Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Mekanisme Koping Dengan Depresi Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Jaya Jumain Jumain; Wahyu; Agustinus Talindong; Parmi; Saiful Ambodale; Lexy Kareba; Sudirman; Subardin AB
KEWINUS: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 2 No 2 (2025): Desember
Publisher : Universitas Widya Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65175/kewinus.v2i2.92

Abstract

Background: Final year students are vulnerable to academic and psychological stress that can impact mental health, especially depression. Coping mechanisms used by students play an important role in determining an individual's ability to deal with stress. Objective: This study aims to determine the relationship between coping mechanisms and depression in final year students at the Indonesian Jaya College of Health Sciences. Method: This study used a quantitative design with a cross-sectional approach. The sample size was 40 final year students selected using a total sampling technique. Data were collected using a coping mechanism and depression questionnaire, then analyzed univariately and bivariately. The statistical test used was the Chi-square test with a significance level of α = 0.05. Results: The results of the univariate analysis showed that most respondents had adaptive coping mechanisms (27 respondents (67.5%) and did not experience depression (34 respondents (85.0%). The bivariate analysis showed that all respondents with adaptive coping mechanisms did not experience depression (100.0%), while some respondents with maladaptive coping mechanisms experienced depression. The Chi-square test results obtained a p-value of 0.000 (p < 0.05), which indicates a significant relationship between coping mechanisms and depression in final year students. Conclusion: There is a significant relationship between coping mechanisms and depression in final year students at the Indonesia Jaya College of Health Sciences. Adaptive coping mechanisms act as a protective factor against depression.
SOSIALISASI GERAKAN MASYARAKAT DALAM PENURUNAN STUNTING Jumain Jumain; Wahyu Wahyu; Agustinus Talindong; Subardin AB; Robert V. Pelima; Lexy Kareba; Rikwan Rikwan; Parmi Parmi; Veny Mornalita Kolupe
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 3 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i3.22819

Abstract

Abstrak: Stunting jika tidak segera ditangani akan berdampak buruk dimasa depan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah stunting adalah melakukan sosialisasi kepada ibu hamil dan ibu yang memiliki balita dengan cara pemberian informasi tentang stunting karena dapat membentuk perilaku yang baik. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman, pengetahuan ibu tentang cara pencegahan stunting. Kegiatan sosialisasi ini menggunakan metode penyuluhan dengan media powerpoint dan leafleat yang dihadiri 20 orang ibu. Evaluasi yang dilakukan pada kegiatan ini dengan melihat hasil jawaban yang diperoleh dari pretest dan posttes dari pada peserta. Hasil dari kegiatan ini adalah adanya peningkatan skor pengetahuan ibu sebelum diberikan sosialisasi terdapat 19 ibu (95%) dengan pengetahuan kurang tentang stunting dan setelah diberikan sosialisasi terjadi peningkatan pada pengetahuan ibu menjadi baik sebanyak 17 ibu (85%). Saran yang dapat diberikan adalah perlu adanya peningkatan sosialisasi atau penyuluhan tentang stunting.Abstract: Stunting, if not treated immediately, will have negative impacts in the future. One effort that can be made to prevent stunting is by conducting outreach to pregnant women and mothers with toddlers by providing information about stunting because it can shape good behavior. This outreach activity aims to increase mothers' understanding and knowledge about how to prevent stunting. This socialization activity used the counseling method using PowerPoint and leaflets which was attended by 20 mothers. Evaluation is carried out in this activity by looking at the results of the answers obtained from the pretest and posttest from the participants. The result of this activity was that there was an increase in mothers' knowledge scores before being given the socialization, there were 19 mothers (95%) with poor knowledge about stunting and after being given the socialization there was an increase in mothers' knowledge to good for 17 mothers (85%). Suggestions that can be given are the need to increase socialization or education about stunting.
Edukasi Gizi Interaktif dalam Meningkatkan Pemahaman Pola Makan Sehat pada Remaja Sudirman Sudirman; Lexy Kareba; Saiful Ambodale; Fitri Arni; Agustinus Talindong; Sri Purwiningsih
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55338/jpkmn.v7i2.8739

Abstract

Masa remaja merupakan periode penting dengan kebutuhan gizi yang meningkat, namun hasil observasi di Desa Watatu menunjukkan bahwa pengetahuan remaja terkait gizi seimbang masih rendah dan berpotensi memengaruhi perilaku makan sehari-hari. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi gizi remaja melalui edukasi gizi interaktif sebagai solusi terhadap keterbatasan pemahaman tersebut. Metode yang digunakan adalah pendekatan pre-experimental dengan desain one group pre-test dan post-test pada 30 remaja. Kegiatan dilaksanakan melalui penyuluhan interaktif, diskusi, dan penggunaan media leaflet yang disesuaikan dengan konteks lokal. Hasil menunjukkan adanya peningkatan signifikan pengetahuan remaja, dimana proporsi jawaban benar meningkat dari 50–63,3% menjadi 86,7–96,7%, serta rata-rata skor meningkat dari 10,87 menjadi 18,43 (p < 0,05). Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi gizi interaktif efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja tentang pola makan sehat. Kegiatan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan literasi gizi dan berpotensi mendorong perubahan perilaku makan yang lebih sehat secara berkelanjutan.