Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pemberdayaan Teman Sebaya sebagai Upaya Pencegahan Risiko Bunuh Diri Pada Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Florensa, Florensa; Hidayah, Nurul; Limansyah, Dodik; Sari, Lintang; Yousriatin, Fajar
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.19988

Abstract

ABSTRAK Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental yang banyak terjadi pada remaja dan menjadi penyebab kematian kedua terbanyak pada individu berusia 15-29 tahun. Di Indonesia, angka bunuh diri remaja cukup tinggi, dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti depresi, kecemasan, stres, penyalahgunaan NAPZA, serta kurangnya dukungan sosial. Remaja di lembaga pembinaan memiliki risiko lebih besar terhadap stres berat dan pemikiran untuk mengakhiri hidup akibat tekanan lingkungan serta keterbatasan interaksi sosial. Oleh karena itu, diperlukan intervensi yang efektif guna mencegah risiko bunuh diri, salah satunya melalui pemberdayaan teman sebaya yang berperan dalam meningkatkan kesadaran serta menciptakan sistem dukungan dalam komunitas remaja. Program ini bertujuan untuk membekali remaja dengan pengetahuan mengenai pencegahan bunuh diri, sehingga mereka mampu mengenali faktor risiko, memahami pentingnya kesehatan mental di lingkungan sekitar, serta memberikan dukungan kepada teman sebaya yang berisiko. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk edukasi kepada remaja penghuni lapas melalui tahapan yang sistematis, mulai dari persiapan peserta, penyediaan sarana dan prasarana, hingga penyusunan materi edukasi yang relevan. Pelaksanaan program berlangsung pada Oktober 2024 di aula lapas dan diawali dengan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta. Setelah itu, penyampaian materi dilakukan secara interaktif mengenai faktor risiko bunuh diri, strategi pencegahan, serta peran teman sebaya dalam memberikan dukungan emosional. Program kemudian diakhiri dengan post-test untuk mengevaluasi peningkatan pemahaman peserta setelah mendapatkan edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan mampu meningkatkan kesadaran remaja terhadap faktor risiko bunuh diri serta membekali mereka dengan keterampilan dalam memberikan dukungan kepada teman sebaya. Selain itu, peserta juga menunjukkan kemampuan dalam melakukan deteksi dini terhadap individu yang berpotensi mengalami tekanan emosional berat. Dengan demikian, pemberdayaan teman sebaya terbukti menjadi strategi yang efektif dalam pencegahan risiko bunuh diri, terutama bagi remaja di lembaga pembinaan. Program ini tidak hanya membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih suportif, tetapi juga berkontribusi dalam menekan angka kejadian bunuh diri di kelompok usia remaja.  Kata Kunci: Lapas, Manajemen Stres, Risiko Bunuh DiriABSTRACT Suicide is a prevalent mental health issue among adolescents and is the second leading cause of death among individuals aged 15-29. In Indonesia, the suicide rate among teenagers remains high, influenced by various factors such as depression, anxiety, stress, substance abuse, and lack of social support. Adolescents in juvenile detention centers are at even greater risk of severe stress and suicidal thoughts due to environmental pressures and limited social interactions. Therefore, effective interventions are necessary to prevent suicide risks, one of which is peer empowerment, which plays a crucial role in raising awareness and creating a support system within adolescent communities. This program aims to equip adolescents with knowledge about suicide prevention, enabling them to recognize risk factors, understand the importance of mental health in their surroundings, and provide support to at-risk peers. The initiative was carried out through educational activities for juvenile detainees, following a structured process that included participant preparation, provision of facilities and infrastructure, and the development of relevant educational materials. The program was implemented in October 2024 at the detention center’s hall, beginning with a pre-test to assess participants’ initial understanding. This was followed by an interactive session covering suicide risk factors, prevention strategies, and the role of peers in providing emotional support. The program concluded with a post-test to evaluate participants’ knowledge improvement after the educational intervention. The results indicated that the education provided successfully increased adolescents’ awareness of suicide risk factors and equipped them with the skills to support their peers. Additionally, participants demonstrated the ability to conduct early detection of individuals experiencing severe emotional distress. Thus, peer empowerment has proven to be an effective strategy in suicide prevention, particularly for adolescents in juvenile detention. This program not only fosters a more supportive social environment but also contributes to reducing suicide rates among young individuals. Keywords: Prison, Stress Management, Suicide Risk
Education on Hospitalization Reactions to Increase Parental Involvement in Yarsi General Hospital, Pontianak Sari, Lintang; Kirana, Wahyu; Safitri, Dewin; Florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar
Jurnal Keperawatan Profesional (KEPO) Vol. 6 No. 1 (2025): Volume 6 Nomor 1 Mei 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/kepo.v6i1.1503

Abstract

Hospitalization not only causes anxiety and stress for children but also their parents. One of the factors behind this is the lack of parental knowledge about the disease and reactions to hospitalization, thus increasing anxiety which has an impact on the lack of parental participation in care. Parents with high anxiety levels tend to be less than optimal in caring for children while in the hospital, which can be shown by parental participation. This study aimed to analyze the effect of education on hospitalization reactions on parental participation in the children's room of Yarsi Pontianak General Hospital. The research design used was a quasi experiment with a pretest-posttest without control group approach. The sample size was 30 children who were treated in the pediatric room of Yarsi Pontianak General Hospital. The instrument used was a parent participation questionnaire that had been tested for validity and reliability. The bivariate test used Wilcoxon Signed Rank to identify the effect of education on hospitalization reactions on parental participation. The results of bivariate analysis using the Wilcoxon test obtained a p-value of 0,042 which indicated the effect of education on hospitalization reactions on parental participation. There is an effect of education about hospitalization reactions on parental participation in the children's room of Yarsi General Hospital Pontianak. Nurses are expected to be more active in involving parents in child care.
EFEKTIVITAS MANAJEMEN DIRI TERHADAP RESILIENSI REMAJA Florensa, Florensa; Nurul Hidayah; Fajar Yousriatin; Lintang Sari; Wahyu Kirana
Media Bina Ilmiah Vol. 19 No. 12: Juli 2025
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap berbagai tekanan psikologis. Resiliensi menjadi kemampuan penting yang perlu dikembangkan untuk menghadapi tantangan perkembangan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui peningkatan manajemen diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas manajemen diri terhadap resiliensi remaja di Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pendekatan pre-test post-test with control group. Sampel terdiri dari 80 remaja SMP yang dibagi secara acak ke dalam dua kelompok: kelompok eksperimen (n=40) yang mendapatkan pelatihan manajemen diri, dan kelompok kontrol (n=40) yang tidak mendapatkan intervensi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala resiliensi yang telah divalidasi. Analisis data menggunakan uji wilcoxon. Hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan pada skor resiliensi remaja kelompok eksperimen setelah intervensi (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan signifikan. Perbandingan antara kelompok juga menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik. Diskusi: Temuan ini menunjukkan bahwa manajemen diri berkontribusi positif dalam meningkatkan resiliensi remaja. Pelatihan manajemen diri dapat menjadi salah satu strategi efektif dalam penguatan mental dan sosial remaja di lingkungan pendidikan.
Hubungan Peran Serta Orangtua dan Sikap Perawat dengan Reaksi Hospitalisasi Pada Anak di Rumah Sakit Umum Yarsi Pontianak Sari, Lintang; Safitri, Dewin; Florensa, Florensa; Juliana, Diena; Anggreini, Yunita Dwi; Yousriatin, Fajar
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 5, No 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v5i6.18360

Abstract

ABSTRACT Hospitalization is a frightening situation for children. This is influenced by various factors including the age and stage of development of the child, previous experience of being treated, parental involvement and the attitude shown by the nurse during providing care. This study aims to identify the relationship between parents' participation and nurses' attitudes with children's hospitalization reactions in the children's room of Yarsi General Hospital Pontianak. The design used was descriptive with a cross-sectional approach. The sample involved in this study were 49 respondents who were selected by purposive sampling. Data collection used questionnaires of parental participation, atraumatic care and hospitalization stress. The data that has been collected was analyzed using the chi square test. The results showed that most parents had good participation (57.1%), good nurse attitude (71.4%) and positive hospitalization reaction (71.4%). The results of bivariate analysis showed that there was a relationship between parental participation (p=0.023) and nurse attitude (p=0.028) with hospitalization reactions. Parental participation and good nurse attitude can prevent negative reactions in children due to hospitalization. Keywords: Role of Parent, Nurse Attitude, Hospitalization Reaction  ABSTRAK Hospitalisasi merupakan situasi yang menakutkan bagi anak. hal ini dipengaruhi oleh berbagai factor diantaranya usia dan tahap perkembangan anak, pengalaman dirawat sebelumnya, keterlibatan orangtua dan sikap yang ditunjukkan oleh perawat selama memberikan perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara peran serta orangtua dan sikap perawat dengan reaksi hospitalisasi anak di ruang anak Rumah Sakit Umum Yarsi Pontianak. Desain yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 49 responden yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner peran serta orangtua, atraumatic care dan stress hospitalisasi. Data yang telah terkumpul dianalisis menggunakan uji chi square.Hasil penelitian didapatkan Sebagian besar orangtua memiliki peran serta yang baik (57,1%), sikap perawat baik (71,4%) dan reaksi hospitalisasi positif (71,4%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peran serta orangtua (p=0,023) dan sikap perawat (p=0,028) dengan reaksi hospitalisasi. Peran serta orangtua dan sikap perawat yang baik dapat mencegah terjadinya reaksi negatif pada anak akibat hospitalisasi. Kata Kunci: Peran Serta Orangtua, Sikap Perawat, Reaksi Hospitalisasi
Hubungan Kejenuhan Belajar (Learning Burn Out) Dengan Prodromal Early Psychosis Pada Remaja Kota Pontianak Islamiati, Islamiati; Florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 5 No. 2 (2023): July 2023
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v5i2.254

Abstract

Latar Belakang: Gangguan psikosis merupakan salah satu bentuk gangguan jiwa, yang dapat mengganggu banyak fungsi seperti kejiwaan, perkembangan saraf, neorologis dan medis. Psikosis ini sudah timbul pada masa kanak-kanak atau remaja yang menderita psikosis awal terjadi pada usia 15-20 tahun. Meningkatnya kejenuhan belajar (learning burnout) di kalangan remaja Kota Pontianak seperti yang sudah dipaparkan diatas, yang berpotensi menjadi faktor risiko munculnya gejala prodromal early psychosis. Kondisi ini, jika tidak diidentifikasi dan ditangani sejak dini, dapat mengarah pada gangguan mental yang lebih serius, sehingga memerlukan perhatian mendesak untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kesejahteraan mental dan perkembangan remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran antara kejenuhan belajar dengan prodromal early psychosis pada remaja Kota Pontianak. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan pendekatan cross sectional. Penentuan sampel menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 111 siswa. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode angket. Hasil: Remaja yang mengalami prodromal early psychosis dalam kategori tidak prodromal sebanyak 14 orang persentase (12,6%) dan prodromal sebanyak 97 orang persentase (87,4%). Kejenuhan belajar remaja dengan kategori rendah sebaganyak 89 orang persentase (80,2%), dan tinggi sebanyak 22 orang (19,8%). Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin responden yang terbanyak yaitu perempuan sebanyak 104 orang (94.6%). Dan karakteristik usia menunjukan usia rata-rata responden usia 15 tahun (100%). Hasil analisis univariat kejenuhan belajar dan prodroma early psychosis, pada variabel kejenuhan belajar dengan kategori rendah sebanyak 89 orang (80,2%), Sedangkan variabel prodroma early psychosis diketahui sebanyak 97 orang (87,4%) memperlihatkan adanya prodromal early psychosis. Saran: berdasarkan hasil dari penelitian ini agar dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan terhadap learning burn out yang mungkin memicu gejala prodromal psikosis pada remaja, serta dilakukan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami hubungan sebab-akibat antara learning burn out dan perkembangan psikosis di masa depan.
Efektifitas Model Terapi Modalitas dan Komplementer Seft terhadap Penurunan Tingkat Stres Pasca Bencana Pada Remaja Penyintas Bencana Gempa Bumi di Ponpes Minhajul Karomah Kabupaten Cianjur Hidayah, Nurul; Florensa, Florensa; Seprian, Dwin; Nisma, Nisma; Fathudin, Yogasliana
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.13234

Abstract

Bencana alam, salah satunya adalah gempa bumi, biasanya terjadi dengan cepat dan tanpa peringatan sebelumnya. Gempa yang telah terjadi di Cianjur pada Senin, 21 November 2022 kekuatan 5,6 Magnitudo berdampak merusak, sampai ratusan orang meninggal dan ribuan bangunan hancur. Cianjur salah satu wilayah di Jawa Barat yang terkena musibah di tahun ini, dan menambah daftar panjang bencana yang terjadi di Jawa Barat pada 2022. Kondisi ini dapat membuat korban bencana menjadi lebih rentan mengalami trauma. Penyitas bencana memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami masalah kesehatan fisik dan psikologis. Masalah ini dapat terjadi karena terbatasanya sumber-sumber dukungan sosial, material, dan personal. Penelitian ini bertujuan untuk Untuk mengetahui efektifitas terapi SEFT dalam menurunkan tingkat stres pasca bencana pada remaja penyintas bencana gempa bumi di Ponpes Minhajul Karomah Kabupaten Cianjur. Penelitian ini menggunakan one group pretest posttest design. Analisa data menggunakan paired t-test.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi SEFT mampu menurukan tingkat stres pasca bencana remaja penyintas bencana gempa bumi.
Gambaran Kesehatan Jiwa Relawan Remaja dalam Penanggulangan Bencana Hidayah, Nurul; Florensa, Florensa; Seprian, Dwin; Fathudin, Yogasliana
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 6 (2023): Volume 3 Nomor 6 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.104 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i6.10486

Abstract

ABSTRACT Mental health is a good emotional and psychological state, in which individuals can utilize their cognitive and emotional abilities, function in their communities, and meet their daily needs. The essence of mental health itself is more about the existence and maintenance of a healthy mentality. Disaster conditions will have various physical and psychological impacts for each individual, including disaster volunteers. This study aims to determine the description of mental health which includes emotional mental disorders, namely depression, anxiety and PTSD in adolescent volunteers in carrying out disaster management. This type of research is a descriptive research type, taking this sample using a total sampling technique. The research respondents were youth volunteers who were involved in flood disaster management in Melawi Regency who were members of the TSR-PMI and youth volunteers who were members of the West Java HIPGABI volunteer team who were directly involved in the Cianjur earthquake disaster management. The sample instrument is in the form of a digital questionnaire (Google Form) which is distributed through the Whatsapp Group communication network. The questionnaire used was a translated SelfReporting Questionnaire 29 questionnaire. The proportion of poor mental health was greater in the female sex (57%) compared to the male sex (44%). Furthermore, the proportion of poor mental health is greater in those aged 17-19 years (57%) compared to those aged 20-21 years (44%).The symptoms experienced by youth volunteers when they were involved in disaster management were the emergence of 3 complaints with the highest percentage not sleeping well (46%), getting tired easily (43%) and finding it difficult to make decisions (38%). Keywords: Mental Health, Adolescents, Disaster  ABSTRAK Kesehatan jiwa merupakan suatu keadaan emosional dan psikologis yang baik, dimana individu dapat memanfaatkan kemampuan kognisi dan emosi, berfungsi dalam komunitasnya, dan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Inti dari kesehatan mental sendiri adalah lebih pada keberadaan dan pemeliharaan mental yang sehat. Kondisi bencana akan memberikan berbagai dampak fisik maupun psikologis bagi setiap individu tidak terkecuali pada relawan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesehatan jiwa yang meliputi gangguan mental emosional yakni depresi, kecemasan dan PTSD pada relawan remaja dalam melakukan penanggulangan bencana. Jenis penelitian ini ialah jenis penelitian deskriptif, pengambilan sampel ini menggunakan teknik total sampling. Responden penelitian ialah relawan remaja yang terlibat dalam penanggulangan bencana banjir di Kabupaten Melawi yang tergabung dalam TSR-PMI dan relawan remaja yang tergabung dalam Tim relawan HIPGABI Jawa Barat yang terlibat langsung dalam penanggulangan bencana gempa Cianjur. .Instrumen sampel berupa kuesioner digital (Google Form) yang disebar melalui jejaring komunikasi Whatsapp Group. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner SelfReporting Questionneire 29 yang sudah diterjemahkan. Proporsi kesehatan mental yang buruk lebih besar terdapat pada jenis kelamin perempuan (57%) dibandingkan dengan jenis kelamin laki-laki (44%). Selanjutnya proporsi kesehatan mental yang buruk lebih besar terdapat pada usia 17-19 Th (57%) dibandingkan dengan usia 20- 21 Th (44%).Gejala yang dialami relawan remaja saat terlibat dalam penanggulangan bencana yakni munculnya 3 keluhan dengan persentase tertinggi adalah tidak tidur dengan nyenyak (46%), mudah lelah (43%) dan merasa sulit untuk membuat keputusan (38%). Kata Kunci: Kesehatan Mental,Remaja, Bencana 
Edukasi Caring Islami di Desa Temajuk Kabupaten Sambas Yousriatin, Fajar; Priyatnanto, Hendra; Florensa, Florensa; Sari, Lintang
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.15630

Abstract

ABSTRAK Perilaku caring mencerminkan pengetahuan, sikap dan perilaku yang dilandaskan oleh nilai kebaikan, perhatian, kasih sayang terhadap diri sendiri maupun orang lain. Caring bisa diberikan oleh siapa saja termasuk oleh keluarga atau orang terdekat terhadap anggota keluarga yang sakit dengan harapan dapat membantu mempercepat proses penyembuhan. Namun, masih banyak yang belum mengetahui bagaimana berperilaku caring, sehingga perlu dilakukannya edukasi terkait caring islami sehingga dapat meningkatkan pengertahuan masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang caring yang dibutuhkan keluarga dalam melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilaksanakan dengan metode edukasi kesehatan selama 60 menit yang diikuti oleh 30 orang. Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat sebelum mendapatkan edukasi sebagaian besar tingkat pengetahuan pada kategori rendah (50%). Kemudian setelah diberikan edukasi mengalami peningkatan sehingga kategori pengetahuan menjadi tinggi (83,33%). Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat setelah diberikan edukasi. Hal ini berarti edukasi yang diberikan sangatlah efektif. Selama kegiatan berlangsung responden sangat fokus dan antusias untuk bertanya terkait hal-hal yang mereka alami yang berkaitan dengan caring islami. Kata Kunci: Edukasi, Caring Islami, Keluarga  ABSTRACT Caring behavior reflects knowledge, attitudes and behavior that are based on the values of kindness, attention, compassion towards oneself and others. Caring can be given by anyone, including family or those closest to a sick family member in the hope that it can help speed up the healing process. However, there are still many who do not know how to behave caringly, so it is necessary to provide education regarding Islamic caring so that it can increase public knowledge. This activity aims to increase knowledge about caring that families need in providing care for sick family members. Community service activities were carried out using the health education method for 60 minutes, attended by 30 people. Results: The results of community service activities before receiving education were mostly the level of knowledge in the low category (50%). Then after being given education, it increased so that the knowledge category became high (83.33%). Based on the results above, it can be concluded that there has been an increase in public knowledge after being given education. This means that the education provided is very effective. During the activity, respondents were very focused and enthusiastic in asking questions regarding things they experienced related to Islamic caring. Keywords: Education, Islamic Caring, Family
LATIHAN KETERAMPILAN KOPING; SEBUAH UPAYA PROMOTIF DALAM KESEHATAN JIWA Florensa, Florensa; Nurul Hidayah; Fajar Yousriatin; Lintangsari, Lintangsari; Popy, Popy
Media Bina Ilmiah Vol. 19 No. 6: Januari 2025
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Remaja merupakan individu yang berada pada tahap transisi dari usia anak-anak menuju usia dewasa. Masa transisi ini berdampak pada kesehatan jiwa pada remaja. berbagai masalah kesehatan jiwa dapat muncul seperti adanya masalah psikologis, konflik hubungan sosial, maupun munculnya kecemasan hingga depresi. Diperlukan upaya peningkatan kesehatan jiwa yang berfokus pada remaja dalam langkah preventif masalah kesehatan jiwa untuk meningkatkan ketahanan jiwa remaja. Salah satu intervensi yang bisa diberikan kepada remaja untuk meningkatkan kesehatan jiwa adalah dengan meningkatkan resiliensi, mengembangkan harga diri dan cara mengelola emosi sebagai bentuk keterampilan koping. Tujuan: Untuk mengetahui efektifitas latihan keterampilan koping terhadap resiliensi, harga diri dan mekanisme koping remaja di Kota Pontianak. Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan pendekatan kontrol group pre-test post-test. Jumlah sampel 80 remaja, menggunakan teknik simple random sampling. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan resiliensi, harga diri dan mekanisme koping pada remaja di kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan: Latihan keterampilan koping mampu meningkatkan resiliensi, harga diri dan mekanisme koping remaja. Berdasarkan hal tersebut kami merekomendasikan latihan keterampilan koping sebagai upaya promotif untuk meningkatkan kesehatan jiwa remaja.
Hubungan Spiritualitas Dengan Keluhan Masa Menopause Pada Wanita Pra-Lansia Juliana, Diena; florensa, Florensa; Yousriatin, Fajar
Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah Vol. 10 No. 1 (2023): Jurnal Keperawatan 'Aisyiyah
Publisher : Universitas 'Aisyiyah Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33867/jka.v10i1.372

Abstract

Menopause merupakan fenomena biologis alami pada akhir fase reproduksi yang dialami setiap wanita pada masanya. Wanita menopause umumnya mengalami gejala fisik atau psikologis yang menyebabkan timbulnya berbagai macam keluhan. Berbagai faktor mempengaruhi keluhan masa menopause, salah satunya yaitu spiritualitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan spiritualitas dengan keluhan masa menopause pada wanita pra-lansia di Kota Pontianak.Penelitian ini merupakan studi kuantitatif deskriptif korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Responden yaitu wanita berusia 45-59 yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Perumnas II Pontianak. Sampel diambil menggunakan purposive sampling untuk mendapatkan 82 responden. Penelitian ini menggunakan kuesioner Menopause Rating Scale (MRS) dan Spiritual Well Being Scale (SWBS). Data dianalisa dengan menggunakan uji korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara tingkat spiritual dengan keluhan masa menopause pada wanita pra-lansia dengan p-value ? 0,05. Tingkat spiritual mempunyai pengaruh terhadap keluhan masa menopause yang dialami wanita pra-lansia. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat spiritual yang tinggi akan membantu menurunkan keluhan pada masa menopause, sehingga diharapkan wanita pra-lansia yang memasuki masa menopause dapat mempersiapkan kondisi spiritual untuk menghadapi keluhan pada masa menopause