Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI CASEL UNTUK MENINGKATKAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA KELAS XI.4 SMAN 5 JEMBER Rahma, Tasya Anindya; Suryaningrum, Christine Wulandari; Rahayu, Sri
EDUPEDIA Vol. 9 No. 1 (2025): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ed.v9i1.3359

Abstract

Penelitian ini memiliki tujuan untuk dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa melalui penerapan Problem Based Learning yang diintegrasikan dengan komponen CASEL (Collaborative for Academic, Social, and Emotional Learning). Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, dimana pada masing-masing siklus mencakup tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi, serta refleksi. Adapun subjek penelitian adalah siswa kelas XI.4 di SMAN 5 Jember. Data didapat melalui tes tertulis, observasi, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis untuk melihat perkembangan kemampuan komunikasi matematis dan tingkat ketuntasan belajar. Indikator penilaian mencakup kemampuan ekspresi matematika (mathematical expression), kemampuan menulis (written text), dan kemampuan menggambar (drawing). Kemampuan komunikasi matematis siswa mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahap prasiklus hingga siklus II. Pada tahap awal (prasiklus), rata-rata skor yang diperoleh siswa berada pada angka 67,02. Rata-rata tersebut kemudian terjadi peningkatan pada siklus I menjadi 73,63, dan terus meningkat hingga mencapai 83,89 pada siklus II. Sejalan dengan itu, tingkat ketuntasan belajar siswa pun menunjukkan perkembangan yang positif. Pada siklus I ketuntasan siswa baru mencapai 48,48%, pada siklus II presentase meningkat hingga mencapai 91,17%. Hasil dari penelitian dapat menunjukkan bahwa penerapan PBL yang terintegrasi dengan CASEL secara positif mendukung pengembangan komunikasi matematis siswa serta memperkuat keterampilan sosial dan emosional, sehingga dapat menjadi pendekatan inovatif dalam pembelajaran
REPRESENTASI SEMIOTIK SISWA DALAM MENGONSTRUKSI KONSEP KESEBANGUNAN DAN KEKONGRUENAN SEGITIGA BERDASARKAN TEORI DIENES Vizha, Arsuti Arsuti; Fatqurhohman, Fatqurhohman; Suryaningrum, Christine Wulandari
SIGMA Vol 11, No 1 (2025): SIGMA
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/sigma.v11i1.2653

Abstract

Representasi diartikan sebagai salah satu komponen penting dalam pembelajaran matematika untuk membantu siswa memahami konsep matematika. Representasi semiotik membantu siswa memahami konsep matematika melalui tanda, simbol, dan gambar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi semiotik siswa dalam mengkonstruksi konsep segitiga berdasarkan teori Dienes pada materi kongruensi dan simetri. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif dengan subjek siswa kelas VII-C SMPN 4 Jember. Data dikumpulkan melalui LKPD, wawancara, dan observasi. Subjek dalam penelitian ini berdasarkan pencapaian indikator representasi semiotik yaitu ikonik, simbolik, dan indeks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap bermain bebas, bermain aturan, dan kesamaan sifat, ketiga subjek menampilkan representasi ikonik. Pada tahap representasi dan simbolisasi, ketiga subjek mampu menampilkan 3 bentuk representasi semiotik yaitu ikonik, simbolik, dan indeks. Selanjutnya, pada tahap formalisasi semua subjek telah mencapai representasi semiotik simbolik dan indeks, meskipun dua subjek diantaranya masih melakukan kesalahan dalam penulisan perbandingan sisi.
Improving Reading Comprehension of Explanation Texts through Chunking Technique Yuliana, Febi Dwi; Mardiyana, Yeni; Musrifah, Musrifah; Suryaningrum, Christine Wulandari
Journal of Language Intelligence and Culture Vol. 7 No. 2 (2025): Journal of Language Intelligence and Culture
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jlic.v7i2.628

Abstract

This research uses the chunking technique to enhance students' reading comprehension of explanation texts. The study was performed as Classroom Action Research (CAR) with eleventh-grade students from a high school in Jember. It was done in two stages following the Kemmis and McTaggart approach, which includes planning, acting, observing, and reflecting. During the first stage, students learned the chunking technique through individual tasks. Results indicated that their reading comprehension had improved, as shown by a rise in average scores from 53.6 in the pre-test to 69.2 in the post-test. Still, some students found it hard to utilize the technique independently. In the second stage, cooperative learning and the Teaching at the Right Level (TaRL) approach were introduced to boost involvement and understanding. Students were grouped based on their skills and worked on explanation texts suited to their level. Consequently, the average score rose to 82.2. The results suggest that the chunking technique significantly enhances students' understanding of explanation texts, especially when paired with collaborative and differentiated teaching. It also encourages greater participation and self-assurance. This study concludes that chunking is an effective method for teaching reading, especially when adjusted to fit students' requirements and enhanced by organized group activities.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN CONNECTING, ORGANIZING, REFLECTING, EXTENDING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN MATEMATIKA Crismono, Prima Cristi; Suryaningrum, Christine Wulandari; Jatmikowati, Tri Endang
SIGMA Vol 9, No 2 (2024): SIGMA
Publisher : Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53712/sigma.v9i2.2315

Abstract

Fokus penelitian ini berkisar pada permasalahan hasil belajar yang dibawah standar. Kajian ini berfokus pada komponen yang mempengaruhi hasil belajar, atau model pembelajaran. Fokus penelitian ini berkisar pada sejauh mana model pembelajaran CORE berdampak pada prestasi belajar siswa. Model pembelajaran CORE dipilih secara khusus sebagai pendekatan pembelajaran untuk penyelidikan ini. Dengan menggunakan metode Quasi Experimental dengan desain non-comparable Control Group, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan penilaian, sedangkan uji t digunakan untuk menilai disparitas hasil belajar siswa antara kelompok eksperimen dan kontrol. Temuan penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen yang menggunakan model pembelajaran CORE memperoleh hasil belajar yang tinggi, sedangkan kelompok kontrol yang menggunakan model pembelajaran konvensional memperoleh hasil belajar yang tinggi dan rata-rata.
Need Analysis for Developing a Semiotic-Based Augmented Reality Media to Enhance Numeracy Literacy Among Deaf Children Suryaningrum, Christine Wulandari; Nafiah, Nafiah; Adwitiya, Asti Bhawika; Mubaroq, Syahrul
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 12, No 2 (2025): October 2025
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v12i2.14943

Abstract

AbstractThis study aims to analyze the needs for developing a semiotic-based Augmented Reality (AR) learning medium to enhance numeracy literacy among deaf students. A qualitative descriptive method was employed through open-ended questionnaires and interviews involving teachers at Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan, Jember Regency, Indonesia. The findings indicate that although 50% of teachers are familiar with AR technology, all participants expressed a strong need and enthusiasm for its implementation in numeracy instruction. Teachers perceived that the visual, interactive, and semiotic features of AR can transform abstract mathematical concepts into concrete and meaningful learning experiences that align with the visual learning strengths of deaf students. The study also revealed that color, animation, and three-dimensional visualization significantly enhance students’ attention and conceptual understanding. The integration of semiotic principles—icons, indices, and symbols—into AR design enables the representation of mathematical meaning through visual signs that are easily accessible and interpretable. This approach bridges the gap between symbolic understanding and experiential learning in mathematics. The findings highlight the significant potential of AR not only as a technological innovation but also as a semiotic learning environment that supports inclusive education for students with hearing impairments. Moreover, these results provide a theoretical and practical foundation for teacher training programs on the use of AR-based technology in special education contexts.Keywords: augmented reality, deaf learners, inclusive education, numeracy literacy semiotics.AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis kebutuhan pengembangan media pembelajaran Augmented Reality (AR) berbasis semiotik untuk meningkatkan literasi numerasi di kalangan siswa tuna rungu. Metode deskriptif kualitatif digunakan melalui kuesioner terbuka dan wawancara yang melibatkan guru di Sekolah Luar Biasa Negeri Branjangan, Kabupaten Jember, Indonesia. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun 50% guru familiar dengan teknologi AR, semua peserta menyatakan kebutuhan dan antusiasme yang kuat untuk menggunakan AR dalam pembelajaran numerasi. Guru merasa bahwa fitur visual, interaktif, dan semiotik AR dapat mengubah konsep matematika abstrak menjadi pengalaman konkret dan bermakna yang selaras dengan kekuatan pembelajaran visual siswa tuna rungu. Penelitian ini juga menemukan bahwa warna, animasi, dan visualisasi tiga dimensi secara signifikan meningkatkan perhatian dan pemahaman konseptual. Mengintegrasikan prinsip-prinsip semiotik ikon, indeks, dan simbol ke dalam desain AR memungkinkan representasi makna matematika melalui tanda-tanda visual yang mudah diakses dan diinterpretasikan. Pendekatan ini menjembatani kesenjangan antara pemahaman simbolik dan pengalaman dalam matematika. Temuan ini mengindikasikan adanya potensi besar untuk mengembangkan dan mengimplementasikan media AR sebagai inovasi teknologi tetapi sebagai lingkungan belajar semiotik yang mendukung pendidikan inklusif bagi siswa dengan gangguan pendengaran sekaligus menjadi dasar bagi pelatihan guru dalam pemanfaatan teknologi berbasis AR di sekolah luar biasa. Kata kunci: augmented reality, siswa tuna rungu, pendidikan inklusif, literasi numerasi, semiotik.
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PELUANG PADA SISWA SMP BERDASARKAN GENDER Fatqurhohman, Fatqurhohman; Jatmikowati, Tri Endang; Suryaningrum, Christine Wulandari
Jurnal Numeracy Vol 11 No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Pendidikan Matematika, Universitas Bina Bangsa Getsempena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46244/numeracy.v11i1.2612

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbedaan gender dalam pemecahan masalah siswa SMP. Tes dan wawancara terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data. Subjek penelitian adalah siswa Kelas VIII SMP Islam Ambulu-Jember yang berjumlah 11 (laki-laki) dan 9 (perempuan). Dari hasil evaluasi diketahui bahwa rata-rata nilai siswa perempuan tinggi (81,67) dan rata-rata kemampuan (61,67), sedangkan rata-rata nilai siswa laki-laki tinggi (85,56) dan kemampuan berbahasa (65). Karena perempuan lebih baik dalam bidang bahasa dan budaya, laki-laki lebih baik dalam bidang teknis. Perbedaan gender merupakan karakteristik psikologis yang menentukan bagaimana seseorang bertindak atau menyelesaikan masalah berdasarkan sudut pandang yang berbeda. Namun kemampuan menyelesaikan permasalahan tersebut tidak berbeda secara signifikan antara siswa laki-laki dan perempuan. Meskipun ada sedikit kesalahan terkait dengan kesalahpahaman makna pertanyaan dan mengandalkan tebakan alih-alih mengikuti prosedur yang ditetapkan. Oleh karena itu, anak laki-laki cenderung mengembangkan otak kiri yang bertanggung jawab atas pemikiran logis, abstrak, dan analitis, sedangkan anak perempuan cenderung mengembangkan otak kanan yang bertanggung jawab atas pemikiran artistik, keutuhan, imajinasi, dan rasionalitas. Oleh karena itu, keterampilan pemecahan masalah matematis bertujuan agar siswa dapat mengidentifikasi informasi yang relevan, menganalisis berbagai metode, dan mengembangkan keterampilan penalaran dan berpikir mereka.AbstractThis research examines gender differences in problem-solving among high school students. Tests and structured interviews were used to collect data. The research subjects were Class VIII students of Ambulu-Jember Islamic Middle School, totaling 11 (boys) and 9 (girls). From the evaluation results it is known that the average score of female students is high (81.67) and average ability (61.67), while the average score of male students is high (85.56) and language ability (65). Because women are better in language and culture, men are better in technical fields. Gender differences are psychological characteristics that determine how someone acts or solves problems based on different points of view. However, the ability to solve these problems is not significantly different between male and female students. Although there were a few errors related to misunderstanding the meaning of the questions and relying on guesswork instead of following the established procedures. Therefore, boys tend to develop the left brain which is responsible for logical, abstract and analytical thinking, while girls tend to develop the right brain which is responsible for artistic thinking, wholeness, imagination and rationality. Therefore, mathematical problems-solving skills aim to enable students to identify relevant information, analyze various methods, and develop their reasoning and thinking skills.
Playing Mathematics in Early Childhood Based on Semiotics Suryaningrum, Christine Wulandari; Misyana, Misyana; Jatmikowati, Tri Endang
Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/obsesi.v6i2.1341

Abstract

Playing mathematics in early childhood based on semiotics gives children the opportunity to identify objects, look for signs and interpret signs so that they can solve problems in games. This study aims to describe semiotic based early childhood mathematics play activities. The research was conducted at the PAUD Lab School, Muhammadiyah University of Jember. The research subjects were 5 children from group B. The results showed that the activities of playing mathematics in early childhood based on semiotics were (1) collecting information related to semiotic-based math games, (2) looking for objects that matched the game and counting the number of objects found, (3) looking for relevant signs and signs. that are relevant to the number of objects found, (4) associated with signs of knowledge that have been previously possessed and look for all signs according to the objects found, (5) the child retells the play that has been done
PENALARAN MATEMATIS SISWA DALAM MENGONSTRUKSI KONSEP LUAS DAERAH PERSEGI PANJANG Hasanah, Siti Uswatun; Suryaningrum, Christine Wulandari; Fatqurohman, Mohammad
Jurnal Silogisme : Kajian Ilmu Matematika dan Pembelajarannya Vol 8 No 1 (2023): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/silogisme.v8i1.4941

Abstract

Penalaran matematis adalah kemampuan seseorang dalam berpikir logis untuk dapat menarik kesimpulan baru berdasarkan fakta, konsep dan sumber yang dianggap relevan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran matematis siswa dalam mengonstuksi konsep luas daerah persegi panjang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data berasal dari siswa kelas 4 salah satu SD swasta di Kabupaten Jember. Hasil penelitian menunjukan bahwa bahwa ketiga subjek telah mengonstruksi konsep daerah luas persegi panjang sesuai dengan indikator penalaran matematis yaitu menarik suatu kesimpulan secara logis pada kegiatan menemukan konsep luas daerah persegi panjang dengan menggambar persegi panjang dan menutupi seluruh permukaan persegi pajang dengan persegi satuan. Kegiatan memprediksi jawaban serta proses pencarian solusi dari suatu masalah, subjek memanfaatkan pola serta hubungan untuk membuat analogi, subjek menggunakan persegi satuan untuk menemukan konsep luas pesegi panjang. Pada indikator memberikan suatu penjelasan berdasarkan model, sifat-sifat, fakta, serta hubungan, subjek mengkalikan jumlah persegi satuan yang lebih panjang dengan jumlah persegi satuan yang lebih pendek yang dimisalkan sebagai panjang dan lebar persegi panjang. Pada tahap menganalisis suatu situasi serta membuat generalisasi, subjek menemukan rumus luas persegi panjang serta memeriksa kembali kebenaran dari hasil pekerjaannya untuk lebih memastikan lagi bahwa hasil pekerjaannya sudah dapat dibuktikan kebenarannya
Multiple Representations Appear When Students Interpret Signs in Constructing Rectangle Concepts Suryaningrum, Christine Wulandari; Lestari, Rr. Putri Hawa Dwi
JTAM (Jurnal Teori dan Aplikasi Matematika) Vol 6, No 1 (2022): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jtam.v6i1.3965

Abstract

Multiple Representation the ability to use several mathematical expressions. The purpose of this study is to describe the representations that appear when students interpret the signs. Descriptive explorative research is used in this study with three elementary school students in the Jember Regency. The research was conducted teacher’s teaching process, recording students 'activities using field note sheets, and analyszing the results of students' notes when constructing concepts. The research findings showed that the subject interpreted the sign by investigating the sign and then using some interpretations to express his mathematical ideas in the form of writing, pictures, tables, numbers, and symbols. This shows when interpreting the subject's sign using multiple representations. The representations used are image, verbal, and symbol representations. The results of this study are useful for teachers to stimulate children to make more than one representation when constructing a rectangle concept. 
Improving Reading Comprehension of Explanation Texts through Chunking Technique Yuliana, Febi Dwi; Mardiyana, Yeni; Musrifah, Musrifah; Suryaningrum, Christine Wulandari
Journal of Language Intelligence and Culture Vol. 7 No. 2 (2025): Journal of Language Intelligence and Culture
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/jlic.v7i2.628

Abstract

This research uses the chunking technique to enhance students' reading comprehension of explanation texts. The study was performed as Classroom Action Research (CAR) with eleventh-grade students from a high school in Jember. It was done in two stages following the Kemmis and McTaggart approach, which includes planning, acting, observing, and reflecting. During the first stage, students learned the chunking technique through individual tasks. Results indicated that their reading comprehension had improved, as shown by a rise in average scores from 53.6 in the pre-test to 69.2 in the post-test. Still, some students found it hard to utilize the technique independently. In the second stage, cooperative learning and the Teaching at the Right Level (TaRL) approach were introduced to boost involvement and understanding. Students were grouped based on their skills and worked on explanation texts suited to their level. Consequently, the average score rose to 82.2. The results suggest that the chunking technique significantly enhances students' understanding of explanation texts, especially when paired with collaborative and differentiated teaching. It also encourages greater participation and self-assurance. This study concludes that chunking is an effective method for teaching reading, especially when adjusted to fit students' requirements and enhanced by organized group activities.