Claim Missing Document
Check
Articles

Estimasi Gas Rumah Kaca dari Sektor Pertanian, Perkebunan, dan Peternakan di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau Aryo Sasmita; Isnaini Isnaini; Rizki Zustika
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2021.008.01.5

Abstract

ABSTRAK Pertanian merupakan sektor yang berkontribusi besar dalam pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kampar. Namun di sisi lain, sektor pertanian ini termasuk di dalamnya peternakan dan perkebunan turut menyumbang 8% dari emisi Gas Rumah Kaca (GRK) Nasional Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai emisi gas rumah kaca di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan di Kabupaten Kampar. Metode yang digunakan dalam perhitungan emisi menggunakan metode Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) 2006 dan 2019 Refinement to the 2006 dengan pendekatan Tier 1. Emisi GRK dihitung dari kegiatan penanaman padi, penggunaan pupuk, pengelolaan tanah, pengelolaan kotoran hewan, dan hasil fermentasi enterik dari proses pencernaan hewan. Data didapat dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kampar yang telah dikonfirmasi oleh Dinas Pertanian, Tanaman Pangan, dan Hortikultura. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa emisi GRK di Kabupaten Kampar dari sektor pertanian dan perkebunan adalah sebesar 297.15 Gg CO2 ekivalen per tahun, sedangkan emisi GRK dari sektor peternakan sebesar 14,012.24 Gg CO2  ekivalen per tahun. Emisi GRK total dari sektor pertanian, perkebunan dan peternakan tahun 2019 adalah sebesar 14,309.39 Gg CO2 ekivalen per tahun, dimana sektor peternakan berkontribusi paling besar sebesar 97.92%.Kata kunci : emisi GRK, Kabupaten Kampar, perkebunan, pertanian, peternakan  ABSTRACT Agriculture is a sector that contributes greatly to the economic growth in Kampar Regency. However, the agricultural sectors include animal husbandry and plantations accounted for 8% of Indonesia's national Greenhouse Gas (GHG) emissions. This study aims were to obtain emission values in the agriculture, plantation, and animal husbandry sectors in Kampar Regency. The emission calculation method is based on the IPCC 2006 and 2019 refinement to the 2006 method with a Tier 1 approach. GHG emissions are calculated from rice cultivation activities, fertilizers usage, soil management, animal manure management, and the results of enteric fermentation from the digestion of animals. Data were obtained from BPS Kampar Regency confirmed by Department of Food Crops and Horticulture in Kampar Regency. The results showed that the GHG emission in Kampar Regency from the agricultural and the plantation sectors was 297.15 Gg CO2 equivalent per year, and the GHG emission from the animal husbandry sector was 14,012.24 Gg CO2 equivalent per year. The total GHG emissions from the agricultural, plantation, and animal husbandry sectors in 2020 amounted to 14,309.39 Gg CO2 equivalent per year, where the animal husbandry sector contributed the most by 97.92%.Keywords : GHG emissions, Kampar District, plantations, agriculture, animal husbandry
PENGARUH KEGIATAN CAR FREE DAY (CFD) DI KOTA PEKANBARU UNTUK PENGURANGAN EMISI KARBON DARI KEGIATAN TRANSPORTASI Aryo Sasmita
Purifikasi Vol 15 No 2 (2015): Jurnal Purifikasi
Publisher : Department of Environmental Engineering-Faculty of Civil, Environmental and Geo Engineering. Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25983806.v15.i2.27

Abstract

Adanya penurunan kualitas udara oleh emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan transportasi di Pekanbaru, secara tidak langsung dapat menyebabkan perubahan iklim. Jenis gas emisi yang utama dan di sektor transportasi sebagai akibat dari pembakaran bahan bakar adalah gas CO2 dan CH4. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah kegiatan car free day (CFD) yang dilakukan oleh pemerintah Kota Pekanbaru setiap hari minggu pada puku 06:00 hingga pukul 09:00 WIB mampu memberikan dampak mengurangi emisi karbon yang dihasilkan dari kegiatan transportasi. Lokasi studi adalah jalan Diponegoro yang merupakan jalan yang dipergunakan untuk CFD. Pengumpulan data primer dilakukan pengaambilan perhitungan jumlah kendaraan dengan metode traffic counting. Kemudian dilakukan pengumpulan data sekunder, antara lain data perhitungan nilai emisi dengan mengumpulkan data perhitungan satuan mobil penumpang, faktor emisi untuk tiap jenis kendaraan dan data konsumsi energi spesifik untuk masing-masing kendaraan. Dari hasil perhitungan diketahui bahwa nilai emisi karbon dioksida yang berhasil dikurangi dengan adanya kegiatan CFD adalah 236,486 kg CO2.
Analisis Kecukupan Ruang Terbuka Hijau Publik untuk Penyerapan Emisi Karbondioksida dari Sektor Transportasi di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau Aryo Sasmita; Fatatulkhairani Fatatulkhairani
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 5 No. 1 (2019): September
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.787 KB) | DOI: 10.29080/alard.v5i1.517

Abstract

Emisi karbon dioksida merupakan isu yang penting karena berhubungan dengan pemanasan global dan perubahan iklim. Transportasi merupakan sektor yang menyumbangkan emisi karbon dioksida terbesar setelah sektor industri. Aktivitas transportasi di Kecamatan Mandau terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, ditambah lagi jalan di Kecamatan Mandau digunakan sebagai jalur lintas utama pulau sumatera. Dikecamatan Mandau juga terdapat industri minyak bumi yang merupakan industri strategis nasional dan beberapa industri besar dan menengah, serta ratusan industri kecil. Salah satu cara mitigasi yang dapat dilakukan adalah dengan memanfaatkan Ruang Terbuka Hijau untuk menyerap emisi karbon dioksida. Pada penelitian ini dilakukan perhitungan emisi karbon dioksida yang dihasilkan dari sektor transportasi dan menghitung daya serap Ruang Terbuka Hijau yang ada di Kecamatan Mandau. Dari penelitian ini diketahui bahwa emisi dari sektor transportasi adalah 241.155,66-ton CO2/tahun dan serapan emisi karbon dioksida oleh Ruang Terbuka Hijau eksisting hanya sebesar 7,55%. Untuk itu disarankan melakukan upaya untuk mengurangi emisi karbon dioksida yaitu peningkatan pemanfaatan transportasi masal dan Pembangunan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda. Untuk meningkatan daya serap karbon dioksida oleh Ruang Terbuka Hijau dapat dilakukan dengan penambahan lahan potensial, dan mempertahan lahan eksisting dengan meningkatan peran serta masyarakat.
Pemetaan Dan Perhitungan Pemaparan Tingkat Kebisingan Pada Industri Pengolahan Kayu Di Kecamatan Siak, Provinsi Riau Aryo Sasmita; Muhammad Reza; Rodesia Mustika Rozi
Al-Ard: Jurnal Teknik Lingkungan Vol. 6 No. 2 (2021): Maret
Publisher : Department of Environmental engineering, Faculty of Science and Technology, Islamic State University Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/alard.v6i2.1185

Abstract

In its operational activities, CV. X, which is engaged in wood processing, has the potential to cause noise from machines used in the pallet production process. Noise in this company can affect the health and comfort of workers. This study aims to determine the intensity of noise produced by the production machine, the length of time of exposure, noise mapping and noise control efforts. The noise measurement method refers to the noise mapping method and the instrument used is the Sound Level Meter (SLM). The data obtained were then processed into contour maps with variations in blue, green, yellow, purple and red. The results showed the highest noise level was 99.4 dB and the lowest noise level was 67,3 dB. Based on the results of calculations using the NIOSH equation from 128 measurement points of the noise mapping method, there are 38 points with a noise level> 85 dB which indicates the exposure time is above the standard recommended by NIOSH. The highest noise level was 99.4 dB with an exposure time of 0,3 hours and the lowest noise level was 67.3 dB with an exposure time of 475 hours. Control measures that can be made to reduce noise include control from sources, transmission lines, and receivers.
Dispersi Karbon Monoksida (CO) dari Emisi Transportasi Menggunakan Model Gaussian Line Source di Jalan Jendral Sudirman Pekanbaru Aryo Sasmita; Imalatunil Khaira; Shinta Elystia; Muhammad Reza
Journal of Environmental Engineering and Waste Management Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : President University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33021/jenv.v6i2.1448

Abstract

Transportation is the most influential source in increasing levels of carbon monoxide (CO) in the air. Pekanbaru is the capital of Riau province which is experiencing rapid economic development that is a cause of population growth and increasing the number of motorized vehicles. The purpose of this study is to measure CO concentrations from mobile sources then compare them with PP No. 41 of 1999, calculating CO concentrations with the Gaussian Line Source Model, and mapping the predicted distribution of CO emissions on Jalan Jendral Sudirman, Pekanbaru City. The method used is counting the number of motorized vehicles (traffic counting) and measured the concentration of CO and wind speed in the field.  The results showed that the highest CO concentration on Jalan Jendral Sudirman Pekanbaru City was on Tuesday with a concentration of 6603.95 µg/m3 (5.767 PPM) at the sampling point in front of Ramayana Store and 1.4620.3 µg/m3 at the sampling point in front of Sudirman Square, both concentrations are still below the air quality standard based on PP No. 41 of 1999. From the calculation of the model, the concentration obtained in Ramayana for the measurement distance of 0 m was 27.198 µg/m3, at a distance of 5 m was 0.133 µg/m3, and at a distance of 10 m was 0.060 µg/m3. At Sudirman Square, obtained CO concentrations for the measurement of 0 m is 26.869 µg/m3, at a distance of 5 m is 0.131 µg/m3, at  a distance of 10 m is 0.059 µg/m3.
EVALUASI TINGKAT KEBISINGAN DI BANDARA SULTAN SYARIF KASIM II PEKANBARU Aryo Sasmita; David Andrio
WAKTU Vol 15 No 1 (2017): Waktu: Jurnal Teknik UNIPA
Publisher : Fakultas Teknik , Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/waktu.v15i1.441

Abstract

Tingginya tingkat mobilisasi dan perkembangan Pekanbaru menuju kota metropolitan beberapa tahun belakangan berhubungan langsung dengan pertumbuhan aktivitas transportasi, termasuk tranportasi udara. Bandara Sultan Syarif Kasim II menjadi bandara internasional mengakibatkan aktivitas bandara yang semakin tinggi. Aktivitas bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru berpengaruh terhadap peningkatan kebisingan dikawasan Bandara, sehingga diperlukan penelitian tentang kebisingan akibat aktivitas pesawat terbang. Perhitungan tingkat kebisingan sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 48 tahun 1996 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 51 tahun 1999. Perhitungan menunjukkan Tingkat kebisingan tertinggi di kawasan Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II berada di landasan pacu selatan yaitu 88,63 dBA, sedangkan tingkat kebisingan terendah berada pada titik apron timur yaitu 77,72 dBa. Hasil perhitungan diketahui bahwa lama bekerja paling singkat berada di landasan pacu selatan, maksimal bekerja yang diperbolehkan pada daerah tersebut hanya 3,46 jam. Maksimal bekerja terlama di apron timur selama 43,05 jam. Oleh karena itu pekerja disekitar daerah yang memiliki kebisingan yang tinggi harus menggunakan Alat pelindung diri untuk mengurangi dampak kebisingan yang dihasilkan dari aktivitas Bandara
ANALISIS CARBON FOOTPRINT YANG DIHASILKAN DARI AKTIVITAS RUMAH TANGGA DI KELURAHAN LIMBUNGAN BARU KOTA PEKANBARU Aryo Sasmita; Jecky Asmura; Ivnaini Andesgur
WAKTU Vol 16 No 1 (2018): -
Publisher : Fakultas Teknik , Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/waktu.v16i1.1494

Abstract

Tingginya tingkat kepadatan penduduk di Kelurahan Limbungan Baru memiliki potensi sebagai salah satu penyumbang emisi CO2 ke atmosfer. Emisi CO2 dari aktifitas rumah tangga dibagi menjadi emisi CO2 primer dan sekunder. Emisi CO2 primer berasal dari penggunaan bahan bakar di rumah tangga, sedangkan adalah emisi CO2 sekunder yang dihasilkan dari penggunaan alat-alat listrik di rumah tangga. Data primer diperoleh dari survey dengan melibatkan 98 responden dan data sekunder yaitu peta wilayah, data demografi, dan data daya listrik. Variabel penelitian ini yaitu jumlah bahan bakar LPG dan minyak tanah, dan daya listrik yang terpasang di rumah tersebut. Perhitungan emisi CO2 dilakukan dengan menggunakan metode IPCC 2006. Total emisi CO2 dari kegiatan rumah tangga di Kelurahan Limbungan Baru adalah sebesar 2.194,614 ton CO2/bulan, dimana emisi CO2 primer adalah sebesar 185,535 ton CO2/bulan dan emisi CO2 sekunder adalah sebesar 2.009,089 ton CO2/bulan.
ANALISIS PENGARUH KECEPATAN DAN VOLUME KENDARAAN TERHADAP EMISI DAN KONSENTRASI KARBON MONOKSIDA DI JALAN JENDERAL SUDIRMAN, KOTA PEKANBARU Aryo Sasmita; Muhammad Reza; Shinta Elystia; Syarah Adriana
Jurnal Teknik Sipil Vol. 16 No. 4 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.932 KB) | DOI: 10.24002/jts.v16i4.5452

Abstract

Jumlah penduduk yang semakin meningkat mempengaruhi mobilitas masyarakat yang berdampak pada meningkatnya volume kendaraan dan kemacetan. Kemacetan akan bisa menyebabkan menurunnya kualitas udara diperkotaan, terutama gas CO yang berasal dari gas buang kendaraan. Penelitian ini dilakukan di Jalan Jenderal Sudirman yang memiliki kepadatan kendaraan tertinggi di Kota Pekanbaru. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis emisi dan konsentrasi CO yang dipengaruhi kecepatan dan volume kendaraan  yang berbeda. Metode yang digunakan yaitu menghitung kecepatan dan volume kendaraan, mengukur konsentrasi CO di lapangan, menghitung emisi CO, dan menganalisis besarnya pengaruh kecepatan dan volume kendaraan terhadap konsentrasi dan emisi CO. Pengambilan data dilakukan pada dua titik di jalan Jendral Sudirman Kota Pekanbaru yang dibedakan berdasarkan kecepatan rata-ratanya. Data yang diperoleh diuji menggunakan analisis linier berganda menggunakan software SPSS. Hasil dari penelitian memperlihatkan adanya hubungan yang selaras antara jumlah kendaraan, kecepatan kendaraan, dan emisi CO, dimana semakin banyak jumlah kendaraan pada suatu titik maka kecepatan kendaraan akan semakin rendah sehingga emisi CO yang dihasilkan lebih besar. Sebaliknya untuk konsentrasi CO, jumlah dan kecepatan kendaraan tidak selalu berpengaruh terhadap konsentrasi CO.  Hal ini dikarenakan konsentrasi CO terdispersi di udara yang disebabkan oleh faktor lain seperti kecepatan angin dan suhu.
Pemanfaatan Bahan Baku Limbah Pertanian sebagai Bahan Baku Pembuatan Kompos dan Asap Cair di Desa Benai Kecil Provinsi Riau Aryo Sasmita; Shinta Elystia; David Andrio; Yohanes Yohanes; Jecky Asmura; Gunadi Priyambada
Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia Vol 2 No 3 (2022): JAMSI - Mei 2022
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jamsi.341

Abstract

Kegiatan ini dilaksanakan di desa Benai Kecil, Kabupaten Kuantan Singingi. Desa ini dipilih karena dikenal sebagai daerah penghasil karet dan sawit di Propinsi Riau. Tujuan kegiatan ini masyarakat dapat melakukan penanganan limbah pertanian tanaman karet dan kelapa sawit yaitu mengolahnya menjadi pupuk kompos dan asap cair. Kegiatan Pengabdian dilakukan dengan cara memberikan pelatiahan kepada masyarakat membuat kompos dan asap cair. Indikator capaian kegiatan adalah perubahan pemahaman masyarakat tentang pembuatan kompos dan asap cair, bahan pembuatan kompos & asap cair, cara pembuatan kompos dan asap cair dan manfaat atau kegunaannya dari limbah pertanian. Dari hasil praktek, kompos yang dihasilkan masyarakat cukup baik, warna dan bau kompos seperti tanah, tidak panas (suhu antara 30-35 derajat Celcius), Namun pada pembuatan asap cair, masyarakat menghadapi kendala, yaitu produk asap cair yang dihasilkan sangat sedikit, walaupun proses pembuatannya sudah cukup lama, sekitar 5 jam dan asap cair yang dihasilkan belum mencapai grade 1, yaitu pengawet yang dapat digunakan untuk produk makanan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah peserta dapat memahami teknik pembuatan kompos dan asap cair dari limbah pertanian dengan baik yang ditunjukkan dengan persentase capaian ≥ 80% dan keinginan masyarakat yang besar untuk melakukan sendiri pembuatan kompos dan asap cair. Hal ini terliat dari antusiasme masyarakat saat kegiatan pelatihan pembuatan kompos dan asap cair.
DISPERSI SO2 DAN NO2 DARI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU) TEMBILAHAN, RIAU Aryo Sasmita; David Andrio; Risma Nopita
Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan Vol 13 No 2 (2021): Envirotek : Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : Program Studi Teknik Lingkungan, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.463 KB) | DOI: 10.33005/envirotek.v13i2.162

Abstract

The operation of Tembilahan steam power plant produced SO2 and NO2 emissions which can have an impact on the environment and human health. The purpose of this study was to map the distribution patterns of SO2 and NO2 produced from the Tembilahan steam power plant chimney using AERMOD software, comparing the concentrations of SO2 and NO2 gases with ambient air quality standards based on Government Regulation No. 41 of 1999, and comparing the simulation results between the rainy season and the dry season. Modeling is done using 1 year meteorological data with the division of the rainy season and dry season. The modeling results show that the pollutant distribution pattern of Tembilahan steam power plant tends to be towards the southwest. The concentrations of SO2 and NO2 per year were 75.18 µg / m3 and 43.53 µg / m3 respectively which were still below the predetermined quality standards. The dispersion of SO2 and NO2 pollutants in the dry season with a wide range of concentrations is less than during the rainy season.
Co-Authors Achmad Noerkhaerin Putra Adillah, Muhammad Iqbal Agustriani, Rina Aini, Keke Nur Alfarobi, Muhammad Hardi Almira, Ulimaz Amalia Syakinah Amalia Syakinah Maharani Budaya Ambarwati, Nandia Rian Aminuyati Andesgur, Ivnanaini Arga Aflyn Febrina H Arhamny Arhamny Arief Rachman Widyanto Arneni, Arneni Arsy Dian Puspita Sari Aulia, Syarifah Rizky Aurelia, Keyla Ayu Juwita Piani Ayu Putri Permata MS Berliani Osmeiri Berliani Osmeiri Chaniago Chaniago David Andrio Deassy Amelia Denisa Nurmalia Dewi Fitria Edward Edward Edward HS Edward Hs Edward, Edward Edward, Edward Eko Hendi Saputra, Eko Hendi Elvi Yenie, Elvi Ery Laksono Sadewo Ery Laksono Sadewo Etty Pratiwi Fajri, Sandra Monica Fariz Anzhari Kwanda Fatatulkhairani Fatatulkhairani Fatatulkhairani Fatatulkhairani Fatatulkhairani, Fatatulkhairani Fatiha Rizqa Febri Maharani Putri Febrian Maulana Gitamy Anggraini Hafidawati, Hafidawati Handayani, Devi Tri Hardyan, Rici Harimurti, M. Arief Harlen Yosep Sitinjak Harsena Hayas Fika Harsena Hayas Fika Hasdania, Annisa Meidiany Herfi Rahmi Hidayat, Hafizhul Hiqma Aulia Imalatunil Khaira Imalatunil Khaira Imam Suprayogi Iqbal Perdana Putra Isnaini Isnaini Isnaini Isnaini Ivnaini Andesgur Jecky Asmura Jecky Asmura Jordi Rifaldi Karina Yolanda Karina Yolanda Keke Nur Aini Khairani, Syafrida Khatami Achmad Lilya Irsianti Fadlilah Lita Darmayanti M. Hardi Alfarobi M. Iwan Fermi M. Yogi Riyantama Isjoni Mardhatillah, Annisa MIFTAHUL JANNAH Miftahul Ulum Mareta Milanna, Puji Annur Miska Alemina Ginting Muhammad Fajri Chaniago Muhammad Reza Muhammad Reza Muhammad Reza Muhammad Taslim Mutiara Zikron Nabil Abidin Nabila Noor Aliffia Nadya Dwi Permatasari Vionola Nandia Rian Ambarwati Nia Ramadhani Haryadi Nora Aprilin Noviyani Puji Nurmaida, Betharia Okthasia Indra Parlaungan Hasibuan Prabowo, Noor Arief Praja, Silvany Mutiara Prilianto, Danuardi Restu Priyambada, Gunadi PURWANTI PURWANTI Putra, Iqbal Perdana Putri Elisa S Putriani Putriani Rahmadini Setianingsih Ramadhan, Gentha Rezka Rahayu Febri Ribka Yunila Rifad Andrian Saragih Rika Lestari Rikhatul A’ini Riki Ablan Yusandre Risma Nopita Risma Nopita Rizka Agnestianova Rizki Zustika Robi Mulyadi Rodesia Mustika Rozi Rodesia Mustika Rozi Rosyanti, Vasella Dwi Rudea Faddhisrah Syahbana Rudhi Andreas Komang, Rudhi Andreas Sandra Monica Fajri Santi Dwi Putri Saputra, Ricko Adi Shinta Elystia Sintong Getsemani Situmeang, David Prinata Suci Hartina Fani Putri Syafrida Khairani Syahbana, Rudea Faddhisrah Syarah Adriana Syarah Adriana Triliani, Ana Aulia Ulfa Septianda Ulfatun Nisa Ulfatun Nisa, Ulfatun Ulimaz Almira Urip Rifani Violla Dwivannie Wahyu Akmal Wahyu Akmal Rinaldi Wan Dea Vianda Wanda Lestari, Wanda Winda Yani Christian S Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yulya Yulya Zoebar, M. Arif Yutaro Zustika, Rizki