Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

ANALISIS KRITIS M. QURAISH SHIHAB TERHADAP PENGULANGAN KISAH NABI MUSA DALAM AL-QUR’AN Romziana, Luthviyah; Rahmaniyah, Nur Wahyuni
JURNAL ISLAM NUSANTARA Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Ta'lif wa An-Nasyr (LTN) PBNU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (454.971 KB) | DOI: 10.33852/jurnalnu.v5i2.340

Abstract

This study aims to analyze the repetition of the story of the Prophet Musa according to Quraish Shihab in the book of al-Misbah interpretation and what goals and lessons can be applied to Millennials like today. The type of research used is a qualitative approach, with library research techniques in data collection. Based on the results of the study, it was found that; First, the purpose of the story of Prophet Musa being repeated in the Koran according to Quraish Shihab is to strengthen and strengthen the heart of the Prophet Muhammad. Second, the wisdom from the story of the Prophet Moses, something hated can lead to good. Second, Allah gave a sign or guidance as Prophet Moses was given the sign of a blazing fire. Third, Allah is Willing and chooses whoever is worthy according to Him as choosing Prophet Moses as ulul azmi and fostering a sense of courage, patience, and perseverance as well as the persistence of Prophet Moses against the arrogance of the king of Pharaoh and his people.
KONSTRUKSI BUDAYA AKIKAH DAN SÊLAPAN: STUDI LIVING QUR’AN DI KABUPATEN PROBOLINGGO Basid, Abd; Romziana, Luthviyah; Sholeha, Iklimatus
JURNAL ISLAM NUSANTARA Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Ta'lif wa An-Nasyr (LTN) PBNU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.477 KB) | DOI: 10.33852/jurnalnu.v5i2.309

Abstract

This study aims to describe how the culture of akikah and sêlapan in society in Probolinggo Regency. As a new study in this culture, the living Qur'an is a scientific research that we do, related to the presence of the Qur'an in a certain Muslim community. With a descriptive-phenomenological method that aims to provide an understanding of how the culture is in Probolinggo Regency and examine several aspects 1) How is the implementation of akikah and sêlapan culture in Probolinggo Regency; and 2) Connecting the culture with the Qur'an and interpretation. The results of the study show that this culture is a hereditary culture carried out by the community and each procession has its own meaning, one of the meanings contained in this procession is that the community believes that this culture is a form of belief that the implementation of akikah and sêlapan will bring blessings to life for the child.
History and Relationship of Qur'an Verses to Rebo Wekasan Tradition at the Darul Ulum Islamic Boarding School in Banyuanyar, Pamekasan Romziana, Luthviyah; Lutfi, Lutfi
Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif Vol 20, No 1 (2023)
Publisher : South East Asia Regional Intellectual Forum of Qoran Hadith (SEARFIQH)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jim.v20i1.17500

Abstract

Rebo Wekasan is a tradition believed by the Indonesian people, especially the Madurese community, who believe that Allah sends calamities and diseases as many as 320,000 in a day. This study aims to discuss the origin of the Rebo Wekasan ritual tradition at Darul Ulum Banyuanyar Islamic Boarding School in Madura and the correlation of Quranic verses written in the Rebo Wekasan amulet with the history of Rebo Wekasan. This research used a qualitative method with a field approach located at Darul Ulum Banyuanyar Islamic Boarding School. The results show that this ritual originated with KH. Abdul Hamid bin Istbat, who performed the ritual, and then the students and the surrounding community followed his example until now. As for the correlation of Quranic verses with the history of Rebo Wekasan, the verses written in the amulet contain the meaning of salvation and a good reward for those who are patient in facing the given test.
Asafa dalam Al-Qur’an (Kajian Semantik Toshihiko Izutsu) Romziana, Luthviyah; Muhimmah, Siti Musriatul
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 10 No. 2 (2023): (Oktober 2023)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v10i2.506

Abstract

Terdapat banyak istilah dalam Al-Qur’an sebagai media mengungkapan pesan yang terkandung di dalamnya diantaranya adalah kata asafa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui konsep kata asafa yang terdapat dalam Al-Qur’an berdasarkan tinjauan semantik Toshihiko Izutsu. Penellitian inli menggulnkan metode libralry research dengan deskriptif-analitlis kemudian dianalisis menggunakan teori semantik Tosihiko Izutsu. Adaplun langkah yang dilakukan yaitu melnentukan kata kunlci, mencari makna dasar daln makna relasional yang meliputi analisis sintagmaltik dan paradigmatik. Kemludian mencari makna sinkronik dlan diakronik yang meliputi, pra Qur’anik, era Qlur’anik dan post Qur’anik, lalngkah terakhir menentukan weltansclhouung. Denlgan langkah-langkah tersebut malka didapatkan bahwla makna kata asafa dan derivasinya menyatakan beberapa hasil yaitu, kata asafa daln derevasinya diselbutkan sebanyak 5 kali yang tersebar dalam 5 surah dengan 4 bentuk kata yakni , آَسَفُو, أَسِفًا, أَسَفًا, dan يَٰٓأَسَفَىٰ . Jika dilihat dari diakroniknya, kata asafa pada masa pra Qur’anik bermakna kesedihan hati, dan masa Qur’aniknya kata asafa mempunyai makna amarah dan kesedihan, sampai saat ini para mufasir memaknai asafa dengan persaan sedih yang bercampur amarah. Weltanschouung penggunaan kata asafa dalam Al-Qur’an disebabkan : 1) Perilaku orang kafir, 2) kehilangan.
Konsep ‘Iddah dalam Surah Al-Baqarah Ayat 234 (Studi Komparatif Kitab Marah Labid Karya Syekh Nawawi Al Bantani dan Tafsir Al-Munir Karya Syekh Wahbah Az Zuhaili) Romziana, Luthviyah; Kholiq, Hikmah Kamilia; Musolli
NUR EL-ISLAM : Jurnal Pendidikan dan Sosial Keagamaan Vol. 11 No. 1 (2024): (April 2024)
Publisher : Institut Agama Islam Yasni Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51311/nuris.v11i1.514

Abstract

‘Iddah adalah masa bagi wanita untuk tinggal di rumah (yang ia tempati bersama suami), tidak menikah lagi dan tidak keluar rumah kecuali kalau ada udzur syar'i. Namun, dalam praktiknya ketentuan-ketentuan tersebut terkadang tidak dijalankan sebagaimana mestinya. Seorang istri yang telah ditinggal mati oleh suaminya tidak menjalankan masa ‘iddah sebagaimana yang disyari’atkan. Konsep ‘iddah wanita yang ditinggal mati suaminya dalam hal ini yang menjadi fokus kajian penulis adalah pendapat Syekh Nawawi al Bantani dan Syekh Wahbah az Zuhaili mengenai ayat ‘iddah surah al Baqarah ayat 234 dalam kitab Tafsir Marah Labid dan Tafsir al Munir. Penelitian ini termasuk jenis kualitatif dengan memanfaatkan data-data kepustakaan yang dikumpulkan melalui metode muqarin, yaitu membandingkan penafsiran ayat ‘iddah pada kitab Tafsir Marah Labid dan Tafsir Al Munir. Permasalahan yang diangkat adalah: pertama, pemikiran Syekh Nawawi al Bantani yang merupakan mufassir dari Indonesia serta pemikiran Syekh Wahbah az Zuhaili, seorang mufassir Suriah tentang konsep ‘iddah wanita yang ditinggal mati oleh suaminya; kedua, perbedaan dan persamaan penafsiran keduanya mengenai ayat ‘iddah tersebut, seperti metode penafsiran dan kandungan tafsirnya. Berdasarkan analisis data pada penelitian ini, masa ‘iddah bagi seorang wanita pada dasarnya membutuhkan beberapa pertimbangan baik dari aspek hukum agama maupun aspek sosial. Pertimbangan tersebut guna mewujudkan putusan hukum yang maslahat dan memiliki nilai keadilan.
SANTRI RECEPTION AGAINST SAMADIYAH RECITATION TO FREE THE CORPSE FROM THE TORMENT OF THE GRAVE Romziana, Luthviyah; Fatimah, Fatimah; Putri, Amelia; Fajarwati, Linda
MUSHAF: Jurnal Tafsir Berwawasan Keindonesiaan Vol 2, No 2 (2022): Living Qur'an and the Holy Book of Religions in Indonesia
Publisher : Universitas Nurul Jadid

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33650/mushaf.v2i2.3306

Abstract

Today, the Qur’an is not only studied textually but has begun to be examined in the dialectical realm, which is familiar with the term living Qur’an. This can be highlighted through the reading of S}amadiyah (100,000 Sūrah Al-Ikhlāṣ), which has become a tradition in the archipelago, including the students of the Al-Lathifiyah area of the Pondok Pesantren Nurul Jadid in Paiton Probolinggo. This study aims to analyze the reception of students in the Al-Lathifiyah region towards the reading of S}amadiyah addressed to people who have died. These activities are carried out within a certain period using calculating tools such as prayer beads, coffee, corn, etc. The reading of the S}amadiyah is believed to be an intermediary for releasing the corpse from the torment of the grave. The meaning of reading S}amadiyah implies a desire to be able to atone for the sins of people who have died. In this study, we used qualitative research with a phenomenological approach. The data collection techniques we use are observation, interviews, and documentation. From the reception of the students of the Al-Lathifiyah region towards the tradition of reciting S}amadiyah for the dead, it can be concluded that the reading of S}amadiyah can send blessings to those who have died so that they can atone for the torment of the grave and their sins.
PENAFSIRAN ESOTERIK (BATINIYAH) TENTANG AYAT SALAT: Analisis Terhadap Tafsir Syafahi Adi Hidayat Di Youtube Romziana, Luthviyah; Febrianti, Indika
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 22 No. 2 (2023): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v22i2.376

Abstract

Prayer is a religious commandment descended upon the Prophet in a very special place, namely 'inda sidratil muntaha 'indaha jannatul ma'wa (near the heaven at Sidrat al-Muntaha). The commandment of prayer is obligatory for every Muslim so that through prayer, we can avoid committing indecencies and evils. Performing the prayer is the initial sign of Islam for a Muslim, while neglecting the prayer is also the first sign of disbelief for a Muslim. The purpose of this research is to acquire a clearer understanding and depiction of the meaning of prayer according to the commentary by Adi Hidayat. The method used in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques in this study employ both primary and secondary sources. Primary data sources consist of Adi Hidayat's lectures and sermons through mass media, while secondary data include scholarly works and books related to the topic. Research findings: First, according to Adi Hidayat, prayer is not just a mere obligation but a form of our devotion as creatures. Second, prayer done correctly will establish a strong connection with Allah, making it easier for us to navigate life. Third, it brings forth a sense of servitude and devotion while performing prayers, so that the prayers we undertake can yield positive impacts on our lives. Salat merupakan suatu perintah agama yang diturunkan kepada rasulullah ditempat yang sangat istimewa yaitu ‘inda sidratil muntaha ‘indaha jannatul ma’wa (didekat surga di siratil muntaha). Perintah salat diwajibkan bagi setiap umat islam agar dengan salat tersebut kita bisa terhindar dari perbuatan fahsya’ dan munkar. Mengerjakan salat merupakan tanda awal keislaman bagi seorang muslim, sedangkan meninggalkan salat merupakan tanda awal kekafiran pula bagi seorang muslim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh pengetahuan dan gambaran yang lebih jelas tentang memahami makna salat menurut tafsir syafahi Adi Hidayat. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer berupa video-video pengajian dan ceramah Adi Hidayat melalui media massa. Sedangkan data sekunder berupa karya ilmiah dan buku-buku yang berkaitan dengan judul. Hasil penelitian: Pertama, salat menurut Adi Hidayat bukan hanya sekedar kewajiban belaka, namun salat menurutnya adalah suatu bentuk penghambaan kita sebagai makhluk. Kedua, salat yang dilakukan dengan benar akan melahirkan konektifitas yang kuat dengan Allah, sehingga dengan konektifitas tersebut yang akan memudahkan kita dalam menjalani kehidupan. Ketiga, menghadirkan adanya sifat penghambaan serta kekhusyuan saat melakukan salat, sehingga dengan salat yang kita kerjakan tersebut dapat menjauhkan kita dari perilaku fahsya’ dan munkar serta dapat membuahkan dampak yang positif bagi kehidupan kita.
Pelatihan Mudah Menghafal Al-Qur’an Dengan Metode Tikrar, Murajaah & Tasmi’ Bagi Siswi Kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid Romziana, Luthviyah; Wilandari, Wilandari; Aisih, Lum Atul; Nasihah, Rifqiyah Afifatin; Sholeha, Iklimatus; Haslinda, Haslinda; Jamilah , Nadzirotul; Rahmah, Kafilatur
Jurnal Karya Abdi Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021): Jurnal Karya Abdi Masyarakat
Publisher : LPPM Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (507.396 KB) | DOI: 10.22437/jkam.v5i1.14095

Abstract

Pelatihan Mudah Menghafal al-Quran Bagi Siswi Kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid adalah pelatihan untuk memudahkan siswi kelas XI IPA Tahfidz dalam menghafal al-Quran dengan menggunakan metode tikrar, murojaah, dan tasmi’. Sebenarnya di era sekarang banyak sekali muncul berbagai macam metode proses menghafal al-Quran dengan mudah. Namun, pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat memilih pelatihan metode tikrar, murojaah, dan tasmi’ karena metode ini sangat efektif dilakukan bagi para santri yang ingin menghafal al-Quran. Metode tikrar yaitu cara menghafal al-Quran dengan mengulang-ngulang ayat kurang lebih 5 sampai 20 kali. Murojaah yaitu cara untuk menjaga hafalan al-Quran dengan terus menerus mengulangnya guna untuk memperlancar dan meraih hafalan yang kuat. Sedangkan tasmi’ yaitu semaan antara para huffazh yang satu dengan yang lain atau saling bergantian menyimak antar teman. Ketiga metode ini saling berkaitan. Pelaksanaan kegiatan ini dikhususkan bagi bagi siswi kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid yang memang ingin menghafal al-Quran. Tujuan dari diadakan pelatihan ini yaitu mengedukasi kepada siswi kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid yang ingin menghafal al-Quran bahwa menghafal al-Quran sangatlah mudah, selain itu juga bahwa tidak hanya berhenti di menghafal saja akan tetapi murojaah sangatlah penting dilakukan bagi siswi kelas XI IPA Tahfidz untuk memperkuat hafalan dan tasmi’ untuk mengingatkan mana bacaan yang salah ataupun yang benar. Sehingga dengan adanya pelatihan ini, siswi kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid memiliki hafalan yang kuat dan mutqin. Berdasarkan dari hasil pelatihan ada 2 faktor yaitu faktor pendukung dan faktor penghambat dalam menghafal al-Quran. Faktor pendukung diantaranya yaitu adanya ghirah atau semangat dalam menghafal al-Quran dengan baik dan benar, memudahkan menghafal dan menjaga hafalan al-Quran dengan menggunakan metode ini sehingga kualitas hafalan siswi kelas XI IPA Tahfidz Madrasah Aliyah Nurul Jadid meningkat dan bisa mencapai target. Sedangkan faktor penghambat adalah lebih mengutamakan tikrar nya yaitu menginginkan banyaknya ayat yang dihafal namun mengesampingkan murojaah dan tasmi’. Sehingga tak jarang banyak santri yang banyak hafalannya karena seringnya menambah ayat demi ayat, namun kurang lancar pada ayat-ayat sebelumnya. Oleh karenanya metode tikrar, murojaah, dan tasmi’ merupakan metode berkesinambungan yang tidak dapat dipisahkan.
Uzlah Sebagai Respons Terhadap Kecanduan Sosial Media dalam Perspektif Al-Quran Nur Laila Zahrotul Maulidiyah; Romziana, Luthviyah
KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin Vol. 14 No. 2 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36781/kaca.v14i2.930

Abstract

Fenomena kecanduan sosial media semakin marak di era modern ini, menyebabkan ketidak seimbangan antara aktivitas sosial dan spiritual. Banyaknya masyarakat saat ini khususnya pada usia remaja mengalami kecanduan ataupun ketergantungan terhadap sosial media, hal ini menyebabkan ketidak seimbangan hidup sosial maupun spiritual. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki gagasan uzlah dari sudut pandang al-Qur'an dan penggunaan solusi untuk mengatasi kecanduan media sosial. Sebuah studi interpretasi tema yang mengumpulkan banyak ayat terkait dan melacak berbagai interpretasi al-Qur'an dan materi terkait tentang uzlah merupakan bagian dari metodologi penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uzlah, yang berarti mengisolasi diri dari lingkungan sosial dalam waktu tertentu, memiliki nilai-nilai yang relevan dalam membantu seseorang dalam mengurangi penggunaan sosial media yang berlebihan. Uzlah dapat menjadi sarana penyucian hati, meningkatkan spiritualitas, dan mengembalikan keseimbangan hidup. Dalam konteks modern, penerapan uzlah dapat menjadi solusi efektif dalam mengatasi kecanduan sosial media, membantu seseorang lebih sadar terhadap kewajiban agama, seperti meningkatkan kualitas ibadah. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa uzlah dapat dijadikan sebagai respons dalam mengatasi kecanduan media sosial. Dengan menerapkan uzlah, seseorang dapat menyeimbangkan aspek sosial dan spiritual, serta dapat menciptakan lingkungan yang lebih kondusif.
Pembinaan Al-Qur’an Serta Penanaman Moral kepada Siswa Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo Abd. Basid; Rifqatul Husna; Abd. Somad; Luthviyah Romziana
PARTISIPATORY Vol 4 No 1 (2025): PARTICIPATORY: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : LPPM IAI TABAH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58518/participatory.v4i1.3354

Abstract

The community service activities (PkM) that we conducted were aimed at making students of Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo accustomed to reading the Qur'an fluently and fluently, and forming good morals. We chose the halaqah learning method because in our opinion this method is the most effective. The first solution is to hold teaching and learning activities (KBM) to read the Qur'an and also deepen the knowledge of reading the Qur'an, such as Tajwid Science and makharij al-khuruf based on the halaqah that has been determined previously. And the second solution includes knowledge (cognitive), feelings (feeling), and actions (action). After carrying out community service (PkM) at Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo, we can conclude that community service activities (PkM) have a positive effect on students of Musala Al-Muhakim Randutata Paiton Probolinggo in fluency in reading the Qur’an and improving morals.