jumlah besar telah menjadi tren global, termasuk di Indonesia. Namun, praktik ini menimbulkan pertanyaan etis, terutama dalam konteks ajaran Islam yang menekankan kesederhanaan dan larangan terhadap pemborosan. Penelitian ini bertujuan menganalisis pandangan al-Qur’an terhadap Mukbang dalam kaitannya dengan pemborosan makanan, dan mengkaji konsep israf dalam al-Qur’an dan merelevansikannya dengan fenomena Mukbang sebagai bagian dari budaya digital kontemporer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan kualitatif dan analisis tematik terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan perilaku Mukbang dan israf menurut al-Qur’an. Hasil penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa pandangan al-Qur’an terhadap Mukbang dan pemborosan makanan menunjukkan praktik Mukbang terutama yang dilakukan secara berlebihan dan tidak sesuai kebutuhan termasuk dalam kategori israf atau pemborosan yang dilarang dalam Islam. Al-Qur’an secara tegas, seperti dalam QS. Al-A’raf [7]:31 dan QS. Al-Baqarah [2]:168, menekankan pentingnya sikap moderat dalam konsumsi dan melarang perilaku berlebih-lebihan. Selain itu, Mukbang juga dapat menyebarkan gaya hidup tidak sehat, yang bertentangan dengan prinsip Islam tentang menjaga kesehatan sebagai bagian dari tanggung jawab pribadi. Oleh karena itu, meskipun Mukbang berkembang sebagai hiburan modern, dalam pandangan Islam, praktik ini bisa dinilai bertentangan dengan ajaran al-Qur’an yang menekankan keseimbangan, moderasi, dan etika konsumsi.
BUDAYA FLEXING DI MEDIA SOSIAL DAN IMPLIKASINYA TERHADAP MENTALITAS MASYARAKAT MUSLIM: PERSPEKTIF AL-QUR'AN DAN PSIKOLOGI SOSIAL Mala Hayati; Luthviyah Romziana
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10, Nomor 02 Juni 2025 t
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.25280

Abstract

Di era digital seperti sekarang ini, media sosial dapat membawa banyak perubahan yang sangat cepat sehingga dapat menggeser nilai-nilai budaya yang sudah ada. Budaya flexing membawa tantangan besar terhadap umat Muslim yang mengikuti ajaran Al-Qur'an, yaitu untuk menjauhi sikap riya’, ujub, sombong. Tujuan penelitian ini, menganalisis pengertian budaya flexing perspektif Al-Qur’an dan psikologi sosial, dan mengkaji dampak budaya flexing di media sosial terhadap mentalitas masyarakat Muslim, serta mengeksplorasi solusi fenomena budaya flexing menurut Al-Qur’an dan pemikiran Ibnu Sina. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research). Data yang digunakan berupa kitab tafsir, buku, jurnal ilmiah, dan artikel tentang fenomena flexing, psikologi sosial, dan pemikiran Ibnu Sina. Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis isi (content analysis). Hasil penelitian yaitu fenomena flexing dalam Al-Qur’an dapat dikaitkan dengan konsep seperti riya' (pamer) dalam QS. An-Nisa’: 38, ‘ujub (membanggakan diri) dalam QS. Al-Hadid: 23, takabbur (kesombongan) dalam QS. Fusshilat:15, dan hubbud dunya (cinta dunia) dalam QS. Al-Hadid:20. Menurut Ibnu Sina, flexing yaitu fenomena dimana seseorang memamerkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup secara berlebihan untuk mendapatkan pengakuan atau validasi dari orang lain. Dampak budaya flexing yaitu pada individu, flexing merusak akhlak dan spiritualitas, mendorong konsumerisme dan pencarian validasi eksternal. Secara sosial, flexing memperparah ketimpangan, materialisme, dan persaingan tidak sehat. Secara psikologis, flexing memicu FOMO, kecemasan, dan ketidakpuasan. Serta solusi al-Quran yaitu mengedepankan nilai-nilai zuhud (kesederhanaan dan kepuasan hati) dan tawadhu' (kerendahan hati). Sedangkan solusi menurut Ibnu Sina pengendalian temperamen melalui meditasi, mengejar kebahagiaan sejati dengan pengembangan diri, menggunakan akal untuk menganalisis perilaku, dan mencari hikmah dari pengalaman.
The Phenomenon of Worldly Love in the Digital Age: Thematic Interpretation of Surah Al-Hadid Verse 20 Siahaan, Laily Nazmi; Luthviyah Romziana
Medina-te : Jurnal Studi Islam Vol 21 No 2 (2025): Medina-Te: Jurnal Studi Islam
Publisher : Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19109/medinate.v21i2.28467

Abstract

In the digital era, people are increasingly following trends that can be seen from social media such as Instagram and TikTok. This phenomenon can have a negative impact on life. A person will continue to follow trends that ultimately lead to regret. The main purpose of this study is to analyze the phenomenon of worldly love in the digital era based on the perspective of QS. Al-Hadid Verse 20 and what the impact of the influence of worldly love is in the digital era. This study also provides solutions based on the Qur'an to help people understand and overcome the negative effects of digitalization on spiritual values. This study uses a qualitative method with a library research approach. The data collection technique is carried out thematically (maudhu'i), making QS. Al-Hadid Verse 20 the center of analysis to explore the meaning of the verse in the context of the digital era. The results of the study, the love of the world in Surah Al-Hadid verse 20 includes la'ibun (something that does not bear fruit), lahwun (something that distracts humans from things that are useful and beneficial to them), ziinah (jewelry such as magnificent clothing), tafakhur (being proud of one another with lineage and parents who have become bones that have been destroyed), and takatsurun fil amwaali wal awlaad (boasting of one another). And the manifestation of love of the world is manifested in the form of social media addiction (La'ib and Lahwun), the emergence of (FOMO) "Fear Of Missing Out" (Takatsur), Showing Off Wealth or Lifestyle on the Internet (Flexing) (Tafakhur). Therefore, the Qur'anic solution recommended by the author is tajdid intention, digital zuhud, digital da'wah based on the afterlife, and finally tawazun (balance between the world and the afterlife)
REPRESENTASI PELECEHAN TERHADAP KIAI DALAM MEDIA TELEVISI NASIONAL: ANALISIS ADAB ISLAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN TEORI REPRESENTASI STUART HALL Luthviyah Romziana; Zaimuddin; Moh. Najiburrahman; Babun Suharto
IMTIYAZ: Jurnal Ilmu Keislaman Vol. 9 No. 4 (2025): Desember
Publisher : LPPM STAI Muhammadiyah Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46773/imtiyaz.v9i4.2882

Abstract

The phenomenon of harassment of kiai in a Trans7 broadcast on October 13, 2025, indicates a serious problem in religious ethics and public communication. As a figure of ulama and guardian of community morals, kiai holds a central position in the Nusantara Islamic tradition, so that respect for him is part of Islamic etiquette based on the values ​​of the Qur'an. This study aims to analyze media representations of kiai figures and examine how the principles of Islamic etiquette can become a framework for criticism of communication practices that demean the dignity of ulama. The method used is descriptive qualitative through content analysis and maudhu'i interpretation of Quranic verses on the ethics of speaking, respect for ulama, and social ethics, combined with Stuart Hall's representation theory. The results show that the media encoding process reflects the logic of entertainment capitalism that normalizes jokes about kiai. Meanwhile, audience decoding is divided into three positions: dominant, negotiating, and opposition. The Qur'anic perspective assesses that this practice is contrary to the principles of etiquette in QS. Al-Baqarah: 83, QS. Al-Ahzab: 70, and QS. Al-Hujurat: 2, 6, 11. This study emphasizes the importance of Qur'anic ethics as a critical paradigm in building a civilized media culture and maintaining the dignity of scholars.