Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

PERAN PEMERINTAH DESA DALAM PENYELENGGARAAN PENANGGULANGAN BENCANA MELALUI DESA TANGGUH BENCANA “SAPTO MANUNGGAL” DI DESA KEDUNGBENDO Yusuf Adam Hilman; Fitri Agus Tiani; Bambang Widiyahseno; Irvan Nur Ridho
Jurnal Partisipatoris Vol. 4 No. 1 (2022): March
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran pemerintah desa dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana melalui Desa Tangguh Bencana “Sapto Manunggal” di desa Kedungbendo. Kegiatan Desa Tangguh Bencana berfokus pada terselenggaranya pelaksanaan penanggulangan bencana secara terencana, terpadu, terkoordinasi, dan menyeluruh dalam rangka memberikan perlindungan kepada masyarakat dari ancaman, risiko dan dampak bencana. Metode dalam penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil temuan pada penelitian ini bahwa penyelenggaraan penanggulangan bencana terbagi dalam 3 (tiga) tahapan yaitu tahap prabencana, tahap tanggap darurat dan tahap pasca bencana. Penyelenggaraan penanggulangan bencana didefinisikan sebagai penetapan sebuah kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi. Kesimpulannya, penyelenggaraan penanggulangan bencana didesa Kedungbendo memiliki kegiatan di setiap tahapan sehingga peran pemerintah desa dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi kegiatan pencegahan, saat bencana terjadi hingga pemulihan.
Penerapan Collaborative Governance Pusat Informasi Wisata Ngebel Melalui Website Dolanngebel.com Sindy Novia Ardana; Yusuf Adam Hilman; Robby Darwis Nasution; Bambang Widiyahseno
Masyarakat Pariwisata : Journal of Community Services in Tourism Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Politeknik Pariwisata NHI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34013/mp.v3i1.925

Abstract

The Ngebel District Government developed website technology in collaboration with Akedimis to advance the tourism potential sector towards the digital era. The purpose of this study is to describe the collaborative development of the dolanngebel.com website as tourism information on Ngebel's potential. The method used in this study is a qualitative method, the data used can be obtained from observation, in-depth interviews, and documentation. This website was developed to facilitate access for tourists to find Ngebel tourist information through social media. The results of this study in Collaborative Governance resulted in a strategy carried out by the Ngebel District government in collaboration with academics, namely inviting business people to be able to operate websites to increase tourist visitors and carry out promotions through social media regarding the development of the dolanngebel.com website to attract visiting tourists.
Potential for Development of Bumdes Wates Village, Jenangan District in the Culinary Sector to Improve Village Economy Tricahyono, Widakdo; Hidayati, Anindya; Galuh , Adhek; Laela, Emi; Widiyahseno, Bambang
Jurnal Inovasi dan Pengembangan Hasil Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2024): Jurnal Inovasi dan Pengembangan Hasil Pengabdian Masyarakat (June)
Publisher : CV. BImbingan Belajar Assyfa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61650/jip-dimas.v2i1.207

Abstract

The existence of BUMDes (Village-Owned Enterprises) is a national initiative designed to enhance the economic welfare and public services of villages across Indonesia. According to Law No. 6 of 2014, establishing BUMDes is mandatory for all villages, including Wates Village in the Jenangan District. This study focuses on the potential of BUMDes in Wates Village, particularly within the culinary sector, to act as economic drivers. The primary objective is to evaluate how BUMDes can foster the development of Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) in the community by enhancing product branding and marketing reach. Using a qualitative research method, data were collected through interviews, field observations, and literature reviews from relevant sources such as books, journals, and websites. Triangulation was employed to ensure the validity of the collected data. The findings indicate that BUMDes can significantly contribute to economic growth in Wates Village by providing essential support to local culinary MSMEs. This support includes improving branding strategies, expanding marketing reach, and offering training programs. The study concludes that with targeted interventions, BUMDes can effectively elevate the economic status of village communities, aligning with Indonesia's national principle of improving community welfare at all levels.
Analisis Kebijakan Pemerintah Kabupaten Ponorogo Tentang Program Kegiatan Rukun Tetangga Prastiyo, Danang; Widiyahseno, Bambang; Ridho, Irvan Nur; Hilman, Yusuf Adam
Jurnal Pallangga Praja (JPP) Vol 5 No 2 (2023): Oktober
Publisher : Institut Pemerintahan Dalam Negeri Kampus Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61076/jpp.v5i2.3880

Abstract

Ponorogo Regency launched an assistance program for community strengthening in the smallest scope, namely the Rukun Tetangga (RT). ratified through Circular Letter (SE) of the Regent. The Ponorogo Regency Government provides funds of IDR 10,000,000 annually to each Neighborhood Association in the entire Ponorogo Regency Region which consists of 6,869 the Rukun Tetangga (RT). The programs include: making infiltration wells or what is called Biopori Infiltration, Waste Management in the RT scope, provision of RT Wireless Fidelity (Wifi) networks, Strengthening Women's Economy, Employment BPJS benefits and incentives for RT administrators, Family Medicine Planting and Resident; Rembug Warga. This study aims to find out how the program is implemented and what are the obstacles. This type of research uses a descriptive method with a qualitative approach. The results of this study show that this RT activity program is an initiation from the Regent of Ponorogo which has been stated in the vision and mission. All RT activity programs have been implemented, but there are several programs that are not appropriate because they are not in accordance with regional conditions, such as: Biopore Infiltration, Integrated Waste, and planting family medicine. programs that are not suitable because they do not involve the RT community who know their needs better.
PERAN PEMERINTAH DESA MEWUJUDKAN INKLUSI SOSIAL DALAM PEMBANGUNAN DESA Pranoto, Agus; Widiyahseno, Bambang
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 3 (2022): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v6i3.3393

Abstract

Penelitian ini guna mengetahui pemerintah desa mewujudkan inklusi sosial kedalam pembangunan desa, inklusi sosial ini ditujukan kepada penduduk desa yang rawan termarjinalisasi. Rumusan masalah dari penelitian ini yaitu bagaimana peran pemerintah desa untuk mewujudkan inklusi sosial kedalam pembangunan desa. Metode dari penelitian ini yaitu metode deksriptif kualitatif berdasarkan data kajian kepustakaan dan data hasil dari lapangan. Analisis data pada penelitian ini yaitu teknik analisis kualitatif dimana data-data yang didapat dianalisis mengunakan cara mereduksi data, menyajikan data kemudian menarik kesimpulan. Hasil kajian berdasarkan penelitian ini melihat dari data pemerintah desa mewujudkan inklusi sosial untuk pembangunan desa. Pemerintah Desa Bringinan turut ikut mendorong semua elemen untuk ikut andil kedalam proses pembangunan desa, Pemerintah desa mengajak semua elemen menjunjung tinggi nilai kesetaraan ranah sosial. Terbukti dari keterlibatan kelompok marginal kedalam penyusunan progam pembangunan serta pengerjaan pembangunan dengan penduduk desa . Tiga hal menjadi titik tekan utama Pemerintah Desa Bringinan untuk pemenuhan hak bagi penduduk desa rawan tereklusi yaitu ekonomi pembangunan desa termuat kedalam bidang pemberdayaan dan bidang pembangunan desa yang perubahannya termuat kedalam rencana kegiatan pembangunan desa serta rencana kerja pemerinatah desa, akses pelayanan kesehatan untuk pembangunan desa terbukti dari adanya kartu bringinan sehat dari pemerintah desa, politik serta administrasi publik untuk pembangunan tercermin dari bidang pembinaan penduduk desa, bidang penyelenggaraan pemerintahan desa.
KESENIAN KEBO BULE SEBAGAI STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA PADA OBJEK WISATA RELIGI DESA SUKOSARI KECAMATAN BABADAN KABUPATEN PONOROGO Rudianto, Rudianto; Widaningrum, Ida; Widiyahseno, Bambang
Sebatik Vol. 26 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : STMIK Widya Cipta Dharma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46984/sebatik.v26i1.1597

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi adanya kontraproduktif masyarakat pemerintah desa dalam mengembangkan objek wisata desa. Sedangkan potensi desa memiliki cagar budaya berupa makam dan masjid Kiai Imam Puro salah seorang tokoh penyebar agama Islam pertama kali di Ponorogo bagian barat tahun 1748 M dan banyak dikunjungi peziarah tidak kurang 1000 orang setiap tahunnya. Potensi lain seperti paguyuban kesenian kebo bule, reog, pengrajin UMKM, pasar, dan lahan kosong di sekitar cagar budaya belum diberdayakan dengan baik. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan kepada publik tentang strategi pengembangan wisata pada objek wisata religi desa Sukosari Kecamatan Babadan Kabupaten Ponorogo. Jenis dari penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Untuk mengumpulkan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dokumentasi, dan Focus Group Discussion (FGD). Data primer diperoleh melalui informan kunci yaitu pengurus masjid dan makam Imam Puro, kepala desa Sukosari, tokoh masyarakat, ketua paguyuban seni dan budaya, peziarah makam, dan warga setempat. Adapun untuk data sekunder diperoleh melalui dokumen, manuskrip, buku sejarah, artikel, website dan sumber lain yang relevan dengan teman penelitian. Untuk menganalisis data peneliti menggunakan teknik analisis SOAR (Strangths, Opportunities, Aspirations, dan Results). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengembangan wisata desa yang dapat dikembangkan antara lain: pertama, Pengembangan pengelolaan cagar budaya berupa makam dan masjid Kyai Imam Puro; kedua, pemberdayaan kesenian kebo bule, reog, UMKM, dan potensi pasar untuk destinasi wisata desa; dan ketiga, pemanfaatan lahan kosong di sekitar makan dan masjid untuk rest area dan pertunjukan seni dan menjajakan produk-produk lokal.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam memperkuat perekonomian masyarakat Kinasih, Inten; Widiyahseno, Bambang; DJ, Ekapti Wahjuni
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.148 KB)

Abstract

Keberadaan Pemerintah Desa, saat ini tidak lagi sebagai wilayah yang terpinggirkan, terlebih pasca diresmikan undang – undang no 06 tahun 2004 Tentang Desa, wajah desa berubah drastis, dimana desa diberikan dana dari pemerintah pusat yang jumlahnya sangat besar, sehingga dituntut untuk bisa memanfaatkan sumber daya yang dimiliki supaya dikelola,  salah satu alternatif yang mungkin dilakukan adalah mengembangkan BUMDes sebagai lembaga yang dikelola secara professional untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah guna mencapai kesejahteraan masyarakat.  Kajian ini menggunakan metode Deskriptif kualitatif, dengan menggunakan data primer dan sekunder, berupa: hasilwawancara, observasi, dan juga dokumentasi, sedangkan untuk mendapatkan data hasil wawancara peneliti menentukan informan atas dasar pemahamannya terhadap obyek kajian. Hasil penelitian menjelaskan jika Upaya BUMDes “Mekar Sari” sangat terlihat dalam pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, hal tersebut nampak pada Pendapatan Asli Desa (PAD) Desa Morosari pada tahun 2017 yaitu sebesar Rp 9.264.000,00,- atau  jika di prosentasekan mendapat keuntungan sekitar 0,064%  dari PAD Desa Morosari, meskipun prosentase tersebut masih terlalu sedikit, tetapi jika dibandingkan dengan pemasukan Pendapatan Asli Desa yang lainnya, sudah cukup besar. Meskipun kontribusi BUMDes “Mekar Sari” tidak terlalu banyak mengalir ke Pendapatan Asli Desa, akan tetapi kegiatan tersebut telah menjadikan Desa Morosari menjadi mandiri sehingga tidak selalu bergantung dengan Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD). Tidak optimalnya peran BUMDes Mekar Sari dalam pengembangan ekonomi desa yaitu terkait dengan tahapan awal yang masih dilakukan sebagai upaya rintisan, sehingga masih memiliki banyak kekurangan dalam pelaksanaannya, akan tetapi jika diimbangi dengan pengembangan unit usaha yang ada pastinya akan meningkat juga hasil prosentase yang diperoleh pertahunnnya.
Pengelolaan Aset Desa Sebagai Sumber Pendapatan Asli Desa (PAD) Di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo Pamungkas, Linggar Tetuko; DJ, Ekapti Wahjuni; Widiyahseno, Bambang
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 1 No. 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.436 KB)

Abstract

Aset Desa ialah barang yang dimiliki oleh desa yang bersumber pada kekayaan asli yang dimiliki oleh desa, diperoleh atau dibeli dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa) atau didapat dengan cara lain dengan sah. Sementara Pendapatan asli desa ialah merupakan salah satu sumber yang dapat dijadikan pendapatan oleh Desa, dimana Pendapatan asli desa itu ialah merupakan segala upaya yang dilaksanakan oleh pemerintah desa guna mendukung pelaksanaan pemerintahan desa dalam rangka mewujudkan pelaksanaan otonomi desa. Dalam penelitian ini peneliti berfokus dalam Pengelolaan aset desa di sebagai sumber PAD di Desa Ngebel, Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif dengan medapatkan data dari wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini diketahui aset desa yang menjadi sumber pendapatan asli desa di Desa Ngebel adalah persewaan tanah kas desa dan pasar desa. Serta dalam pengelolaannya pemerintah desa menerapkan asas-asas pengelolaan aset desa walaupun belum maksimal. 
Pengembangan Destinasi Desa Wisata Alam Hutan Melalui Program PIID PEL Di Desa Ngebel Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo Supriadi, Dwi; DJ, Ekapti Wahjuni; Widiyahseno, Bambang
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 1 No. 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.399 KB) | DOI: 10.47134/villages.v1i2.6

Abstract

Dalam rangka program dari pemerintah untuk pembuatan desa wisata para pemuda desa bekerjasama dengan pemerintah Desa Ngebel bergotong royong untuk membuat wisata tersebut,yang berlokasi di lahan perhutani.Dalam pembangunan desa wisata di Desa Ngebel ini mengunakaan dana dari (PIID-PEL)  program tersebut dari kementerian perdesaan pada tahun 2018.dalam program ini bertujuan untuk meningkatkan  perekonomia masyarakat lokal dan memajukan sumber daya manusia desa.Dalam penelitian ini mengunakan pendekatan kualitatif dengan penentuan informan purvosife sampling. Dan dalam proses pelaksanaan pembangunan desa wisata ini tim TPKK maupun kepala desa bekerja keras dilapangan maupun adminitrasi agar bisa terwujudnya desa  ngebel menjadi sector wisata alam dan dalam pelaksaan ini para tim TPKK saling menjaga kekompakan dan saling koordinasi ke pihak terkait.dan dalam proses pembangunnya mengikuti alur dari kementrian desa.
Dinamika Pengembagan Desa Wisata Mloko Sewu di Desa Pupus Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo Lestari, Dewi; Hilman, Yusuf Adam; Widiyahseno, Bambang; Triono, Bambang
Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa Vol. 2 No. 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : Indonesian Journal Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.857 KB) | DOI: 10.47134/villages.v2i2.22

Abstract

Desa wisata merupakan sebuah desa yang hidup mandiri dengan potensi yang dimilikinya dan tepat dapat menjual berbagai atraksi-atraksinya sebagai daya tarik wisata tanpa melibatkan investor. Berdasarkan hal tersebut pengembangan desa wisata merupakan realisasi dari undang-undang otonomi daerah (UU No.22/99), maka setiap Kabupaten perlu memprogramkan pengembangan desa wisata demi meningkatkan pendapatan daerah, dan menggali potensi desa. Kawasan desa Pupus Kecamatan Ngebel mempunyai potensi sumber daya alam yang melimpah, Salah satu wisata alam di desa Pupus kecamatan Ngebel adalah Mloko Sewu. Mloko sewu adalah inisiatif dari sebagian atau sekelompok pemuda di desa pupus untuk di jadikan desa wisata selama proses pembersihan lahan di hutan perhutani kurang lebih 6 bulan kelompok desa tersebut keberatan karena dalam proses tersebut dari pihak pemerintah desa pupus belum yakin bahwa akan di jadikan wisata karena waktu sudah di tetapkan oleh pihak perhutani belum terselesaikan maka lahan tersebut di tawarkan kepada pihak lain atau investor .dan setelah di pegang oleh pihak lain yang di kelola selama 3 bulan jadilah wisata mloko sewu dan sudah di pasarkan. Dalam Dinamika pengembangan desa wisata Mloko Sewu di Desa Pupus Kecamatan ngebel Kabupaten Ponorogo terdapat masalah antara pihak masyarakat dan pihak investor dalam pengembangan dan pengelolaan desa wisata Mloko Sewu yang ada di desa Pupus. penyelesaian masalah telah di selesaikan secara damai oleh pemerintah daerah. Yang tujuanya adalah mengelola bersama desa wisata Mloko Sewu.