Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

HUBUNGAN PERSEPSI PENYAKIT DENGAN TINGKAT KEPATUHAN TERAPI OBAT PADA PASIEN  HIPERTENSI DI DESA LIMBANGAN WETAN KECAMATAN BREBES,  KABUPATEN BREBES Ummi Asila; Eko Retnowati; Bintari Tri Sukoharjanti
JOURNAL OF BAJA HEALTH SCIENCE Vol. 6 No. 02 (2026): Journal of Baja Health Science
Publisher : Universitas Banten Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47080/joubahs.v6i02.4802

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di dunia. Kepatuhan dalam menjalani terapi obat sangat penting untuk mencapai pengendalian tekanan darah yang optimal. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kepatuhan terapi adalah persepsi pasien terhadap penyakit yang dideritanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan persepsi penyakit dengan tingkat kepatuhan terapi obat pada pasien hipertensi di Desa Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 150 pasien hipertensi yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Persepsi penyakit diukur menggunakan Brief Illness Perception Questionnaire, sedangkan kepatuhan terapi obat diukur menggunakan Medication Adherence Report Scale. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi penyakit kategori kurang (70,0%) dan tingkat kepatuhan terapi obat kategori tidak patuh (88,0%). Analisis bivariat menunjukkan nilai p sebesar 0,742 (p>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan tingkat kepatuhan terapi obat. Disimpulkan bahwa persepsi penyakit bukan merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan terapi obat pada pasien hipertensi. Edukasi dan intervensi yang mempertimbangkan faktor lain perlu dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien hipertensi.
PENGARUH KONSENTRASI VARIASI BASIS CERA ALBA TERHADAP UJI EVALUASI MUTU FISIK SEDIAAN LIP BALM EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) Bintari Tri Sukoharjanti; Rika Murharyanti; Hasriyani Hasriyani; Oktaviani Setiya Prastiwi
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 9, No 1 (2024): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v9i1.2441

Abstract

Kosmetik lip balm merupakan bahan pemakaian bagian luar tubuh  terutama pemakaian pada bibir. Lip balm terkenal melembabkan area pemakainya. Kulit buah naga merah dipakai sebagai ekstrak dan bahan aktif  inovasi bahan alam yang dapat dijadikan sediaan lip balm dengan basis cera alba berbeda. Kulit buah naga memiliki manfaat seperti flavonoid, tanin, dan alkaloid yang diketahui memiliki senyawa antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh variasi konsentrasi basis cera alba dan evaluasi mutu fisik yang baik dengan formulasi tepat memenuhi persyaratan lip balm. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental untuk melihat basis tepat diantara ketiga formula basis konsentrasi yang dipakai 5%, 15%, 25% dengan parameter uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar. Pengujian selanjutnya yaitu uji topikal dan uji iritasi pada manusia. Metode ekstraksi maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Analisis dengan SPSS 25. Hasil Formula basis cera alba variasi basis F1 5%, F2 15% dan F3 25%, ekstrak kulit buah naga 14,5%. Hasil mutu fisik menunjukkan ketiga formula berwarna coklat, khas ekstrak dan mawar, tekstur lembut, F3 bertekstur keras,  F2 semi padat, F1 mudah hancur. Uji pH F1, F2, F3 memiliki rentang stabil pH-6. Daya lekat F1, F2, F3 memenuhi persyaratan 1 detik, kecuali uji homogenitas dan daya sebar. Uji topikal pada manusia didapatkan hasil merata, pada uji iritasi tidak ada gejala apapun sehingga aman digunakan. Secara karakteristik formula-2 memenuhi persyaratan sebagai sediaan lip balm yang baik dan aman digunakan.  Kata Kunci : Cera alba, uji evaluasi mutu fisik, kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), lip balm.
PENGARUH PEMBERIAN DOSIS EKSTRAK ETANOL DAUN MELINJO (Gnetum gnemon L.) Bintari Tri Sukoharjanti; Wahid Sabaan; Endang Setyowati; Ratna Dewi Isnaini; Novia Putri Anggraini
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 1 (2023): Indonesia Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i1.2098

Abstract

ABSTRAKDemam didefinisikan sebagai suhu maksimum untuk suhu tubuh, yaitu 36–37°C. Suhu ini dicapai saat fajar dengan badan yang turun seiring turunnya suhu tubuh sehingga timbul kemerahan pada permukaan kulit. Tanaman Melinjo mengandung senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai penghambat siklooksigenase. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan dosis ekstrak daun melinjo sekitar 100, 200, dan 300 mg, serta menggunakan mencit sebagai hewan uji. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis pemberian ekstrak etanol daun melinjo terhadap efektivitas antipiretik yang diinduksi pepton pada jantan putih. Hasil Penelitian didapatkan kontrol positif parasetamol terdapat penurunan suhu 0,6oC, dosis I ekstrak daun melinjo 100mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,2oC, dosis II ekstrak daun melinjo sebesar 200mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,4oC, dosis III ekstrak daun melinjo sebesar 300mg/KgBB terdapat penurunan suhu 0,6oC, hasil penurunan suhu kontrol positif setara dengan dosis III yaitu 0,6oC, dilanjutkan dengan uji ANOVA yang memperoleh besaran nilai signifikasi 0,05 yaitu nilai sig. 0,024. Kesimpulan, ekstrak etanol daun melinjo dapat berfungsi sebagai antipiretik pada kasus mencit putih jantan yang diobati dengan pepton; dosis paling efektif adalah 300 mg, yang dapat mengurangi infeksi saluran kemih pada tingkat yang kira-kira sama dengan parasetamol. Kata Kunci: Antipiretik, Ekstrak Etanol Daun Melinjo, Mencit Putih Jantan, Pepton.
FORMULASI SEDIAAN NAIL POLISH PEEL OFF DAN UJI ANTIJAMUR EKSTRAK BUNGA KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) TERHADAP Candida albicans Arina Al Haq; Hasriyani Hasriyani; Bintari Tri Sukoharjanti; Ratna Dewi Isnaini
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 10, No 1 (2025): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v10i1.3524

Abstract

Onikomikosis merupakan infeksi jamur pada kuku yang salah satu penyebabnya adalah Candida albicans. Bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.) mengandung fenol, flavonoid, dan alkaloid yang berpotensi sebagai antijamur. Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antijamur dan karakteristik fisik nail polish peel off bunga kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis L.). Metode penelitian ini adalah eksperimental laboratorium yang dilaksanakan di Laboratorium Biologi Farmasi Universitas Muhammadiyah Kudus pada bulan Februari–Maret 2026. Sampel berupa 1.000 gram serbuk simplisia dari 4 kg bunga kembang sepatu merah dengan kriteria inklusi bunga segar, tidak rusak, dan bebas pestisida. Variabel independen penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak bunga kembang sepatu dan variabel dependen meliputi aktivitas antijamur serta karakteristik fisik sediaan. Formulasi terdiri atas F1 (25%), F2 (30%), dan F3 (35%), dengan F0 sebagai kontrol negatif serta ketokonazol krim sebagai kontrol positif. Aktivitas antijamur diuji menggunakan metode difusi sumuran, sedangkan karakteristik fisik dievaluasi melalui pengujian organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar, daya lekat, waktu kering, dan viskositas. Analisis data menggunakan uji Shapiro–Wilk, Levene, One Way ANOVA, dan Tukey HSD. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formulasi memenuhi persyaratan karakteristik fisik nail polish peel off. Diameter zona hambat F1, F2, dan F3 berturut-turut sebesar 5,06 mm, 5,93 mm, dan 5,98 mm yang termasuk kategori sedang, sedangkan kontrol positif sebesar 12,15 mm termasuk kategori kuat dan kontrol negatif tidak menunjukkan zona hambat. Formulasi F3 (35%) menghasilkan daya hambat terbesar, namun tidak berbeda signifikan secara statistik. Penelitian selanjutnya disarankan mengembangkan sediaan dengan konsentrasi ekstrak lebih tinggi serta melakukan uji stabilitas, iritasi, dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM).
FORMULASI, EVALUASI, DAN UJI IRITASI SEDIAAN SLEEPING MASK KOMBINASI EKSTRAK DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DAN MADU TERHADAP HAMSTER (SYRIAN HAMSTER) Wara Palupi; Riana Putri Rahmawati; Bintari Tri Sukoharjanti; Nura Ali Dahbul
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 10, No 1 (2025): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v10i1.3522

Abstract

Daun kelor (Moringa olefera) diketahui mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin yang berpotensi dimanfaatkan dalam sediaan kosmetik topikal. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan mengevaluasi sediaan sleeping mask kombinasi ekstrak daun kelor dan madu serta mengetahui keamanan sediaan melalui uji iritasi. Ekstrak daun kelor diperoleh dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%. Sediaan diformulasikan menjadi empat formula, yaitu F0 (ekstrak 0% dan madu 0%), F1 (ekstrak 1% dan madu 5%), F2 (ekstrak 3% dan madu 3%) F3 (ekstrak 5% dan madu 1%). Variasi formula dilakukan untuk mengetahui pengaruh perbedaan konsentrasi kedua bahan aktif terhadap karakteristik fisik sediaan. Evaluasi meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, dan uji iritasi pada hamster jenis Syrian. Hasil penelitian menunjukkan kadar air simplisia sebesar 4,30% dan rendemen ekstrak sebesar 11,46%. Skrining fitokimia menunjukkan ekstrak positif mengandung flavonoid, tanin, dan saponin. Seluruh formula memenuhi persyaratan organoleptik, homogenitas, pH, viskositas, dan daya lekat, sedangkan F2 tidak memenuhi syarat daya sebar. F1 merupakan formula paling optimal berdasarkan hasil evaluasi fisik sediaan. Hasil uji iritasi menunjukkan seluruh formula tidak menimbulkan eritema maupun edema dengan skor iritasi 0. Berdasarkan hasil tersebut, kombinasi ekstrak daun kelor dan madu berpotensi dikembangkan sebagai sediaan sleeping mask dengan karakteristik fisik yang baik dan aman digunakan. 
PENGARUH PERBANDINGAN PEMBERIAN DOSIS EKSTRAK ETANOL DAUN NAMPU (Homelomena rubescens ‘Maggy’) TERHADAP EFEK ANTIPIRETIK PADA TIKUS PUTIH JANTAN Bintari Tri Sukoharjanti; Eko Retnowati; Amelia Nailis Saadah
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 9, No 2 (2024): IJF (INDONESIA JURNAL FARMASI)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v9i2.2878

Abstract

Latar Belakang: Nampu, juga dikenal sebagai "Qiannianjian", merupakan tanaman hias yang tumbuh di daerah pegunungan, di sepanjang tepi sungai, dan di sepanjang tepi danau. Tanaman ini mengandung banyak saponin dan flavonoid yang memiliki fungsi sebagai antripetik yang menurunkan suhu tubuh..Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antipiretik pada daun nampu terhadap tikus putih jantan yang diinduksi pepton.Metode : penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif yang dilakukan secara eksperimental group-design.Hasil : Daun nampu mengandung saponin dan flavonoid. Hasil pengujian lima ekor tikus jantan dengan membagi menjadi lima kelompok perlakuan, dengan pemberian induksi pepton (T1) suhu kelima hewan uji mengalami kenaikan suhu antarra 1,66 hingga 1,78oC dari suhu awal, pemberian aquades (K-) tidak mengakibatkan penurunan suhu tubuh kelima hewan uji, masih berada di kisaran 38oC, pemberian sirup paracetamol secara signifikan mengurangi suhu kelima hewan uji, dengan penurunan hingga 1.20oC pada menit ke-120 pasca induksi pepton denga perbandingan hasil pegujian antireptik dari kelompok ekstrak etanol daun nampu, menunjukkan pemberian dosis 250 mg/KgBB ekstrak etanol daun nampu pada hewan uji menghasilkan penurunan suhu yang signifikan hingga 0.90oC. Pemberian dosis 500 mg/KgBB ekstrak etanol dan nampu memiliki dampak yang signifikan pada perubahan suhu badan tikus hingga 1.18oC pada akhir waktu pengujian. Begitupula dengan pemberian dosis 1.000 mg/KgBB ekstrak etanol daun nampu penurunan suhu tubuh hewan uji P3 mengalami penurunan suhu yang signifikan hingga 1.28oC.Simpulan : Ekstrak etanol daun nampu dengan pemberian dosis 1.000 mg/KgBB ditemukan menjadi dosis yang paling efektik dibandingkan kedua ekstrak etanol daun nampu lainnya dimana penurunan suhu tubuh hewan uji P3 mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih cepat dibandingkan suhu control positif (sirup paracetamol), dengan selisih penurunan suhu sekitar 3%.