Claim Missing Document
Check
Articles

Conditions of sex ratio and growth patterns of craft (Portunus pelagicus) in the waters of Kawal village, Bintan Regency, Riau Island Province Hardi Wiradinata; Susiana Susiana; Wahyu Muzammil; Rochmady Rochmady
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.6.1.9-14

Abstract

Business Crab (Portunus pelagicus) Kawal Village waters are waters located in the Gunung Kijang area, Bintan Regency, Riau Islands Province. High market demand for crab fishery commodities that triggers excessive exploitation so that it can have an impact on the sustainability of crab resources. This study aims to determine the condition of the sex ratio and the pattern of crab growth in the waters of Kawal Village, Bintan Regency. The method used in this study is a survey method. The sampling technique was carried out using a random census, in which the researcher immediately went down to the field to take a sample of 176 crabs. The results showed a good sex ratio for female crabs at 52% and male crabs at 48%, which has calculated the Chi-square test which between females and males has a balanced ratio, which results in: X2 count of 33, 2 while X table is 74,975 which if X2 count < X table: male and female sex ratio is balanced. The growth pattern of both female and male crabs in the waters of Kawal Village, Bintan Regency has a negative allometric character where the growth pattern of carapace width is greater than weight growth.
Feeding habit of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in Kawal Waters, Bintan Regency Loisa Yolanda; Susiana Susiana; Wahyu Muzammil
Akuatikisle: Jurnal Akuakultur, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Wuna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.akuatikisle.6.1.15-18

Abstract

Kawal Waters is one of the waters in Bintan which has good fishery resources, one of that is the blue swimming crab. The Blue Swimming Crab (Portunus pelagicus) is one of the important economic fisheries resources belonging to the Portunidae family. The blue swimming crab is one of the most common organisms used by the community. The purpose of the study was to determine food composition of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in Kawal waters of Bintan Island, Riau Island on June 2021. The sampling used random sampling method. There were 34 individuals used for food composition analysis. The  food  composition  in  the  stomach  of blue  swimming  crab  consisted  of three groups of microalgae, crustacea, and detritus. The food composition in the adult size was found microalgae groups with the percentage composition 78%. It was followed by crustacea of 18,06%, and detritus of 5,12%. The highest of indeks of stomatch contens is in morning caught of 1,15 for males and 1,28 for female.
Struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau Tri Apriadi; Wahyu Muzammil; Winny Retna Melani; Aknes Safitri
Depik Vol 9, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.469 KB) | DOI: 10.13170/depik.9.1.14641

Abstract

Abstract. The objective of this study was to determine the community structure of macrozoobenthic orgamism in Senggarang creek, Bintan island, Riau Islands. Samples were taken from four stations by purpossive method. Macrozoobenthic were collected by surber net, there were three replications in each station.  The result showed that  there were found six phylums and 17 genera  of macrozoobenthic. Macrobrachium sp. was the higest density. The higest density was found in third station (middle of river, no antropogenic influenced) about 140 ind m-2. The diversity and similarity indices were medium, with low dominance indice. Based on macrozoobenthic organism, the environmetal condition of Senggarang creek was stabile.Keywords: Bintan, creek, Macrobrachium sp., macrozoobenthic, Senggarang Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang ditentukan secara purposive. Sampel diambil menggunakan surber net, sebanyak tiga kali ulangan pada masing-masing stasiun. Makrozoobenthos yang ditemukan di perairan aliran sungai Senggarang ditemukan  6 filum dan 17 spesies. Jenis makrozoobenthos yang paling tinggi kepadatannya dari semua setiap stasiun adalah Macrobrachium sp. Kepadatan makrozoobentos tertinggi yaitu pada stasiun 3 (bagian tengah sungai, tidak ada aktivitas manusia) dengan nilai kepadatan sebesar 140 ind/m2. Indeks keanekaragaman tergolong sedang, indeks keseragaman sedang, indeks dominansi rendah. Berdasarkan keberadaan makrozoobenthos, lingkungan perairan sungai di Senggarang relatif stabil.Kata kunci: Bintan, Macrobrachium sp., makrozoobenthos, Senggarang, sungai
Struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau Tri Apriadi; Wahyu Muzammil; Winny Retna Melani; Aknes Safitri
Depik Vol 9, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.1.14641

Abstract

Abstract. The objective of this study was to determine the community structure of macrozoobenthic orgamism in Senggarang creek, Bintan island, Riau Islands. Samples were taken from four stations by purpossive method. Macrozoobenthic were collected by surber net, there were three replications in each station.  The result showed that  there were found six phylums and 17 genera  of macrozoobenthic. Macrobrachium sp. was the higest density. The higest density was found in third station (middle of river, no antropogenic influenced) about 140 ind m-2. The diversity and similarity indices were medium, with low dominance indice. Based on macrozoobenthic organism, the environmetal condition of Senggarang creek was stabile.Keywords: Bintan, creek, Macrobrachium sp., macrozoobenthic, Senggarang Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang ditentukan secara purposive. Sampel diambil menggunakan surber net, sebanyak tiga kali ulangan pada masing-masing stasiun. Makrozoobenthos yang ditemukan di perairan aliran sungai Senggarang ditemukan  6 filum dan 17 spesies. Jenis makrozoobenthos yang paling tinggi kepadatannya dari semua setiap stasiun adalah Macrobrachium sp. Kepadatan makrozoobentos tertinggi yaitu pada stasiun 3 (bagian tengah sungai, tidak ada aktivitas manusia) dengan nilai kepadatan sebesar 140 ind/m2. Indeks keanekaragaman tergolong sedang, indeks keseragaman sedang, indeks dominansi rendah. Berdasarkan keberadaan makrozoobenthos, lingkungan perairan sungai di Senggarang relatif stabil.Kata kunci: Bintan, Macrobrachium sp., makrozoobenthos, Senggarang, sungai
Struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau Tri Apriadi; Wahyu Muzammil; Winny Retna Melani; Aknes Safitri
Depik Vol 9, No 1 (2020): April 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.1.14641

Abstract

Abstract. The objective of this study was to determine the community structure of macrozoobenthic orgamism in Senggarang creek, Bintan island, Riau Islands. Samples were taken from four stations by purpossive method. Macrozoobenthic were collected by surber net, there were three replications in each station.  The result showed that  there were found six phylums and 17 genera  of macrozoobenthic. Macrobrachium sp. was the higest density. The higest density was found in third station (middle of river, no antropogenic influenced) about 140 ind m-2. The diversity and similarity indices were medium, with low dominance indice. Based on macrozoobenthic organism, the environmetal condition of Senggarang creek was stabile.Keywords: Bintan, creek, Macrobrachium sp., macrozoobenthic, Senggarang Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji struktur komunitas makrozoobenthos di aliran sungai di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun yang ditentukan secara purposive. Sampel diambil menggunakan surber net, sebanyak tiga kali ulangan pada masing-masing stasiun. Makrozoobenthos yang ditemukan di perairan aliran sungai Senggarang ditemukan  6 filum dan 17 spesies. Jenis makrozoobenthos yang paling tinggi kepadatannya dari semua setiap stasiun adalah Macrobrachium sp. Kepadatan makrozoobentos tertinggi yaitu pada stasiun 3 (bagian tengah sungai, tidak ada aktivitas manusia) dengan nilai kepadatan sebesar 140 ind/m2. Indeks keanekaragaman tergolong sedang, indeks keseragaman sedang, indeks dominansi rendah. Berdasarkan keberadaan makrozoobenthos, lingkungan perairan sungai di Senggarang relatif stabil.Kata kunci: Bintan, Macrobrachium sp., makrozoobenthos, Senggarang, sungai
Efficiency Marketing of Smoked Fish in Lingga Regency Tetty, Tetty; Haidawati, Haidawati; Khairunnisa, Khairunnisa; Wahyudin, Wahyudin; Hafsar, Khairul; Ilhamdy, Aidil Fadli; Muzammil, Wahyu; Nurhasanah, Septia
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.2.371-376

Abstract

Utilization of fishery in Lingga Regency is fresh fish  and processed into smoked fish as we known ikan  salai. The smoked Fish raw material is  Fringescale sardinella (Sardinella Fimbriata).  Specifically, this research is to know : (1) the marketing distribution channel of  smoked fish in Lingga Regency, (2) the marketing efficiency of smoked fish in Lingga Regency. The research was conducted in September - December 2021. In the Lanjut, Berindat, Persing, and sedamai village, Singkep Pesisir District, Lingga Regency. The results of the study show is  there are 2 marketing channels . Marketing channel 1,   the margin amount is Rp. Rp28,462,   fishery share is 34,62% and marketing  efficiency is 0,57%.   Marketing channel 2,  the margin amount is Rp 13,750, fishery share  is 75, 42%, and marketing efficiency is 0,74%. The value of marketing efficiency is 0.57% and 0.74%. The marketing channels of smoked fish  in this area is efficient.
Fecundity and egg diameter of blue swimming crab (Portunus pelagicus) in Kawal Waters, Riau Islands Province-Indonesia Wiradinata, Hardi; Susiana, Susiana; Muzammil, Wahyu
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 14, No 2 (2021)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.14.2.347-352

Abstract

Blue swimming crab (Portunus pelagicus), an important global fishery resource, because it widely used by various countries because it has a high export value. The purpose of this study was to determine the fecundity and egg diameter of blue swimming crab in Kawal waters, Bintan Regency, Riau Islands Province, Indonesia. The method used in this study a survey method. The sampling technique was carried out by sensus sampling with a total sample of 176 ind. Fecundity obtained during the study varied from the smallest to the largest. Sampling The least fecundity was found in the fourth sampling female blue swimming crab and the highest fecundity was found in the third sampling female blue swimming crab. The average number of blue swimming crab fecundity obtained in this study amounted to 1,177,941 eggs. The egg diameter of blue swimming crab obtained during the study had different values during the study. Where the first sampling has an average value of 441.47 µm, the second sampling has an average value of 370.63 µm, then the third sampling has an average value of 421.44 µm, and the last fourth sampling has an average value of 375.04 µm.
Inventarisasi Hasil Tangkapan Bubu di Perairan Dompak, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau Ginting, Sarah Rumaisha BR; Sinaga, Mega Vici; Sabriyati, Deni; Kurniawan, Dedy; Susiana, Susiana; Muzammil, Wahyu
Akuatiklestari Vol 6 No 1 (2022): Jurnal Akuatiklestari
Publisher : Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Maritim Raja Ali Haji

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31629/akuatiklestari.v6i1.4287

Abstract

Penelitian dilakukan di Perairan Dompak Kota Tanjungpinang yang merupakan salahsatu lokasi matapencaharian masyarakat dari sumberdaya perikanan tangkap. Penelitian ini bertujuan untuk menginventarisasikan komposisi, jumlah dan bobot hasil tangkapan dari penggunaan bubu lipat dengan ukuran 4 cm, 4,5 cm, 5 cm, 5,5 cm, 6 cm, dan 6,5 cm di lokasi penelitian. Dalam penelitian ini menggunakan metode survei. Prosedur penelitian meliputi survei lapangan, pengambilan hasil tangkapan, penanganan hasil tangkapan, serta identifikasi dan analisis hasil tangkapan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan hasil tangkapan bubu ada 3 spesies yang ditemukan yaitu kepiting merah (Thalamita spinimana), kepiting okop (Myomenippe hardwikii) dan kepiting batu (Atergatis integerrimus). Hasil tangkapan pada 6 kategori ukuran mulut bubu terdapat perbedaan yang besar dilihat dari komposisi jenis tangkapan, yaitu didominasi oleh kepiting merah, sedangkan perolehan untuk kepiting batu hampir tidak ada. Perbedaan ukuran mulut bubu memperlihatkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap jumlah tangkapan dan bobot tangkapan yang dihasilkan. Tangkapan terbanyak yaitu 13 ekor dengan bobot 686,3 gr dengan penggunaan bubu 4,5 cm, dan terendah diperoleh pada bubu ukuran 6 cm dengan tangkapan sebanyak 6 ekor dan bobot 336,1 gr.
Sediment Characteristics of Sei Carang Waters, Tanjungpinang City - Indonesia: Karakteristik Sedimen pada Perairan Sei Carang, Kota Tanjungpinang - Indonesia Yolanda, Ockynawa Asmara Putri; Melani, Winny Retna; Muzammil, Wahyu
Habitus Aquatica Vol 1 No 2 (2020): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.1.2.11

Abstract

Perairan Sei Carang memiliki banyak area lahan terbuka dan bekas pertambangan bauksit di masa lampau. Selain itu, saat terjadi hujan di perairan Sei Carang ditemukan perairan keruh dan air berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian dengan tujuan mengetahui kondisi lingkungan fisika perairan di perairan Sei Carang dengan parameter uji berupa kekeruhan dan kecepatan arus serta mengetahui karakteristik sedimen di perairan Sei Carang dengan menggunakan metode purposive sampling. Metode purposive sampling tersebut diterapkan pada 4 stasiun penelitian dengan karakteristik stasiun I pada area lahan bekas pertambangan bauksit, stasiun II pada area lahan terbuka, stasiun III pada vegetasi mangrove rusak akibat penebangan, dan stasiun IV pada vegetasi mangrove alami. Karakteristik sedimen pada kolom perairan Sei Carang berupa medium sand, sedangkan pada dasar perairan Sei Carang berupa coarse sand.
Morphometric and Meristic Study of Red Swimming Crab (Thalamita spinimana) in Dompak Waters, Tanjungpinang, Riau Islands: Studi Morfometrik dan Meristik Kepiting Merah (Thalamita spinimana) di Perairan Dompak, Tanjungpinang, Kepulauan Riau Triana, Aprilya; Muzammil, Wahyu; Susiana, Susiana
Habitus Aquatica Vol 3 No 2 (2022): Habitus Aquatica : Journal of Aquatic Resources and Fisheries Management
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/HAJ.3.2.68

Abstract

Salah satu krustasea yang ditangkap oleh nelayan Senggarang di Perairan Dompak, Kota Tanjungpinang adalah kepiting merah (Thalamita spinimana). Kajian morfometrik dan meristik kepiting merah belum banyak dilakukan. Kepastian karakter morfometrik dan meristik dapat menjadi penciri dari kapastian taksonomi suatu spesies. Penelitian ini bertujuan untuk melihat karakteristik morfometrik dan meristik kepiting merah di Perairan Dompak, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau. Pengambilan sampel dilakukan mengikuti trip nelayan Senggarang yang menangkap kepiting merah menggunakan bubu di Perairan Dompak pada Bulan April dan Mei 2022, dengan metode sensus (mengambil semua sampel yang tertangkap). Pertumbuhan kepiting merah betina terdapat 1 karakter yang bersifat allometrik positif yaitu antara lebar karapas dengan bobot, selebihnya sembilan karakter lainnya bersifat allometrik negatif. Sedangkan pertumbuhan kepiting merah jantan semuanya bersifat allometrik negatif. Status hubungan karakter morfometrik pada kepiting merah betina memiliki hubungan yang rendah, sedang, kuat dan status hubungan karakter morfometrik pada kepiting merah jantan memiliki hubungan yang sangat rendah, rendah dan sangat kuat. Perhitungan meristik pada kepiting merah terdapat jumlah duri pada propundus sebanyak 6-11 duri. Jumlah duri pada carpus 6-8 duri. Jumlah duri pada 4-6 duri. Jumlah duri pada anterolateral karapas kiri dan kanan sebanyak 5 duri.