Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Nurturing Tradition, Embedding Local Islam: The Existence of the Besaprah Tradition in Sambas Malay Society Jaelani, Jaelani; Risa, Risa; Trisnawati, Hikmah
NALAR Vol 9 No 2 (2025): Islam in Social Sphere
Publisher : Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Islamic University of Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/njppi.v9i2.11053

Abstract

Globalization presents significant challenges to the existence of local wisdom, including the Besaprah tradition in Sambas Malay society. Therefore, this article aims to examine Besaprah as a dynamic and adaptive cultural practice that lies at the intersection of Sambas’ Malay cultural identity, local Islam, and efforts to maintain its existence amid social change and modernity. This study uses qualitative methods, including an oral history approach, and draws on document and literature reviews, as well as in-depth interviews with religious, traditional, and community leaders. Data were collected between April and May 2021, and sources were verified and analyzed using cultural history theories and concepts. The results show that Besaprah is an expression of the cultural identity of the Sambas Malay and a symbol of Islamic teachings, egalitarian values, social solidarity, and modesty. Support from religious and traditional leaders, state recognition through registration as Intangible Cultural Heritage (WBTb), and cultural festivals are methods used to preserve this tradition. In conclusion, Besaprah is an adaptive and dynamic cultural practice that helps the Sambas Malay community preserve its cultural identity, embody Islamic principles, and enhance social cohesion.
Pendampingan Sertifikasi Indikasi Geografis Tenun Cual Sambas sebagai Upaya Perlindungan Warisan Budaya dan Penguatan Reputasi Produk Khas Kabupaten Sambas Nur Astri Fatihah; Andri Hidayat; Hikmah Trisnawati; Lang Jagat
SWARNA: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 8 (2026): SWARNA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Agustus, 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/swarna.v5i8.4062

Abstract

Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat memiliki ragam kekayaan alam dan budaya yang khas. Namun belum ada satu pun produk khas lokal yang terdaftar dalam perlindungan indikasi geografis. Salah satu produk lokal yang memiliki potensi untuk didaftarkan indikasi geografisnya adalah produk tenun khas melayu Sambas. Reputasi kain tenun tradisional Sambas terutama kain songket sudah dikenal hingga mancanegara. Namun, tenun cual tidak memiliki reputasi dan image brand yang sama dengan kain songket Sambas. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan reputasi produk tenun cual Sambas sekaligus melestarikannya sebagai warisan budaya adalah melalui indikasi geografis. Permasalahannya, kelompok Masyarakat Peduli Indikasi Geografis (MPIG) Tenun Cual Sambas yang terdiri dari pengrajin dan pengusaha tenun seringkali tidak memiliki kapasitas, sumber daya, waktu, dan pemahaman yang cukup untuk menyusun dokumen tersebut. Untuk membantu MPIG Tenun Cual Sambas,  dilakukan kolaborasi tim pengabdi bersama dengan Pemerintah Kabupaten Sambas dan kanwil Kementerian Hukum RI Kalimantan Barat untuk mendampingi pendaftaran hingga sertifikasi indikasi geografis produk Tenun Cual Sambas.Pendampingan berlangsung selama hampir 2 tahun mulai dari pembentukan tim, sosialisasi, pendampingan penyusunan Dokumen Deskripsi Indikasi Geografis, asistensi, pemeriksaan substantif, revisi dokumen, hingga diperoleh sertifikat dan diserahterimakan kepada MPIG Tenun Cual Sambas.