Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Analisis Kondisi Terumbu Karang di Kawasan Pencadangan Konservasi Perairan Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu Nella Tri Agustini; Ayub Sugara; Ari Anggoro; Akbar Abdurrahman Mahfudz; Ali Muqsit
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 8, No 1 (2026): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v8i1.14777

Abstract

Ekosistem terumbu karang merupakan salah satu ekosistem penting di wilayah pesisir Kabupaten Kaur. Ekosistem ini merupakan habitat penting bagi biota laut yang ada di dalamnya, seperti Gurita, Lobster dan Lola yang tersebar pada ekosistem Terumbu Karang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kondisi Terumbu Karang di Kawasan Pencadangan Konservasi Perairan Kabupaten Kaur. Penelitian ini dilakukan pada 3 (tiga) titik pengamatan yaitu Desa Sekunyit, Desa Merpas dan Desa Linau, yang masuk ke dalam Kawasan pencadangan Konservasi Perairan Kabupaten Kaur. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) pada kedalaman 5-7 meter, kemudian dianalisis menggunakan perangkat lunak Coral Point Count with Excel extensions untuk memperoleh persentase tutupan substrat bentik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup di Desa Sekunyit sebesar 49,25%, Desa Linau 68,41%, dan Desa Merpas 57,20%, sedangkan tutupan karang mati masing-masing sebesar 48,22%, 29,64%, dan 41,53%. Spesies karang yang ditemukan terdiri atas 26 spesies di Sekunyit, 25 spesies di Linau, dan 19 spesies di Merpas. Berdasarkan baku mutu kondisi terumbu karang menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 2001, kondisi terumbu karang di wilayah penelitian termasuk dalam kategori sedang hingga baik dengan tutupan karang hidup berkisar antara 49,25–68,41%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ekosistem terumbu karang di kawasan pencadangan konservasi perairan Kabupaten Kaur masih memiliki kondisi yang relatif baik dan berpotensi mendukung keberlanjutan sumber daya pesisir. Informasi ini penting sebagai dasar dalam pengelolaan dan upaya konservasi terumbu karang di wilayah pesisir Kabupaten Kaur.
Karakteristik Reproduksi Kerang Lokan (Geloina erosa) Berdasarkan Indeks dan Tingkat Kematangan Gonad di Muara Jenggalu, Kota Bengkulu Nella Tri Agustini; Firdha Iresta Wardani; Ayub Sugara; Ayub Sugara Anggini Fuji Astuti
Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol. 21 No. 1 (2026): Jurnal Ilmu-ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : University of PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/04yjrn49

Abstract

Kerang lokan Geloina erosa merupakan bivalvia bernilai ekonomis yang banyak dimanfaatkan di Muara Jenggalu, Kota Bengkulu. Peningkatan eksploitasi tanpa memperhatikan kondisi reproduksi berpotensi mengancam keberlanjutan populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik reproduksi G. erosa berdasarkan Indeks Kematangan Gonad (IKG) dan Tingkat Kematangan Gonad (TKG). Pengambilan sampel dilakukan pada Mei–Oktober 2023 di ekosistem mangrove Muara Jenggalu. Sampel dikumpulkan secara manual saat kondisi surut, selanjutnya dibawa ke Laboratorium Perikanan, Universitas Bengkulu untuk analisis lebih lanjut. Gonad diamati secara morfologis dan mikroskopis (100×–400×) untuk menentukan jenis kelamin dan tingkat kematangan gonad. Nilai IKG dihitung sebagai perbandingan berat gonad terhadap berat tubuh total. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKG pada betina berkisar 0,145–0,538 (rata-rata 0,336) dan jantan 0,048–0,931 (rata-rata 0,325), yang menunjukkan perkembangan gonad relatif sinkron. Distribusi TKG didominasi TKG I pada jantan dan TKG II pada betina, dengan variasi TKG I–III. Hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas reproduksi yang berlangsung secara terus menerus sepanjang tahun.   The mangrove clam Geloina erosa is an economically important bivalve widely utilized in the Jenggalu Estuary, Bengkulu City, Indonesia. Increasing exploitation without considering reproductive conditions may threaten the sustainability of its population. This study aimed to analyze the reproductive characteristics of G. erosa based on the Gonadosomatic Index (GSI) and gonadal development stages. Sampling was conducted from May to October 2023 in the mangrove ecosystem of the Jenggalu Estuary. Specimens were collected manually during low tide and transported to the Fisheries Laboratory, University of Bengkulu for further analysis. Gonads were examined morphologically and microscopically (100×–400× magnification) to determine sex and gonadal development stages. The GSI was calculated as the ratio of gonad weight to total body weight. The results showed that GSI values ranged from 0.145–0.538 (mean 0.336) in females and 0.048–0.931 (mean 0.325) in males, indicating relatively synchronous gonadal development. The distribution of gonadal stages was dominated by Stage I in males and Stage II in females, with stages ranging from I to III. These findings indicate continuous reproductive activity throughout the year.
BUDIDAYA BELUT DI LAHAN MINIMALIS DALAM UPAYA MENINGKATKAN MUTU GIZI KELUARGA DI KELURAHAN BERINGIN RAYA KECAMATAN MUARA BANGKAHULU KOTA BENGKULU Ayub Sugara, S.Kel., M.Si; Bustanuddin Lubis; Julia Purnama Sari; Nella Tri Agustini; Feri Nugroho
TRIBUTE: JOURNAL OF COMMUNITY SERVICES Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/tribute.v7i1.48556

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini berjudul “Budidaya Belut di Lahan Minimalis dalam Upaya Meningkatkan Mutu Gizi Keluarga di Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu.” Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh Kebutuhan akan gizi keluarga, khususnya protein hewani, semakin meningkat seiring dengan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pola makan sehat dan seimbang. Namun, tidak jarang pemenuhan gizi tersebut terkendala oleh keterbatasan ekonomi maupun akses terhadap bahan pangan bergizi. Selain itu keterbatasan lahan pekarangan di kawasan perkotaan serta kebutuhan masyarakat akan sumber pangan bergizi dan bernilai ekonomis. Belut (Monopterus albus) merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang kaya protein, mudah dibudidayakan, dan memiliki prospek pasar yang menjanjikan. Rumusan masalah dalam program ini adalah: (1) bagaimana memanfaatkan lahan pekarangan yang sempit untuk usaha produktif, (2) bagaimana meningkatkan pemenuhan gizi keluarga melalui hasil budidaya belut, serta (3) bagaimana menumbuhkan kemandirian masyarakat dalam pengelolaan usaha kecil berbasis rumah tangga. Rencana kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 1 oktober – 15 november tahun 2025 di RT 04 RW 05 Kelurahan Beringin Raya Kota Bengkulu. Kegiatan beternak belut di pekarangan rumah tidak hanya memberikan solusi atas kebutuhan gizi keluarga, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk memperoleh tambahan penghasilan. Oleh karena itu, melalui proposal ini diajukan program “Budidaya Belut Di Lahan Minimalis Dalam Upaya Meningkatkan Mutu Gizi Keluarga Di Kelurahan Beringin Raya Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu” sebagai salah satu upaya nyata dalam meningkatkan ketahanan pangan keluarga sekaligus pemberdayaan ekonomi rumah tangga.
Mapping The Potential of Mangrove Planting in The Rehabilitation of Coastal Ecosystems Using Drone Technology Ayub Sugara Ayub; Ari Anggoro; Agung Hasan Lukman; Ana Ariasari; An Nisa Nurul Suci; Nella Tri Agustini; Feri Nugroho; Ali Muhammad Muslih; Cindy Claudea Hanami; Rifi Zulhendri
Journal of Sylva Indonesiana Vol. 6 No. 02 (2023): Journal of Sylva Indonesiana
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/jsi.v6i02.10515

Abstract

Mangroves, as one of the vegetation types that is a natural stronghold from coastal disasters, also function as a shelter and find food for various biota in coastal ecosystems. Therefore, protecting the mangrove ecosystem from degradation is very important. One effort that needs is ecosystem rehabilitation through mangrove planting in coastal environments. To support it, a design was devised using drones and remote-sensing vehicles to assist in making mangrove planting designs. This research was conducted in Jenggalu Estuary, Gading Cempaka District, Bengkulu City. This research aims to study the use of drones in mapping potential mangrove planting areas and designing a mangrove planting plan to rehabilitate coastal ecosystems. In mapping using drones, the height used was 80 meters with 80% overlap, and 2.87 hectares of potential mangrove planting area was obtained. Based on the research results, drones in mapping are very useful in calculating the area of potential mangrove planting areas and designing effective planting plans. There are four scenarios for planting mangroves with a spacing of 0.5 m, 1 m, 2 m, and 3 m, respectively. For a planting area of 2.87 ha, the number of seeds needed is 114,800 planting points for a distance of 0.5 m, 28,700 planting points for a distance of 1 m, 7,175 planting points for a distance of 2 m, and 3,189 planting points for a distance of 3 m