Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Pribadi Siswa yang Berkarakter di Sekolah Menengah Pertama Ihyauddiniyyah Kecik Besuk Probolinggo Ma’rifatul Iffah; Abdul Hamid; Baharuddin Zaini
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i2.3085

Abstract

Abstrak Pendidikan berupaya untuk menjadikan seorang insan agar memiliki banyak ‎pengetahuan dan kreativitas, ‎sehingga seseorang itu bisa menggunakan dengan baik pengetahuan yang didapatnya juga dengan ‎kreativitas yang mana hanya untuk melakukan suatu hal yang positif kepada masyarakat ‎disekitarnya. Sama halnya dengan adanya pendidikan moral, dalam konteks ini peran seorang ‎guru pendidikan agama islam merupakan sumber daya pendorong dalam terciptanya ‎kepribadian siswa yang berkarakter, dan juga suatu pengdalian saat membimbing ‎sikap dan perilaku manusia yang perlu diperbaiki. maka pembimbingan tingkah ‎laku wajib harus ada pendukungnya yaitu dengan ilmu tentang‏ ‏keagamaan pada dasarnya, ‎serta akidah pada khususnya, dengan melaksanakan berbagai tingkah laku baik yang ‎sudah dianjurkan. Penulis dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif sebagai sarana dalam menghasilkan kesimpulan data deskriptif yakni dengan kata-kata yang disusun atau perkataan dari orang-orang terkait dan kejadian serta kondisi lapangan yang sedang diamati. Dalam pengumpulan datanya menggunakan Observasi lokasi penelitian, wawancara pada informan, serta dokumentasi yang diperlukan serta teknik analisis data dilakukan tahapan dari reduksi data, menyajikan data, dan penarikan kesimpulan varifikasi. Hasil penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa peran guru pendidikan agama islam dalam pembentukan pribadi siswa yang berkarakter di sekolah menengah pertama ihyauddiniyyah kecik antara lain (a) sifat keagamaan, suatu kegiatan kegamaan yang mana haruslah dilakukan dengan sebagaimana sholat berjamaah di masjid atau musholla, baca alqur’an, hafalan doa-doa; (b) sikap kepedulian lingkungan yang ditanamkan semacam menyelenggarakan kebiasaan bersih-bersih seperti membersihkan sekitar halaman sekolah; (c) perilaku gemar membaca, maka sekolah harus mengadakan suatu kegitan budaya membaca agar siswa bisa terbiasa membaca buku dan akan menjadikan siswanya gemar membaca disekolah seperti siswa diperpustakaan sedang membaca buku dan siswa sedang membaca buku saat dikelas; (d) sifat cinta damai yang diajarkan, yang mana memberikan suatu penjelasan terhadap siswa yang kurang faham perdamaian dan melakukan aktifitas pertunjukan teater yang dapat menggambarkan kehidupan tingkah laku yang baik; (e) sifat rasa ingin tahu, yang diajarkan pada siswa dengan mengajukan tanya jawab siswa kepada guru pada saat diakhir jam pelajaran. Kata Kunci: Peran Guru, Pendidikan Agama Islam, Pribadi Siswa
Problematika Anak Broken Home dalam Proses Pembelajaran di MTS Miftahul Khoir Alas Tengah Besuk Yusrina Zaharini; Mamlu’atun Ni’mah; Babul Bahruddin
Jurnal Kewarganegaraan Vol 6 No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : UNIVERSITAS PGRI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/jk.v6i2.3477

Abstract

AbstrakBroken home adalah kondisi dimana sebuah keluarga tidak lagi harmonis sering terjadi pertengkaran hingga perceraian. Keretakan rumah tangga akan berakibat buruk pada pekembangan kepribadian seorang anak. Apabila tidak ada kekompakan dan dukungan dari kedua orang tuanya maka seorang anak akan mengalami hambatan dalam proses perkembangannya yang berdampak pada proses belajarnya. Tujuan dalam penelitian ini yaitu 1). Untuk mengetahui problematika yang dihadapi siswa broken home dalam proses pembelajaran 2). Untuk mengetahui bagaimana interaksi sosial siswa broken home di MTs Miftahul Khoir Alastengah Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo. Lokasi penelitian ini berada di MTs. Miftahul Khoir Alastengah Kecamatan Besuk Kabupaten Probolinggo. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian berupa wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teori. Teknik analisis data menggunakan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi anak broken home berasal dari keretakan rumah tangga kedua orang tuanya sehingga seorang anak seakan memiliki sebuah trauma yang berdampak pada proses pembelajarannya seperti kurang percaya diri, minat belajar berkurang, menutup diri hingga sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.Kata Kunci: Problematika, Anak Broken Home, Proses Pembelajaran AbstractBroken home is a condition where a family is no longer harmonious, there are often quarrels until divorce. Household rifts will adversely affect the development of a child's personality. If there is no cohesiveness and support from both parents, a child will experience obstacles in the development process that have an impact on the learning process. The objectives in this study are 1). To find out the problems faced by broken home students in the learning process 2). To find out how the social interaction of broken home students in MTs Miftahul Khoir Alast tengah, Besuk District, Probolinggo Regency. The location of this study was in MTs. Miftahul Khoir Alast tengah, Besuk District, Probolinggo Regency. The research method used by the researcher is a qualitative method. The data collection techniques used in the study were in the form of in-depth interviews, observations, and documentation. The data validity technique uses source triangulation and theory triangulation. Data analysis techniques use data collection, data reduction, data presentation and data verification. The results of this study show that the problems faced by broken home children come from the rift in the households of both parents so that a child seems to have a trauma that has an impact on the learning process such as lack of confidence, reduced interest in learning, closing himself to difficulty adapting to the surrounding environment.Keywords: Problems, Broken Home Children, Learning Process
Kecerdasan Buatan sebagai Ruang Aman untuk Ekspresi Linguistik: Studi Fenomenologi tentang Mahasiswa Introvert dalam Pembelajaran Bahasa Arab pada Program Studi Pendidikan Matematika di Universitas Islam Zainul Hasan Genggong Shobirin; Sahlani; Ahmad Muzammil; M. Inzah; Bahruddin Zaini
Learning, Media and Technology in Arabic Education Vol. 2 No. 1 (2026): Learning, Media and Technology in Arabic Education
Publisher : https://unikhams.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53515/tv3g5g11

Abstract

Arabic language education in Indonesia has continued to evolve in response to changing pedagogical demands and the rapid expansion of digital technology. This study aimed to map the development of Arabic language teaching methods in Indonesia from 2010 to 2024 and to identify shifts in research attention across six categories: Traditional Methods associated with pesantren education, Grammar–Translation Methods, Audio-Lingual Methods, Communicative Methods, Integrated Approaches, and Technology-Based Learning. A descriptive bibliometric mapping design was employed using publications retrieved from Google Scholar through Publish or Perish. From an initial pool of 500 records, 71 publications met the inclusion criteria and were classified according to publication year and dominant instructional orientation. The results showed that Traditional Methods had the broadest temporal presence, while Grammar–Translation, Audio-Lingual, Communicative, and Integrated Approaches appeared more intermittently. The most notable pattern was the rapid growth of Technology-Based Learning after 2020, culminating in 18 publications in 2024, which represented the highest annual count in the dataset. These findings indicate that Arabic language teaching in Indonesia is not shifting through the complete replacement of traditional approaches, but through their gradual coexistence with communicative, integrated, and digitally mediated practices. The study concludes that future development should emphasize context-sensitive integration between established pedagogical foundations and emerging technologies to support more flexible, interactive, and sustainable Arabic language learning.