Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

INTEGRATED TWIN TOWERS DAN ISLAMISASI ILMU Syaifuddin Syaifuddin
Jurnal Pendidikan Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies) Vol. 1 No. 1 (2013)
Publisher : UIN Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.057 KB) | DOI: 10.15642/jpai.2013.1.1.1-20

Abstract

BAHASA INDONESIA:Tulisan ini menunjukkan beberapa pemikiran sebagai berikut: Pertama, desain integrated twin towers dilakukan dalam rangka menyongsong perubahan IAIN menjadi UIN Sunan Ampel. Dalam desain integrated twin towers posisi keilmuan agama dan umum tidak dicampur menjadi satu, tetapi dibiarkan berjalan sendiri-sendiri, dan pada saat tertentu dipertemukan untuk saling berdialog. Dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi keilmuan umum, karena keilmuan umum dianggap sudah mapan, jadi biarkan berjalan secara wajar pada posisinya; yang penting di antara kedua keilmuan itu bisa saling berkomunikasi. Kedua, desain Islamisasi ilmu dilakukan dalam rangka mengkritisi keilmuan umum yang notabene banyak bersumber dari Barat dan bersifat sekuleristik, materialistik, dan individualistik. Dalam proses Islamisasi ilmu, keilmuan Islam berupaya mengintervensi keilmuan umum dalam rangka memfilterisasinya sehingga keilmuan tersebut menjadi Islami. Jadi Islamisasi ilmu berarti memberikan wawasan (world view) keislaman kedalam keilmuan umum. Ketiga, meskipun ada perbedaan di antara desain integrasi keimuan berbasis Islamisasi ilmu dengan integrated twin towers, namun juga ada persamaannya. Perbedaannya terletak pada proses (epistemologi)-nya. Dalam prosesnya, desain Islamisasi ilmu berusaha mengintervensi kajian keilmuan umum dengan pendekatan kajian keagamaan; sedangkan dalam desain integrated twin towers keilmuan agama tidak bermaksud mengintervensi kajian keilmuan umum. Persamaannya terletak pada kurikulum (ontologi) dan tujuan (aksiologi). Dalam hal kurikulum, keilmuan yang dikaji adalah bidang kajian keilmuan agama dan umum. Sementara dalam hal tujuan, Islamisasi ilmu dan integrated twin towers sama-sama bertujuan untuk mengintegrasikan keilmuan agama dan umum, mendialogkan, mengkomunikasikan, dan mensinergiskannya; sehingga menjadi keilmuan yang utuh-integral-integratif. ENGLISH:This paper shows some idea as follows: First, integrated design of the Twin Towers as the changing action from IAIN to UIN Sunan Ampel. The religion and general knowledge’s position of Twin Towers’ integrated design is not mixed into one, but it works individually, and at the certain time are united in mutual dialogue. Second, Islamize design is done in order to criticize the general knowledge which has western sources and are secular, materialistic, and individualistic. In the process to Islamize the knowledge, Islamic knowledge tries to intervene the general knowledge in order to filter it so the knowledge will be Islamized. Consequently, to Islamize knowledge is to give an Islamic concept into general knowledge. Third, there are the similarities and differences between integrated design knowledge based on Islamic knowledge and integrated Twin Towers. The difference is in its epistemology process. The similarity is in the curriculum (ontology) and objective (axiology). In the curriculum, the examined knowledge is religion and general knowledge. While the objective, Islamize knowledge and integrated Twin Towers aims to integrate religion and general knowledge, to dialogue, to communicate, and to synergy, so it can be a knowledge which is intact-integral-integrative. 
Komunikasi Antar Pribadi Ustadz Dan Santri Dalam Pembentukan Karakter Santri (Studi Pada Pondok Pesantren TMI Al-Amien Prenduan) Hasbul Hadi; Aulia Rini Fitriatul Khasanah; Syaifuddin; Moh. Ali Aziz
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 4 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v8i4.338

Abstract

Komunikasi merpakan kebutuhan primer bagi makhluk hidup, dengan berkomunikasi maka akan terjalin sosial yang baik, baik secara internal maunpun secara ekstenal khususnya komunikasi antarpribadi yang sangat penting dalam pembentukan karakter khususnya dalam dunia pondok pesantren yang mengedepankan nilai-nilai agama dan moral. Hal ini tentu  bertujuan untuk mebentuk karakter yang baik yang berlandaskan dengan nilai-nilai agama dan moral. Berangkat dari hal ini perlu dilakukan penelitian terkait komunikasi antarpribadi yang terjadi dipondok pesantren TMI Al-Amien Prenduan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif lapangan sesuai dengan teori pendekatan komunikasi antar pribadi dan strategi komunikasi antarpribadi Miller dan Stainberg yaitu pendekatan secara analisis psikologis, sosiologis dan cultural. dengan cara melakukan observasi dan wawancara secara mendalam kemudian mendokumentasikan hasil yang ditemukan dilapangan. Hasil dari penelitian ini asatidz memiliki srtategi secara persuasif dengan  mengetahui karakter santri, sehingga dengan demikian  materi yang sampikan oleh para Asatidz akan lebih mudah diterima dan dicerna oleh para santri, karakter tersebut dapat dilihat dari memahami aculturasi, sosiologi,dan psikologi santri agar lebih mudah mendeteksi dari arahmana kita dapat melakukan komunikasi yang dapat diterima oleh santri tersebut.
Peran Majelis Shalawat At-Taufiq Terhadap Pembentukan Karakter Pemuda Karang Penang Sampang Humairotus Sulfa; Muhammad Ainun Naim; Syaifuddin; Muhammad Rizky Amrullah
Risalah, Jurnal Pendidikan dan Studi Islam Vol. 8 No. 4 (2022): Pendidikan dan Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra Indramayu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/jurnal_risalah.v8i4.339

Abstract

ABSTRAK Pemuda menjadi perhatian utama dalam masyarakat di berbagai kalangan di setiap bidang.Peran pemuda dalam masyarakat sebagai pembentukan karakter yang baik, harus memiliki nilai-nilai luhur, berjiwa sosial dan membangun serta cinta tanah air. Fenomena yang berkembang di daerah Karang Penang Sampang, banyak pemuda yang sangat antusias mengikuti majelis ini, karena adanya anggota-anggota majelis ini yang keseluruhannya dari kalangan pemuda, dari ketua, vokalis shalawatnya, dan penabuh banjarinya. Dua tahun sebelum adanya majelis shalawat At-Taufiq, kondisi masyarakat yang cukup memprihantinkan. Seperti pemudanya yang suka hiburan malam, nonkrong di malam hari yang tidak jelas, minuman- inuman keras, dan lainnya. Dengan itu Gus Khoiron yang sekarang selaku Ketua Umum membentuk sebuah majelis yakni majelis shalawat At-Taufiq. Metode peneltian yang digunakan dengan pendekatan kualitatif lapangan, prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa perkataan lisan atau urutan kata yang tertulis dari orang-orang yang diamati dan pendekatan ini diarahkan pada latar individu secara holistis (utuh). Dalam penelitian kualitatif, penulis menjadi instrumen kunci (human instrument) yang berfungsi menetapkan fokus penelitian, mencari dan memilih informan sebagai sumber data, mengumpulkan data, menilai kualitas data, analisis data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas hasil temuan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepribadian seorang pemuda banyak yang berubah positif. Segala upaya yang ditempuh majelis At-Taufiq untuk membangun rohani anak-anak muda selalu dilakukan sesuai dengan melibatkan selera mereka, serta tidak dilakukan secara spontan namun bertahap. Membangun komitemen, motivasi, semangat ukhwah dan dzikir yang terus dilakukan serta bermunajat kepada Allah. Tidak hanya kerohanian, tapi juga memberikan dorongan dan dukungan pada anak-anak  muda untuk memperkuat kecintaan pada Rasulullah SAW serta menjalin tali silaturrahim dengan para ulama dan habaib.
Students' perception toward the use of TikTok video in learning writing descriptive text at MAN 1 Gresik Syaifuddin Syaifuddin; Wiwik Muyassaroh Abdi; Alfufatin Nabilah; Dewi Larassati M.P; Fairuz Lazuwardiyyah
Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL) Vol. 2 No. 1 (2021): Journal of Research on English and Language Learning (J-REaLL)
Publisher : Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j-reall.v2i1.9017

Abstract

The purpose of this study was to explain the students' perception towards the use of TikTok in learning writing descriptive text. This analysis was a descriptive quantitative with a survey approach through questionnaire. The total of sample was 85 students at Islamic Senior High School of 1 Gresik especially from X MIPA 3, X MIPA 4, and X MIPA 5 in the 2020/2021 academic year. The information of this study was obtained through 15 questions adapted from Ilmiyah et al. & Ilmi. The researchers analyzed the data from questionnaire using SPSS 16 program to find out the descriptive statistical analysis. The finding captured that the interpretation of students regarding the use of TikTok in descriptive text of learning writing was positive. The students said they agreed with the use of TikTok in learning writing descriptive text due to it contributes positively and can foster the motivation of students. Furthermore, it makes the learners pay attention and participate in the learning process. Therefore, it is also recommended to students and teachers to use TikTok in order to create a contextual, relevant, and meaningful learning process, especially in writing descriptive text. They also allow students to participate in the learning process actively.
Dakwah Moderat Pendakwah Nahdatul Ulama (Analisis Konten Moderasi Beragama Berbasis Sejarah) Syaifuddin Syaifuddin; Mohd Ali Azis
Hikmah Vol 15, No 1 (2021): JURNAL ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/hik.v15i1.3248

Abstract

Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil dakwah moderasi yang berbasis sejarah, dengan menganalisis konten dari beberapa tokoh NU sebagai pegiat dakwah yang ada dimedia sosial (youtube), dimana para  pegiat dakwah dituntut untuk menyebarkan nilai-nilai moderasi islam sehingga tercipta keharmonisan dalam kehidupan masyarakat dan untuk menampilkan keislaman yang rahmatan lil alamin yaitu sebagai bentuk kasih sayang kepada seluruh manusia.  Penelitian ini menggunakan analisis konten yang bertujuan untuk mengungkap dakwah moderasi agama yang berbasis sejarah bagi para pendakwah NU. Adapun Subjek dalam penelitian ini adalah K.H. Muhammad Muwafiq (Gus Muwafiq), K.H Ahmad Baha’udin Nursalim (Gus Baha’), dan Dr. Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Yahya. Sumber data penelitian ini merupakan video ceramah tentang dakwah moderasi beragama yang berbasis sejarah di YouTube. Metode pengumpulan data dari isi video yang berasal di media sosial (Youtube) setelah itu melakukan coding untuk melakukan pemilihan yang sesuai. Sedangkan dalam analisis data penulis menafsirkan dakwah yang disampaikan oleh para pendakwah melalui media sosial (YouTube). Adapun hasil dari penelitian terhadap dakwah moderasi yang disampaikan oleh ulama-ulama NU adalah pentingnya menanamkan dan menyebarkan moderasi dalam Islam agar tercipta ketenangan dalam beragama dan  kenyamanan dalam bernegara. 
Penguatan Motivasi Belajar Peserta Didik pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam melalui Literasi Keagamaan Digital Kurniawan, Rikza Syahrial; fahmi, Muhammad; Mas'ud, Ali; Syaifuddin, Syaifuddin
EL-BANAT: Jurnal Pemikiran dan Pendidikan Islam Vol. 14 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam YPBWI Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54180/elbanat.2024.14.1.1-17

Abstract

The rapid development of today's digital world is both a challenge and an opportunity in the world of education, especially in Islamic Religious Education (PAI). New breakthroughs from educators are really needed in strengthening students' learning motivation so that they are always enthusiastic in the learning process. This research aims to examine the application of digital religious literacy as an effort to strengthen PAI and BP learning motivation in class XI students at SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. This research is a type of field research using a descriptive qualitative approach. The data collected is the result of observation, interviews and documentation through purposive sampling techniques. The technique used in data analysis goes through three stages, namely data condensation, data presentation and drawing conclusions. This research shows the results that the application of digital religious literacy has significantly strengthened the motivation to learn PAI and BP in class XI students at SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo. This can be a guide for Islamic religious educators in designing relevant learning according to current developments and preparing students to face future challenges
The Dynamics of Sufism Based on Plural Indonesian Society: A Study of the Socio-Academic Role of KH. Nur Salim in Malang, East Java Syaifuddin, Syaifuddin; Suwatah, Suwatah
FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam Vol. 12 No. 2 (2023): FIKROTUNA: Jurnal Pendidikan dan Manajemen Islam
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Al-Khairat Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32806/jf.v12i2.727

Abstract

In the late twentieth century, he witnessed a significant shift in Islamic discourse in Indonesia, particularly with the rise of egalitarianism and the indigenization of Islam. Against this backdrop, this study investigates KH. Nur Salim's pivotal role in adapting Sufism to a pluralistic society in Malang, East Java. It aims to explore how his down-to-earth approach effectively integrated spiritual values with social life, fostering a form of Sufism that suits the needs of modern society. Using qualitative phenomenological methods, the research captured the lived experiences and perceptions of the community regarding KH Nur Salim in his socio-academic role. Data was collected through in-depth interviews, participant observation, and document analysis to understand the phenomenon comprehensively. The findings show that KH. Nur Salim, centered on four pillars- patience, humility, acceptance, and generosity- not only advances individual spirituality but also strengthens social cohesion in a diverse society. This approach is in line with theories that emphasize contextual adaptation of religious teachings, contributing to the discourse on the role of religion in promoting pluralism and tolerance. However, the study acknowledges limitations related to geographical coverage and methodological challenges, which may impact the generalizability of the findings. These insights have implications for the broader application of Sufism in pluralistic contexts globally.
Conceptual Analysis of It Media Integration In The Digital Islamic Education Curriculum As An Effort To Strengthen The Character Of Junior High School Students: A Library Perspective Syaifuddin, Syaifuddin; Junaedi, Junaedi
Jurnal Edusci Vol 2 No 6 (2025): Vol 2 No 6 July 2025
Publisher : Annpublisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62885/edusci.v2i6.805

Abstract

Background. Digital transformation in the world of education demands a shift in the learning paradigm of Islamic Religious Education (PAI), particularly in strengthening the character of junior high school students. Aims. This research aims to formulate a conceptual model for the integration of information technology (IT) media into the digital PAI curriculum as an instrument for the formation of Islamic character. Methods. Using a qualitative approach through library research and descriptive-analytical methods, this study analyzes academic literature from the past decade using content analysis and thematic analysis techniques. Result. The study results in the ISLAMIC-TECH model, which includes five main components: Infrastructure, Spiritual Content, Learning Activity, Assessment, and Moral Character, as an integrative foundation between technological, pedagogical, and spiritual dimensions. Four effective IT media typologies in PAI learning have been identified, namely: immersive media (VR/AR), interactive (gamification), collaborative (social learning), and adaptive (personalized learning). The implementation strategy emphasizes the principle of "Technology as Servant, Spirituality as Master" and dual-mode learning to maintain a balance between digital interaction and direct religious practice. Conclusion. The identified challenges include limited infrastructure, teachers' digital competencies, and difficulties in integrating pedagogy and spirituality. Nevertheless, the integration of IT media has proven capable of increasing student engagement with PAI material, facilitating the development of digital wisdom, and strengthening character dimensions through critical thinking skills, collaboration, and spiritual literacy. Implementation. This research provides a theoretical contribution in the form of a conceptual framework for a technology-based digital PAI curriculum that is contextual, authentically Islamic, and adaptive to the needs of the 21st century
Urgensi Pengarusutamaan Moderasi Beragama melalui Aktualisasi Doktrin Aswaja An-Nahdliyah di Sekolah Fahmi, Muhammad; Prasetia, Senata Adi; Rouf, Abd.; Syaifuddin, Syaifuddin; Djazilan, Sukron; Alfarizi, Muhammad Salman; Ma'mun, Adam Sukron
Proceedings of Annual Conference for Muslim Scholars Vol 6 No 1 (2022): AnCoMS, APRIL 2022
Publisher : Koordinatorat Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta Wilayah IV Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36835/ancoms.v6i1.390

Abstract

The challenge in the life of religious people today is the extremism movement. Extremism is part of the form of a transnational movement that can have two pole dimensions, the left pole (secularism) and the right pole (textual-radicalism). In responding to this challenge, the religious moderation movement needs to be realized as a counter in dealing with it. This article explains the importance of mainstreaming religious moderation through aswaja an-nahdliyah education in schools in Indonesia. Through reading for text on relevant documents and content analysis, this article produces three substantive ideas. First, the mainstreaming of religious moderation needs to be realized in various fields and levels in every element of life, especially in educational institutions. Second, aswaja an-nahdliyah education (tawazun, tasamuh, tawasuth) contains teachings that are relevant to the substance of the policy and practice of religious moderation. Third, mainstreaming religious moderation can be realized through the practice of aswaja an-nahdliyah education in schools in Indonesia. Therefore, in order to equip the nation's children with the understanding and behavior of religious moderation, and prevent extremism movements, aswaja an-nahdliyah education needs to be made into the curriculum in every school in Indonesia.
Pembelajaran Kooperatif Mata Pelajaran PAI pada Masa Kurikulum Merdeka Kahfi, Mas'ady Ashabul; Fahmi, Muhammad; Syaifuddin, Syaifuddin
An-Nuha Vol 5 No 4 (2025): Islamic Education
Publisher : Prodi Pendidikan Keagamaan Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/annuha.v5i4.734

Abstract

Educational transformation through the Merdeka Curriculum requires a student-centered, collaborative, and differentiated learning model. This study aims to describe the application of cooperative learning models (STAD, TGT, Jigsaw) in Islamic Religious Education at SMP Negeri 1 Waru. The research used a descriptive qualitative approach with observation, interview, and documentation techniques, as well as Miles & Huberman's data analysis model. The results showed that the learning planning was in line with the principles of the Merdeka Curriculum through the preparation of ATP, teaching modules, and differentiated assessments. The implementation of the cooperative model encouraged active participation, improved conceptual understanding, and shaped attitudes of tolerance and communication skills. Student responses were generally positive, although there were challenges in the form of time management and unequal group participation. The conclusion of this study confirms that the application of cooperative learning models is relevant and effective in supporting the Merdeka Curriculum, while also contributing to the strengthening of the Pancasila student profile.