Claim Missing Document
Check
Articles

Ilusi Warna Gerhana Dalam Penciptaan Busana Kontemporer Aribaten, Ni Nengah Zinnia; Suardana, I Wayan; Pebryani, Nyoman Dewi
Melayu Arts and Performance Journal Vol 6, No 2 (2023): Melayu Arts and Performance Journal
Publisher : Pascasarjana Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/mapj.v6i2.3812

Abstract

Gerhana merupakan proses tertutupnya bulan atau matahari oleh benda langit yang melintas di depannya. Perubahan warna bulan dan matahari saat terjadinya gerhana ini merupakan ilusi warna. Ilusi warna tidak berbicara tentang kebenaran, hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti intensitas cahaya, intensitas warna, dan warna benda di sekitarnya. Dari hal tersebut, pencipta terinspirasi menciptakan karya busana dengan konsep ilusi warna yang terinspirasi dari gerhana dengan judul Kapangan. Penciptaan ini bertujuan untuk menciptakan karya seni yang memadukan pengetahuan ilmiah dan fashion yang bergaya edgy dramatic dan street dramatic. Penciptaan ini menggunakan metode Hawkins, yaitu eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan. Pada tahap eksplorasi proses penciptaan dimulai dengan membuat mindmap, menentukan kata kunci, dan membuat moodboard. Tahap improvisasi dibagi menjadi dua yaitu improvisasi medium dan improvisasi visual. Improvisasi media merupakan tahap menentukan alat, material, dan teknik. Sedangkan improvisasi visual merupakan tahap eksperimen dan mengembangkan konsep menjadi desain dan gambar kerja. Tahap pembentukan, proses terumit dalam menciptakan karya, pencipta melakukan pewujudan karya yang dilanjutkan dengan konsep hasil karya berupa photoshoot, publikasi, dan fashion show. Kapangan terdiri atas koleksi busana Candra Kapangan sebagai pemvisualisasian gerhana bulan dan Surya Kapangan sebagai pemvisualisasian gerhana matahari. Koleksi Candra Kapangan terdiri atas tiga look busana, yaitu Gerhana Bulan Total, Gerhana Bulan Sebagian, dan Gerhana Bulan Penumbra. Koleksi Surya Kapangan terdiri atas empat look busana, yaitu Gerhana Matahari Total, Gerhana Matahari Sebagian, Gerhana Matahari Cincin, dan Gerhana Matahari Hibrida. Penciptaan ini merupakan penggabungan antara pengetahuan ilmiah dan fashion dengan mengadopsi teori warna Bezolt Effect dan Chubb Illusion. Candra Kapangan terdiri dari warna hitam, abu tua, abu muda, dan abu kebiruan. Sedangkan Surya Kapangan terdiri atas warna kuning, biru, dan hitam.Ilusi warna direpresentasikan dengan menggunakan bentuk lingkaran yang menghasilkan perubahan warna berdasarkan intensitasnya. Kata Kunci: Gerhana; Bezolt Effect; Chubb Illusion; Fashion KontemporerABSTRACTAn eclipse is the process by which the moon or sun is covered by a celestial body that passes in front of it. The change in the color of the moon and sun at the time of this disaster is an illusion of color. Color illusion does not speak the truth, it is influenced by several factors such as light intensity, color intensity, and the color of the objects around it. From this, the creators were inspired to create fashion works with the concept of color illusion inspired by the title Kapangan. This creation aims to create works of art that combine scientific knowledge and fashion in an edgy dramatic and street dramatic style. This creation uses the Hawkins method, namely exploration, improvisation, and shaping. In the exploration stage, the creation process starts with creating a mindmap, determining keywords, and creating a moodboard. The stages of improvisation are divided into two, namely media improvisation and visual improvisation. Improvised media is the determining stage of tools, materials, and techniques. Meanwhile, visual improvisation is the experimental stage and develops concepts into designs and working drawings. The formation stage, the most complicated process in creating a work, the creator carries out the embodiment of the work followed by the conceptualization of the work in the form of photoshoots, publications and fashion shows. Kapangan consists of the Candra Kapangan fashion collection as a visualization of the cold weather of the moon and Surya Kapangan as a visualization of the sun's weather. The Candra Kapangan collection consists of three fashion looks, namely a total lunar eclipse, a partial lunar eclipse, and a penumbral lunar eclipse. The Surya Kapangan collection consists of four fashion looks, namely Total Solar Eclipse, Partial Solar Eclipse, Ring Solar Eclipse, and Hybrid Solar Eclipse. This creation is a combination of scientific knowledge and the art of Fashion by adopting the Bezolt Effect and Chubb Illusion color theories. Candra Kapangan consists of black, dark gray, light gray, and bluish gray. While Surya Kapangan consists of yellow, blue and black. The illusion of color is represented by using a circle shape which produces a color change based on its intensity.Keywords: Eclipse; Bezolt Effect; Chubb Illusion; Contemporary Fashion
PRESERVASI MOTIF TENUN SONGKET TRADISIONAL BALI Pebryani, Nyoman Dewi
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 3 (2023): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau Bali memiliki ragam peninggalan budaya tak benda, salah satunya adalah pembuatan tekstil tradisional dengan teknik ikat—yang dikenal dengan tenun Endek dan teknik sungkit—yang dikenal dengan tenun Songket. Proses pembuatan tenun Songket membutuhkan waktu yang cukup lama, karena motif tenun dibentuk dengan menyungkit benang lungsi helai per helai pada alat tenun cagcag. Motif-motif yang telah dibuat oleh seniman tekstil ini kemudian disimpan dalam bentuk tulad—terdiri dari susunan beberapa lidi dengan informasi motif di dalamnya. Beberapa informasi motif pada tulad yang telah disimpan bertahun-tahun tidak lagi utuh, dikarenakan lidi yang diperguunakan kebanyakan sudah rapuh dan patah. Untuk mempertahankan motif-motif pada tulad yang dimiliki oleh para seniman tekstil ini, maka diperlukan usaha untuk melindungi atau preservasi motif dengan melakukan proses penggambaran digital motif yang ada pada tulad. Data tulad dikumpulkan dengan menguunjungi pengrajin Songket yang ada di Pulau Bali. Proses pengumpulan data ini dibarengi dengan proses wawancara dengan pengrajin Songket untuk mendapatkan gambaran proses perhitungan motif pada tulad. Melalui pemahaman pada proses pembuatan motif tenun Songket pada tulad akan membantu peneliti dalam proses penggambaran secara digital mengguunakan bantuan aplikasi pada wastrabali.id. Temuan dari penelitian ini adalah informasi mengenai proses pembentukan tulad serta file digital motif Songket dari beberapa tulad. Kontribusi dari penelitian ini adalah file digital motif tenun Songket yang disimpan dalam bentuk database. Database tersebut dapat diguunakan sebagai panduan bagi generasi selanjutnya dalam membuat motif tenun Songket dan sebagai acuan pengembangan desain motif-motif Songket yang baru.
Mesra’s Bondinity: Metafora Kebersamaan Tradisi Dewa Mesraman Dalam Busana Romantic Edgy Delia Fitriani Devi, A.A Istri; Pebryani, Nyoman Dewi; Sari, Dewa Ayu Putu Leliana
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.283

Abstract

Dewa Mesraman adalah salah satu tradisi yang berasal dari Kabupaten Klungkung dan sudah dilaksanan secara turun-temurun. Tradisi ini memiliki tujuan untuk memupuk rasa kebersamaan antar penduduk di daerah tersebut sedari kecil. Tradisi ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali dan bertepatan dengan hari raya Kuningan. Sebelum menuju ke prosesi inti dalam tradisi ini, terdapat beberapa prosesi dan persiapan yang harus dilakukan. Prosesinya antara lain menjor, nunas paica, magibung, masuciang, rejang, dan terkahir adalah mesolah atau mesraman. Tradisi ini juga dianggap sebagai sebagai simbolisasi kemenangan dharma melawan adharma. Tradisi Dewa Mesraman menjadi inspirasi penulis dalam penciptaan karya busana. Penciptaan karya busana ini menggunakan gaya ungkap metafora. Dalam proses penciptaan karya busana ini menggunakan delapan tahapan penciptaan frangipani yang diambil dari disertasi : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, dengan judul “Wacana Fesyen Global dan Pakaian di Kosmopolitan Kuta”, tahun 2016, yaitu diawali dengan design brief, kemudian research and sourching selanjutnya tahapan ketiga yaitu design development, sehingga menghasilkan final collection, tahap ke lima yaitu prototype, sample and construction lalu didukung dengan promotion, branding and sales dan pada tahapan terakhir adalah business. Karya busana yang terinspirasi dari tradisi Dewa Mesraman ini akan terbagi menjadi tiga busana dengan tingkat kesulitan bertahap yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan semi couture. Tradisi Dewa Mesraman ini divisualisasikan dengan kata kunci asimetris, simbol kebersihan, memutar berpola lingkaran, bahan alam, dan beradu.
The Warrior Of Petang Dasa : Metafora Dresta Sasolahan Gebug Ende Dalam Busana Military Look Sumaningsih, Ni Kadek Dwi; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.284

Abstract

Penciptaan busana dilatar belakangi dengan pemilihan konsep Tradisi Gebug Ende yang merupakan pertunjukan adu ketangkasan dibawakan kaum laki-laki dengan membawa rotan dan ende guna memohon turun hujan dan sebagai pertunjukan hiburan. Tradisi Gebug Ende berasal dari Desa Seraya, Karangasem, Bali. Penciptaan ini bertujuan untuk mewujudkan ide Tradisi Gebug Ende ke dalam busana ready to wear, ready to wear deluxe dan semi couture, menyusun strategi promosi, pemasaran, branding, penjualan koleksi busana, menyusun sistem produksi dan bisnis koleksi busana. Koleksi busana ini menggunakan metode penciptaan yaitu Frangipani terdiri dari delapan tahapan: (1) ide pemantik (design brief), (2) riset dan sumber (research and sourching), (3) pengembangan desain (design development), (4) tahap sampel (sample, prototype, construction), (5) koleksi akhir (final collection), (6) tahapan promosi (promotion,sales, and branding), (7) tahapan produksi (production), dan (8) bisnis (the business) disertai dengan teori gaya ungkap metafora, teori bentuk atau wujud, teori strategi pemasaran serta teori produksi. Military look diangkat dalam penciptaan ini agar keseluruhan tampilan dalam berbusana bergaya atau terlihat seperti militer atau prajurit. Strategi pemasaran yang dilakukan dengan cara periklanan di media sosial, membuat logo, label dan pagelaran busana serta sistem bisnis yang dilakukan dengan pembuatan rancangan anggaran biaya produksi dan business model canvas. Penciptaan busana ini ikut berkontribusi terhadap dunia fashion yaitu menambah khazanah fashion atau kekayaan fashion, sedangkan pada masyarakat dapat menambah wawasan tentang fashion dengan mengusung konsep sebuah tradisi.
Duology Metipat Bantal : Metafora Tradisi Mejauman Dalam Busana Edgy Look Grahantiyasari, Kadek Mirah; Pebryani, Nyoman Dewi; Ratna Cora S., Tjok Istri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 1 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i1.297

Abstract

Mejauman Metipat bantal adalah salah satu tradisi pernikahan yang ada di Indonesia khususnya Bali. Dalam istilah bahasa Bali, tradisi metipat bantal disebut tradisi Mejauman. Mejauman metipat bantal ditandai dengan membawa tipat bantal dengan segala kelengkapannya. Tipat yang dimaksud disini adalah ketupat yang melambangkan pradhana atau perempuan sedangkan bantal melambangkan purusa atau laki-laki. Upacara ini bertujuan untuk mohon pamit kepada orang tua dan kerabat dekatnya, termasuk secara kedinasan/administrasi kependudukan setempat. Secara niskala mempelai wanita mohon pamit kepada bhatara-bhatari leluhurnya yang dilaksanakan dengan membawa jauman berupa tipat bantal dan selengkapnya. Dalam proses penciptaan karya busana ini menggunakan 8 tahapan penciptaan frangipani yang diambil dari disertasi : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, dengan judul “Wacana Fesyen Global dan Pakaian di Kosmopolitan Kuta”, tahun 2016, yaitu design brief, kemudian research and sourching selanjutnya tahapan ketiga yaitu design development, sehingga menghasilkan final collection, tahap ke lima yaitu prototype, sample and construction lalu didukung dengan promotion, branding and sales dan pada tahapan terakhir adalah bussinese. Delapan tahapan tersebut merupakan landasan dalam penciptaan busana Metipat Bantal dengan tiga busana dengan tingkat kesulitan bertahap yaitu ready to wear, ready to wear deluxe, dan busana houte couture. Tradisi Metipat bantal dievaluasikan dengan kata kunci yaitu : bantal, tipat, tebu, jaja sangguh, purusha, pradhana, dan upakara, sehingga dalam perwujudan busana diimplementasikan dengan cara metafora dalam setiap kata kunci yang digunakan. Dalam busana ready to wear deluxe ada menggunakan perwujudan dengan cara analog yaitu selempang menyimbulkan kata kunci tipat.
SULAWESI’S LUXURIOUS TREE: PERANCANGAN ANALOGI POHON EBONI DALAM BUSANA BERGAYA EDGY A.A. Ayu Agung, Ratih Kemala Dewi; Mayun KT, A.A Ngurah Anom; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.727

Abstract

Artikel ini dilatar belakangi berdasarkan tema besar yaitu Diversity of Indonesia yang mewajibkan mahasiswa dapat mengekspresikan idenya dengan mengeksplorasi arsitektur, flora fauna endemik, kuliner dan sosio culture. Penulis memilih konsep flora endemik Indonesia yaitu Pohon Eboni sebagai ide penciptaan busana yang diwujudkan kedalam busana ready to wear, ready to wear deluxe, dan Semi Couture dengan koleksi busana ”Sulawesi’s Luxurious Tree”. Pohon eboni (Diospyros Celebica Bakh) merupakan pohon endemik yang hidupnya berkelompok di Sulawesi dan sebagai identitas provinsi Sulawesi Tengah. Pohon eboni dikenal dengan kayu hitam bergaris karena memiliki serat kayu berwarna hitam dengan garis-garis coklat kemerahan. Pohon eboni divisualisasikan berdasarkan kata kunci kayu hitam bergaris, daun eboni, bulat telur, rindang, lurus dan edgy. Kata kunci kayu hitam bergaris divisualisaikan menggunakan motif kayu hitam bergaris, daun eboni divisualisasikan bentuk dan warna, bulat telur divisualisasikan bentuk bulat telur, rindang divisualisasikan banyak daun, lurus divisualisasikan dengan beberapa bagian yang menggunakan siluet lurus, edgy divisualisasikan dengan style atau gaya berbusana yang tergolong out of the box yang didominasi dengan warna hitam atau gelap. Pada penciptaan ini mengunakan gaya ungkap analogi serta menggunakan tahapan Frangipani yang terdiri dari sepuluh tahapan. Hasil penciptaan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan referensi akademis khususnya pada bidang fashion mengenai analogi pohon eboni yang diimplementasikan ke dalam karya busana.
TUARA PATUH : KARAKTER WAYANG KLUPAK TIYING PADA BUSANA EXCOTIC DRAMATIC Ardhanariswari, I Gst. Ayu Agung Sista; Mayun KT, A.A Ngurah Anom; Pebryani, Nyoman Dewi
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.735

Abstract

Wayang Klupak Tiying merupakan salah satu tradisi yang terdapat di Desa Batubulan, Gianyar, Bali yang cukup jarang diketahui oleh masyarakat pada umumnya, metafora dari karakter wayang Merdah dan Tualen pada tradisi wayang klupak tiying menjadi inspirasi utama pada karya penciptaan ini. Karakter wayang Merdah dan Tualen yang dipenuhi dengan kesederhanaan dan ketulusan untuk membimbing atau menuntun agar tidak terjadi bala pada diri setelah kecelakaan merupakan makna dari penggunaan sarana wayang klupak tiying pada upacara pengulapan yang tergolong sederhana.Dalam proses penciptaan busana pria dan wanita ini melalui 8 tahapan penciptaan "FRANGIPANI” TheSecret Steps of Art Fashion (Tahapan-Tahapan Rahasia dari Seni Fashion) oleh Ratna Cora. Tahapan tersebut ialah (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain (design development), prototypes, sample and contraction, koleksi akhir (final collection), promosi, pemasaran, brand dan penjualan (promotion), marketing, (branding and sale), produksi (production) dan juga bisnis (business). Hasil akhir penciptaan ini berupa busana pria ready to wear, busana wanita ready to wear deluxe dan busana wanita Couture. Melalui penciptaan karya dalam bidang fashion ini, diharapkan kebudayaan lokal khususnya tradisi pengulapan wayang klupak tiying dengan unsur budaya dan tradisi semakin diketahui dan menjadi media penambah ilmu pengetahuan bagi masyarakat luas
LEOPARDY SUNDANICA DE TERRA : PENCIPTAAN BUSANA VINTAGE STYLE DENGAN MACAN TUTUL JAWA SEBAGAI SUMBER INSPIRASI Paramita, Ni Gusti Ayu; Pebryani, Nyoman Dewi; Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.739

Abstract

“Leopardy Sundanica De Terra” adalah judul koleksi busana Tugas Akhir bertemakan Diversity of Indonesia yang terinspirasi dari Macan Tutul Jawa dengan memadukan style Vintage dan Glamour look. Koleksi ini merupakan jenis busana ready to wear, ready to wear deluxe dan houte couture. Penciptaan koleksi “Leopardy Sundanica De Terra” menggunakan sepuluh tahapan yang bertajuk “Frangipani”, Tahapan – tahapan Rahasia dari Seni FashionArt. Ide pemantik ini diimplementasikan melalui gaya ungkap analogi yang akan diuraikan pada keyword berupa Sangar, Kuning Tutul, Putih Tutul, Bulu Putih Polos, Hidung Cokelat, Tutul Kecil Pada Wajah, Putih, Hitam, Vintage, Glamour. Keyword tersebut kemudian diolah sedemikian rupa dan diaplikasikan pada koleksi busana dengan teori estetika mencakup prinsip desain dan elemen desain yang tampak dari desain busana, detail dan pemilihan bahan sehingga terbentuk nilai keindahan dalam koleksi busana ini. Melalui perpaduan material utama, yaitu satin maxmara, satin print, velvet, satin polos, microfiber satin dan kain bulu. Proses pengerjaan koleksi Tugas Akhir “Leopardy Sundanica De Terra” menggunakan Teknik print pada kain utama, teknik melekatkan hotfix, dan teknik beading Pada pengerjaan busana ini menggunakan teknik jahit mesin Teknik jahit tangan dan penggunaan teknik press agar memudahkan Ketika di jahit. Penciptaan koleksi busana ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan referensi akademis khususnya pada bidang fashion mengenai macan tutul jawa yang diimplementasikan ke dalam karya busana.
“KERTA GOSITA” ANALOGI BALE KERTHA GOSA DALAM BUSANA EXOTIC DRAMATIC Megy, Ni Made Lesiana; Pebryani, Nyoman Dewi; Sujana, I Wayan
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.741

Abstract

Indonesia merupakan negara kepulauan memiliki beragam peninggalan bersejarah dalam bidang seni dan budaya salah satunya Pulau Bali. Bali memiliki arsitektur bangunan yang sangat khas akan filosofi dan juga unsur budaya yang melekat, yaitu bangunan Bale Kertha Gosa dengan filosofi namanya. Bale Kertha Gosa memiliki lukisan pada langit-langit atapnya bercerita kehidupan rakyat Bali dengan gaya lukis Kamasan. Bale Kertha Gosa berada di Taman Kertha Gosa, wilayah komplek kerajaan yang terletak di Bali bagian ujung timur laut tepatnya di kabupaten Klungkung. Dari keunikan arsitektur serta makna lukisan pada Bale Kertha Gosa menjadi sumber ide penciptaan karya busana tugas akhir yang diwujudkan ke dalam busana dengan kesulitan bertahap yaitu : ready to wear. Ready to wear deluxe dan haute couture. Bale Kertha Gosa diimplementasikan dengan teori analogi dari beberapa kata kunci yaitu: lukisan wayang kamasan, ijuk, ornamen, tiang, pagar dan batu padas. Landasan penciptaan karya busana ini menggunakan 8 tahapan penciptaan Frangipani yang di ambil dari disertasi : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016, yaitu dari ide pemantik (design brief), riset dan sumber (research and sourching), pengembangan desain, sampel (design development), sample, prototype and construction), dan produksi (production), bisnis (business).Hasil penciptaan ini diharapkam dapat menambah kepustakaan khususnya pada bidang fashion mengenai analogi bangunan Bale Kertha Gosa yang diimplementasikan ke dalam wujud busana exotic dramatic dengan menggunakan nama brand “MbyM” dan strategi Business Model Canvas (BMC) dalam menjalankan usaha lebih terstruktur.
ANALOGI ARSITEKTUR MONUMEN BANDUNG LAUTAN API DALAM KOLEKSI BUSANA GALLANT FLAME Dewi, Ida Ayu Agung Pradnya; Pebryani, Nyoman Dewi; Pradnya Paramita, Ni Putu Darmara
BHUMIDEVI: Journal of Fashion Design Vol. 1 No. 2 (2021): Bhumidevi
Publisher : Pusa Penerbitan LP2MPP Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/bhumidevi.v1i2.747

Abstract

Bandung Lautan Api merupakan salah satu peristiwa bersejarah yang terjadi di Indonesia. Monumen Bandung Lautan api ini merupakan monumen bersejarah yang terletak di Bandung, Jawa Barat. Monumen ini berkaitan erat dengan peristiwa Bandung Lautan Api, dimana monumen ini dibangun untuk mengenang peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api. Bentuk khas pada bagian atas monumen seperti api yang sedang berkobar. Terdapat tiga tiang utama pada Monumen Bandung Lautan Api. Arsitektur Monumen Bandung Lautan Api menjadi sumber ide penciptaan karya busana tugas akhir yang diwujudkan kedalam busana dengan kesulitan yang bertahap yaitu: ready to wear, ready to wear deluxe dan haute couture. Monumen Bandung Lauan Api diimplementasikan dengan teori analogi dari beberapa kata kunci yaitu: pemberani, 9 bidang yang menyerupai api yang berkobar, pancaran mata tajam, warna panas, gigih, glam, dan urban style. Landasan penciptaan karya busana ini menggunakan 8 tahapan penciptaan FRANGIPANI yang diambil dari disertasi: Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana, tahun 2016 yaitu dari ide design brief, research and sourching, design development, sample, prototype and construction, dan production, business.
Co-Authors A.A. Ngr. Anom Mayun K. Tenaya Aiununnisa, Amelia Al Attas, Syarifah Alawiyah Amelia Aiununnisa Apriliani, Luh Putu Monita Apriliyani, Christy Wahyu Ardhanariswari, I Gst. Ayu Agung Sista Aribaten, Ni Nengah Zinnia Ariyanti, Ni Kadek Yunik Artayasa, Ni Kadek Intan Cahyani Cahyani, Salsa Bilah Regita Chandra Fatmi, Dewa Ayu Gek Diah Dammayanti, Anak Agung Ketut Oka Marta Darmara Pradnya Paramita, Ni Putu Delia Fitriani Devi, A.A Istri Dewi, Ida Ayu Agung Pradnya Dewi, Ketut Dina Aprilianti Dewi, Ni Made Dhea Sasmitha Dewi, Ni Putu Chyntia Dewi, Ratih Kemala Dianawati, Ni Kadek Dwi Putri Diantari, Ni Kadek Yuni Fadiyanti, Elisa Grahantiyasari, Kadek Mirah Hadhira Rahma Hoar Nahak, Esperanza Ayu Viana I Made Radiawan I Nyoman Artayasa I Wayan Adnyana I Wayan Suardana I Wayan Sujana Ida Ayu Gede, Artayani Indartini, Ni Putu Melani K. Tenaya, A.A Ngurah Anom Mayun Karso, Kejora Pratiwi Karso, Olih Solihat Mahadewi, Ida Ayu Ari Maria Yolanda Vincent Maselia Andriani, Ni Putu Nanda Megy, Ni Made Lesiana Mitariani - Muda Rahayu, Made Tiartini Mudarahayu, Made Tiartini Ni Luh Ayu Pradnyani Utami Noorwatha, I Kadek Dwi Paramita, Ni Gusti Ayu Prastiti, Ni Made Prayatna, I Wayan Dedy Priatmaka, I Gusti Bagus Purwadani, Kadek Anjani Putri Puspayani, Ni Kadek Intan Putu Manik Prihatini Putu Manik Prihatini Rahayu, Made Tiartini Muda Rahma Sari, Ni Made Kartika Sari Rahma, Hadhira Ramadhan, Tara Firdaus Lailil Ratna Cora Sudharsana, Tjok Istri Remawa, Anak Agung Gede Rai S. Suharto Sari, Dewa Ayu Putu Leliana Savitri, Cokorda Istri Winda Suharto Suharto Sukawati, Tjokoda Gde Abinanda Sukawati, Tjokorda Gde Abinanda Sukmadewi, Ida Ayu Kade Sri Sumaningsih, Ni Kadek Dwi Sunatha, Ade Savitri Suprapti, Desak Ketut Devi Tiara Linggi, Randan Elrahel Udiyani, Ni Made Santi Utama, Gede Verdy Darma Utami, Ni Luh Sri Wardani, Putu Asri Yugeswari, Vinda Yulius, Yosef