Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Hubungan Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi Dengan Jarak Tempuh ke Puskesmas Sekolaq Darat Kabupaten Kutai Barat Annafiatuzakiah; Sinaga, Clara Ritawany; Elvinda, Esty; Oktaviya, Hana
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v5i1.4910

Abstract

Bagi pasien hipertensi kepatuhan dalam menjalani pengobatan dapat mempengaruhi kesembuhan pasien. Faktor yang mempengaruhi kepatuhan pasien hipertensi adalah jarak rumah dengan fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, Rumah Sakit, dan fasilitas lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan penggunaan obat pasien hipertensi dengan jarak tempuh ke Puskesmas Sekolaq Darat Kabupaten Kutai Barat. Penelitian ini dilaksanakan pada periode Mei-Juni 2023 dengan metode observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode Non- probability sampling dengan teknik Purposive Sampling, alat ukur yang digunakan adalah kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS-5) dan di analisis menggunakan metode univariat dan bivariat dengan skala likert dan data di analisis menggunakan SPSS 26.0 dengan menggunakan uji Chi-Square. Sampel yang diteliti sebanyak 80 responden yang terdiri dari pasien hipertensi yang tercatat di Puskesmas Sekolaq Darat. Penelitian menunjukan kategori kepatuhan tinggi sebanyak 35%, kategori kepatuhan sedang sebanyak 65%, dan kategori kepatuhan rendah sebanyak 0%. Hasil uji bivariat didapatkan bahwa nilai antara kepatuhan penggunaan obat hipertensi tidak berhubungan signifikan dengan jarak tempuh ke Puskesmas (p = 0,940) >0,05. Hal ini menunjukkan bahwa faktor jarak bukan merupakan determinan utama kepatuhan terapi pada pasien hipertensi di wilayah tersebut. Dengan demikian, upaya peningkatan kepatuhan pasien sebaiknya difokuskan pada faktor lain seperti edukasi pasien, motivasi internal, dukungan keluarga, serta pemantauan terapi secara berkesinambungan oleh tenaga kesehatan.
PENGUKURAN INDEKS UTILITAS MENGGUNAKAN INSTRUMEN EORTC QLQ-CX24 DAN EQ-5D-5L PASIEN KANKER SERVIKS YANG MENJALANI KEMOTERAPI Sinaga, Clara Ritawany; Annafiatuzakiah; Elvinda, Esty; Allunan, Febyola Sascia
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v5i1.4916

Abstract

Kanker serviks adalah suatu kondisi yang merupakan pertumbuhan sel abnormal dalam tubuh menjadi sel kanker, sehingga kanker serviks termasuk penyakit kronis dan untuk mempertahankan kualitas hidupnya penderita menjalani pengobatan kemoterapi. Pengukuran indeks utilitas perlu dilakukan, terutama apabila pasien mengalami komplikasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui indeks utilitas, dan hubungan komplikasi terhadap indeks utilitas pada pasien kanker serviks dengan kemoterapi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Subyek penelitian adalah pasien kanker serviks yang menjalani kemoterapi rawat jalan di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode Maret – Mei 2023. Metode pengambilan data dilakukan dengan pengambilan data di rekam medik, dan wawancara langsung dengan menggunakan instrumen EORTC QLQ- CX24 dan EQ-5D-5L. Analisis yang digunakan adalah Chi-square. Hasil penelitian diperoleh nilai indeks utilitas pasien yang diukur dengan EORTC QLQ-CX24 pada skala fungsional sebesar 63,33±19,959 dan skala gejala 24,537±10,892. Sedangkan hasil penelitian yang diukur dengan EQ-5D-5L diperoleh nilai indeks utilitas pasien sebesar 0,696±0,198. Hasil uji statistik menujukkan nilai signifikansi >0,05 pada indeks kualitas hidup yang berarti bahwa tidak terdapat hubungan antara komplikasi terhadap indeks utilitas baik pada instrumen EORTC QLQ- CX24 maupun EQ-5D-5L.
GAMBARAN PENGELOLAAN OBAT DI PUSKESMAS X TAHUN 2022 Elvinda, Esty; Sinaga, Clara Ritawany; Annafiatuzakiah; Dewanti, Christy Alma
Duta Pharma Journal Vol. 5 No. 1 (2025): Duta Pharma Journal
Publisher : Universitas Duta Bangsa Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47701/djp.v5i1.4945

Abstract

Pengelolaan obat dilakukan dengan optimal untuk menjamin tercapainya tepat jenis, jumlah, penyimpanan, waktu pendistribusian, penggunaan dan mutu tiap unit pelayanan kesehatan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengelolaan obat di Puskesmas X pada tahun 2022. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif evaluatif dengan metode kuantitatif dan kualitatif. Pengambilan data dilakukan secara prospektif yaitu pengambilan data melalui wawancara mendalam kepada Kepala Puskesmas dan Apoteker Puskesmas dan retrospektif yaitu pengambilan data dengan pengamatan langsung dan dokumen. Analisis data dilakukan secara deskriptif dengan menghitung nilai dari 21 indikator yang kemudian dibandingkan dengan standar yang ada. Sebanyak 7 indikator ditemukan memenuhi standar. Hasil penelitian menunjukan kesesuaian item dengan FORNAS 84,32%, ketepatan perencanaan 57,95%, kesesuaian item permintaan 57,63%, kesesuaian jumlah permintaan 197,05%, kesesuaian item penerimaan 51,27%, kesesuaian jumlah penerimaan 56,58%, penyimpanan narkotika 85,71%, penyimpanan LASA 83,33%, ketepatan distribusi Pustu Juhan Asa 85,71%, ketepatan distribusi Pustu Geleo 87,5%, item stok kosong 45,19%, item obat <1 bulan - <12 bulan 5,50%, item obat aman 21,19%, item stok berlebih 20,34%, obat tidak diresepkan 6,78%, nilai obat ED 9%, nilai obat rusak 0%. Secara keseluruhan, sebagian besar indikator belum memenuhi standar yang ditetapkan, sehingga perlu dilakukan perbaikan berkelanjutan dalam sistem pengelolaan obat.
Study of Medicine Dosage Adjustments in Inpatients with Chronic Kidney Disease Weking, Katharina Kening; Geografi, Liniati; Sinaga, Clara Ritawany
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 14, No 3
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.88181

Abstract

Background: Decreased kidney function in patients with Chronic Kidney Disease (CKD) necessitates dose adjustment, especially for medicines that have a narrow therapeutic index to avoid unwanted medicine effects.Objectives: The purpose of this study was to determine the medicine dosage adjustments in CKD patients and their therapy outcomes.Methods: This type of research is descriptive with a retrospective approach. The sample in this study is the medical records of inpatient CKD patients at Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Hospital for the period May to November 2022. Calculation of GFR (Glomerular Filtration Rate) uses the MDRD (Modification of Diet in Renal Disease) formula.Results: The results showed that the sex of most patients was male as many as 56.25%. The age of most patients in the range of 53-59 years old as many as 33.75%. Most CKD severity level is stage 5 as many as 91.25%. The most common comorbidities were hypertension (61 patients), diabetes mellitus (15 patients), and edema or pulmonary edema (11 patients). There were 77 patients requiring dose adjustment out of a total of 80 patients. There were 149 (34.89%) medicines requiring dose adjustment out of a total of 427 medicines, with the 5 most medicines being calcium carbonate (24.16%), furosemide (24.16%), metoclopramide (10.74%), paracetamol (10.74%), and ranitidine (7.39%). There were 128 (85.91%) medicines with doses appropriate to the Lexicomp 2023 or Renal Pharmacotherapy 2013. The therapy outcome improved in patients who required dose adjustments by 90.91%.Conclusion: It is recommended to calculate GFR using a new formula such as eGFR using CKD-EPI, and collecting data with a larger number of samples.
REVIEW ARTIKEL : STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK BERDASARKAN PERMENKES NOMOR 73 TAHUN TAHUN 2016 DI INDONESIA Annafiatuzakiah; Clara Ritawany Sinaga; Esty Elvinda
Jurnal Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2025): Februari
Publisher : CV. ADIBA AISHA AMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Drug information services are activities to provide and give information, independent, accurate, unbiased, current and comprehensive drug recommendations so that medication errors occur by pharmacists to patients and the public who need drug information so that they can increase the success of therapy, maximize the effects of therapy and minimize the risk of side effects of drugs. Pharmacies are established as one of the pharmaceutical service facilities that provide drugs and medical devices with guaranteed quality and safety. Pharmaceutical services are carried out by pharmacists who are one of the drug information services (PIO). PIO is an activity carried out by pharmacists in providing impartial information about drugs, and is critically evaluated and proven to be the best in all aspects of use. This study aims to be data for consideration of pharmaceutical service analysis in Pharmacies. This study used the literature method. search on research journals, 25 research journals published from 2017-2022. The results of the study show that most of the pharmaceutical services by pharmacists in pharmacies are in accordance with Permenkes No 73 of 2016.
Penerapan Swamedikasi Obat Modern dan Obat Tradisional Penyakit Gastritis pada Kader Kesehatan SMAN 12 Pontianak: Implementation of Self-Medication Practices Using Modern and Traditional Medicines for Gastritis Among Health Cadres at SMAN 12 Pontianak Sinaga, Clara Ritawany; Kusharyanti, Indri; Aprianti, Indah
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat: Kesehatan Vol. 5 No. 4 (2025): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Notokusumo Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Gastritis merupakan salah satu gangguan pencernaan yang sering dialami oleh remaja terutama akibat pola makan yang tidak teratur dan stres. Salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi gejala gastritis ringan adalah melalui pengobatan sendiri. Namun, rendahnya tingkat pengetahuan remaja mengenai penggunaan obat modern dan tradisional untuk gastritis dapat meningkatkan risiko terjadinya medication error. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa sebagai kader kesehatan mengenai pengobatan sendiri gastritis secara rasional melalui edukasi berbasis terapi farmakologi dan nonfarmakologi. Kegiatan dilaksanakan di SMAN 12 Pontianak dengan melibatkan 25 siswa yang tergabung ke dalam kader kesehatan. Metode pelaksanaan meliputi edukasi klasikal, diskusi, penggunaan alat demonstrasi obat, dan pengisian angket pretest dan posttest untuk mengukur peningkatan pengetahuan. Terjadi peningkatan nilai rata-rata pengetahuan siswa dari 58,8 (pretest) menjadi 77,6 (posttest). Selain itu, tingkat kepuasan terhadap kegiatan mencapai 87,2% yang menunjukkan bahwa metode edukasi diterima dengan baik dan dinilai bermanfaat. Pendidikan pengobatan sendiri gastritis berbasis farmakologi dan bahan alami secara signifikan meningkatkan pengetahuan kader kesehatan siswa. Program ini efektif dan dapat digunakan sebagai model untuk pendidikan serupa di lingkungan sekolah lainnya.   Abstract: Gastritis is one of the most common digestive disorders experienced by adolescents, primarily due to irregular eating habits and stress. One strategy to manage mild gastritis symptoms is self-medication. However, the low level of adolescent knowledge regarding the use of modern and traditional medicines for gastritis can increase the risk of medication errors. This community service activity aimed to enhance students' understanding, as health cadres, of rational self-medication for gastritis through education based on pharmacological and non-pharmacological therapy. The program was conducted at SMAN 12 Pontianak, involving 25 students who serve as school health cadres. The implementation methods included classical education sessions, discussions, the use of drug demonstration tools, and the administration of pre- and post-test questionnaires to measure knowledge improvement. There was an increase in the average student knowledge score from 58.8 (pre-test) to 77.6 (post-test). In addition, the satisfaction rate with the activity reached 87.2%, indicating that the educational methods were well-received and considered beneficial. Pharmacology- and natural product-based self-medication education significantly improved the knowledge of student health cadres. This program proved to be effective and could serve as a model for similar educational initiatives in other school settings.
Interprofessional Education Learning Evaluation: Based on Core Competencies Interprofessional Education Collaborative Haulaini, Shahiroh; Mita, Mita; Elvinda, Esty; Annafiatuzakiah, Annafiatuzakiah; Sinaga, Clara Ritawany
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 15, No 4
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.105581

Abstract

Background: The Interprofessional Education (IPE) Collaboration emphasizes  4 core crucial for effective collaboration   in health services. The four core competencies included values and ethics, roles and responsibilities, communication, teams, and collaboration.Objectives: This study aimed to evaluate the results of IPE learning at Tanjungpura University based on IPEC core competencies.Methods: A cross-sectional design was adopted, and data were collected through an online survey. The respondents comprised undergraduate students at the Faculty of Medicine at Tanjungpura University who had participated in IPE and were willing to fill out the questionnaire. Data were analyzedwith Jamovi software version 2.6.19 for descriptive and statistical analysis. The study examined the correlation of age, gender, and study program with IPE Core Competency statement.Results: A total of 101 respondents completed the survey, consisting of 80.20% females and 19.80% males, with an average age of 21.2 years. These respondents were enrolled in study programs of Pharmacy (85.15%), Medicine (8.9%), and Nursing (5.94%). No significant correlations were found  between age and gender with understanding of IPE Core Competencies (p-value > 0.05). However a correlation was observed between study programs and understanding of IPE Core Competencies statement "I had the opportunity to learn what interprofessional relationships are like" (p value <0.05), linked to roles and responsibilitiesConclusion:  IPE participation helps students achieve the four Core Competencies. Understanding of thsese competencies was not influenced by age or gender, but was related to study program, particularly in the core competencies of roles and responsibilities.
Hubungan Tingkat Pendidikan dan Literasi Obat dengan Manajemen Penggunaan Parasetamol dalam Swamedikasi Demam di Komunitas Erwansani, Enggy; Sinaga, Clara Ritawany; Yophita, Cindy
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.23680

Abstract

Masyarakat Indonesia sering melakukan swamedikasi untuk mengatasi demam. Penanganan demam pada anak sangat tergantung pada peran orang tua. Tingkat pendidikan orang tua berpengaruh terhadap swamedikasi demam karena swamedikasi membutuhkan pengetahuan obat yang memadai dan tepat. Parasetamol merupakan obat yang sering digunakan untuk mengatasi demam pada anak karena relatif aman, sehingga menjadi pilihan lini pertama pada demam anak. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan tingkat pendidikan orang tua terhadap pemilihan bentuk sediaan dan dosis parasetamol dalam upaya swamedikasi demam. Penelitian ini mencari hubungan tingkat pendidikan orang tua dengan pemilihan bentuk dan dosis sediaan parasetamol dalam upaya swamedikasi demam masyarakat di salah satu Kota pada provinsi kalimantan timur. Sampel penelitian adalah orang tua yang memiliki anak dengan usia 0 bulan - 12 tahun dan pernah menggunakan parasetamol dalam rangka swamedikasi demam. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan rancangan cross-sectional. Pengambilan data dilakukan dengan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah Chi-Square. Hasil dari penelitian antara tingkat pendidikan dengan bentuk sediaan adalah 0,4070,05, dan untuk hasil penelitian dari tingkat pendidikan dengan dosis sediaan adalah 0,1180,05. Dalam hal ini berarti H0 diterima, tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pemilihan bentuk dan dosis sediaan.