Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Implementasi KM Nomor 30 Tahun 2008 tentang Identitas Buku Pelaut di Syahbandar Tanjung Priok Syamsiah Hasanah; Aji Amanto; Pramudyasari Nur Bintari
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.106

Abstract

Penelitian ini mengevaluasi implementasi Keputusan Menteri Perhubungan No. 30 Tahun 2008 tentang Identitas Buku Pelaut di Kantor Kesyahbandaran Utama Tanjung Priok. Studi berlangsung pada Agustus 2022–Juni 2023 menggunakan pendekatan kualitatif melalui tinjauan literatur, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil menunjukkan bahwa proses penerbitan buku pelaut pada prinsipnya telah sesuai ketentuan KM No. 30/2008. Namun, ditemukan sejumlah kendala pada layanan berbasis daring, antara lain keterbatasan jaringan yang memperlambat layanan, masalah kode billing yang berpotensi menimbulkan duplikasi pembayaran, pemohon yang belum memenuhi batas usia, serta kesulitan pengguna dalam mengelola kredensial (username dan kata sandi). Upaya perbaikan yang diterapkan meliputi pelaporan rutin gangguan ke pusat TI untuk penataan basis data, pelaporan kasus double billing PNBP kepada petugas disertai penambahan waktu proses, verifikasi usia saat pengambilan buku, serta pengingat bagi pengguna untuk menyimpan kredensial karena kantor tidak memiliki akses pemulihan. Temuan ini menegaskan perlunya penguatan infrastruktur jaringan, validasi otomatis kode billing, dan mekanisme pemulihan akun yang ramah pengguna guna meningkatkan mutu dan keandalan layanan.   This study evaluates the implementation of Ministerial Decree No. 30/2008 on the Seafarer’s Identity Book at the Main Harbormaster Office of Tanjung Priok. Conducted from August 2022 to June 2023, the research adopts a qualitative approach using literature review, observation, interviews, and documentation. The findings indicate that the issuance process generally complies with the decree; however, several challenges persist in the online service, including network limitations that slow service delivery, billing-code issues that may cause duplicate payments, applicants who do not meet the minimum age, and users’ difficulty in managing credentials (username and password). Remedial actions include routine reporting of network disruptions to the central IT unit for database improvements, reporting double PNBP billing cases to officers with additional processing time, age verification at the book collection stage, and user reminders to securely store their credentials since the office cannot retrieve them. These results underscore the need to strengthen network infrastructure, implement automated billing-code validation, and provide user-friendly account recovery to enhance service quality and reliability.
Kedisiplinan pengurusan sijil buku pelaut dalam implementasi peraturan MLC 2006 tentang hak cuti tahunan di KBRI Singapura Cholis Imam Nawawi; Pramudyasari Nur Bintari; Astri Kustina Dewi; Unique Marta Diva Lovenia
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i1.116

Abstract

Sebagai negara anggota International Labour Organization (ILO), Indonesia dan Singapura menerapkan standar ketenagakerjaan yang sejalan, termasuk ketentuan bagi pelaut sebagaimana diatur dalam Maritime Labour Convention (MLC) 2006. Penelitian ini bertujuan menelaah kedisiplinan pelaut Indonesia dalam pengurusan sijil di Atase Perhubungan Singapura. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan penekanan pada pemahaman kontekstual atas praktik pengurusan dokumen. Hasil menunjukkan bahwa kedisiplinan dipengaruhi oleh faktor internal (rasa tanggung jawab) dan faktor eksternal (dukungan serta norma lingkungan kerja). Implementasi prosedur pada dasarnya telah berjalan, namun belum optimal; masih dijumpai pelaut yang menunda pengurusan “sijil turun” lebih dari satu tahun, menandakan celah pemahaman terhadap ketentuan MLC 2006 mengenai hak repatriasi. Temuan ini mengimplikasikan perlunya sosialisasi terarah, penguatan pengawasan, serta penyederhanaan/penegakan prosedur agar kepatuhan meningkat dan hak-hak pelaut terpenuhi.   As member states of the International Labour Organization (ILO), Indonesia and Singapore apply broadly aligned labour standards, including provisions for seafarers under the Maritime Labour Convention (MLC) 2006. This study examines the discipline of Indonesian seafarers in processing the required certificates at the Indonesian Transport Attaché in Singapore. A qualitative descriptive approach is employed to capture contextual practices in document handling. Findings indicate that discipline is shaped by internal factors (sense of responsibility) and external factors (workplace environment and norms). While procedures are in place, implementation is not yet optimal; some seafarers delay processing the sign-off certificate (“sijil turun”) for more than one year, indicating limited understanding of MLC 2006 provisions on the right to repatriation. The results suggest the need for targeted outreach, stronger oversight, and simplified/enforced procedures to improve compliance and safeguard seafarers’ rights.
Peran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dalam penanganan pencemaran minyak di Pelabuhan Panjang Cholis Imam Nawawi; Pramudyasari Nur Bintari; Try Ananda Yusma Bhakti
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.119

Abstract

Pencemaran minyak di wilayah pelabuhan merupakan permasalahan lingkungan maritim yang berpotensi menimbulkan dampak ekologis, sosial, dan ekonomi yang signifikan. Pelabuhan Panjang sebagai salah satu pelabuhan strategis di Indonesia memiliki intensitas aktivitas kapal dan bongkar muat yang tinggi, sehingga meningkatkan risiko terjadinya pencemaran minyak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Panjang dalam penanganan pencemaran minyak di wilayah Pelabuhan Panjang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara terstruktur dengan pihak terkait, serta studi dokumentasi terhadap peraturan dan laporan penanganan pencemaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KSOP Kelas I Panjang berperan sebagai regulator, koordinator, dan pengawas dalam penanganan pencemaran minyak, yang diwujudkan melalui pemeriksaan dokumen dan peralatan pencegahan pencemaran, koordinasi lintas instansi, serta pengawasan pelaksanaan penanggulangan tumpahan minyak. Penanganan pencemaran minyak dilakukan melalui metode fisika, kimia, dan biologi sesuai dengan ketentuan nasional dan konvensi internasional. Namun demikian, masih terdapat tantangan berupa potensi kesalahan manusia dan keterbatasan kesiapsiagaan operasional. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penguatan sistem pengawasan dan peningkatan efektivitas penanganan pencemaran minyak di pelabuhan. Oil pollution in port areas represents a critical maritime environmental issue with significant ecological, social, and economic impacts. Panjang Port, as one of Indonesia’s strategic ports, experiences intensive shipping and cargo handling activities, which increase the risk of oil pollution incidents. This study aims to analyze the role of the Harbourmaster and Port Authority Office (KSOP) Class I Panjang in managing oil pollution at Panjang Port. A qualitative research approach with a descriptive-analytical method was employed. Data were collected through field observations, structured interviews with relevant stakeholders, and document analysis of regulations and pollution response reports. The findings indicate that KSOP Class I Panjang plays a crucial role as a regulator, coordinator, and supervisor in oil pollution management, implemented through document and equipment inspections, inter-agency coordination, and oversight of oil spill response operations. Oil pollution management is carried out using physical, chemical, and biological methods in accordance with national regulations and international conventions. Nevertheless, challenges remain, particularly related to human error and operational preparedness. This study is expected to contribute to strengthening port environmental governance and improving the effectiveness of oil pollution management in port areas.
Analisis pengaruh angin dan arus terhadap olah gerak kapal pada saat melakukan sandar di pelabuhan Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Zikril Hakim
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.145

Abstract

Manuver sandar kapal merupakan salah satu fase paling kritis dalam operasi pelayaran karena dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, khususnya angin dan arus. Kondisi lingkungan yang tidak terkendali dapat memengaruhi olah gerak kapal dan meningkatkan risiko kecelakaan di pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angin dan arus terhadap olah gerak kapal saat melakukan manuver sandar di pelabuhan dengan studi kasus pada MV Sinar Bintan. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi kasus, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung selama operasi sandar, wawancara dengan perwira kapal, serta studi dokumentasi. Data dianalisis dengan mengaitkan kondisi angin dan arus terhadap respons manuver kapal selama proses sandar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angin dan arus memiliki pengaruh signifikan terhadap stabilitas dan arah gerak kapal, terutama pada kecepatan rendah saat mendekati dermaga. Angin samping dan arus menyilang terbukti meningkatkan kesulitan pengendalian kapal dan membutuhkan koordinasi yang lebih baik antara nahkoda, perwira jaga, serta penggunaan bantuan tugboat. Penelitian ini memberikan kontribusi praktis dalam meningkatkan pemahaman tentang mitigasi risiko manuver sandar kapal di pelabuhan, khususnya dalam kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Berthing maneuver is one of the most critical phases in ship operations, as it is strongly influenced by external environmental factors, particularly wind and current. Uncontrolled environmental conditions can affect ship maneuverability and increase the risk of accidents in port areas. This study aims to analyze the effects of wind and current on ship maneuverability during berthing operations, using MV Sinar Bintan as a case study. This research adopts a qualitative descriptive approach through a case study method. Data were collected through direct observation during berthing operations, interviews with ship officers, and documentation review. The analysis focuses on examining the relationship between wind and current conditions and the ship’s maneuvering response during the berthing process. The results indicate that wind and current significantly influence ship stability and directional control, particularly at low speeds when approaching the berth. Crosswinds and transverse currents were found to increase maneuvering difficulty and require enhanced coordination between the master, deck officers, and tugboat assistance. This study provides practical insights for improving risk mitigation strategies during ship berthing operations under challenging environmental conditions.
Evaluasi peran awak kapal dan sistem perawatan sekoci terhadap efektivitas latihan keadaan darurat (drill) di KMP Portlink III Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Zaki Rinaldy
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.147

Abstract

Keselamatan pelayaran menuntut kesiapan awak kapal serta keandalan peralatan keselamatan, khususnya sekoci sebagai sarana evakuasi utama dalam keadaan darurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi peran awak kapal dan sistem perawatan sekoci terhadap efektivitas pelaksanaan latihan keadaan darurat (drill) di atas kapal KMP Portlink III. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara tidak terstruktur dengan awak kapal, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas drill belum optimal, yang ditandai oleh keterlambatan respons awak kapal terhadap alarm darurat, pemahaman tugas yang belum merata, serta lemahnya koordinasi saat proses evakuasi. Selain itu, sistem perawatan sekoci belum dilaksanakan secara konsisten sesuai dengan standar keselamatan pelayaran, terlihat dari kondisi teknis sekoci dan peralatannya yang tidak sepenuhnya siap dioperasikan. Kondisi tersebut berdampak pada kegagalan pelaksanaan launching sekoci saat latihan. Penelitian ini menegaskan bahwa efektivitas drill sangat dipengaruhi oleh kompetensi awak kapal dan penerapan sistem perawatan yang terencana dan berkelanjutan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan disiplin latihan, pembagian tugas yang jelas, serta penguatan sistem perawatan sekoci untuk mendukung kesiapsiagaan darurat di atas kapal. Maritime safety requires not only reliable safety equipment but also competent and well-prepared crew members, particularly regarding lifeboats as primary means of evacuation in emergency situations. This study aims to evaluate the role of crew members and the lifeboat maintenance system on the effectiveness of emergency drills conducted on board KMP Portlink III. A descriptive qualitative approach was employed, with data collected through direct observation, unstructured interviews with ship personnel, and documentation review. The findings indicate that the effectiveness of emergency drills has not been fully achieved, as reflected in delayed crew responses to emergency alarms, uneven understanding of assigned duties, and limited coordination during evacuation procedures. In addition, the lifeboat maintenance system has not been consistently implemented in accordance with maritime safety standards, as evidenced by technical deficiencies in lifeboat components and supporting equipment. These conditions contributed to the failure of lifeboat launching during drills. The study highlights that effective emergency drills are strongly influenced by crew competence and the implementation of a systematic and continuous maintenance system. Therefore, strengthening routine training, clarifying task allocation, and improving lifeboat maintenance practices are essential to enhance emergency preparedness on board.
Optimalisasi perawatan mesin jangkar berbasis praktik operasional untuk meningkatkan keandalan proses berlabuh pada Kapal MV. Trifosa Astri Kustina Dewi; Pramudyasari Nur Bintari; Ryan Rezki Fahreza
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.152

Abstract

Mesin jangkar (anchor windlass) merupakan peralatan vital dalam mendukung keselamatan dan kelancaran proses berlabuh kapal. Kegagalan fungsi mesin jangkar dapat menimbulkan keterlambatan operasional dan meningkatkan risiko kecelakaan pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan perawatan mesin jangkar serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keandalan operasional mesin jangkar pada kapal MV. Trifosa. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui observasi langsung di atas kapal, wawancara dengan awak kapal, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perawatan mesin jangkar belum dilaksanakan secara optimal, yang ditandai dengan kurangnya pelumasan berkala, keterbatasan suku cadang dan pelumas khusus, serta belum terstrukturnya sistem perawatan terencana. Selain itu, perbedaan tingkat kompetensi teknis awak kapal turut memengaruhi kualitas perawatan yang dilakukan. Kondisi tersebut menyebabkan perawatan bersifat reaktif dan berpotensi menurunkan keandalan mesin jangkar saat digunakan. Penelitian ini merekomendasikan penerapan Planned Maintenance System (PMS) secara konsisten, peningkatan kompetensi awak kapal melalui pelatihan teknis berkelanjutan, serta penguatan koordinasi antara departemen dek dan mesin. Optimalisasi perawatan ini diharapkan mampu meningkatkan keandalan mesin jangkar, meminimalkan gangguan operasional, dan mendukung keselamatan pelayaran. The anchor windlass is a critical piece of ship machinery that plays a vital role in ensuring safe and efficient anchoring operations. Failure of this equipment may lead to operational delays and increased maritime safety risks. This study aims to evaluate the implementation of anchor windlass maintenance and to identify factors affecting its operational reliability on board MV. Trifosa. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through direct onboard observation, crew interviews, and documentation review. The findings indicate that anchor windlass maintenance has not been optimally implemented, as evidenced by insufficient routine lubrication, limited availability of spare parts and specialized lubricants, and the absence of a structured planned maintenance system. Variations in crew technical competence also contribute to inconsistent maintenance practices. These conditions result in reactive maintenance, which may reduce equipment reliability during anchoring operations. This study recommends the consistent implementation of a Planned Maintenance System (PMS), continuous technical training for crew members, and improved coordination between deck and engine departments. Such maintenance optimization is expected to enhance anchor windlass reliability, minimize operational disruptions, and improve overall maritime safety.
Efektivitas digitalisasi proses impor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai dalam penguatan pengawasan rokok ilegal di Indonesia Sandy Wahyu Purnomo; Pramudyasari Nur Bintari; Boedi Prihandono; Mahendra Nur,Alif Pramuditya; Ragil Freyhan Mahandika; Wulan Aisyah Pratiwi; Galio Brema Surbakti
Journal Marine Inside Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v7i2.173

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas digitalisasi proses impor yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam memperkuat pengawasan terhadap peredaran rokok ilegal di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder yang bersumber dari laporan resmi DJBC, publikasi pemerintah, serta dokumen kebijakan terkait digitalisasi kepabeanan dan penindakan barang kena cukai. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif dengan membandingkan kinerja pengawasan sebelum dan setelah penerapan sistem digital kepabeanan, seperti Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), electronic seal (e-seal), Auto Gate System, serta teknologi pemindaian berbasis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa digitalisasi proses impor terbukti efektif dalam meningkatkan akurasi pengawasan, efisiensi administrasi, serta kualitas penindakan terhadap rokok ilegal. Hal ini tercermin dari peningkatan signifikan jumlah rokok ilegal yang disita, meskipun jumlah penindakan secara kuantitas mengalami penurunan, yang mengindikasikan peningkatan kualitas dan ketepatan sasaran pengawasan. Selain itu, digitalisasi berkontribusi pada peningkatan transparansi layanan kepabeanan dan penguatan sinergi lintas instansi. Namun demikian, penelitian ini juga mengidentifikasi tantangan berupa keterbatasan infrastruktur teknologi dan kapasitas sumber daya manusia, yang masih perlu ditingkatkan untuk memastikan keberlanjutan efektivitas sistem digital kepabeanan. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan akademik dan kebijakan dalam pengembangan sistem kepabeanan berbasis digital guna memperkuat pengawasan barang kena cukai dan melindungi penerimaan negara. This study aims to analyze the effectiveness of import process digitalization implemented by the Directorate General of Customs and Excise (DGCE) in strengthening the supervision of illegal cigarette distribution in Indonesia. The research adopts a quantitative approach using secondary data obtained from official DGCE reports, government publications, and policy documents related to customs digitalization and excisable goods enforcement. Data analysis is conducted through descriptive and comparative methods by examining supervisory performance before and after the implementation of digital customs systems, including the Customs-Excise Information System and Automation (CEISA), electronic seals (e-seal), Auto Gate Systems, and data-based scanning technologies. The findings indicate that import process digitalization has proven effective in enhancing monitoring accuracy, administrative efficiency, and the quality of enforcement against illegal cigarettes. This effectiveness is reflected in a significant increase in the volume of seized illegal cigarettes, despite a decrease in the number of enforcement actions, suggesting improved targeting and enforcement precision. Furthermore, digitalization contributes to greater transparency in customs services and stronger inter-agency coordination. Nevertheless, challenges remain, particularly related to technological infrastructure limitations and human resource capacity, which require further improvement to ensure the sustainable effectiveness of digital customs systems. This study is expected to serve as an academic and policy reference for advancing digital-based customs systems to strengthen excisable goods supervision and safeguard state revenue.
Analisis tingkat kepuasan pelaut dalam penerbitan buku pelaut online dengan metode IKM di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Kelas II Benoa Dapid Rikardo; Andesvan Gumay; Pramudyasari Nur Bintari; Ni Made Yuska Mira Adnyani
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.215

Abstract

Evaluasi berkala terhadap Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) merupakan instrumen esensial untuk mengukur kualitas pelayanan publik. Di sektor maritim, salah satu layanan administratif yang krusial adalah penerbitan Buku Pelaut secara online, yakni dokumen identitas resmi yang diwajibkan bagi tenaga kerja pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kepuasan pelaut terhadap kualitas layanan penerbitan Buku Pelaut online di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas II Benoa. Penelitian kuantitatif ini mengumpulkan data melalui penyebaran kuesioner, observasi lapangan, serta studi pustaka. Data yang terkumpul kemudian diolah secara terstruktur mengacu pada pedoman standar penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa IKM untuk layanan Buku Pelaut online mencapai skor 86,225, yang berada pada kategori mutu "B" (Baik). Secara rinci, nilai kepuasan tertinggi tercatat pada indikator perilaku pelaksana layanan dengan skor 91,333 (mutu "A" atau Sangat Baik), sedangkan nilai terendah berada pada indikator waktu penyelesaian pelayanan dengan skor 81,167 (mutu "B" atau Baik). Temuan ini menyimpulkan bahwa secara umum kinerja pelayanan telah berjalan dengan baik, namun KSOP Kelas II Benoa tetap direkomendasikan untuk mengevaluasi dan mengoptimalkan efisiensi waktu pemrosesan dokumen guna mencapai tingkat kepuasan layanan yang maksimal di masa mendatang.   Periodic evaluation of the Community Satisfaction Index (IKM) is an essential instrument for measuring the quality of public services. Within the maritime sector, a crucial administrative service is the online issuance of the Seafarer's Book, a mandatory official identity document for maritime workers. This study aims to analyze the level of seafarers' satisfaction regarding the online Seafarer's Book issuance service at the Class II Harbormaster and Port Authority (KSOP) of Benoa. This quantitative research collected data through questionnaire distribution, field observations, and literature reviews. The collected data were systematically processed based on the standard guidelines for formulating the Community Satisfaction Index. The results indicate that the IKM for the online Seafarer's Book service achieved a score of 86.225, which falls into the "B" (Good) quality category. Specifically, the highest satisfaction score was observed in the service staff's behavior indicator with a score of 91.333 (category "A" or Excellent), while the lowest score was recorded in the service completion time indicator with a score of 81.167 (category "B" or Good). These findings conclude that the overall service performance has been executed well; however, it is recommended that KSOP Class II Benoa further evaluate and optimize the efficiency of document processing time to achieve maximum service satisfaction in the future.
Optimalisasi Waktu Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar Terhadap Operasional Kapal di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang Cholis Imam Nawawi; Pramudyasari Nur Bintari; Syahrul Afandhi
Journal Marine Inside Vol 8 No 1 (2026)
Publisher : Politeknik Pelayaran Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62391/ejmi.v8i1.216

Abstract

Surat Persetujuan Berlayar (SPB) merupakan dokumen mutlak yang wajib dimiliki oleh setiap kapal sebelum meninggalkan pelabuhan, sebagai bukti sah dari Syahbandar bahwa kapal, awak, dan muatan telah memenuhi standar kelaiklautan dan keselamatan pelayaran. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas waktu penerbitan SPB dan dampaknya terhadap kelancaran operasional kapal di Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Tanjung Emas, Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi lapangan (field research), di mana data dikumpulkan berdasarkan aktivitas operasional, sikap, serta persepsi dari pihak-pihak terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat sejumlah kendala teknis dan administratif yang menghambat optimalisasi waktu penerbitan SPB. Sebagai langkah penyelesaian, KSOP Kelas I Tanjung Emas perlu melakukan evaluasi komprehensif terhadap keandalan sistem teknologi digital dan merestrukturisasi kebutuhan sumber daya manusia, termasuk penambahan personel operasional serta infrastruktur pendukung seperti unit komputer. Kesimpulannya, pembaruan infrastruktur digital dan peningkatan kapasitas pegawai pengurusan SPB sangat esensial untuk mempercepat waktu pelayanan, yang pada gilirannya akan meminimalisasi keterlambatan pengiriman muatan dan memastikan standar keselamatan pelayaran tetap terjaga.   A Port Clearance (Surat Persetujuan Berlayar/SPB) is a mandatory document that every ship must obtain before departing from a port, serving as official validation from the Harbormaster that the vessel, crew, and cargo meet all seaworthiness and maritime safety standards. This study aims to analyze the time efficiency of SPB issuance and its impact on the smoothness of ship operations at the Class I Harbormaster and Port Authority (KSOP) of Tanjung Emas, Semarang. This research employs a qualitative approach through field research, where data were collected based on operational activities, attitudes, and the perceptions of relevant stakeholders. The findings reveal that several technical and administrative constraints still hinder the optimization of SPB issuance time. To address these issues, KSOP Class I Tanjung Emas needs to conduct a comprehensive evaluation of the digital technology system's reliability and restructure human resource requirements, including the addition of operational personnel and supporting infrastructure such as computer units. In conclusion, upgrading digital infrastructure and enhancing the capacity of SPB processing staff are essential to accelerate service time, which in turn will minimize cargo delivery delays and ensure that maritime safety standards are strictly maintained.
Strategi Manajemen Kurikulum Dalam Mengoptimalkan Podcast Sebagai Media Pembelajaran Inovatif Irwan Maulana; Pramudyasari Nur Bintari; Arum Puri Suryandari; Ali Rahman; Novi Nurhayati
Chalim Journal of Teaching and Learning Vol. 5 No. 1 (2025): Teaching and Learning
Publisher : Program S3 Pendidikan Islam Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Pacet Mojokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31538/cjotl.v5i1.3014

Abstract

This study aims to analyze curriculum management strategies for optimizing podcasts as an innovative and relevant learning medium for 21st-century education. The use of podcasts is growing along with the increasing integration of technology into the learning process, necessitating an appropriate curriculum management approach for effective implementation. This study employed a qualitative literature review, reviewing various scientific sources related to curriculum planning, resource organization, podcast-based learning implementation, and curriculum evaluation. The results indicate that strengthening systematic planning, the readiness of educators and technology resources, and adaptive learning implementation design play a crucial role in improving the quality of podcast utilization. Continuous curriculum evaluation is also necessary to ensure podcasts align with learning objectives and student characteristics. These findings confirm that integrating podcasts into curriculum management can enhance a more flexible, interactive learning experience, and adapt to the digital era.