Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Aspek Sosial Budaya Masyarakat Suku Sasak Lombok dan Nilai Pendidikan Novel Sri Rinjani Karya Eva Nourma (Sebuah Kajian Sosiologi Sastra) Alpan Ahmadi; Husni Dwi Syafutri
JURNALISTRENDI : JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN Vol 5 No 1 (2020)
Publisher : Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jurnalistrendi.v5i1.198

Abstract

Novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang menggambarkan sosial budaya masyarakat di kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menjelaskan 1) latar belakang sosial budaya pengarang; 2) aspek sosial budaya novel Sri Rinjani; dan 3) nilai pendidikan yang terdapat dalam novel Sri Rinjani karya Eva Nourma. Penelitian ini merupakan penelitian deskripfif kualitatif. Metode yang digunakan adalah analisis isi (content analysis). Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu; 1) Secara sosio-historis pengarang, karya Eva Nourma bernuansa kearifan lokal bahkan multikultural dengan menjadikan suku Sasak sebagai ikon penciptaannya; 2) aspek sosial budaya masyarakat Sasak meliputi pekerjaan sebagai petani, nelayan, buruh kasar, pemecah batu, dan pengembala. Tingkat pendidikan dan taraf hidup masyarakat Sasak di pedesaan masih rendah. Adat atau kebiasaan masyarakat Sasak melestarikan budaya Bau Nyale. Masyarakat Sasak mayoritas beragama Islam sebagaimana Lombok diberi gelar Pulau Seribu Masjid dan Serambi Madinah. Dan masyarakat Sasak meyakini bahwa nyale bisa sebagai obat, perekat manusia, azimat, dan mendekatkan jodoh; 3) Nilai pendidikan pada novel Sri Rinjani adalah religius meliputi; pelaksanakan sholat. Nilai sosial meliputi; sikap kepedulian terhadap masyarakat lemah, sikap tolong menolong, dan sikap tanggungjawab. Karakter meliputi; religius, kerja keras, peduli sosial, dan tanggung jawab. Adat/budaya meliputi; kebiasaan masyarakat dalam tradisi Bau Nyale yang mencerminkan perdamaian dan kepedulian terhadap budaya sendiri serta membangun Berugak sebagai tempat menjamu tamu dan bercengkerama dengan keluarga.
Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa SD Kelas Rendah di SDN 7 Langkai Palangkaraya: Analysis Of Beginning Difficulties of Reading in Low Grade Elementary Students at SDN 7 Langkai Palangkaraya Siti Arnisyah; Husni Dwi Syafutri; Lastaria Lastaria
Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar Vol. 8 No. 1 (2022): Tunas: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/tunas.v8i1.4491

Abstract

Penelitan ini bertujuan untuk menganalisis kesulitan dalam membaca permulaan pada peserta didik di SD 7 Langkai, Kota Palangkaraya. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah banyaknya peserta didik di kelas rendah yang mengalami kesulitan dalam membaca. Tentu saja ini menjadi perhatian dalam dunia Pendidikan. Kemampuan membaca merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Jika kemampuan ini tidak diperoleh secara utuh di kelas rendah, tentu akan berdampak pada pemerolehan ilmu pengetahuan pada jenjang kelas selanjutnya. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang berfokus pada studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta dokumentasi.  Pengumpulan data wawancara dan observasi dihimpun dalam bentuk catatan deskripsi yaitu data alami yang diperoleh tanpa melakukan interpretasi terhadap data tersebut. Reduksi data dilakukan dengan melakukan seleksi, membuat catatan singkat, menggolongkan data untuk mempertegas agar dapat ditarik simpulan. Hasil penelitian ini adalah (1) di kelas 1 ditemukan 15 siswa yang memiliki kesulitan dalam membaca. Dari 15 siswa tersebut, 10 siswa kesulitan dalam menghafa abjad dari A-Z. Sedangkan 5 siswa yang lain adalah siswa yang mengalami kesulitan dalam membedakan huruf yang memiliki bentuk yang hampir sama seperti huruf b dan d, huruf p dan q, huruf I kapital dan huruf l kecil.  (2) Di kelas 2 hampir semua belum bisa membaca, dengan kriteria 10 siswa mengalami kesulitan dalam mengeja huruf yang memiliki lebih dari tiga suku kata, contohnya seperti pada kata ‘pelangi [pe-la-ngi]’. Sedangkan tiga siswa yang lainnya adalah siswa yang memiliki kesulitan dalam mengenal huruf A-Z. (3) 12 orang siswa belum bisa membaca lancar. Ke-12 siswa tersebut memiliki kesulitan dalam mengeja huruf dalam satu kalimat sederhana.