Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Diet Ketogenik untuk Penyakit Epilepsi Resisten Obat Kurnia, Bonar; Nangoy, Edward; Posangi, Jimmy
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 3 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.3.2021.31946

Abstract

Abstract: Epilepsy is estimated to affect 70 people worldwide. Anti-epileptic drugs (AED) as the main therapy for epilepsy can treat epilepsy in 70% of patients but 20-30% of patients experience Drug-Resistant Epilepsy (DRE). One therapy that can be given to patients who are not responsive to AED is ketogenic diet, a diet high in fat, low in carbohydrates and sufficient protein, which can help control seizures. The mechanism of action is still not known, but it may relate to AED. This study aims to determine the role or effect of ketogenic diet for DRE. This research is in the form of a literature review. In this study, the ketogenic diet was found to be effective in treating DRE especially in reducing seizure frequency. Ketogenic diet is particularly effective in treating focal seizures and West syndrome, and the correlation between ketogenic diet and AED can be found in a theory of the mechanism of action of the ketogenic diet with the mechanism of action of AED which is the actual therapy of this epilepsy. Ketogenic diet is effective as an alternative therapy for DRE in infants to adults. What needs to be considered is the type of ketogenic diet used must be suitable for the patient in order to achieve the best adherence, tolerability and effectiveness. Classification of the patient's epilepsy such as the type of seizure or the etiology of the epilepsy may also be a factor in starting a ketogenic diet therapy.Keywords: Epilepsy, Refractory Epilepsy, Drug Resistant Epilepsy, Ketogenic Diet  Abstrak: Epilepsi diperkirakan diderita oleh 70 orang di seluruh dunia. Obat anti epilepsi (OAE) sebagai terapi utama untuk epilepsi dapat menangani epilepsi pada 70% penderita namun 20-30% pasien mengalami Epilepsi Resisten Obat. Terapi yang dapat diberikan untuk pasien yang tidak responsif terhadap pemberian OAE adalah diet ketogenik, diet tinggi lemak, rendah karbohidrat dan cukup protein yang dapat membantu mengontrol bangkitan. Mekanisme kerja diet ketogenik masih belum diketahui namun kemungkinan ada kaitannya dengan OAE. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran atau efek diet ketogenik untuk penyakit epilepsi resisten obat. Penelitian ini berbentuk literature review. Dalam penelitian ini, diet ketogenik ditemukan efektif untuk menangani epilepsi resisten obat khususnya dalam menurunkan frekuensi bangkitan. Diet ketogenik secara khusus efektif dalam menangani bangkitan fokal dan sindrom west, dan korelasi antara diet ketogenik dengan OAE dapat ditemukan dalam teori mekanisme kerja diet ketogenik dengan mekanisme kerja OAE yang merupakan terapi sebenarnya epilepsi ini. Diet ketogenik efektif sebagai terapi alternatif untuk epilepsi resisten obat baik untuk pasien bayi hingga dewasa. Adapun yang perlu diperhatikan adalah jenis diet ketogenik yang digunakan harus sesuai dengan pasien guna mencapai ketaatan, tolerabilitas dan efektivitas yang terbaik. Klasifikasi epilepsi pasien seperti tipe bangkitan atau etiologi penyebab epilepsi dapat juga menjadi faktor pertimbangan untuk memulai terapi diet ketogenik.Kata Kunci: Epilepsi, Epilepsi Refrakter, Epilepsi Resisten Obat, Diet Ketogenik
Perbandingan Efektivitas Penggunaan Donepezil dan Memantine Terhadap Perbaikan Fungsi Kognitif pada Penyakit Alzheimer Alamri, Khairun N. H.; Posangi, Jimmy; Nangoy, Edward
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 2 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.2.2021.31950

Abstract

Abstract: Pharmacological therapy for Alzheimer’s disease are cholinesterase inhibitors (donepezil) and N-methyl-D-aspartate (memantine) receptor antagonists. The use of donepezil and memantine in elderly patients must be considered because they can affect the pharmacokinetic process of drugs and the effect of drugs on the body.The aim of the study was knowing the difference in the effectiveness of using Donepezil and Memantine on the improvement of cognitive function in Alzheimer's patients. This study was in the form of a literature review with data searches using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey, Science Direct.  Keywords used are Donepezil AND Cognitive .AND Alzheimer, Memantine AND Cognitive AND Alzheimer. After being selected, 12 literature was obtained based on inclusion and exclusion criteria. In this study, Donepezil and memantine are beneficial in improving cognitive function in moderate to severe Alzheimer's disease but side effects tend to be more frequent with the use of donepezil than memantine. donepezil and memantine can be combined for the treatment of Alzheimer's disease but must pay attention to the effectiveness in clinical evaluation of patients and the cost effectiveness of the combination. Conclusion: Memantine and donepezil are effective and safe to use as therapy for moderate to severe Alzheimer’s disease. Donepezil and memantine combination therapy is more effective than donepezil or memantine monotherapy.Keywords: Donepezil, Memantine, Cognitive, Alzheimer  Abstrak: Terapi farmakologi untuk penyakit alzheimer adalah inhibitor kolinesterase (donepezil) dan antagonis reseptor N-metil-D-aspartat (memantine). Penggunaan donepezil dan memantine pada pasien lanjut usia harus diperhatikan karena dapat mempengaruhi proses farmakokinetik obat dan efek obat terhadap tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas penggunaan Donepezil dan Memantine terhadap peningkatan fungsi kognitif pada pasien Alzheimer. Penelitian ini berbentuk Literature Review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey, Science Direct. Kata kunci yang digunakan adalah Donepezil AND Cognitive AND Alzheimer, Memantine AND Cognitive AND Alzheimer. Setelah dipilih, diperoleh 12 literatur berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Dalam penelitian ini, Donepezil dan memantine bermanfaat dalam meningkatkan fungsi kognitif pada penyakit Alzheimer sedang hingga berat tetapi efek sampingnya cenderung lebih sering dengan penggunaan donepezil daripada memantine. donepezil dan memantine dapat digabungkan untuk pengobatan penyakit Alzheimer tetapi harus memperhatikan keefektifan dalam evaluasi klinis pasien dan efektivitas biaya dari kombinasi tersebut. Kesimpulan: Memantine dan donepezil efektif dan aman digunakan sebagai terapi penyakit Alzheimer sedang hingga berat. Terapi kombinasi donepezil dan memantine lebih efektif dibandingkan dengan monoterapi donepezil atau memantine.Kata Kunci : Donepezil, Memantine, Cognitive, Alzheimer
EPILEPSI RESISTEN OBAT Nangoy, Edward; Mahama, Corry; Oktaviani, Elies
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.34169

Abstract

Epilepsi resistensi obat merupakan kondisi dimana seseorang masih mengalami bangkitan meskipun telah mendapatkan dua atau lebih obat antibangkitan yang sesuai dan ditoleransi baik. Berbagai patomekanisme dan faktor risiko yang diduga mendasari terjadinya resistensi obat termasuk faktor genetik dan etiologi epilepsi perlu ditelusuri lebih lanjut untuk dapat melakukan diagnosis dan tata laksana yang lebih efisien bagi pasien epilepsi.
Profil Penggunaan Antibiotik dengan Metode Defined Daily Dose pada Pasien Pneumonia Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta Tipe C di Minahasa Clara, Santi; Nangoy, Edward; Posangi, Jimmy
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.58563

Abstract

Abstract: The high prevalence of pneumonia cases in Indonesia affects the increasing use of antibiotics, which can lead to resistance. The defined daily dose (DDD) method can be utilized to improve the quality of antibiotic use by enabling quantitative evaluation. This study aimed to determine the quantity of antibiotic use in pneumonia inpatients at type C private hospital in Minahasa from July 2022 to June 2023. This was a descriptive and retrospective study using secondary data of medical records of pneumonia inpatients that were calculated using the DDD method. The results obtained 45 pneumonia patients received antibiotic therapy. The highest usage antibiotic was ceftriaxone with 46.09 DDD/100 bed days. In conclusion, the administration of antibiotics for treatment was appropriate, however, there is a need to develop clinical pathway to provide a structured guidelines for patient management. Keywords: antibiotics; pneumonia; defined daily dose   Abstrak: Tingginya kasus pneumonia di Indonesia memengaruhi peningkatan penggunaan antibiotik yang dapat menyebabkan kejadian resistensi. Metode defined daily dose (DDD) dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik yakni dengan melakukan evaluasi secara kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kuantitas penggunaan antibiotik pada pasien pneumonia rawat inap salah satu rumah sakit swasta Tipe C di Minahasa periode Juli 2022 - Juni 2023. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan pendekatan retrospektif menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien yang selanjutnya dihitung dengan menggunakan metode DDD. Hasil penelitian mendapatkan 45 pasien pneumonia yang menerima terapi antibiotik. Antibiotik dengan jumlah penggunaan tertinggi yakni ceftriaxone dengan nilai sebesar 46,09 DDD/100 bed days. Simpulan penelitian ini ialah secara keseluruhan pemberian antibiotik dalam pengobatan sesuai, namun perlu dilakukan pembuatan clinical pathway agar penanganan bagi setiap pasien dapat memiliki panduan yang terstruktur. Kata kunci: antibiotik; pneumonia; defined daily dose
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Omeprazole atau Ranitidin pada Pasien Dispepsia di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta Sinaulan, Evania A.; Nangoy, Edward; Masengi, Angelina S. R.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60737

Abstract

Abstract: Dyspepsia is a common condition that is commonly found in daily practice. The most common drugs for  dyspepsia therapy are proton pump inhibitors (PPIs) and histamine-2 receptor antagonists (H2RAs). One of the factors that affects the cost of treatment that must be incurred by patients is the selection of treatment therapy. Pharmacoeconomic studies can compare the effectiveness of the two drug regimens in the treatment of dyspeptic patients. This study aimed to determine the effectiveness of therapy, average total cost, and cost effective value of the use of omeprazole or ranitidine therapy in dyspeptic patients at the Inpatient Installation of one Type C Private Hospital in Minahasa. This was a descriptive and observational study using the Cost-Effectiveness Analysis method with a retrospective data collection design in the period of January-June 2023. Based on medical record data of 72 patients, there were 30 patients using omeprazole and 42 patients using ranitidine. Ranitidine was more effective than omeprazole with the number of patients who reached the target therapy as many as 32 with a percentage of 76.1%. Ranitidine had a lower average total cost of therapy in dyspeptic patients which was Rp. 2,748,045 compared to omeprazole of Rp. 3,537,487. In conclusion, the use of ranitidine therapy in dyspepsia patients is more cost effective with Average Cost Effectiveness Ratio of Rp. 3,611,097. Keywords: dyspepsia; omeprazole; ranitidine; cost effectiveness analysis   Abstrak: Dispepsia merupakan kondisi umum yang sering ditemukan pada praktek sehari-hari. Terapi dispepsia salah satunya adalah golongan proton pump inhibitors (PPIs) dan histamine-2 receptor antagonists (H2RAs). Salah satu hal yang berpengaruh pada biaya pengobatan yang harus dikeluarkan oleh pasien adalah pemilihan terapi pengobatan. Kajian farmakoekonomi dapat membandingkan efektivitas dua regimen obat tersebut dalam pengobatan pasien dyspepsia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi, rata-rata biaya total, dan nilai cost effective dari penggunaan terapi omeprazole atau ranitidin pada pasien dispepsia di Instalasi Rawat Inap salah satu Rumah Sakit Swasta Tipe C di Minahasa. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional menggunakan metode Cost-Effectiveness Analysis dengan rancangan pengambilan data secara retrospektif pada periode Januari-Juni 2023. Berdasarkan data rekam medis diperoleh 72 data pasien, terdiri dari 30 pasien yang menggunakan omeprazole dan 42 pasien yang menggunakan ranitidin. Ranitidin lebih efektif dibandingkan omeprazole dengan jumlah pasien yang mencapai target terapi sebanyak 76,1%. Ranitidin memiliki rata-rata total biaya terapi pada pasien dispepsia lebih rendah yaitu sebesar Rp. 2.748.045 dibandingkan omeprazole sebesar Rp. 3.537.487. Simpulan penelitian ini ialah penggunaan terapi ranitidin pada pasien dispepsia lebih cost effective dibandingkan omeprazole dengan nilai Average Cost Effectiveness Ratio yaitu Rp. 3.611.097. Kata kunci: dispepsia; omeprazole; ranitidin; analisis efektivitas biaya
Gambaran Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta di Sulawesi Utara Rue, Puella; Mambo, Christi D.; Nangoy, Edward; Umboh, Octavianus; Purwanto, Diana S.; Masengi, Angelina S. R.
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.61019

Abstract

Abstract: Management of hypertension is conducted to control the  blood pressure in patients with hypertension. There are a variety of antihypertensie agents that can be used in patients with hypertension.  This study aimed to evaluate the pattern of antihypertensive drug use among patients with hypertension in the Inpatient Ward. This was a retrospective and descriptive study using a cross-sectional design. The results showed that the  dominant characteristics were female gender (64.29%), age ≥60 years (71.43%), housewife (51.43%), and completed senior high school education (34.29%). The most commonly prescribed drugs were amlodipine (25.71%), and the combination of amlodipine and candesartan (22.86%). In conclusion, the majority of patients with hypertension are females, aged ≥60 years, working as housewives, and have high school education. The most frequently used single antihypertensive drug is calcium channel blocker group, specifically amlodipine, while the combination therapy involve both a calcium channel blocker and an ARB, namely amlodipine and candesartan. Keywords: hypertension; antihypertensive drugs    Abstrak: Tatalaksana hipertensi dilakukan dengan tujuan untuk mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi. Terdapat bermacam jenis obat antihipertensi yang dapat digunakan pada pasien hipertensi.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penggunaan obat antihipertensi pada pasien hipertensi di Instalasi Rawat Inap. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan karakteristik yang dominan ialah jenis kelamin perempuan (64,29%), usia ³60 tahun (71,43%), pekerjaan sebagai ibu rumah tangga (IRT) (51,43%), dan pendidikan terakhir SMA (34,29%). Penggunaan obat terbanyak ialah amlodipin (25,71%), serta kombinasi amlodipin dan candesartan (22,86%) Simpulan penelitian ini ialah pasien hipertensi paling banyak terdapat pada jenis kelamin perempuan, kelompok usia ³60 tahun, pekerjaan IRT, dan tingkat pendidikan terakhir SMA. Penggunaan obat antihipertensi tunggal terbanyak dari golongan antagonis kalsium yaitu amlodipin, sedangkan kombinasi obat antihipertensi ialah antagonis kalsium dan ARB, yaitu amlodipin dan candesartan. Kata kunci: hipertensi; obat antihipertensi
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Pacar Air Terhadap Bacillus Cereus Dan Pseudomonas Aeruginosa Mallombasang, Andi Nuraini; Posangi, Jimmy; Mambo, Christi Diana; Waworuntu, Waworuntu; Regina Masengi, Angelina Stevany; Nangoy, Edward
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i1.3797

Abstract

Resistensi antimikroba, terutama terhadap Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa, menimbulkan tantangan yang signifikan dalam pengaturan perawatan kesehatan. Tanaman balsam (Impatiens balsaminaL.) dikenal karena potensinya sebagai agen antibakteri alami karena kandungan senyawa bioaktifnya yang kaya, termasuk flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas antibakteri ekstrak etanol dari daun balsam terhadap Bacillus cereus dan Pseudomonas aeruginosa, sambil juga menganalisis kandungan fitokimia. Metode:  Desain laboratorium eksperimental digunakan, menggunakan metode maserasi untuk ekstraksi dengan etanol 96%. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi senyawa bioaktif, dan metode difusi disk digunakan untuk menguji aktivitas antibakteri. Ekstrak diuji pada berbagai konsentrasi (20%, 40%, dan 60%) untuk menentukan keefektifannya terhadap bakteri yang dipilih. Skrining fitokimia mengungkapkan bahwa ekstrak daun balsam mengandung sejumlah besar flavonoid, tanin, dan saponin. Tes antibakteri menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak 60% menghasilkan zona penghambatan terbesar, berukuran 12,57 mm terhadap Bacillus cereus dan 10,10 mm terhadap Pseudomonas aeruginosa, menunjukkan sifat antibakteri kuat ekstrak. Temuan menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun balsam menunjukkan aktivitas antibakteri yang cukup besar, menunjukkan potensinya sebagai sumber alami untuk mengembangkan terapi antimikroba alternatif. Penelitian ini meningkatkan pemahaman Impatiens balsaminaL. dalam fitokimia dan penerapannya dalam perawatan kesehatan.
Uji Aktivitas Antidiabetik Dengan Metode Penghambatan ? -Amilase Oleh Ekstrak Etanol Lidah Buaya (Aloe Vera (L.) Burm. F.) Gosal, Leonardo Delvin; Mambo, Christi Diana; Nangoy, Edward; Fatimawali, Fatimawali; Posangi, Jimmy; Regina Masengi, Angelina Stevany
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i1.3800

Abstract

Diabetes melitus merupakan gangguan metabolisme yang ditandai oleh adanya peningkatan kadar gula darah yang dapat menyebabkan komplikasi serius. Salah satu pendekatan terapi untuk mengelola diabetes adalah menghambat aktivitas enzim ?-amilase, yang berperan dalam proses pencernaan karbohidrat. Lidah buaya (Aloe vera) mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, tanin, dan saponin yang berpotensi menghambat enzim ?-amilase. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil fitokimia pada ekstrak etanol lidah buaya serta mengetahui potensinya dalam menghambat enzim ?-amilase. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Skrining fitokimia dilakukan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa fitokimia secara kualitatif dan pengujian aktivitas penghambatan dilakukan pada berbagai konsentrasi dengan akarbose sebagai kontrol positif serta larutan iodine sebagai indikator. Skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstak etanol lidah buaya mengandung senyawa alkaloid, tanin, dan saponin. Ekstrak etanol lidah buaya menunjukkan aktivitas penghambatan enzim ?-amilase, dengan efektivitas tertinggi tercapai pada konsentrasi 80 ppm yang menghasilkan persentase penghambatan sebesar 59%. Nilai IC50 yang diperoleh mencapai ± 62,203 ppm, sedangkan akarbose, sebagai pembanding, memiliki nilai IC50 sebesar ± 41,040 ppm. Ekstrak etanol lidah buaya berpotensi menjadi agen antidiabetik alami melalui mekanisme penghambatan enzim ?-amilase, meskipun efektivitasnya lebih rendah dibandingkan kontrol positif.
Evaluasi Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Kemih di Instalasi Rawat Inap Salah Satu Rumah Sakit Swasta Tipe C di Minahasa Suryani, Intan Indah; Nangoy, Edward; Regina Masengi, Angelina Stevany; Waworuntu, Olivia Amelia; Mambo, Christi Diana; Posangi, Jimmy
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 1 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i1.3801

Abstract

Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu infeksi yang paling sering ditemui dalam praktik klinis dan ditangani dengan pemberian antibiotik. Evaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISK diperlukan untuk mencegah resistensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien ISK di Instalasi Rawat Inap salah satu Rumah Sakit Swasta Tipe C di Minahasa dengan metode ATC/DDD dan menilai ketepatan penggunaannya. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif menggunakan data rekam medis pasien ISK rawat inap periode Juli 2023–Juni 2024 yang dihitung dengan rumus DDD/100 patient days dan ketepatan penggunaan dinilai berdasarkan parameter tepat indikasi, obat, dosis, frekuensi, dan durasi. Hasil penelitian menunjukkan pasien ISK lebih banyak terjadi pada perempuan (80,39%) dan kelompok usia terbanyak 19–44 tahun (52,94%). Antibiotik dengan penggunaan tertinggi ialah ceftriaxone (53,07 DDD/100 patient days). Ketepatan penggunaan antibiotik menunjukkan 100% tepat pada indikasi, dosis, dan frekuensi, sedangkan ketepatan obat dan durasi berturut-turut sebesar 72,55% dan 84,31%. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan antibiotik pada pasien ISK di Rumah Sakit ini didominasi oleh ceftriaxone dan masih terdapat ketidaktepatan dalam pemilihan antibiotik serta durasi pemberian antibiotik.
Profil Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun Pacar Air (Impatiens Balsamina L.) Menggunakan Metode Abts (2,2'-Azinobis(3-Ethylbenzothiazoline-6-Sulfonic Acid) Salsabila, Febrisa; Posangi, Jimmy; Mambo, Christi Diana; Fatimawali, Fatimawali; Regina Masengi, Angelina Stevany; Nangoy, Edward
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 2 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian & Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i2.3805

Abstract

Radikal bebas adalah molekul tidak stabil yang dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti kanker dan penuaan dini. Antioksidan berperan penting dalam menangkal efek negatif radikal bebas melalui mekanisme penghambatan proses oksidasi. Tanaman pacar air dikenal memiliki kandungan senyawa fitokimia seperti alkaloid, saponin, dan polifenol, yang berkontribusi pada aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa fitokimia dan menguji aktivitas antioksidan dari ekstrak etanol daun pacar air yang dibudidayakan di Kecamatan Tombulu, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi uji alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, saponin, steroid, dan triterpenoid. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode ABTS dan vitamin C sebagai pembanding, serapan diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 743 nm. Skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, tanin, fenol, dan saponin sebagai antioksidan alami. Uji aktivitas antioksidan menunjukkan ekstrak etanol daun pacar air memiliki potensi aktivitas antioksidan yang signifikan dimana pada konsentrasi 100 µg/ml terjadi aktivitas peredaman maksimum sebesar 64,75%, dengan nilai IC50 sebesar 57,482 ?g/ml, yang termasuk dalam kategori kuat. Ekstrak etanol daun pacar air mengandung senyawa fitokimia seperti alkaloid, flavonoid, tanin, fenol, dan saponin, dengan aktivitas antioksidan yang kuat dengan peredaman maksimum pada konsentrasi 100 µg/ml menggunakan metode ABTS.