Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Sosialisasi Penerapan Biosecurity Sebagai Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Pada Ternak Kerbau Arnold Ismael Kewilaa; Yulina Tiwery; Ary S. lekiohapy; Windy Sopla; Marlisye Laitera; Wasti Yakobus; Ellen F. Kaidara; Ino F. Kuara; Dina Meikudy; Mersi Y. Aitiawasima; Evi Marisa Korleru; Marlista Dolwoy; Gresia D. Keiwury; Gresya Sairtory
Pandawa : Pusat Publikasi Hasil Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2025): Januari: Pandawa : Pusat Publikasi Hasil Pengabdian Masyarakat
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/pandawa.v3i1.1537

Abstract

The aim of this activity is to provide understanding to buffalo breeders regarding the importance of implementing biosecurity in preventing disease transmission in livestock, increase breeders' awareness of biosecurity measures that must be taken in the livestock environment, and equip breeders with practical knowledge about ways to prevent disease through implementation of biosecurity. This activity was carried out using an outreach method involving the community and the Head of Syota Hamlet and his staff. The methods used in this activity are: Material Presentation and Interactive Discussion. Some common biosecurity applications are access control, animal movement control, cleanliness and sanitation, waste management, health monitoring and vaccination. This socialization activity was successfully attended by around 35 people in the program target area. Most breeders showed an increased understanding of the importance of implementing biosecurity after following the socialization. Farmers claim to be ready to implement biosecurity measures such as quarantining new livestock, managing livestock waste, and providing good sanitation in the livestock environment. Some farmers also asked for further assistance regarding more specific biosecurity implementation, such as how to properly vaccinate livestock. In this socialization, several biosecurity measures were emphasized to be applied to buffalo livestock, including: quarantine of new livestock, cleanliness of pens and the environment, prevention through vaccination, waste management, protection of workers and visitors.
Farmers' Ability in Estrus Detection and Mating Time Determination For Moa Buffalo Cows In Moa District, Southwest Maluku Regency Ismael Kewilaa, Arnold; Lewan Dolewikou, Risart; Gairtua, Barnabas; Sairudy, Albertus; Harmoko, Harmoko
Advances In Social Humanities Research Vol. 3 No. 1 (2025): Advances In Social Humanities Research
Publisher : Sahabat Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/adv.v3i1.352

Abstract

The purpose of this study was to determine the ability of breeders in the detection of heat and determination of mating time in Moa buffalo mothers in Moa District, Southwest Maluku Regency. This research is planned to take place for 1 month from September to October 2024 in Moa District, Southwest Maluku Regency. Determination of sample villages by purposive sampling by considering the density of buffalo population and in accordance with the geographical villages/hamlets on Moa island, namely the western region (Pati and Werwaru villages), the central region (Klis and Nyama villages), and the eastern region (tounwawan and Poliwu). The number of respondents interviewed was 60 people. Data collection was carried out by interview. Respondents were selected through purposive sampling with the criteria of having at least 3 female buffaloes and at least 1 male and having been in the business for more than 5 years. Observational variables included: breeder's ability to detect lambing, post partum mating timing, and mother productivity including: age at first mating, pregnancy rate, birth rate, post partum mating and preweaning mortality. The data obtained were tabulated, analyzed using descriptive statistical analysis by calculating the percentage, average and standard deviation. The results showed that 58.33% of farmer respondents in Moa Sub-district, Southwest Maluku Regency had knowledge and ability in the moderate category in detecting lambing, 40.00% of farmers had knowledge and ability in the low category, and 1.67% of farmers had knowledge and ability in the good category. 100% of farmer respondents in Moa Sub-district, West Maluku District did not have the knowledge and ability to determine the right mating time after parturition. The potential productivity of Moa buffalo mothers is as follows: age at first mating 37.17 ± 2.42 months, pregnancy rate 77.20%, birth rate 97.66%, post partum mating 12.47 ± 0.85, and preweaning mortality 19.76%.
Sosialisasi dan Demonstrasi Pembuatan Bakso Daging Sapi Kepada Kelompok PKK Desa Moain Kecamatan Moa Alam, Asmirani; Welerubun, Inggrid; Kewilaa, Arnold I; Sairudy, Albertus; Gairtua, Barnabas
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v6i1.4997

Abstract

Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan istilah yang telah dikenal luas yang biasanya diasosiakan sebagai perkumpulan ibu-ibu yang memiliki kegiatan positif. PKK adalah organisasi kemasyarakatan untuk memberdayakan perempuan dan berpartisipasi dalam pembangunan kesejahteraan Indonesia. Desa Moain merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Moa dan memiliki kelompok PKK yang aktif melakukan berbagai kegiatan guna menggerakkan dan membina masyarakat dengan sasaran keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat untuk mewujudkan keluarga sejahtera. Ternak sapi merupakan salah satu sumber utama daging yang bisa diolah menjadi berbagai macam produk makanan yang bernilai gizi tinggi. Pemanfaatan daging sapi sudah banyak dilakukan menjadi beberapa produk olahan seperti bakso, nugget, sosis, rendang, sate, dendeng, corned beef dan juga abon daging sapi. Pada kegiatan PKM ini, produk olahan yang dibuat adalah bakso daging sapi. Bakso adalah makanan populer di Indonesia yang terbuat dari daging sapi giling yang dicampur dengan tepung dan bumbu-bumbu, kemudian dibentuk menjadi bola-bola kecil. Kendala yang dihadapi adalah sebagian masyarakat, khususnya ibu-ibu rumah tangga belum memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam membuat bakso. Oleh karena itu, diharapkan dengan adanya kegiatan pelatihan ini dapat memberi tambahan pengetahuan dan keterampilan dalam mengolah daging sapi menjadi produk bakso yang bergizi, sehat dan nikmat. Kegiatan ini melibatkan ibu-ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok PKK di desa Moain. Kegiatan pengabdian diawali dengan survei potensi desa, pengumpulan data, sosialisasi tentang produk bakso dan kemudian dilanjutkan dengan teknik pengolahannya serta praktik demonstrasi pembutan bakso. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini berlangsung dengan baik dan mendapat respons positif dari para peserta. Keinginan mereka untuk mempraktikkan pembuatan bakso sendiri menunjukkan antusiasme serta potensi keberlanjutan dari kegiatan PKM ini
Analisis Profitabilitas Usaha Sapi Potong di Kecamatan Lolong Guba Kabupaten Buru Matatula, Michel Johan; Kewilaa, Arnold Ismael; Sarfan, Riri
Journal of Comprehensive Science Vol. 3 No. 8 (2024): Journal of Comprehensive Science (JCS)
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v3i8.847

Abstract

Usaha ternak sapi potong akan bernilai guna yang lebih tinggi jika faktor-faktor produksi yang dimiliki dapat digunakan secara efektif dan efisien untuk mendapatkan keuntungan yang layak, sehingga menjamin keberlanjutan usaha guna kesejahteraan peternak. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pendapatan, profitabilitas dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan usaha sapi potong. Survei dilaksanakan di Kecamatan Lolong Guna Kabupaten Buru yang berlangsung pada bulan Agustus 2023. Sebanyak 3 desa yakni desa Wanakarta, Waegeren dan Grandeng ditetapkan sebagai desa sampel dan 60 orang responden ditentukan secara purposive sampling dengan kriteria telah memelihara sapi potong lebih dari 3 tahun dan melakukan penjualan ternak dalam satu tahun terakhir. Analisis pendapatan dan profitabilitas dilakukan untuk mengetahui kelayakan usaha serta analisis regresi linier berganda untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan. Rata-rata pendapatan usaha sapi potong adalah sebesar Rp. 4.492.900 pertahun dengan nilai profitabilitas sebesar 47,37 %. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pendapatan usaha sapi potong adalah biaya produksi, jumlah ternak yang dipasarkan dan harga jual ternak ; sedangkan kepemilikan ternak tidak berpengaruh terhadap pendapatan.
Pengaruh Kemampuan Deteksi Estrus, Jumlah Induk dan Jumlah Pejantan Terhadap Jumlah Kebuntingan Induk Kerbau Moa dengan Sistem Pemeliharaan Ekstensif Lellola, Ismo Erickson; Kewilaa, Arnold Ismael; Dolewikou, Risart Lewan
Kalwedo Sains (KASA) Vol 6 No 1 (2025): Kalwedo Sains (KASA), Maret 2025
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav6i1p41-48

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemampuan deteksi estrus, jumlah induk dan jumlah pejantan terhadap jumlah kebuntingan induk kerbau Moa dengan sistem pemeliharaan ekstensif. Kegiatan penelitian ini berlangsung pada bulan Agustus-September 2024 yang dilaksanakan di Kecamatan Moa Kabupaten Maluku Barat Daya. Penentuan desa sampel secara purposive sampling dengan kriteria memiliki populasi kerbau terbanyak sehingga desa sampel yang terpilih adalah Desa Klis, Desa Werqwaru, dan Desa Tounwawan. Teknik penentuan responden peternak secara purposive sampling dan terpilih sebanyak masing-masing 20 responden pada 3 desa sampel sehingga responden berjumlah 60 orang. Alat dan bahan yang digunakan antara lain kuisioner (daftar pertanyaan), alat tulis menulis, kamera dan materi penelitian yang digunakan adalah peternak kerbau Moa. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan deteksi estrus (X1), jumlah induk kerbau (X2), jumlah pejantan (X3) dan jumlah kebuntingan (Y). Data penelitian dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan kemampuan deteksi estrus, jumlah induk dan jumlah pejantan berpengaruh signifikan terhadap jumlah kebuntingan. Kemampuan deteksi estrus, jumlah induk, jumlah pejantan memiliki pengaruh yang positif terhadap jumlah kebuntingan, namun secara parsial hanya jumlah induk kerbau Moa yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap jumlah kebuntingan.
Hematological Profile in Free-Range Chickens at The Age Of 4, 8, 12 Weeks Horhoruw, Wiesje; Kewilaa, Arnold Ismael
Advances In Social Humanities Research Vol. 2 No. 5 (2024): Advances in Social Humanities Research
Publisher : Sahabat Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/adv.v2i5.241

Abstract

The purpose of this study was to determine the hematological profile in hens at the ages of 4, 8, and 12 weeks. The research lasted for 4 months, and its implementation was in the Laboratory of the Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Pattimura University. The livestock commodities used in this study were native chickens in the age groups of 4, 8, and 12 weeks. Each age group will have 4 pieces of blood drawn. The variables observed are hematological values, namely the number of erythrocytes, hemoglobin levels, and hematocrit values. The results showed that the age of native chickens had a significant effect on hematocrit values and hemoglobin levels, while the average number of erythrocytes did not differ markedly. The average number of erythrocytes, hematocrit values, and hemoglobin levels of native chickens at the ages of 4, 8, and 12 are still within the normal range.
Sosialisasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada Peternak di Desa Tutukey Kecamatan Pulau Leti Kabupaten Maluku Barat Daya Arnold Ismael Kewilaa; Louisa Sarah Kamanasa; Amelia Engli Rumabatu; Karolina Seska Gisberthus; Dominggas E .L. Heriola; Tabita Mirulewan; Dalenia Payara; Natalia Ailerpitu; Yandre T. Samadara; Ningsih Teterma Mose; Sarah Tersia Sarak; Novalina Malwewan; Yohana R Leunupun; Marselina Hematang; Susanti Blessintya Tetrapoik
Svarga Pena : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 2 No. 3 (2025): September :Svarga Pena : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62951/svargapena.v2i3.164

Abstract

The purpose of this activity is to socialize foot and mouth disease (FMD) to livestock breeders in Tutukey Village, Pulau Leti District, Southwest Maluku Regency. This activity was carried out in Tutukey Village, Pulau Letti District, Southwest Maluku Regency which took place in August 2025. The target of this activity was cattle breeders in Tutukey Village. The implementation of this activity includes 2 stages, namely: preparation and implementation. The implementation of the activity began with an approach to village officials and livestock communities in Tutukey Village by KKN students from the Off-Campus Study Program (PSDKU) of Pattimura University, Southwest Maluku Regency, Batch LII Wave I. Then a short interview was conducted to identify problems in the livestock sector. Based on the approach and problem identification, several problems were found related to cattle deaths caused by disease, lack of feed and clean water availability. In addition, the community was also shocked by information about the spread of foot and mouth disease on the island of Java, so this issue needed to be raised in a scientific discussion space through socialization activities. Based on these activities, the following conclusions can be drawn: Increased information, knowledge, and understanding of the causes, characteristics, spread, impacts, and prevention of FMD, and increased motivation among livestock farmers to develop their cattle farming businesses.