Claim Missing Document
Check
Articles

REKONSTRUKSI SEJARAH PENGENDAPAN BERDASARKAN ANALISIS STRATIGRAFI DAERAH WATUKUMPUL, KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH Az-zahra, Salmaa Aulia; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.63229

Abstract

Daerah Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tersusun atas formasi batuan yang terbentuk oleh mekanisme arus turbidit dan aktivitas vulkanik pada zaman Tersier ddi Cekungan Serayu Utara. Interpretasi lingkungan pengendapan digunakan sebagai acuan awal pembuatan rekonstruksi sejarah geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, merekonstruksi, dan membuat model sejarah geologi di daerah penelitian dari perspektif stratigrafi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan dan dilanjutkan dengan analisis di laboratorium. Data tersebut kemudian diinterpretasikan untuk mengetahui proses pengendapan, urutan stratigrafi, dan rekonstruksi sejarah geologi. Berdasarkan hasil analisis stratigrafi, urutan stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda adalah Formasi Rambatan (Tmr) pada kala Miosen Tengah, Intrusi Diorit (Tmi(d)) pada kala Miosen Tengah, Formasi Halang (Tmph) pada kala Miosen Akhir – Pliosen Tengah, dan Formasi Kumbang (Tmpk) terendapakn secara menjari dengan Formasi Halang pada kala yang sama. Proses sedimentasi terjadi di lingkungan laut dalam (batial) dipengaruhi oleh mekanisme arus turbidit akibat longsoran bawah laut disertai aktivitas vulkanisme. Penelitian ini menjelaskan mengenai sejarah pengendapan serta proses-proses geologi yang terjadi di daerah penelitian.
Analisis Geomorfologi Pada Daerah Pagergunung, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat Adamsyah, Bayu; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12553

Abstract

Secara administrasi, lokasi penelitian berada pada Daerah Pagergunung dan Sekitarnya, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Daerah Pagergunung mempunyai relief yang menarik dan morfologi bervariasi. Kenampakan morfologi yang beragam ini menjadi bukti adanya proses geologi yang terjadi di daerah Pagergunung. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk geomorfologi pada daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi lapangan serta analisis dari Digital Elevation Model Nasional (DEMNas). Daerah Pagergunung memiliki elevasi antara 10-550m dan kemiringan lereng landai, miring, curam, agak curam dan sangat curam. Berdasarkan analisis geomorfologi, terdapat lima macam bentuk lahan yaitu Perbukitan Tinggi Berlereng Landai Miring Denudasi, Perbukitan Rendah Hingga Perbukitan Berlereng Miring Hingga Curam Denudasi, Channel Irregular Meander, Sinous River dan Dataran Aluvial.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi di Daerah Cengal dan Sekitarnya, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat Sunarta, Jonathan Angkawijaya; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Hastuti, Endang Wiwik Dyah
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 7 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i2.11102

Abstract

Mekanisme arus turbidit yang terjadi pada Kala Tersier dan aktivitas vulkanik pada Kala Kuarter menghasilkan endapan vulkanik, laut dangkal, dan laut dalam pada Sub-Cekungan Majalengka. Adanya perbedaan lingkungan pengendapan yang kompleks ini memerlukan suatu rekonstruksi sejarah geologi guna pemahaman geologi daerah penelitian. Metode yang digunakan berupa observasi lapangan dan analisis stratigrafi. Observasi lapangan dimulai dari pengamatan litologi tiap formasi, pengukuran struktur geologi, dan pengukuran profil litologi. Analisis stratigrafi berupa analisis studio yang terdiri dari analisis petrografi, paleontologi, dan struktur geologi. Pengendapan diawali pada Miosen Awal, yaitu Formasi Cinambo Anggota Bawah dengan satuan batupasir dan Formasi Cinambo Anggota Atas dengan satuan batuserpih. Pada Miosen Tengah terendapkan Formasi Halang Anggota Bawah dengan satuan breksi. Pada Miosen Akhir terendapkan Formasi Halang Anggota Atas dengan satuan perselingan batupasir dan batulempung dan terjadi aktivitas tektonik berupa gaya kompresional membentuk struktur lipatan. Terjadi pula aktivitas vulkanik yang menyebabkan intrusi magma berupa dike menerobos hingga Formasi Halang. Pada Pliosen Awal terendapkan selaras Formasi Kaliwangu dengan satuan batulempung. Pada Plistosen Awal dan Akhir terendapkan material gunung api di atas Formasi Cinambo dan Halang berupa ketidakselarasan non-conformity dengan satuan breksi gunung api. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk gambaran historis mekanisme pengendapan di daerah penelitian.
Kontrol Struktur Geologi Terhadap Kemunculan Manifestasi Panas Bumi di Daerah Muaro Paiti, Sumatra Barat Rahmatullah, Arif; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Setiawan, Budhi; Dyah Hastuti, Endang Wiwik; Permana, Lano Adhitya
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan, Volume 8, No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v8i1.11769

Abstract

Struktur geologi memiliki peranan penting terhadap sirkulasi fluida panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola umum serta distribusi struktur geologi yang berperan sebagai media keluarnya air panas dari reservoir. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui zona permeabilitas tinggi sebagai implikasi dari reservoir yang baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemetaan geologi dan analisis kelurusan. Pemetaan geologi bertujuan untuk mengetahui kondisi litologi dan struktur geologi di daerah penelitian. Sedangkan analisis kelurusan bertujuan untuk mengetahui pola umum struktur geologi dan indikasi zona permeabilitas tinggi. Berdasarkan hasil pemetaan geologi, terdapat dua formasi di daerah penelitian, yaitu Formasi Menggala dan Formasi Telisa. Formasi Menggala tersusun oleh litologi berupa batupasir, batupasir kerikilan, dan konglomerat. Formasi Telisa tersusun oleh litologi berupa batulempung dan napal secara lokal. Daerah penelitian mempunyai enam struktur geologi yang berkembang, yaitu lima sesar dan satu lipatan. Dari enam struktur geologi yang ditemukan, Sesar Patamuan dan Sesar Batangkapugadang diinterpretasikan menjadi struktur yang berperan sebagai jalur keluarnya air panas dari reservoir. Keberadaan manifestasi ini muncul di sekitar perpotongan kedua struktur tersebut. Pada peta densitas kelurusan, perpotongan kedua struktur tersebut berada pada area dengan densitas kelurusan yang rapat. Area tersebut diinterpretasikan sebagai zona hancuran yang diindikasikan sebagai zona permeabilitas tinggi.
Modelling and Estimation of Coal Resources Using Circular Method in Beringin Makmur II Area, North Musi Rawas Regency Erisendy, Maretha Deva; Rochmana, Yogie Zulkurnia
PROMINE Vol 10 No 2 (2022): PROMINE
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/jp.v10i2.3842

Abstract

The Muaraenim Formation is a coal-bearing formation located in the South Sumatra Basin. The research location is in the Beringin Makmur 2 area, North Musi Rawas Regency, which is included in the Airbenakat and Muaraenim Formations. The aim of this research is to do 2-dimensional and/or 3-dimensional modeling in the research area to determine the feasibility of the mining process. The feasibility test of a coal seam body will be used as a study for the next stage, namely resource estimation. The method for calculating coal resources is the USG circularS method based on drill log data. The following data is needed, such as drilling data for 64 drill points, regional geological data and survey data at the research location or mining business permit (IUP) location. Then an analysis will be carried out so that 3D subsurface modeling and calculation of coal resources can be continued. Based on the research results, it was found that there were 3 coal seams with updip in the north direction and downdip in the south direction N1800E - N1820E. In the research area, synclines were found that affected the distribution of coal. Interpretation of the 3D model is obtained from the correlation between drilling data and survey data. The results of the calculation using the USGS circular method, the estimated tonnage of inferred resources is 91,840,000 tons, indicated resources are 55,330,000 tons, measured resources are 235,870,000 tons so that the overall estimate of the coal seams is 383,040,000 million tons/ton.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi di Daerah Cengal dan Sekitarnya, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat Sunarta, Jonathan Angkawijaya; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Hastuti, Endang Wiwik Dyah
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 7 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i2.11102

Abstract

Mekanisme arus turbidit yang terjadi pada Kala Tersier dan aktivitas vulkanik pada Kala Kuarter menghasilkan endapan vulkanik, laut dangkal, dan laut dalam pada Sub-Cekungan Majalengka. Adanya perbedaan lingkungan pengendapan yang kompleks ini memerlukan suatu rekonstruksi sejarah geologi guna pemahaman geologi daerah penelitian. Metode yang digunakan berupa observasi lapangan dan analisis stratigrafi. Observasi lapangan dimulai dari pengamatan litologi tiap formasi, pengukuran struktur geologi, dan pengukuran profil litologi. Analisis stratigrafi berupa analisis studio yang terdiri dari analisis petrografi, paleontologi, dan struktur geologi. Pengendapan diawali pada Miosen Awal, yaitu Formasi Cinambo Anggota Bawah dengan satuan batupasir dan Formasi Cinambo Anggota Atas dengan satuan batuserpih. Pada Miosen Tengah terendapkan Formasi Halang Anggota Bawah dengan satuan breksi. Pada Miosen Akhir terendapkan Formasi Halang Anggota Atas dengan satuan perselingan batupasir dan batulempung dan terjadi aktivitas tektonik berupa gaya kompresional membentuk struktur lipatan. Terjadi pula aktivitas vulkanik yang menyebabkan intrusi magma berupa dike menerobos hingga Formasi Halang. Pada Pliosen Awal terendapkan selaras Formasi Kaliwangu dengan satuan batulempung. Pada Plistosen Awal dan Akhir terendapkan material gunung api di atas Formasi Cinambo dan Halang berupa ketidakselarasan non-conformity dengan satuan breksi gunung api. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk gambaran historis mekanisme pengendapan di daerah penelitian.
Kontrol Struktur Geologi Terhadap Kemunculan Manifestasi Panas Bumi di Daerah Muaro Paiti, Sumatra Barat Rahmatullah, Arif; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Setiawan, Budhi; Dyah Hastuti, Endang Wiwik; Permana, Lano Adhitya
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan, Volume 8, No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v8i1.11769

Abstract

Struktur geologi memiliki peranan penting terhadap sirkulasi fluida panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola umum serta distribusi struktur geologi yang berperan sebagai media keluarnya air panas dari reservoir. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui zona permeabilitas tinggi sebagai implikasi dari reservoir yang baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemetaan geologi dan analisis kelurusan. Pemetaan geologi bertujuan untuk mengetahui kondisi litologi dan struktur geologi di daerah penelitian. Sedangkan analisis kelurusan bertujuan untuk mengetahui pola umum struktur geologi dan indikasi zona permeabilitas tinggi. Berdasarkan hasil pemetaan geologi, terdapat dua formasi di daerah penelitian, yaitu Formasi Menggala dan Formasi Telisa. Formasi Menggala tersusun oleh litologi berupa batupasir, batupasir kerikilan, dan konglomerat. Formasi Telisa tersusun oleh litologi berupa batulempung dan napal secara lokal. Daerah penelitian mempunyai enam struktur geologi yang berkembang, yaitu lima sesar dan satu lipatan. Dari enam struktur geologi yang ditemukan, Sesar Patamuan dan Sesar Batangkapugadang diinterpretasikan menjadi struktur yang berperan sebagai jalur keluarnya air panas dari reservoir. Keberadaan manifestasi ini muncul di sekitar perpotongan kedua struktur tersebut. Pada peta densitas kelurusan, perpotongan kedua struktur tersebut berada pada area dengan densitas kelurusan yang rapat. Area tersebut diinterpretasikan sebagai zona hancuran yang diindikasikan sebagai zona permeabilitas tinggi.
Analisis Geomorfologi Pada Daerah Napal Licin dan Sekitarnya, Kabupaten Musi Rawas Utara, Provinsi Sumatera Selatan Ismaryanto, Ismaryanto; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1246

Abstract

Daerah Napal Licin dan sekitarnya memiliki bentang alam yang sangat menarik dan bervariasi. Namun, pembahasan mengenai analisis geomorfologi daerah tersebut belum dilakukan secara komprehensif. Analisis geomorfologi memberikan pemahaman mengenai dinamika dan evolusi bentuk lahan yang telah berkembang pada suatu daerah. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan dan analisis studio untuk mengkaji komposisi, genesa, dan evolusi bentuk lahan dengan pendekatan morfografi, morfometri, serta morfogenesa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah studi memiliki variasi bentuk lahan yang terdiri dari 12 klasifikasi, yang meliputi Perbukitan Struktural, Perbukitan Karst, Perbukitan Rendah Denudasional Tererosi Lemah, Perbukitan Denudasional Tererosi Sedang, Perbukitan Denudasional Tererosi Kuat, Perbukitan Tinggi Denudasional Tererosi Kuat, Dataran Aluvial, Dasar Sungai, Dataran Banjir, Point Bar, Channel Bar, dan Channel Irregular Meander. Penelitian ini memberikan pemahaman penting tentang dinamika perubahan permukaan bumi yang dipengaruhi oleh faktor alamiah dan antropogenik, serta implikasi penggunaannya untuk perencanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi Pada Daerah Cibitung dan Sekitarnya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat Wijaya, Anton; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 6 No. 4 (2025): November
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v6i4.1423

Abstract

Perubahan lingkungan pengendapan yang bervariasi dari laut dangkal menjadi daratan pada Kala Tersier di sub-Cekungan Bogor menjadikan sejarah geologi daerah penelitian menarik untuk dikaji lebih lanjut. Pembahasan mengenai sejarah geologi menjadi penting karena dapat mengungkap pola pengendapan, perkembangan tektonik, dan evolusi lingkungan pengendapan yang membentuk karakteristik geologi daerah saat ini. Untuk memahami perubahan tersebut, diperlukan kajian sejarah geologi. Penelitian ini bertujuan mengungkap kronologi kejadian geologi dan mekanisme pengendapan yang terjadi pada daerah Cibitung. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan dan analisis stratigrafi. Urutan pengendapan dimulai pada Kala Oligosen Akhir–Miosen Awal, dengan terendapkannya Formasi Rajamandala (Omc) berupa batupasir gampingan di lingkungan pengendapan laut dangkal (Outer Shelf). Selanjutnya Formasi Citarum (Mts) terendapkan pada Kala Miosen Awal dengan litologi batupasir dan batulanau dalam lingkungan pengendapan Upper Delta. Pada Kala Miosen Akhir, terbentuklah Formasi Tufa Batuapung Batupasir Tufan (Mt) berupa batupasir tufan dalam sistem Braided River. Formasi termuda adalah Formasi Gunung Api (Pb) yang terendapkan pada Pliosen Tengah dalam lingkungan pengendapan Braided River, terdiri dari breksi dan batupasir. Periode ini juga merupakan puncak aktivitas tektonik yang membentuk struktur geologi seperti Antiklin Rajamandala dan Sesar Cibitung, yang mencerminkan evolusi geologi daerah penelitian.
Facies and Sequence Stratigraphy Analysis of Carbonate Formation in “ANDRI” Field, Offshore Indonesian Basin: Impacts on Reservoir and Hydrocarbon Quality Harfiandri, Muhammad Said; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Arieffiandhany, Riezal
Jurnal Geosains dan Remote Sensing Vol 6 No 2 (2025): JGRS Edisi November
Publisher : Department of Geophysical Engineering, Faculty of Engineering, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jgrs.ft.unila.481

Abstract

The Baturaja Formation in the northern West Java Basin is the focus of many oil and gas exploration and production activities, mainly due to its significant reservoir potential. The formation consists of Early Miocene-aged carbonate sedimentary layers with good hydrocarbon reservoir characteristics, distribution, and quality. This study aims to identify the reservoir characteristics and hydrocarbon prospective zones of carbonate formation through integrated facies analysis, sequence stratigraphy, diagenetic processes, and petrophysical evaluation. This research uses qualitative and quantitative methods, where the qualitative stage starts with lithological interpretation from core data and thin sections of rock. Furthermore, quantitative analysis is carried out to calculate reservoir properties based on petrophysical analysis such as shale volume, porosity, permeability, and water saturation. The results show that the shoal reef facies exhibit higher hydrocarbon potential than the lagoonal facies, with greater maximum hydrocarbon thickness and more consistent hydrocarbon distribution. This follow the characteristics of the shoal reef facies, which have grain supported characteristics with low clay matrix content, a high degree of pore connectivity and high permeability Diagenetic process also plays an important role in the formation of porosity and permeability, where the shoal reef facies with fossiliferous packstone lithofacies exhibit good porosity and permeability, such as intercrystalline, intraparticle, and fracture porosity.This is due to the depositional process of the facies in a high-energy environment with abundant carbonate production growth rate.