Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENGABDIAN MASYARAKAT PERANCANGAN AKSESIBILITAS GAMAT BAY NUSA PENIDA Wahyudi Linggasani, Made Anggita; Ida Bagus Gede Parama Putra; Dewa Ayu Nyoman Sriastuti
Jurnal Abdi Masyarakat Vol. 7 No. 2 (2024): Jurnal Abdi Masyarakat Mei 2024
Publisher : Universitas Kadiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jaim.v7i2.5199

Abstract

Kawasan Eksisting Gamat Bay sebagian besar terdapat kawasan hutan lindung yang kedepannya akan diusulkan menjadi salah satu DTW Gamat Bay. Hutan lindung memiliki pesona yang tidak kalah dengan pesisir gamat Bay namun potensinya belum banyak dikenal orang. Oleh karena itu Desa Sakti ingin mengembangkan DTW Gamat Bay sebagai ekspansi daya tarik yang ditawarkan bagi wisatawan untuk menikmati sudut lain dari Pulau Nusa Penida. Terdapat lima pilar yang dapat berperan dalam pengembangan pariwisata terhadap kawasan Nusa Penida khususnya Gamat Bay yang terdiri dari Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas, Ancilleries dan Comunity Involvement. Kawasan Hutan Lindung dalam kawasan Gamat Bay di Desa Sakti memiliki luasan sekitar 33 hektar sebagai Hutan Lindung. Secara harfiah perancangan aksesibilitas dan RTH dapat menjadi hal utama dalam perancangan kawasan pariwisata sebagai penghubung antar zona maupun antara fasilis. Pada umumnya aksesibilitas merupakan derajat kemudahan pencapaian maupun penggunaan baik terhadap lingkungan maupun objek serta pelayanan. Aksesibilitas terbagi atas dua, yakni aksesibilitas fisik dan non fisik, aksesibilitas fisik meliputi akses pada bangunan umum, akses pada jalan umum, pada pertamanan dan pemakaman umum, dan taman kota. Aksesibilitas dirancangan sebagai penghubung area antar zona serta sebagai akses terhadap fasiltias-fasilitas penunjang pariwisata pada Kawasan Hutan Lindung. Perancangan aksesibilitas sangat memperhitungkan faktor-faktor dasar dalam merencanakan aksesibilita yang lebih aksesibel dan mendukung kegiatan konservasi hutan lindung
SOSIALISASI PENGEMBANGAN EKOWISATA MELALUI MATERPLAN FASILITAS PENUNJANG WISATA DI DESA LEBIH, GIANYAR, BALI Wijaya, I Kadek Merta; Sriastuti, Dewa Ayu Nyoman; Antarini, Lilik
Jurnal Abdi Daya 40-52
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22225/jad.5.2.2025.40-52

Abstract

Desa Lebih, yang terletak di Kabupaten Gianyar, Bali, memiliki potensi besar dalam pengembangan ekowisata berbasis alam dan budaya lokal. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal dan masih menghadapi berbagai tantangan khususnya dalam hal perencanaan fasilitas penunjang dan keterlibatan masyarakat serta kurangnya pemahaman masyarakat mengenai konsep ekowisata yang berkelanjutan. Kegiatan sosialisasi pengembangan ekowisata melalui penyusunan masterplan fasilitas penunjang wisata bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat setempat mengenai pentingnya pengembangan fasilitas penunjang ekowisata yang ramah lingkungan dan berbasis partisipasi komunitas. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi observasi lapangan, wawancara dan diskusi kelompok terarah/ focus group discussio (FGD), serta penyusunan masterplan yang melibatkan pemangku kepentingan lokal serta masyarakat. Materi sosialisasi mencakup konsep dasar ekowisata, identifikasi potensi lokal, peran serta masyarakat, serta desain fasilitas yang sesuai dengan prinsip ekowisata. Hasil kegiatan menunjukkan adanya antusiasme dan partisipasi aktif dari masyarakat, serta munculnya beberapa usulan konkret terkait pengembangan fasilitas seperti jogging track, lapangan mini soccer, tempat meditasi dan yoga, tempat even gathering,wedding, restoran, glamping, kolam renang dan pemandian air panas,water tubbing, information centre dan stand UMKM berbahan lokal. Selain itu, kegiatan ini memperkuat sinergi antara warga, aparat desa, dan pelaku wisata dalam merancang rencana pengembangan fasilitas penunjang ekowisata berbasis potensi lokal untuk mendukung implementasi masterplan.Diharapkan melalui kegiatan ini, Desa Lebih dapat menjadi contoh desa wisata yang mengedepankan prinsip keberlanjutan, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Keberlanjutan program ini memerlukan dukungan lintas sektor, serta pendampingan berkelanjutan dalam proses perencanaan dan implementasi pengembangan ekowisata.