Claim Missing Document
Check
Articles

Rekonstruksi Sejarah Geologi dengan Analisis Stratigrafi Daerah Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan Pranata, Ridho; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i3.1022

Abstract

Daerah penelitian terletak di Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Secara geologi terletak pada Cekungan Sumatera Selatan dengan batuan penyusun berupa batuan sedimen klastik dan batuan piroklastik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi, merekonstruksi, dan memodelkan kondisi geologi daerah penelitian berdasarkan aspek stratigrafi. Metode yang digunakan adalah pemetaan geologi, analisis paleontologi, penampang dan pembuatan model geologi. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari enam Formasi dari yang tertua hingga termuda, yaitu Formasi Talang Akar (Tomt) dengan litologi batupasir karbonat dan batulanau yang mencirikan lingkungan pengendapan fluvial - delta, kemudian terjadi fase transgresi sehingga diendapkan Formasi Gumai (Tmg) dengan litologi batulempung, selanjutnya terjadi fase regresi yang menyebabkan diendapkannya Formasi Air Benakat (Tma), pada saat terjadi regresi atau penurunan muka air laut, terjadi perubahan arah pengendapan ke arah darat (progradasi) dan sifat karbonatannya berkurang mengikuti lingkungan pengendapan darat sehingga mengendapkan Formasi Muara Enim (Tmpm) yang dicirikan dengan adanya endapan batubara, kemudian diendapkan Formasi Kasai (Qtk) yang mengisi lembah sinklin pada daerah penelitian dengan ciri litologi Tuff, dan terakhir diendapkan Formasi Gunungapi Muda (Qhv) secara tidak selaras. Aktivitas sedimentasi dimulai pada masa Oligosen hingga Holosen. Proses pengendapan masa lalu di lingkungan Neritik didominasi oleh aktivitas transgresi-regresi yang disertai dengan aktivitas vulkanisme pada kondisi Holosen.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi Daerah Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah Aulia, Khanaya Syafarah; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Penelitian Sains Vol 27, No 1 (2025)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v27i1.1145

Abstract

Pencampuran material sedimen klastik dan vulkanik pada Cekungan Banyumas menghasilkan endapan dan lingkungan pengendapan bervariasi yang memerlukan pemahaman lebih detail. Rekonstruksi sejarah geologi pada Daerah Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah belum dilakukan secara komperehensif, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mendalami pada tahap rekonstruksi sejarah geologi untuk mengetahui kronologi dan mekanisme pengendapan daerah Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah observasi lapangan dan analisis stratigrafi. Stratigrafi daerah penelitian terdiri dari tiga formasi dari yang tertua hingga termuda, yaitu Formasi Halang (Tmph) dengan litologi batupasir, batulempung, batupasir andesit, dan perselingan batupasir dan batulempung yang merupakan hasil dari longsoran bawah laut dengan material yang berasal dari percampuran sedimen klastik dan material vulkanik, formasi ini mencirikan lingkungan pengendapan submarine fan, Formasi Tapak (Tpt) yang terendapkan selarasa dengan Formasi Halang tetapi menjari dengan Anggota Batugamping Formasi Tapak karena adanya kenaikan dan penurunan muka air laut secara berulang. Formasi Tapak ini memiliki litologi batupasir dan batulempung yang juga merupakan hasil dari longsoran bawah laut dengan lingkungan pengendapan submarine fan, serta Anggota Batugamping Formasi Tapak (Tptl) dengan litologi batugamping dan batugamping terumbu yang terendapkan pada laut dalam, namun akibat adanya pengangkatan regional Pulau Jawa setelah formasi tersebut terendapkan maka terjadi perubahan lingkungan pengendapan menjadi barrier reef. Pada Kala ini juga merupakan puncak rezim kompresi dan tektonik yang menyebabkan terbentuknya struktur geologi pada daerah setempat hingga saat ini. Proses mekanisme sejarah geologi ini dapat memberikan gambaran tentang evolusi proses-proses geologi yang terjadi pada daerah penelitian.
Analisis Lingkungan Pengendapan Batugamping Pasiran Formasi Wonocolo Berdasarkan Kelimpahan Foraminifera Bentonik Besar Daerah Bamban, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah Abimanyu, Gilang; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Penelitian Sains Vol 26, No 3 (2024)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56064/jps.v26i3.1021

Abstract

Keterdapatan foraminifera bentonik besar yang melimpah pada daerah penelitian menjadi menarik untuk dilakukan penelitian pada bidang sedimentologi dan paleontologi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui lingkungan pengendapan Formasi Wonocolo dengan menggunakan kandungan foraminifera bentonik besar pada sayatan tipis batuan. Penelititan mengenai lingkungan pengendapan dapat dilakukan karena kelimpahan spesies foraminifera bentonik besar pada daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis petrografi sayatan tipis sampel batuan dan penarikan diagram lingkungan pengendapan. Analisis petrografi yang telah dilakukan mendapatkan klasifikasi batugamping pasiran Formasi Wonocolo termasuk kedalam packstone. Hasil analisis mengidentifikasi 8 spesies foraminifera bentonik besar yang ditemukan yaitu Streblus sp., Discorbis sp., Palmerinella palmerae, Anomalinoides rubiginosus, Lepidocyclina sp., Nummulites sp., Lagena elongata, dan Cycloclypeus sp. Analisis lingkungan pengendapan dilakukan dengan melakukan plotting pada diagram Hallock. Hasil analisis mendapatkan lingkungan pengendapan daerah penelitian terletak pada lingkungan Backreef tepatnya pada zona Shelf Sands dan Open Shelf, perubahan lingkungan pengendapan tersebut terjadi dikarenakan perubahan muka air laut. Hasil analisis biostratigrafi menunjukkan satuan biostratigrafi daerah penelitian merupakan zona kumpulan Rotaliida. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya wawasan lingkungan pengendapan batugamping pasiran dengan memanfaatkan potensi kelimpahan fosil foraminifera bentonik besar pada daerah penelitian.
KARAKTERISTIK GEOKIMIA AIR PANAS DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANATOMIC ABSORPTION SPRECTROPHOTOMETER (AAS), GEOTHERMOMETER DAN GEOINDIKATOR, STUDI KASUS: ULU BELU, KABUPATEN TANGGAMUS PROVINSI LAMPUNG Nurjanah, Anisa; Armandani, Aditya Raihan; Aulia, Khanaya Syafarah; Az zahra', Salmaa Aulia; Lestari, Suci Febria; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 1 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i1.60662

Abstract

Karakteristik geokimia fluida panas bumi berperan sebagai indikator utama dalam memahami kondisi reservoir dan mengevaluasi potensi energi panas bumi di suatu wilayah. Salah satu wilayah yang memiliki potensi panas bumi  berada di daerah Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus Provinsi Lampung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unsur-unsur kimia, suhu reservoir geothermal dan jenis mata air. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah AAS (Anatomic Absorption Sprectrophotometer), geotermometer dan geoindikator. Metode AAS digunakan untuk menganalisis kandungan unsur-unsur kimia dalam sampel air panas, geotermometer membantu dalam memperkirakan suhu reservoir, geoindikator digunakan untuk menentukan tipe air panas berdasarkan komposisi kimianya. Studi ini mengungkapkan terdapat 3 unsur yang dominan Magnesium (Mg2+) sebanyak 10,80 ppm, 12,79 ppm, dan 6,64 ppm, kemudian Kalsium (Ca2+) sebanyak 6,66 ppm. 8,15 ppm dan 11,90 ppm, Iron (Fe3+) sebanyak 1,22 ppm, 5,18 ppm, dan 17,35 ppm. Hasil pengolahan menggunakan geotermometer diperoleh estimasi suhu reservoir Ulu Belu antara 54,59 – 60,26°C. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pengaruh air permukaan ditunjukkan oleh tingginya kandungan magnesium dalam manifestasi air panas. Hasil pengolahan data dengan menggunakan  geoindikator didapatkan bahwa mata air panas yang berada pada lokasi penelitian bertipe immature water dengan kandungan Mg yang relatif tinggi mengindikasikan bahwa sampel air panas telah tercampur dengan air tanah.
KONTROL DIAGENESIS TERHADAP POROSITAS BATUPASIR FORMASI BOJONGMANIK ANGGOTA BATUPASIR DAERAH LEUWIDAMAR DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Atthoriq, Muhammad Hafidz; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 9, No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v9i1.14398

Abstract

Diagenesis dapat mempengaruhi nilai porositas pada batupasir Formasi Bojongmanik Anggota Batupasir. Studi terkait kontrol diagenesis di daerah Leuwidamar belum dilakukan secara detail, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontrol diagenesis terhadap porositas pada Formasi Bojongmanik di daerah Leuwidamar. Metode yang digunakan adalah analisis petrografi, analisis diagenesis dan analisis porositas. Analisis petrografi untuk mengetahui karakteristik batuan dilihat secara mikroskopis, Analisis diagenesis untuk penentuan fase diagenesis beserta tahapan diagenesis di lokasi penelitian dan analisis porositas untuk mengetahui tingkat kualitas porositas batuan. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu fase diagenesis diantaranya fase kompaksi, fase pelarutan, fase sementasi dan fase autigenesis yang kemudian akan menentukan tahapan diagenesis. Pada tahapan diagenesis terdapat dua tahap yaitu tahap mesogenesis dan telogenesis. Pada tahap mesogenesis terjadi proses kompaksi, pelarutan, sementasi dan authigenesis pada kedalaman 2,5 sampai 6 km dan suhu yang berkisar antara 80o hingga 220oC. Pada fase telogenesis terjadi pengangkatan akibat adanya aktivitas tektonisme pada kala miosen akhir yang mengakibatkan terbentuknya sesar normal, lipatan antiklin dan liptaan sinklin di daerah Leuwidamar. Hal tersebut mengakibatkan lapisan batupasir terangkat ke permukaan dan terkena air meteorit sehingga terbentuknya oksidasi besi. Batupasir Formasi Bojongmanik Anggota Batupasir di daerah penelitian memiliki tingkat kematangan yang bervariasi yaitu Mature A, Mature B dan Super Mature. Daerah Leuwidamar memiliki tingkat porositas cukup hingga istimewa (12,8% hingga 30,1%).
KONTROL DIAGENESIS TERHADAP POROSITAS BATUPASIR FORMASI BOJONGMANIK ANGGOTA BATUPASIR DAERAH LEUWIDAMAR DAN SEKITARNYA, KABUPATEN LEBAK, PROVINSI BANTEN Atthoriq, Muhammad Hafidz; Setiawan, Budhi; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 9 No 1 (2025): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 9, No. 1 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v9i1.14398

Abstract

Diagenesis dapat mempengaruhi nilai porositas pada batupasir Formasi Bojongmanik Anggota Batupasir. Studi terkait kontrol diagenesis di daerah Leuwidamar belum dilakukan secara detail, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kontrol diagenesis terhadap porositas pada Formasi Bojongmanik di daerah Leuwidamar. Metode yang digunakan adalah analisis petrografi, analisis diagenesis dan analisis porositas. Analisis petrografi untuk mengetahui karakteristik batuan dilihat secara mikroskopis, Analisis diagenesis untuk penentuan fase diagenesis beserta tahapan diagenesis di lokasi penelitian dan analisis porositas untuk mengetahui tingkat kualitas porositas batuan. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini yaitu fase diagenesis diantaranya fase kompaksi, fase pelarutan, fase sementasi dan fase autigenesis yang kemudian akan menentukan tahapan diagenesis. Pada tahapan diagenesis terdapat dua tahap yaitu tahap mesogenesis dan telogenesis. Pada tahap mesogenesis terjadi proses kompaksi, pelarutan, sementasi dan authigenesis pada kedalaman 2,5 sampai 6 km dan suhu yang berkisar antara 80o hingga 220oC. Pada fase telogenesis terjadi pengangkatan akibat adanya aktivitas tektonisme pada kala miosen akhir yang mengakibatkan terbentuknya sesar normal, lipatan antiklin dan liptaan sinklin di daerah Leuwidamar. Hal tersebut mengakibatkan lapisan batupasir terangkat ke permukaan dan terkena air meteorit sehingga terbentuknya oksidasi besi. Batupasir Formasi Bojongmanik Anggota Batupasir di daerah penelitian memiliki tingkat kematangan yang bervariasi yaitu Mature A, Mature B dan Super Mature. Daerah Leuwidamar memiliki tingkat porositas cukup hingga istimewa (12,8% hingga 30,1%).
REKONSTRUKSI SEJARAH PENGENDAPAN BERDASARKAN ANALISIS STRATIGRAFI DAERAH WATUKUMPUL, KABUPATEN PEMALANG, JAWA TENGAH Az-zahra, Salmaa Aulia; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.63229

Abstract

Daerah Watukumpul, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tersusun atas formasi batuan yang terbentuk oleh mekanisme arus turbidit dan aktivitas vulkanik pada zaman Tersier ddi Cekungan Serayu Utara. Interpretasi lingkungan pengendapan digunakan sebagai acuan awal pembuatan rekonstruksi sejarah geologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, merekonstruksi, dan membuat model sejarah geologi di daerah penelitian dari perspektif stratigrafi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi lapangan dan dilanjutkan dengan analisis di laboratorium. Data tersebut kemudian diinterpretasikan untuk mengetahui proses pengendapan, urutan stratigrafi, dan rekonstruksi sejarah geologi. Berdasarkan hasil analisis stratigrafi, urutan stratigrafi daerah penelitian dari tua ke muda adalah Formasi Rambatan (Tmr) pada kala Miosen Tengah, Intrusi Diorit (Tmi(d)) pada kala Miosen Tengah, Formasi Halang (Tmph) pada kala Miosen Akhir – Pliosen Tengah, dan Formasi Kumbang (Tmpk) terendapakn secara menjari dengan Formasi Halang pada kala yang sama. Proses sedimentasi terjadi di lingkungan laut dalam (batial) dipengaruhi oleh mekanisme arus turbidit akibat longsoran bawah laut disertai aktivitas vulkanisme. Penelitian ini menjelaskan mengenai sejarah pengendapan serta proses-proses geologi yang terjadi di daerah penelitian.
Analisis Geomorfologi Pada Daerah Pagergunung, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat Adamsyah, Bayu; Rochmana, Yogie Zulkurnia
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12553

Abstract

Secara administrasi, lokasi penelitian berada pada Daerah Pagergunung dan Sekitarnya, Kecamatan Sidamulih, Kabupaten Pangandaran, Provinsi Jawa Barat. Daerah Pagergunung mempunyai relief yang menarik dan morfologi bervariasi. Kenampakan morfologi yang beragam ini menjadi bukti adanya proses geologi yang terjadi di daerah Pagergunung. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bentuk geomorfologi pada daerah penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi lapangan serta analisis dari Digital Elevation Model Nasional (DEMNas). Daerah Pagergunung memiliki elevasi antara 10-550m dan kemiringan lereng landai, miring, curam, agak curam dan sangat curam. Berdasarkan analisis geomorfologi, terdapat lima macam bentuk lahan yaitu Perbukitan Tinggi Berlereng Landai Miring Denudasi, Perbukitan Rendah Hingga Perbukitan Berlereng Miring Hingga Curam Denudasi, Channel Irregular Meander, Sinous River dan Dataran Aluvial.
Rekonstruksi Sejarah Geologi Berdasarkan Analisis Stratigrafi di Daerah Cengal dan Sekitarnya, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat Sunarta, Jonathan Angkawijaya; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Hastuti, Endang Wiwik Dyah
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan Volume 7 No. 2 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v7i2.11102

Abstract

Mekanisme arus turbidit yang terjadi pada Kala Tersier dan aktivitas vulkanik pada Kala Kuarter menghasilkan endapan vulkanik, laut dangkal, dan laut dalam pada Sub-Cekungan Majalengka. Adanya perbedaan lingkungan pengendapan yang kompleks ini memerlukan suatu rekonstruksi sejarah geologi guna pemahaman geologi daerah penelitian. Metode yang digunakan berupa observasi lapangan dan analisis stratigrafi. Observasi lapangan dimulai dari pengamatan litologi tiap formasi, pengukuran struktur geologi, dan pengukuran profil litologi. Analisis stratigrafi berupa analisis studio yang terdiri dari analisis petrografi, paleontologi, dan struktur geologi. Pengendapan diawali pada Miosen Awal, yaitu Formasi Cinambo Anggota Bawah dengan satuan batupasir dan Formasi Cinambo Anggota Atas dengan satuan batuserpih. Pada Miosen Tengah terendapkan Formasi Halang Anggota Bawah dengan satuan breksi. Pada Miosen Akhir terendapkan Formasi Halang Anggota Atas dengan satuan perselingan batupasir dan batulempung dan terjadi aktivitas tektonik berupa gaya kompresional membentuk struktur lipatan. Terjadi pula aktivitas vulkanik yang menyebabkan intrusi magma berupa dike menerobos hingga Formasi Halang. Pada Pliosen Awal terendapkan selaras Formasi Kaliwangu dengan satuan batulempung. Pada Plistosen Awal dan Akhir terendapkan material gunung api di atas Formasi Cinambo dan Halang berupa ketidakselarasan non-conformity dengan satuan breksi gunung api. Hasil dari penelitian ini diharapkan untuk gambaran historis mekanisme pengendapan di daerah penelitian.
Kontrol Struktur Geologi Terhadap Kemunculan Manifestasi Panas Bumi di Daerah Muaro Paiti, Sumatra Barat Rahmatullah, Arif; Rochmana, Yogie Zulkurnia; Setiawan, Budhi; Dyah Hastuti, Endang Wiwik; Permana, Lano Adhitya
Jurnal Mineral, Energi dan Lingkungan Vol 8 No 1 (2024): Jurnal Mineral Energi dan Lingkungan, Volume 8, No 1 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional (UPN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jmel.v8i1.11769

Abstract

Struktur geologi memiliki peranan penting terhadap sirkulasi fluida panas bumi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola umum serta distribusi struktur geologi yang berperan sebagai media keluarnya air panas dari reservoir. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui zona permeabilitas tinggi sebagai implikasi dari reservoir yang baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pemetaan geologi dan analisis kelurusan. Pemetaan geologi bertujuan untuk mengetahui kondisi litologi dan struktur geologi di daerah penelitian. Sedangkan analisis kelurusan bertujuan untuk mengetahui pola umum struktur geologi dan indikasi zona permeabilitas tinggi. Berdasarkan hasil pemetaan geologi, terdapat dua formasi di daerah penelitian, yaitu Formasi Menggala dan Formasi Telisa. Formasi Menggala tersusun oleh litologi berupa batupasir, batupasir kerikilan, dan konglomerat. Formasi Telisa tersusun oleh litologi berupa batulempung dan napal secara lokal. Daerah penelitian mempunyai enam struktur geologi yang berkembang, yaitu lima sesar dan satu lipatan. Dari enam struktur geologi yang ditemukan, Sesar Patamuan dan Sesar Batangkapugadang diinterpretasikan menjadi struktur yang berperan sebagai jalur keluarnya air panas dari reservoir. Keberadaan manifestasi ini muncul di sekitar perpotongan kedua struktur tersebut. Pada peta densitas kelurusan, perpotongan kedua struktur tersebut berada pada area dengan densitas kelurusan yang rapat. Area tersebut diinterpretasikan sebagai zona hancuran yang diindikasikan sebagai zona permeabilitas tinggi.