Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MODAL SOSIAL PETANI CENGKEH DALAM MENDUKUNG USAHA PERTANIAN TANAMAN CENGKEH (Studi Kasus di Desa Ketanda Kecamatan Sumpiuh Kabupaten Banyumas) Malik, Imam
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 4 No 1 (2015): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas peran modal sosial petani cengkeh dalam mendukung usaha pertanian tanaman cengkeh. Lokasi penelitiannya di Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas. Pertanian cengkeh adalah salah satu pertanian yang pernah menjadi komoditi unggulan bagi petani di Indonesia, begitu juga bagi petani di Desa Ketanda, hingga akhirnya petani harus merugi karena cengkeh tidak laku di pasaran. Saat ini hanya beberapa petani cengkeh yang masih bertahan untuk tetap bertani cengkeh, hal ini tidak terlepas dari modal sosial yang dimiliki oleh para petani cengkeh. Hasil Penelitian menunjukan bahwa petani memiliki alasan kuat untuk tetap mempertahankan pertanian cengkeh yang dimiliki. Alasan petanidalammempertahankanpertaniancengkehnya diperoleh dari modal sosial yang dimiliki oleh para petani cengkeh. Modal sosial yang dimaksud yaitu berupa jaringan, trust, serta nilai dan norma. Petani memanfaatkan modal sosial yang mereka miliki melalui beberapa cara, yaitu: memanfaatkan jaringan untuk meningkatkan kemampuan pertanian cengkeh petani, untukmendistribusikan hasil panen, memanfaatkan nilai dan norma sebagai pengendaliandidalam usaha pertanian cengkeh, serta menjadikan trust sebagai dasar dalam mengambangkan pertanian cengkeh.Modal sosial yang dimiliki petani cengkeh saat ini berperan sebagai sarana informasi untuk mengembangkan pertanian cengkeh serta sebagai sarana untuk mendapatkan akses untuk melakukan pengembangan usaha pertanian cengkeh di Desa Ketanda.This article to discusses about social capital of farmer clove in supporting agricultural clove business. The location of the research is in Ketanda, Sumpiuh, Banyumas regency. Agricultural clove is one of agriculture that had ever been superior commodity for the farmers in Indonesia, especially in Ketanda. However, the farmers ever got lost because the clove was costless in the market. Today, there are some of the farmers who are able to maintain in this agriculture. Those are not separated from social capital from the farmers clove. The research showed that  the farmers have forceful reason to maintain agricultural clove. It is gotten from social capital of the farmers.  It is is channel, trust, norm and value. Farmers use their social capital in some effort, these efforts are: maintenance and replanting efforts cloves, distribution effort yields, attempts to impose values and norms in agricultural activities clove, and make the trust as a basis for agricultural float clove The social capital has role as information medium in agricultural clove, and it is as getting access information about agricultural clove.
Modal sosial dan media sosial pada masyarakat cyber di Desa Melung, Kabupaten Banyumas Imam Malik; Siti Irene Astuti Dwiningrum
Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi Vol 5, No 2 (2017): December
Publisher : Graduate School, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.988 KB) | DOI: 10.21831/jppfa.v5i2.15369

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: (1) penggunaan media sosial, (2) memetakan modal sosial, dan (3) menganalisis peran modal sosial dalam membentuk pola penggunaan media sosial yang ada pada masyarakat cyber di desa Melung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian fenomenologi. Unit analisisnya adalah masyarakat desa Melung. Data primer diperoleh dari hasil wawancara terhadap berbagai kategori informan di desa Melung. Analisis data dilakukan dengan mengumpulkan data, mereduksi data, dan verifikasi yang dilakukan secara bertahap. Hasil penelitian menunjukan bahwa media sosial di desa Melung digunakan sebagai media promosi bagi masyarakat untuk mempromosikan desa mereka sebagai desa wisata. Keberadaan media sosial dan pemanfaatanya sebagai media promosi didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap kepala desa. Kpercayaan masyarakat terhadap kepala desa berperan sebagai modal sosial yang ada di desa Melung. Keberadaan modal sosial yang dimiliki oleh masyarakat berperan sebagai pembentuk masyarakat cyber dan juga faktor utama terealisasinya pembangunan jaringan interenet di desa Melung.Kata kunci: media sosial, masyarakat cyber, modal sosial SOCIAL CAPITAL AND SOCIAL MEDIA IN CYBER SOCIETY IN THE MELUNG VILLAGE, REGENCY OF BANYUMASAbstractThis study aims to describe: (1) the use of social media, (2) mapping social capital, and (3) analyzing the role of social capital in shaping the patterns of using social media that exist in the cyber community in Melung village. This research used qualitative approach with phenomenology study. The unit of analysis is Melung village society. Primary data were obtained from interview on various categories of informants in Melung village. Data analysis was done by collecting data, reducing data, and verification which done in stages. The results showed that social media in Melung village was used as a media campaign for the community to promote their village as a tourist village. The existence of social media and their use was supported by the public's trust in the village head. The public's trust in the village head served as a social capital in the village Melung. The role of social capital that exists was as reinforcement in shaping the cyber community and the main factor of the realization, construction of the interenet network in the Melung  village.Keywords: social media, cyber society, social capital
PENDAMPINGAN PENYUSUNAN RANCANGAN PEMBELAJARAN IPS ACTIVE LEARNING MODEL BERBASIS SCIENTIFIC APPROACH BAGI GURU-GURU SMP-MTS SEKECAMATAN LINGSAR LOMBOK BARAT Jurnal Pepadu; Hairil Wadi; Ni Made Novi Suryanti; Sukardi Sukardi; Imam Malik; Nurul Aini; Raudatul Jannah
Jurnal Pepadu Vol. 4 No. 1 (2023): Jurnal Pepadu
Publisher : LPPM UNIVERSITAS MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/pepadu.v4i1.2233

Abstract

Pengabdian karya dosen yang dimanfaatkan masyarakat ini, dilatarbelakangi tuntutan profesional agar guru mampu merancang pembelajaran inovatif dalam tim sesama guru IPS. Namun realitanya guru belum melakukan. Oleh karena itu perlu solusi melalui pendampingan perancangan inovasi pembelajaran Active Learning model Scientific Approach Melalui Lesson Study. Tujuan pengabdian kepada karya dosen yang dimanfaatkan dosen masyarakat kemitraan ini untuk meningkatkan kemampuan guru-guru IPS SMPN 1 Lingsar dalam merancang Pembelajaran IPS Active Learning Model Scientific Approach. Inovasi pembelajaran IPS Active Learning Model Scietnfic Approach yang dimaksudkan adalah guru-guru IPS dalam tim merancang pembelajaran inovatif yang mengarahkan siswa pada kegiatan mengaktifkan yang dipadukan dengan kegiatan mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengkomunikasikan. Sedangkan manfaat Pengabdian karya dosen yang dimanfaatkan masyarakat ini memberikan pengetahuan sekaligus pemahaman kepada guru-guru IPS dalam meningkatkan kualitas profesionalitas dan pembelajaran. Adapun metode yang digunakan dalam pengabdian kepada masyarakat kemitraan ini, yaitu ekpositori, diskusi kelas, unjuk kerja, dan presentasi. Hasil kegiatan diantaranya 1) Penyampaian materi yang melibatkan dua orang dosen sebagai narasumber dan 20 orang peserta; 2) Guru secara berkolaborasi mengidentifikasi masalah yang berasal dari guru dan siswa pada mata pelajaran IPS;2)Hasil identifikasi masalah diputuskan solusi yang terbaik perancangan active learning model Scientific Approach;3) Merancang pembelajaran IPS Active Learning model Scientific Approach dengan tahapan identifikasi Kompetensi Dasar, penentuan Indikator pencapaian kompetensi (IPK), Penentuan tujuan pembelajaran penentuan materi pokok, Pendekatan, Strategi, model, metode, Media, sumber belajar, dan penilaian.
Korean Beauty Product Branding Trough Men: A Prestige Fulfillment For Fans Ananda Wahidah; Siti Nurbayani K; Anwar Soleh Purba; Tutin Aryanti; Imam Malik
Ilomata International Journal of Management Vol 4 No 2 (2023): April 2023
Publisher : Yayasan Ilomata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52728/ijjm.v4i2.701

Abstract

The visual beauty of entertainment actors is the main attraction for Korean popular culture products, especially beauty trends. Korean wave through beauty products offers a new discourse that beauty is not only absolute for the female but also represented through the male body. This is interesting to research because the preference for consumption patterns of aesthetic culture among Korean fans is not only for women, male fans are also objects of the Korean beauty product market. Interviews were conducted with Korean fans in Bandung, who are members of the Hansamo community and members of the cover dance by face-to-face. The results showed that South Korea successfully marketed beauty products through the perfect visual quality of Korean celebrities, instant branding, pop-up stores with attractive themes, and the provision of free testers. Korean Wave succeeded in utilizing the desire of Korean fans to consume Korean beauty products to fulfill their prestige in achieving the perfect face, fashion (style), and appearance like their idol.
Korean Beauty Product Branding Trough Men: A Prestige Fulfillment For Fans Ananda Wahidah; Siti Nurbayani K; Anwar Soleh Purba; Tutin Aryanti; Imam Malik
Ilomata International Journal of Management Vol 4 No 2 (2023): April 2023
Publisher : Yayasan Ilomata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52728/ijjm.v4i2.701

Abstract

The visual beauty of entertainment actors is the main attraction for Korean popular culture products, especially beauty trends. Korean wave through beauty products offers a new discourse that beauty is not only absolute for the female but also represented through the male body. This is interesting to research because the preference for consumption patterns of aesthetic culture among Korean fans is not only for women, male fans are also objects of the Korean beauty product market. Interviews were conducted with Korean fans in Bandung, who are members of the Hansamo community and members of the cover dance by face-to-face. The results showed that South Korea successfully marketed beauty products through the perfect visual quality of Korean celebrities, instant branding, pop-up stores with attractive themes, and the provision of free testers. Korean Wave succeeded in utilizing the desire of Korean fans to consume Korean beauty products to fulfill their prestige in achieving the perfect face, fashion (style), and appearance like their idol.
PENINGKATAN BUDAYA LITERASI BAGI ANAK MELALUI PEMBUATAN TAMAN BACA MINI DI DUSUN PONDOK SONGKAR LOMBOK TENGAH Khaerul Anam; Ananda Wahidah; Qamaruzzam A.B.Z; Imam Malik; Hikmah Ramdhani Putri; Rohin Novia Maydi Putri
JURNAL PENGABDIAN MANDIRI Vol. 2 No. 5: Mei 2023
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan literasi pada anak-anak tergolong rendah termasuk di Dusun Pondok Songkar, Lombok Tengah. Anak-anak yang masih bersekolah lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain. Banyak faktor yang mempengaruhi kondisi literasi yang rendah di kalangan anak-anak, salah satunya seperti minimnya fasilitas tempat membaca. Tujuan pengabdian ini untuk menggalakan kegiatan literasi melalui taman baca sehingga dapat menjadi wadah yang mendorong dan meningkatkan budaya literasi di kalangan generasi muda khususnya anak-anak. Strategi yang digunakan dengan menghadirkan Taman Baca Mini yang dilengkapi dengan beberapa sumber bacaan, serta pendampingan jangka Panjang. Keberadaan taman baca mini saat ini mulai menarik rasa antusias anak-anak di Dusun Pondok Songkar untuk mulai membaca buku. Taman baca mini di Dusun Pondok Songkar menjadi sarana yang meningkatkan pengetahuan dan wawasan masyarakat terutama generasi muda.
Strategi Adaptasi Siswa Minoritas dalam Mempertahankan Budaya pada Masyarakat Koja Imam Malik; Ananda Wahidah; Happri Novriza Setya Dhewantoro; Janah Puji Astuti
Indonesian Journal of Sociology, Education, and Development Vol 5 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52483/ijsed.v5i1.94

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tentang strategi adaptasi siswa minoritas komunitas kampung pekojan di kota Semarang. Khususnya untuk mengetahui pengalaman akulturasi dan upaya anak keturunan dalam menjaga kebudayaan yang diwariskan. Hal ini penting kaitannya dengan banyaknya kasus bullying yang terjadi di kalangan siswa. Beberapa kasus bullying diantaranya terjadi karena adanya dominasi oleh kelompok mayoritas terhadap minoritas atas dasar kesukuan. penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek penelitian adalah siswa atau siswi di Kota Semarang yang merupakan keturunan komunitas Pekojan. Pengumpulan data kualitatif melalui tindakan observasi dan wawancara terhadap narasumber yang terkait. Hasil penelitian menunjukan siswa keturunan dapat melakukan adaptasi dengan baik dilihat dari segi kontak dan juga pemeliharaan budaya kelompok. Kontak sosial dijalin melalui pertemanan dengan teman kelas tanpa mengesampingkan prinsip-prinsip budaya kelompok. Mereka tidak mengalami kesulitan karena budaya yang ada disekitar mereka sudah lama mengalami akulturasi. Pada penelitian ini tidak ditemukan adanya perilaku bullying yang dialami oleh siswa keturunan karena suku mereka yang berbeda. Penelitian ini memberikan informasi baru mengenai masyarakat kampung Pekojan dari sudut pandang remaja individu minoritas dalam menjalin kontak dengan masyarakat sekitar
PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI PADA REMAJA SEBAGAI PENCEGAHAN PERNIKAHAN DINI Syafruddin Syafruddin; Ni Made Novi Suryanti; Nursaptini Nursaptini; Imam Malik; Ananda Wahidah; Aryati Risma Ade
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 4 (2023): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i4.18049

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian kepada masyarakat dilatarbelakangi  kondisi yang memprihatinkan tentang kecenderungan tingginya angka pernikahan dini dan masih rendahnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi di kalangan remaja terutama siswa Sekolah Menengah Pertama. Remaja harus disiapkan menjadi Sumber Daya Manusia berkualitas karena menentukan masa depan suatu bangsa. Pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebagai pencegahan pernikahan dini sangat perlu untuk dilakukan. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini dengan topik pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebagai pencegahan pernikahan dini adalah meningkatnya pemahaman siswa akan kesehatan reproduksi dan dampaknya. Adapun pengabdian masyarakat dilakukan melalui jalur pendidikan formal dengan metode penyuluhan yang terdiri dari beberapa tahapan yaitu sosialisasi dan koordinasi kepada sekolah mitra, penyuluhan terkait pendidikan kesehatan reproduksi dan dampak buruk pernikahan dini, tahapan lainnya yang dilakukan yaitu diskusi dan tanya jawab serta evaluasi.  Hasil pengabdian masyarakat yang telah dilakukan yaitu siswa memiliki pemahaman tentang konsep kesehatan reproduksi, pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi, dan dampak buruk pernikahan dini bagi kesehatan reproduksi. Kata kunci: pendidikan;; kesehatan reproduksi; remaja; pernikahan dini ABSTRACTCommunity service activities are motivated by worrying conditions regarding the tendency of high rates of early marriage and low understanding of reproductive health among teenagers, especially junior high school students. Teenagers must be prepared to become quality human resources because they determine the future of a nation. Reproductive health education for teenagers as a prevention of early marriage is very necessary. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini dengan topik pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja sebagai pencegahan pernikahan dini adalah meningkatnya pemahaman siswa akan kesehatan reproduksi dan dampaknya. Meanwhile, community service is carried out through formal education with an outreach method which consists of several stages, namely socialization and coordination with partner schools, counseling related to reproductive health education and the negative impacts of early marriage, other stages carried out are discussion, question and answer and evaluation. The results of the community service that has been carried out are that students have an understanding of the concept of reproductive health, the importance of reproductive health education, and the negative impact of early marriage on reproductive health. Keywords: education; reproduction health; teenager; early-age marriage
Analisis Kolaborasi Siswa Penerapan Talking Stick Model Pemanfaatan Brosur Materi Sosiologi Wadi, Hairil; Sukardi, Sukardi; Malik, Imam; Nida , Holizatun
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 10 No. 1 (2025): Februari
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v10i1.3195

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi guru dalam membelajarkan materi sosiologi cenderung siswa lebih banyak menerima informasi dari guru daripada siswa aktif berinteraksi antar siswa sehingga menyebabkan pembelajaran sosiologi kurang mendapatkan respon.  Penelitian ini bertujuan menganalisis kolaborasi siswa dalam penerapan Talking Stick model pemanfaatan brosur untuk meningkatkan kobalorasi siswa dalam pembelajaran Sosiologi. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif metode kasus, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, dan dokumentasi. Subjek penelitian dengan teknik porposive sampling, yaitu guru sosiologi yang mengajar di kelas XII. Analisa data mengikuti analisis kualitatif model Miles and Huberman dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kolaborasi siswa muncul pada penerapan talking stick model pemanfaatan brosur seperti kerja sama, berbagi peran, tanggung jawab bersama, dan interaksi antar siswa berwujud aktivitas berdiskusi, mengumpulkan informasi, mengidentifikasi informasi, bertukar pikiran, membahas permasalahan, mencatat permasalahan, bertanya dan menjawab melalui pemanfatan brosur dipadu alat bantu tongkat (stick).
Masculinity as an Educational Process in the Reproduction of Gender Roles ZM, Hamidsyukrie; Sumitro, Sumitro; Nursaptini, Nursaptini; Malik, Imam; Aryati, Risma Ade; Dewi, Baiq Yulia Rahma
Journal La Edusci Vol. 6 No. 2 (2025): Journal La Edusci
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallaedusci.v6i2.2242

Abstract

This paper questions the symbolic production and educational reproduction of masculinity among the Sade community of Lombok, Indonesia. Based on ethnographic evidence, it critically analyzes the ways in which the traditional male authority is not only maintained through cultural practices and kinship systems but is actually taught, moralized and reproduced through generations. Although emergent forms of transitional masculinity, including male participation in household chores and shared household decision-making, may seem to be progressive, the results demonstrate that such changes frequently act to re-legitimize, rather than challenge, patriarchal authority. In this setting, masculinity is not so much a role as a symbolic regime, coded in ritual speech, spatial hierarchies, rights of inheritance, and public moral acknowledgment. The study will help in making critical contributions to the sociology of education by conceptualizing masculinity as a culturally constituted symbolic regime of governance and gendered pedagogy. It claims that learning in traditional societies is much more than schooling, and that it is carried out in ritualized speech, intergenerational imitation, and spatial-cultural coding. This gendered pedagogy socializes boys into power and speech and girls into service and silence and defines what is possible, permissible and desirable to both. The research criticizes equity-based educational interventions that focus on access or participation without focusing on the symbolic narratives of legitimacy and leadership. The results demand a radical reconsideration of gender-responsive education: an education that deconstructs the cultural logics of masculinity, de-centers patriarchal symbolism, and re-builds the moral architectures in which authority is learned and reproduced.