Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pemberantasan Korupsi Melalui Pendekatan Integral Penegak Hukum Susanti, Ino; Yusnandi, Yudi; Hendryan, Dery
VIVA THEMIS Vol 7, No 2 (2024): VIVA THEMIS
Publisher : Universitas Sang Bumi Ruwa Jurai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24967/vt.v6i2.3297

Abstract

Bertolak pada perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik namun apabila di pandang dari segi kepentingan hukum yang lebih tinggi, ternyata menimbulkan kerugian yang jauh tidak seimbang bagi masyarakat/negara dibandingkan dari keuntungan perbuatan pelaku yang tidak memenuhi rumusan delik tersebut, maka dengan demikian tentunya sangat efektif untuk menjerat pelaku korupsi. Permasalahan dalam penelitian ini mengkaji tentang mengapa pemberantasan korupsi sulit diimplementasikan oleh penegak hukum dan bagaimanakah pemberantasan korupsi melalui pendekatan intergritas penegak hukum.Penelitian ini menggunakan data primer dalam penelitian penulis melakukan wawancara langsung dan observasi lapangan untuk mendapatkan data di lapangan.Hasil penelitian menguraikan bahwa pemberantasan Korupsi kian menjadi tuntutan masyarakat Indonesia karena tindak pidana tersebut telah mengakibatkan kerugian keuangan negara yang tidak sedikit dan menyebabkan terhambatnya laju pembangunan serta instabilitas perekonomian negara. Akan tetapi tuntutan tersebut nampaknya masih sulit diwujudkan mengingat upaya untuk melaksanakannya tidak mudah. Hal itu disebabkan ketidakjelasan maksud dari undang-undang yang walaupun telah dibentuk dengan kata bahkan kalimat yang tegas, tidak jarang bunyi undang-undang masih menimbulkan keraguan yang memungkinkan terdapatnya pemaknaan yang sempit yang berujung pada tidak berhasilnya undang-undang tersebut menjerat pelaku korupsi ke persidangan guna di tuntut pertanggungjawabannya
Penerapan Mediasi Penal Pada Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga Dengan Korban Anak Ghazi, Muhammad Daffa; Melati, Dwi Putri; Susanti, Ino
Jurnal Pro Justitia (JPJ) Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Mitra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57084/jpj.v5i1.1561

Abstract

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) masih menjadi permasalahan masyarakat di Indonesia. Keluarga adalah tempat berkumpulnya kelompok terkecil dalam masyarakat pada umumya. Keluarga dibentuk melalui ikatan pernikahan yang sah.Dalam sebuah keluarga, diyakini bahwa pasangan, istri, dan anak-anak akan menemukan rasa rekonsiliasi dan kebahagiaan. Pedoman tersebut juga terdapat dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.Penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan empiris. Jenis data terdiri dari data primer dan sekunder. Narasumber terdiri dari dua orang anggota kepolisian. Analisis data menggunakan analisis kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, penerapan mediasi penal pada tindak pidana kekerasan dalam rumah tangga dengan korban anak di tingkat penyidikanyaitu Satreskrim telah melakukanupaya penyelesaian dengan melaksanakan mediasi penalberdasarkan diskresi kepolisian yang diatur oleh Undang-Undang Kepolisian dan Surat Kapolri Nopol.B/3022/XII/2022/Sdeopssebagai salah satu bentuk Alternatif Penyelesaian Kasus dengan mengedepankan prinsip Resoratif Justice yang bertujuan untuk memberikan rasa keadilan kepada para pihak yang berperkara. Terdapat beberapa faktor penghambat yaitu Korban tidakmelapor, Tidak ada bukti yang menguatkanSelang waktu antara kejadian dengan pelaporan terlalu lama, sehingga tidak ada bukti Visum. Saran yang dapat diajukan penulis adalah sebaiknya konsep keadilan restoratif/mediasi penal perlu diformulasikan dalam payung hukum yang kuat, yakni dengan menerbitkan suatu peraturan kepolisian, terutamaberupaPeraturanKapolriatau undang-undang sebagai landasan legalitas dalam penanganan  perkara  tindak pidana ringan sebagaiacuanataupedomanbagipenyidik. Kata Kunci :Penerapan, Mediasi Penal, Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tanggga 
Pelatihan Pemrograman Dasar bagi Siswa SMK Miftahul Ulum dalam Rangka Mempersiapkan Kompetensi di Era Industri 4.0 dirayati, fadhilah; Purnomo , Rosyana Fitria; Sari , Resy Anggun; Susanti, Ino
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Edisi Januari - Maret
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v6i1.5003

Abstract

Era Industri 4.0 memengaruhi berbagai sektor, termasuk dunia kerja, sehingga lulusan SMK dituntut memiliki kompetensi teknologi informasi, seperti keterampilan pemrograman. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan kemampuan pemrograman dasar siswa SMK Miftahul Ulum sebagai persiapan menghadapi era digital. Pelatihan dilakukan dengan metode hands-on learning, yang melibatkan siswa secara langsung dalam membuat program sederhana. Kegiatan ini diikuti oleh 30 siswa dengan materi meliputi logika algoritma, dasar-dasar Python, dan implementasi program sederhana. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa hingga 80% berdasarkan pre-test dan post-test, serta kemampuan siswa membuat aplikasi sederhana. Program ini menjadi langkah awal membangun kompetensi digital siswa untuk menghadapi dunia kerja di era transformasi digital. Keberlanjutan pelatihan dengan materi lanjutan diperlukan untuk meningkatkan kesiapan mereka menghadapi tantangan global.
BERWIRAUSAHA DALAM BIDANG HUKUM DENGAN MENGOPTIMALKAN PLATFORM DIGITAL ERA 5.0 Sukardi, Dina Haryati; Malagano, Tahura; Susanti, Ino; Marzuki, Agus; Dirayati, Fadhilah; Muhadi, Muhadi; Yuliana, Tora
Jurnal Pengabdian UMKM Vol. 4 No. 2 (2025): Juli
Publisher : Pusat Studi UMKM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/jpu.v4i2.93

Abstract

Era Society 5.0 membawa perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengakses informasi dan layanan, termasuk di bidang hukum. Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda dan pelaku usaha hukum, dalam memanfaatkan platform digital sebagai sarana kewirausahaan di bidang hukum. Kegiatan dilakukan melalui pelatihan, pendampingan, dan sosialisasi terkait penggunaan teknologi digital untuk layanan hukum seperti konsultasi daring, penyusunan dokumen hukum otomatis, serta pemasaran jasa hukum melalui media sosial dan platform digital lainnya. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman tentang peluang bisnis hukum berbasis digital serta mampu mengembangkan ide usaha yang relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Optimalisasi platform digital terbukti mendukung efisiensi, aksesibilitas, dan daya jangkau layanan hukum, sekaligus membuka peluang usaha baru yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong terciptanya wirausaha hukum yang inovatif, berdaya saing, dan  beretika di tengah transformasi digital era 5.0. 
Dualism of Sanctions in Unlawful Acts: Between Civil Damages and Criminal Punishment Yuliana, Tora; Marzuki, Agus; Malagano, Tahura; Susanti, Ino; Nurahman, Dwi; Sukardi, Dina Haryati; Muhadi
Research Horizon Vol. 5 No. 4 (2025): Research Horizon - August 2025
Publisher : LifeSciFi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54518/rh.5.4.2025.709

Abstract

Sanction dualism often arises in offenses such as fraud, embezzlement, or persecution, where a single act violates public legal norms and simultaneously causes personal harm to individuals. This study explores the concept of sanction dualism the simultaneous imposition or potential overlap of criminal and civil sanctions in cases of unlawful acts within the Indonesian legal system. Using a normative juridical method, the study relies on legislative and conceptual approaches grounded in the theory of legal integration, which supports a cross-branch legal framework. The research identifies two key issues: how the legal system conceptualizes sanction dualism and how it manages the harmonization between criminal and civil law. The findings highlight that although Indonesia permits the application of dual sanctions, there are significant procedural and institutional challenges. These include limited integration of civil claims within criminal proceedings, a lack of clear technical guidelines, and inadequate protection of victims’ rights. Consequently, legal processes often become fragmented and fail to deliver substantive justice. The study recommends regulatory reform, improved coordination among legal institutions, and stronger adoption of integrative legal approaches. These efforts are crucial for achieving a legal process that is fair, efficient, and capable of restoring both legal certainty for perpetrators and justice for victims. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yuridis normatif dengan pendekatan peraturan perundang-undangan, pendekatan konseptual, serta studi kasus yang relevan. Teori yang menjadi dasar analisis adalah teori integrasi hukum yang menjelaskan perlunya pendekatan lintas-cabang hukum dalam menangani satu perbuatan melawan hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia secara normatif memungkinkan pemberlakuan dualisme sanksi, namun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan dalam hal prosedur, kelembagaan, dan perlindungan hak-hak korban. Meskipun KUHAP mengatur kemungkinan penggabungan gugatan perdata dalam proses pidana, penerapannya masih terbatas dan jarang digunakan. Selain itu, belum adanya pedoman teknis yang jelas menyebabkan proses hukum sering berjalan secara terpisah dan tidak sinkron, sehingga berisiko mengabaikan keadilan substantif. Penelitian ini merekomendasikan perlunya harmonisasi yang lebih sistematis antara hukum pidana dan perdata, baik melalui pembaruan regulasi, peningkatan koordinasi antarlembaga penegak hukum, maupun penguatan pemahaman aparat terhadap pendekatan integratif. Tujuannya adalah agar proses hukum dapat berjalan secara efisien, adil, dan komprehensif, sekaligus menjamin pemulihan hak korban dan kepastian hukum bagi pelaku.
IMPLEMENTASI TERHADAP TIPOLOGI PENCUCIAN UANG TERKAIT TINDAK PIDANA BIDANG PERBANKAN (STUDI KASUS PUTUSAN PENGADILAN TINGGI DKI JAKARTA NOMOR 222/Pid.Sus/2020/PT DKI) Riski Syandri Pratama; Dwi Putri Melati; Ino Susanti
Marwah Hukum Vol 2, No 1 (2024): MARWA HUKUM
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/mh.v1i1.8255

Abstract

Abstrak: Kemajuan teknologi informasi dan globalisasi keuangan mengakibatkan makin mendunianya perdagangan barang dan jasa arus finansial yang mengikutinya. Perkembangannya Tindak Pidana Pencucian Uang semakin hari menjadi semakin kompleks, dimana perkembangannya telah dilakukan dengan melintasi batas-batas yurisdiksi dan menggunakan modus yang semakin bervariatif, memanfaatkan lembaga di luar sistem keuangan. Peningkatan jumlah transaksi dari waktu ke waktu pada bidang ekonomi merupakan faktor pendorong yang sangat besar terhadap timbulnya beberapa bentuk kejahatan baru seperti pada kejahatan di bidang perbankan. Pendekatan masalah dalam penelitian ini menggunakan pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini antara lain data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari hasil penelitian di lapangan melalui Putusan Perkara Tindak Pidana Pencucian Uang yang sudah inkracht van gewisjde terkait Putusan Pengadilan Tinggi Nomor : 222/Pid.Sus/2020/PT DKI dan data pendukung sekunder serta tersier.Terdakwa GW latar belakang pekerjaan sebagai karyawan swasta yang melakukan penghimpunan dana dari masyarakat melalui investasi pada perusahaan tanpa izin usaha dari Bank Indonesia/Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi. Tahapan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan terdakwa melalui placement&layering. Implementasi terhadap tipologi pencucian uang terkait tindak pidana perbankan yang dilakukan PPATK dalam analisa yang dilakukan melalui riset tipologi sudah baik. Berkembangnya teknologi dan informasi, terdapat tren baru dari variabel pembentuk tipologi seperti penggunaan jasa keuangan Fintech dan Market Place. Dilihat dari Putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta terkait dengan tren baru penggunaan jasa keuangan Fintech dan Market Place belum terlihat dari modus yang digunakan oleh terdakwa, penggunaan teknologi baru terlihat sebatas pada underline Tindak Pidana Perbankan menggunakan investasi berupa trading forex.Kata kunci: Tindak Pidana Pencucian Uang, Tindak Pidana Perbankan, Tipologi Abstract: The advancement of information technology and financial globalization has led to the increasing globalization of the trade of goods and financial flows of services. The development of money laundering crimes is becoming more complex over time, where it has evolved by crossing jurisdictional boundaries and employing increasingly diverse methods, utilizing institutions outside the financial system. The increase in the number of transactions over time in the economic field is a significant driving factor for the emergence of various new forms of crimes, such as in the banking sector. The approach to this research problem uses a normative and empirical juridical approach. The data sources used in this research include primary data, which is obtained directly from research conducted in the field through the Decision of Money Laundering Case with the inkracht van gewisjde related to the Decision of the High Court Number: 222/Pid.Sus/2020/PT DKI and secondary and tertiary supporting data.The defendant, GW, with a background as a private sector employee, engaged in fundraising from the public through investments in companies without the necessary business permits from Bank Indonesia/Commodity Futures Trading Regulatory Agency. The stages of money laundering committed by the defendant involved placement and layering. The implementation of anti-money laundering typologies related to banking crimes conducted by PPATK (Financial Transaction Reports and Analysis Center) in the analysis conducted through typology research is good. With the advancement of technology and information, there are new trends in the variables that form these typologies, such as the use of Fintech and Market Place financial services. Based on the decision of the High Court of Jakarta related to the new trend of using Fintech and Market Place financial services, it does not seem to be reflected in the methods used by the defendant; the use of new technology appears to be limited to underlying banking crimes involving forex trading.Keywords: Money Laundering Offense, Banking Offense, Typology