Claim Missing Document
Check
Articles

Provenance dan Implikasi Tektonik Batupasir Formasi Sawahtambang, Kabupaten Sijunjung, Sumatra Barat Helen Dwi Putri; Budhi Setiawan; Yogie Zulkurnia Rochmana
OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan Vol 6 No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophi.v6i2.p72-79

Abstract

The Sawahtambang Formation in Sijunjung Regency, West Sumatra, is primarily composed of thick sandstones, which are of significant interest due to their potential as oil and gas reservoirs. However, the mineralogical and petrographic characteristics, as well as the depositional and tectonic origins of these sandstones, remain poorly understood, particularly in relation to the tectonic processes that influenced their formation. This knowledge gap poses challenges for accurate geological interpretation and resource assessment. The objective of this study is to investigate the mineral composition, petrographic properties, and provenance of the sandstones from the Sawahtambang Formation. The methodology employed includes petrographic analysis and provenance studies. The results of the provenance analysis indicate that the sandstones are derived from a Recycled Orogen source, suggesting that they were primarily formed in collision or subduction zones. This tectonic setting is characterized by a low feldspar and volcanic lithic content and a higher quartz content. The findings of this study contribute to a more comprehensive understanding of the geological information and origin of the Sawahtambang Formation sandstones in West Sumatra
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi Daerah Pulau Beringin dan Sekitarnya, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan Muhammad Aghil Ikhwanulsyah; Yogie Zulkurnia Rochmana
OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan Vol 7 No 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophi.v7i2.p93-103

Abstract

This study was conducted in Pulau Beringin Village, Lahat Regency, South Sumatra, to reconstruct geological conditions and understand the chronology of sedimentation through stratigraphic analysis. The methods employed include field observations and laboratory-based stratigraphic interpretation. The stratigraphy of the study area, arranged from oldest to youngest, begins with the Saling Formation (KJs), dated to the Late Jurassic–Early Cretaceous, formed by the collision between the Woyla Arc and the West Sumatra Block, resulting in andesitic rocks deposited in a terrestrial setting. It is overlain by the Kikim Formation (Tpok), Paleocene–Oligocene in age, comprising andesitic breccia fragments within a braided fluvial environment. A transgressive phase deposited the Gumai Formation (Tmg) during the Early–Middle Miocene, characterized by carbonate-rich sandstone and shale in a delta front setting. Microfossil analysis confirms its relative age as Middle Miocene. The regressive phase led to the deposition of the Air Benakat Formation (Tma) during the Middle–Late Miocene in a lower delta plain environment, with sandstone and claystone lithologies. The Muara Enim Formation (Tmpm), dated to the Late Miocene–Pliocene, was deposited in an upper delta plain setting, consisting of tuffaceous sandstone and claystone. Finally, the Kasai Formation (Qtk), of Pliocene–Pleistocene age, was deposited in a fluvial environment and comprises conglomeratic sandstone and claystone. The overall depositional sequence was initially driven by tectonic activity, followed by transgressive and regressive cycles.
Mekanisme Struktur Geologi Berdasarkan Analisis DEM dan Analisis Stereografis Daerah Banjaranyar Sekitarnya Kabupaten Ciamis Jawa Barat Gultom, Felix Mateus Exaudi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
JURNAL TEKNIK GEOLOGI : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Vol 8, No 2 (2025): Jurnal Teknik Geologi : Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Publisher : Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/jtgeo.v8i2.22972

Abstract

Daerah Banjaranyar memiliki kondisi geologi yang kompleks, yang ditandai oleh adanya aktivitas tektonik yang memengaruhi bentuk morfologi permukaan serta perkembangan struktur geologi di wilayah tersebut. Analisis mekanisme struktur menjadi penting untuk memahami hubungan antara proses tektonik dan formasi batuan yang terjadi. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menggambarkan jenis, arah gaya utama, dan arah pergerakan struktur yang ada pada daerah penelitian. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa pendekatan integratif melalui analisis citra satelit (DEM) dengan melihat dan analisis stereografis menggunakan software Dips dan Win Tensor. Analisis stereografis juga menggunakan beberapa klasifikasi untuk menghasilkan data yang akurat seperti Klasifikasi Fossen dan Klasifikasi Rickard untuk penamaan sesar serta Klasifikasi Fossen dan Klasifikasi Nabavi dan Fossen untuk penamaan lipatan. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengolahan data, terdapat struktur orde 1 yaitu Sesar Pasawahan, Antiklin Banjaranyar, Sinklin Pasawahan dengan arah orientasi Barat – Timur, dan struktur orde 2 yaitu Sesar Cigayam dengan arah orientasi Barat Laut – Tenggara.
Unravelling the Sequence Stratigraphy Impact on Coal Geometry of M2 Member, Muara Enim Formation Hibatullah, Kevin Nabil; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Wicaksono, M Dwiki Satrio
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 11 No. 1 (2026): JGEET Vol 11 No 01 : March (2026)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2026.11.1.16191

Abstract

Sequence stratigraphy involves studying a series of rock layers deposited during a full change cycle in accommodation or sediment supply, bounded by subaerial unconformities and marine correlative conformities. This study aims to identify the stratigraphic sequence that controls the coal accumulation models and their influence on the coal geometry. The research methodology includes geological mapping, analysis of geophysical logs (gamma-ray and short density), and core log analysis. The data were analyzed, combined, interpreted, and simulated to create a model of coal accumulation and geometry. The M2 Member of the Muara Enim Formation comprises six lithofacies, as determined by analyzing four drill holes. The M2 Member of the Muara Enim Formation exhibits four depositional environments (crevasse splay, mire/swamp, mudflat, lagoon, and tidal/mouth/distal bar) and three facies associated with the fluvial delta–tidal plain facies (fluvial dominated upper delta plain, tide-dominated lower delta plain,  and marginal tidal plain and lagoon). This research identified four system tracts, namely TST-1, HST-1, TST-2, and HST-2. TST-1 and TST-2 show continuous coal deposition, inclined to steeply inclined, interspersed, and characterized by the presence of three layers of clay bands. Similarly, HST-1 and HST-2 exhibit continuous coal deposition with gentle to steep inclined and interspersed, ranging from moderately thick to very thick, and containing one to five layers of clay bands. The tectonic activity after deposition caused the deposited coal to deform. The findings of this study contributed to guiding the exploration of coal seams in the South Sumatra Basin and Muara Enim Formation, in particular.
OPTIMASI GIS: PEMETAAN AKUMULASI AIR PADA LOW WALL PIT A, PT BUKIT ASAM, TBK. Surbakti`, A. F. H.; Hastuti, E. W. D.; Rochmana, Y. Z.; Utamaputra, R. G.; Ersyari, J.; Chen, R. D.
Jurnal Pertambangan Vol. 6 No. 1 (2022): Februari 2022
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jp.v6i1.1107

Abstract

Aktivitas penambangan batubara terutama pada sistem tambang open pit dan open cut kerap kali menimbulkan masalah pada akumulasi air yang terbentuk di permukaan. Genangan air menjadikan lereng tanah jenuh dan sering menjadi pemicu lorotan material dari dinding tambang terutama pada bagian low wall. Pemetaan dioptimalkan guna mengidentifikasi akumulasi dan jalur air yang terbentuk pada low wall Pit A. Sehingga dapat dilakukan pemodelan aliran air dalam rekomendasi geoteknik dan pengendaliannya agar tidak terjadi penjenuhan (saturated). Pemetaan dilaksanakan berdasarkan hasil survei dengan akurasi satu meter dengan Geographic Information System (GIS) dengan hydrogeology tools, pengecekan kondisi aktual, perhitungan volume air hujan infiltrasi serta run-off berdasarkan curah air hujan dan material properties di Pit A. Data curah hujan sejak Januari hingga Desember 2021 menampikan angka dengan interval 83,0 hingga 507,5 mm. Analisis laboratorium menunjukkan nilai void ratio batuan low wall berupa lempung pasiran sebesar 0,53 sedangkan nilai porositas 34,14% di Pit A. Berdasarkan kajian GIS merepresentasikan volume akumulasi air total pada low wall adalah 764.348,41 m3 yang terdiri dari 404.705,544 m3 air infiltrasi sedangkan 359.642,875 m3 merupakan aliran run off. Hasil ekstraksi dengan GIS terbukti lewat keadaan aktual yang ditemukan di low wall Pit A dengan ditemukannya akumulasi serta aliran air. Pengamatan akumulasi air pada low wall Pit A ini diharapkan mengurangi potensi lereng yang jenuh sehingga muaranya adalah kestabilan lereng saat proses optimasi batubara.
PENGARUH ATRIBUT CLEAT TERHADAP PERMEABILITAS BATUBARA DAERAH KUNGKILAN, KABUPATEN LAHAT, SUMATERA SELATAN Novita, A. F.; Rochmana, Y. Z.
Jurnal Pertambangan Vol. 8 No. 2 (2024): Mei 2024
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jp.v8i2.1600

Abstract

Cleat merupakan rekahan alami yang muncul sebagai dampak dari pembebanan maupun struktur. Rekahan pada batubara menjadi alur lintasan fluida pada batubara untuk mengalir masuk ataupun keluar. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi gas metana batubara melalui analisis cleat pada area Kungkilan, Kabupaten Lahat yang termasuk ke dalam Cekungan Sumatera Selatan. Pengambilan data atribut cleat menggunakan metode observasi lapangan yaitu dengan melakukan pengukuran kedudukan (strike-dip), atribut cleat berupa spacing dan aperture dengan menggunakan metode scanline pada sembilan lokasi penelitian, dan dilanjutkan perhitungan nilai permeabilitas batubara menggunakan rumus darcy. Dari pengukuran tersebut hasil arah umum face cleat adalah timur laut-barat daya dan butt cleat berarah barat laut-tenggara dengan menghasilkan atribut cleat dengan rata-rata aperture pada face cleat 0,02-0,1 cm dan butt cleat yaitu 0,03-0,2 cm, sedangkan spacing pada face cleat 2,9 hingga 5,7 cm dan pada butt cleat 3,8-7,9 cm. Berdasarkan perhitungan dari persamaan permeabilitas, hasil permeabilitas yang diperoleh kisaran yaitu 2,27 mD-42,95 mD yang setelah dirata-rata pada model match sticks sebesar 15,635 mD serta 3,02 mD-57,27 mD setelah rata-rata model cubes yaitu 21,598 mD. Hasil keterdapatan permeabilitas yang bernilai rendah diperoleh di seam d pada LP 1 sedangkan nilai tertinggi diperoleh di seam c pada LP 8. Maka dapat ditarik kesimpulan adanya korelasi antara atribut cleat dengan permeabilitas dan di beberapa coal seam terutama seam c memiliki kualitas permeabilitas untuk gas metana batubara cukup baik. Hal tersebut selaras dengan pandangan Peter (2008), dimana dalam pemanfaatan gas metana batubara, permeabilitas yang optimal yaitu 30 mD-50 mD.