Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS PENGETAHUAN PETUGAS TERHADAP PELEPASAN INFORMASI REKAM MEDIS KEPADA PIHAK KETIGA DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA Elva Meilia Sari; Sri Suparti; Aries Widiyoko
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 2 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/0xzbdw76

Abstract

Pelepasan informasi rekam medis kepada pihak ketiga merupakan proses yang penting karena berkaitan dengan kerahasiaan data pasien serta harus dilaksanakan sesuai regulasi dan Standar Prosedur Operasional (SPO). Selain itu, rekam medis memiliki nilai hukum sehingga setiap proses pelepasan informasi harus dilakukan tepat sesuai ketentuan yang berlaku. Namun demikian, pelaksanaan di lapangan masih menunjukkan adanya ketidaksesuaian prosedur, ketidaklengkapan dokumen, serta keterbatasan fasilitas pendukung. Kondisi tersebut tidak terlepas dari tingkat pemahaman petugas yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tingkat pengetahuan petugas dalam pelaksanaan pelepasan informasi rekam medis kepada pihak ketiga. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif yang dilengkapi kuantifikasi sederhana. Desain penelitian bersifat observasional dengan pendekatan cross-sectional. Subjek penelitian terdiri dari tiga petugas rekam medis dan satu informan triangulasi, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam di Rumah Sakit Panti Waluyo Yakkum Surakarta dengan objek penelitian berupa seluruh berkas pengajuan pelepasan informasi pada bulan Februari 2026 yang diambil menggunakan teknik total sampling. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pelepasan informasi rekam medis, sedangkan variabel independen meliputi man, method, material, dan machine. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara mendalam, kemudian dianalisis hingga penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel man memiliki tingkat kesesuaian sebesar 40% dan ketidaksesuaian 60%, variabel method menunjukkan 100% tidak sesuai, serta variabel material menunjukkan 100% tidak lengkap. Sementara itu, variabel machine menunjukkan kondisi yang sepenuhnya memadai 100%. Dengan demikian, pengetahuan petugas dalam pelaksanaan pelepasan informasi rekam medis kepada pihak ketiga masih belum optimal, terutama pada aspek kepatuhan terhadap SPO, kelengkapan dokumen, dan penerapan prosedur pelayanan.
Analisis Faktor Ketepatan Pengembalian Berkas Rekam Medis Rawat Inap di RSKIA PKU Muhammadiyah Kotagede Yogyakarta Vhita Shary Anggraini; Sri Suparti; Wahyu Ratri Sukmaningsih
Vitalitas Medis : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran Vol. 3 No. 3 (2026): Juli: Vitalitas Medis : Jurnal Kesehatan dan Kedokteran
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/vimed.v3i3.3291

Abstract

Delays in returning inpatient medical record documents may disrupt the continuity of services in the medical records unit, particularly in data processing, information retrieval, and healthcare service delivery. This study aimed to evaluate the effects of staff workload, the completeness of medical record documents, and the implementation of Standard Operating Procedures (SOPs) on the timeliness of returning inpatient medical record documents. This research employed a qualitative method with a descriptive approach. The informants consisted of five ward nurses, while observations were conducted on 100 inpatient medical record documents. The findings revealed that 62% of the medical record documents were returned late. Most informants (60%) stated that excessive workload was the primary obstacle, while 57% of the medical record documents were incomplete and 60% of the informants had not fully implemented the SOPs. These results indicate that high workload, incomplete medical record documentation, and inadequate implementation of SOPs are the main factors affecting the timely return of inpatient medical record documents. Therefore, improving compliance with SOPs, optimizing workload management, and strengthening supervision of document completeness are essential to enhance the quality and efficiency of medical record services.
IoT-enabled smart nutrition scale using fuzzy logic for dietary assessment and recommendation Wahyu Wijaya Widiyanto; Edy Susanto; Sri Suparti
IAES International Journal of Artificial Intelligence (IJ-AI) Vol 15, No 2: April 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijai.v15.i2.pp1194-1201

Abstract

Childhood malnutrition, particularly stunting, remains a major public health challenge that requires preventive and technology-supported nutritional interventions. This study presents an IoT-enabled smart nutrition scale integrated with fuzzy logic to support real-time dietary assessment and personalized recommendation. The system combines IoT-based sensing, mobile and web applications, and a fuzzy inference engine that evaluates child profiles and food composition data to generate nutritional adequacy scores and tailored dietary guidance. Experimental validation demonstrates high measurement accuracy of the sensing system, achieving a strong linear correlation (R² ≈0.9995). Comparison with expert nutritionist assessments shows strong agreement, supported by low error values (mean absolute error (MAE) =2.96; root mean square error (RMSE) =3.41), and Bland–Altman analysis. Usability evaluation involving community health workers and caregivers yields an excellent system usability scale (SUS) score, indicating strong acceptance for practical deployment. By integrating IoT sensing with fuzzy reasoning, the proposed system shifts nutritional monitoring from retrospective assessment toward proactive dietary intervention. This work highlights the potential of intelligent nutrition technologies to enhance decision-making in community-based stunting prevention programs and provides a scalable foundation for preventive digital health applications.
ANALISIS KELENGKAPAN ISI FORMULIR INFORMED CONSENT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MUTU REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT PANTI WALUYO YAKKUM SURAKARTA Ajeng Kusuma Wardani; Sri Suparti; Frestiany Regina Putri
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/sb89sh65

Abstract

Kelengkapan formulir Informed Consent dijadikan sebagai salah satu indikator mutu rekam medis yang harus memenuhi standar sebesar 100%. Namun, ketidaklengkapan pengisian formulir Informed Consent masih ditemukan di Rumah Sakit Panti Waluyo Yakkum Surakarta, terutama pada aspek autentifikasi dan pencatatan, sehingga mutu serta kekuatan hukum rekam medis dapat dipengaruhi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis kelengkapan isi formulir Informed Consent sebagai upaya peningkatan mutu rekam medis di Rumah Sakit Panti Waluyo Yakkum Surakarta. Metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif digunakan dalam penelitian ini. Data diperoleh melalui observasi dan dokumentasi terhadap 227 formulir Informed Consent periode triwulan I tahun 2025 dengan menggunakan pedoman observasi. Variabel yang diteliti mencakup identifikasi pasien, laporan penting, autentifikasi, dan pencatatan. Proses analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan identifikasi pasien mencapai 100%, laporan penting 98%, autentifikasi 86%, dan pencatatan 96%. Ketidaklengkapan masih ditemukan pada item nama dan tanda tangan saksi keluarga serta adanya coretan pada formulir yang disebabkan oleh pengisian yang dilakukan dengan terburu-buru, beban kerja yang tinggi, dan kurangnya ketelitian dari petugas. Dari hasil analisanya, dapat ditarik kesimpulan bahwa standar pelayanan minimum untuk rumah sakit yang ditetapkan sebesar 100% dalam kelengkapan formulir Informed Consent belum sepenuhnya terpenuhi, sehingga perlu diadakannya pengawasan secara rutin, sosialisasi prosedur standar operasi, dan pengembangan sistem Informed Consent yang berbasis digital.
EVALUASI SISTEM INFORMASI KHANZA MENGGUNAKAN KERANGKA PIECES DI KLINIK PRATAMA GRIYA MEDIKA UTAMA 2 KARANGANYAR Rina Fitriyani; Frestiany Regina Putri; Sri Suparti
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/gjg0ph26

Abstract

Sistem informasi kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer perlu dievaluasi agar mampu mendukung pelayanan yang efektif, efisien, dan aman. Sistem Informasi Khanza telah digunakan di Klinik Pratama Griya Medika Utama 2 Karanganyar sejak April 2024, tetapi pengguna masih menghadapi akses lambat pada jam sibuk, logout otomatis, dan kebutuhan login ulang setelah pemadaman listrik. Penelitian deskriptif ini menggunakan pendekatan kualitatif. Populasi sasaran terdiri atas 14 pengguna sistem; data diperoleh dari 10 informan utama dan satu penanggung jawab klinik sebagai informan triangulasi sumber. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, kemudian dianalisis berdasarkan enam aspek PIECES: performance, information, economy, control, efficiency, dan service. Tabulasi deskriptif menunjukkan penilaian baik pada aspek performance (90%), information (100%), economy (100%), control (100%), efficiency (90%), dan service (100%). Pengguna menilai sistem memudahkan pencarian dan input data, mengurangi pekerjaan berbasis kertas, mendukung pembatasan akses, dan membantu alur kerja. Meskipun demikian, aspek performance dan efficiency masih terkendala akses lambat pada jam sibuk, logout otomatis, dan pemulihan sistem setelah listrik padam. Sistem Informasi Khanza dipersepsikan baik oleh pengguna pada seluruh aspek PIECES. Temuan ini menggambarkan penilaian pengguna pada satu klinik dan bukan pengujian objektif terhadap performa sistem, keamanan informasi, efektivitas biaya, atau kepuasan pasien. Pemeliharaan berkala, pemantauan jaringan dan server, evaluasi pengaturan batas waktu sesi, serta verifikasi pemulihan cadangan data perlu dilakukan.
ANALISIS PELAKSANAAN PEMUSNAHAN REKAM MEDIS INAKTIF DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SALATIGA Natasha Firanandani Putri; Sri Suparti; Rizka Licia
Indonesian Journal of Health Research Innovation Vol. 3 No. 3 (2026): Indonesian Journal of Health Research Innovation
Publisher : Yayasan Menawan Cerdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64094/rb79dv60

Abstract

Penumpukan rekam medis kertas yang inaktif dapat menurunkan efisiensi penyimpanan serta meningkatkan risiko kerusakan, kehilangan, dan kebocoran informasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan pemusnahan rekam medis inaktif di RSUD Kota Salatiga menggunakan kerangka 4M yang diadaptasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini dilaksanakan di Instalasi Rekam Medis pada Oktober 2025–Maret 2026. Informan dipilih secara purposif, terdiri atas dua petugas filing dan Kepala Instalasi Rekam Medis sebagai informan triangulasi sumber. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan telaah dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan triangulasi sumber. Analisis difokuskan pada faktor Man, Money, Method, dan Management. Rekam medis inaktif tahun 2018–2024 belum dimusnahkan dan sebagian dipindahkan ke ruang bekas hemodialisis. Kedua petugas filing berlatar belakang pendidikan di luar Rekam Medis dan Informasi Kesehatan serta belum pernah mengikuti pelatihan terkait; satu petugas belum memiliki pengetahuan prosedural yang memadai. Anggaran khusus dan mekanisme pendanaan belum tersedia. SOP telah tersedia, tetapi belum menjelaskan masa simpan dan jadwal pemusnahan secara tegas. Kebijakan tertulis, perencanaan kegiatan, tim khusus, monitoring rutin, dan jadwal berkala belum tersedia. Pemusnahan rekam medis inaktif belum terlaksana secara optimal. Hambatan utama berupa kelemahan yang saling berkaitan pada kompetensi petugas, pembiayaan, kejelasan prosedur, dan tata kelola manajemen.