Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENINGKATAN DAYA JUAL PRODUK MADU KELULUT KHAS KALIMANTAN MELALUI BRANDING DAN PACKAGING Restiana Rusida, Esty; Aditya Noviadi Rakhmatullah; Muhammad Hidayatullah; A. Yanie
Jurnal Pengabdian Masyarakat (Jupemas) Vol. 6 No. 2 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jupemas.v6i2.1762

Abstract

Madu telah lama dikenal dan diketahui manfaatnya oleh manusia. Semua aktivitas dan produk yang dihasilkan oleh madu mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia. Madu dimanfaatkan dalam berbagai kepentingan, baik sebagai bahan baku obat maupun kosmetik. Cluster peternak madu kelulut di kecamatan karang intan ini bernama Maleponini dimana klaster ini mengembangkan budidaya madu kelulut. Meskipun produksi madu tergolong melimpah, penjualannya masih sangat terbatas karena strategi pemasarannya yang hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini dihadirkan untuk memberikan pendampingan kepada anggota cluster Maleponini Madu Kelulut dalam hal branding, pengemasan produk. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 28 Mei 2025. Dengan brand yang menarik, kemasan produk yang berkualitas, dan strategi pemasaran yang tepat, diharapkan usaha madu kelulut dapat lebih bersaing di pasar. Kegiatan pengabdian ini melibatkan beberapa tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi.Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman peserta mengenai branding, pengemasan produk, dan pemasaran digital sebesar 75 %. Selain itu, peserta kegiatan juga berhasil menciptakan merek "Honey Kelulut" dengan desain kemasan yang menarik serta konten promosi yang dibagikan melalui media sosial dan platform e-commerce.
Pengaruh Aplikasi Program Pill Time terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi di Kelurahan Loktabat Selatan Banjarbaru Rusida, Esty Restiana; Akbar, Depy Oktapian; Saputra, Mochammad Maulidie Alfianoor; Wati, Helmina; Yanie, A.
BORNEO JOURNAL OF PHARMASCIENTECH Vol 10 No 1 (2026): Borneo Journal of Pharmascientech
Publisher : Universitas Borneo Lestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59053/bjp.v10i1.784

Abstract

One of the diseases experienced by people throughout the region is hypertension. The increase in cases of hypertension is one of the causes of premature death worldwide. Patient compliance in consuming medication can affect the success of hypertension therapy, so appropriate intervention is needed as a recommendation for further therapy to control blood pressure and prevent complications by using appropriate media, easy to use and can be accessed anytime and anywhere using the Pill Time Program Application technology. The of this study was to determine the effect of the Pill Time program application on increasing medication adherence in hypertension patients in South Loktabat Village. This study used a pre-experimental method with a one-group pre-test and post-test design. 99 respondents were selected using simple random sampling. The research data were then analyzed using the Wilcoxon test. The results of the analysis show that the Pill Time program application has an influence on medication adherence in hypertension patients with a Sig. (2-tailed) value of 0.000 < 0.05.
Pengaruh Tingkat Pengetahuan, Motivasi dan Faktor Obat Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi di Puskesmas Kota Banjarbaru Tahun 2017 Esty Restiana Rusida; Rosihan Adhani; Roselina Panghiyangani
Journal of Pharmascience Vol. 4 No. 2 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i2.5766

Abstract

Hipertensi memberikan kontribusi untuk hampir 9,4 juta kematian akibat penyakit kardiovaskuler setiap tahun. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepatuhan minum obat. Kasus/pasien hipertensi di kota Banjarbaru terjadi peningkatan yang signifikan dibanding kabupaten lain yaitu sebesar 375%. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan, motivasi, faktor obat terhadap kepatuhan minum obat pasien hipertensi di Puskesmas Banjarbaru, Puskesmas Sei Besar dan Puskesmas Cempaka Kota Banjarbaru tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan rancangan penelitian cross sectional. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang diuji validitas dan reliabilitas. Analisis data yang dilakukan berupa analisis univarian, bivarian, dan multivarian. Hasil penelitian menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat (p Value= 0,000,Exp B=0,264). Tidak ada pengaruh yang signifikan antara motivasi dengan kepatuhan minum obat (p value= 0,622) di Puskesmas Banjarbaru, Puskesmas Sei Besar dan Puskesmas cempaka pada tahun 2017. Ada pengaruh yang signifikan antara faktor obat dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi (p value = 0,002, Exp B= 0,022). Kesimpulan yang didapat yaitu pengetahuan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di Puskesmas Banjarbaru, Puskesmas Sei Besar dan Puskesmas cempaka pada tahun 2017 (p value = 0,000, Exp B= 0,264). Kata kunci: hipertensi, pengetahuan, motivasi, obat
Analisis Theory of Action (TRA) terhadap Niat Menggunakan Obat Tradisional Pada Masyarakat Kota Banjarbaru Aprillia Rahmadina; Muhammad Hafiz Anwari; Esty Restiana Rusida; Ravenalla Abdurrahman Al Hakim Sampurna Putra S
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 1 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i1.18017

Abstract

Penduduk Indonesia, khususnya penduduk di wilayah Kota Banjarbaru memiliki persentase yang tinggi dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisional menggunakan pengobatan jenis ramuan, di mana hal ini dapat menjadi hal penting bagi industri farmasi dalam menentukan strategi pasar. Penelitian bertujuan menilai niat masyarakat Kota Banjarbaru dalam penggunaan obat tradisional yang diuji dengan Theory of Reasoned Action (TRA). Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross sectional). Penelitian menggunakan 102 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner model Theory of Reasoned Action. Analisis yang dilakukan adalah uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik dan uji regresi linear berganda yang dilanjutkan dengan uji T dan uji F. Hasil penelitian menunjukan masyarakat Kota Banjarbaru memiliki sikap positif (95,10%), norma subjektif positif (94,14%), dan niat yang positif (99,02%) terhadap penggunaan obat tradisional. Terdapat hubungan pada kategori kuat dengan nilai R = 0,698 dan pengaruh sebesar 47,6% secara simultan dari sikap dan norma subjektif terhadap niat. Dari masing-masing variabel terdapat hubungan pada kategori sedang dengan nilai r1 = 0,405 dan pengaruh dari sikap (0,209), serta hubungan pada kategori rendah dengan nilai r2 = 0,378 dan pengaruh dari norma subjektif (0,176) terhadap niat. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa terdapat pengaruh antara variabel sikap dan norma subjektif terhadap variabel niat dalam menggunakan obat tradisional pada masyarakat di wilayah Kota Banjarbaru. Kata Kunci: Proporsi, Pengobatan, Sikap, Norma, Konsumen The Indonesian population, especially the population in the Banjarbaru City area, has a high percentage of utilization of traditional health services using herb-type treatment, which can be important for the pharmaceutical industry in determining market strategies. The purpose of this study was to determine the intention of Banjarbaru city residents to use traditional medicine tested by the Theory of Reasoned Action (TRA). This research is an observational analytic study with a cross-sectional design. The study used 102 respondents who met the inclusion and exclusion criteria.. The “Theory of Reasoned Action” questionnaire model was used as an instrument. The nalyses performed included validity and reliability tests, classical assumption tests, and multiple linear regression tests, followed by t and F tests it continued. The results showed that the people of Banjarbaru City had a positive attitude (95.10 %), positive subjective norms (94.14%), and positive intentions (99.02%) toward the use of traditional medicine. There is a relationship in the strong category (R = 0.698) and the effect of 47.6% simultaneously from attitudes and subjective norms on intentions. From each variable, there is a relationship between the medium category (r1 = 0.405) and the effect of attitude (0.209), as well as a relationship in the low category (r2 = 0.378) and the effect of subjective norms (0.176) on intentions. The conclusion of this study is that there is an influence between attitude variables and subjective norms on the intention variable in using traditional medicine by the community in the Banjarbaru City area.
Comparison Of HbA1c Levels in Type II Diabetes Mellitus Patients Receiving A Combination of Oral Hypoglycemic Drugs and Insulin Degludec-Aspart Versus Insulin Degludec-Aspart Monotherapy Helmina Wati; Syahrizal Ramadhani; Esty Restiana Rusida; Muhammad Raffyqurrahman
Journal of Pharmascience Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v12i2.22242

Abstract

Diabetes melitus tipe II merupakan penyakit kelebihan glukosa yang disebabkan oleh menurunnya kinerja insulin dalam tubuh. Kriteria utama dalam manajemen glukosa darah adalah kadar HbA1c. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi perbedaan kadar HbA1c pada pasien diabetes melitus tipe II yang mendapatkan terapi kombinasi obat hipoglikemik oral dan insulin degludec-aspart dibandingkan dengan pasien yang menerima monoterapi insulin degludec-aspart. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu cross-sectional secara retrospektif pada bulan Januari-Desember 2023 dengan jumlah sampel sebanyak 66 pasien yang dibagi menjadi 2 kelompok. Nilai HbA1c yang diperoleh dari bulan pertama hingga bulan ketiga dianalisis secara statistik menggunakan independent sample t-test dengan uji SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan penurunan kadar HbA1c pada kombinasi terapi obat hipoglikemik oral + insulin degludec-aspart sebelum dan sesudah dengan selisih nilai ± SD sebesar (1,565 ± 1,10)% dan penurunan nilai HbA1c ± SD pada monoterapi insulin degludec-aspart sebelum dan sesudah dengan selisih nilai (1,05 ± 0,74)% dengan nilai p (<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan penurunan nilai HbA1c pada kedua kelompok dengan nilai p (<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi oral lebih efektif daripada monoterapi.  Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe II, HbA1c, Insulin Degludec-Aspart, Obat Hipoglikemik Oral, Kombinasi Terapi. Type II diabetes mellitus is a condition marked by hyperglycemia due to reduced effectiveness of insulin within the body.The main criterion in blood glucose management is HbA1c level. The objective of this research was to assess the difference in HbA1c levels between type 2 diabetes patients treated with a combination of oral hypoglycemic agents and insulin degludec-aspart versus insulin degludec-aspart alone. This research method uses a retrospective cross-sectional research design in January-December 2023 with a total sample of 66 patients divided into 2 groups. HbA1c values collected from the first to the third month were analyzed using the independent sample t-test in SPSS version 21. The Medical Research Ethics Commission of Ulin Banjarmasin Regional General Hospital South Kalimantan has approved this study. HbA1c levels in the combination of oral hypoglycemic drug therapy and insulin degludec-aspart pre- and post- with a difference in ± SD value of (1.565 ± 1.10)% decrease and a decrease in HbA1c ± SD value in insulin degludec-aspart mono-therapy pre- and post- with a difference in value (1.05 ± 0.74)% with a p-value (<0.05).This study concludes that the reduction in HbA1c levels between the two groups differs significantly, as indicated by a p-value of less than 0.05. This implies that the use of oral combination is more effective than mono-therapy.