Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

HUBUNGAN RASIONALITAS PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID ORAL TERHADAP EFEK SAMPING PENINGKATAN KADAR GLUKOSA DARAH DI APOTEK KANIGORO KABUPATEN MALANG Riana Putri Rahmawati; Emma Jayanti Besan; Ardiani Maulina Saputri
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 1 (2023): Indonesia Jurnal Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i1.2438

Abstract

Obat golongan kortikosteroid adalah kelompok obat yang sangat luas penggunaannya, sehingga mendapat julukan life saving drug. Meskipun memiliki efek farmakologi yang luas obat golongan ini juga perlu diwaspadai dalam penggunaannya, karena obat golongan ini memiliki efek samping yang berbahaya salah satunya adalah peningkatan kadar glukosa. Berdasarkan survei awal yang dilakukan di Apotek Kanigoro, diperoleh hasil bahwa banyak pasien yang menggunakan kortikosteroid oral intermediate maupun long acting, seperti metilprednisolon, prednisone dan deksametason. Mengingat tingginya angka penggunaan dan bahaya efek peningkatan kadar glukosa dari obat tersebut peneliti terdorong untuk mengetahui rasionalitas dan efek samping peningkatan kadar glukosa darah di Apotek Kanigoro Kabupaten Malang. Tujuan: Mengetahui Hubungan Rasionalitas Penggunaan Kortikosteroid Oral Terhadap Peningkatan Kadar Glukosa Darah di Apotek Kanigoro Kabupaten Malang. Metode: observasional analitik, diperoleh perhitungan sampel sebesar 50 responden dengan tekhnik purposive sampling, analisis hubungan dengan chi-square. Hasil Penelitian : 47 responden dinyatakan tepat dosis , 45 responden dinyatakan tidak tepat dalam lama penggunaan obat kortikosteroid, hasil pemeriksaan glukosa darah acak 24 jam 10 responden 10.0 % mengalami hiperglikemia, hasil pemeriksaan glukosa darah acak 1 minggu 20 responden 40.0 % mengalami hiperglikemia, hasil pemeriksaan glukosa darah acak 2 minggu 19 responden 38.0 % mengalami hiperglikemia. Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara rasionalitas penggunaan kortikosteroid oral terhadap peningkatan kadar glukosa darah acak di Apotek Kanigoro Kabupaten Malang.
EFEKTIVITAS ANTIDIABETES EKSTRAK ETANOL BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) METODE INDUKSI ALOKSAN Muhammad Nurul Fadel; Endang Setyowati; Emma Jayanti Besan; Izda Rahmawati
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 2 (2023): INDONESIA JURNAL FARMASI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i2.2251

Abstract

Diabetes adalah permasalahan penting bagi kesehatan masyarakat. Selama beberapa dekade terakhir terjadi peningkatan prevalensi dan jumlah kasus diabetes. Beberapa obat golongan antidiabetes mempunyai efek samping dengan demikian dilaksanakan penelitian dengan menggunakan bahan alam sebagai obat tradisional seperti bunga telang. Penelitian dilaksanakan dengan tujuannya yakni mengetahui efektivitas antidiabetes ekstrak etanol bunga telang (Clitoria ternatea L.) terhadap penurunan kadar glukosa darah pada mencit jantan putih yang diinduksi aloksan. Metode ekstraksi pada penelitian ini dilaksanakan melalui cara maserasi. Kelompok dosis yang digunakan adalah 300 mg/KgBB, 400 mg/KgBB, dan 500 mg/KgBB, diberikan secara oral pada mencit jantan putih yang diinduksi aloksan secara intraperitoneal. Penurunan kadar glukosa darah diperhitungkan di hari ke 7 dan 14 sesudah perlakuan. Analisis data mempergunakan uji ANOVA dengan nilai signifikan (p0,05) dan diteruskan memakai uji post hoc LSD dengan nilai signifikan (p0,05). Hasil penelitian ditemukan rata-rata hasil penurunan yang diperoleh pada kelompok positif (glibenklamid) 90 mg/dL, pada kelompok dosis I (300 mg/KgBB) 182 mg/dL, pada kelompok dosis II (400 mg/KgBB) 168 mg/dL, pada kelompok dosis III (500 mg/KgBB) 96 mg/dL. Uji ANOVA dimunculkan nilai (p=0,043) 0,05. Ekstrak etanol bunga telang (Clitoria ternatea L.) yang mempunyai efektivitas dalam penurunan kadar glukosa darah pada mencit jantan putih dengan dosis paling efektif yakni pada dosis III (500 mg/KgBB).
KARAKTERISTIK FISIK DAN PROFIL DISOLUSI TABLET LIQUISOLID CANDESARTAN CILEXETIL MENGGUNAKAN PEG 400 DAN AVICEL PH 102 Della Anggun Pratiwi; Hasriyani Hasriyani; Emma Jayanti Besan; Akhyasin Akhyasin; Arina Zulfah Primananda
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 10, No 1 (2025): IJF (Indonesia Jurnal Farmasi)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v10i1.3500

Abstract

Candesartan cilexetil merupakan obat antihipertensi yang termasuk dalam Biopharmaceutics Classification System (BCS) kelas II sehingga memiliki kelarutan rendah yang dapat membatasi bioavailabilitas oralnya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan kelarutan dan disolusi obat adalah sistem liquisolid. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi karakteristik fisik dan profil disolusi tablet liquisolid candesartan cilexetil menggunakan PEG 400 sebagai pelarut non-volatil dan Avicel PH 102 sebagai bahan pembawa. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga formula, yaitu LS1 (10%), LS2 (20%), dan LS3 (30%). Evaluasi meliputi sifat alir serbuk, karakteristik fisik tablet, kandungan zat aktif, dan profil disolusi. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula memenuhi persyaratan sifat alir serbuk dan sebagian besar parameter mutu fisik tablet. Kadar zat aktif formula LS1, LS2, dan LS3 berturut-turut sebesar 106,06 ± 3,711%; 96,17 ± 0,509%; dan 105,09 ± 1,254%, sehingga memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia. Persentase disolusi pada menit ke-45 berturut-turut sebesar 92,13%; 89,79%; dan 84,51%. Formula LS1 dan LS2 memenuhi kriteria penerimaan disolusi tahap S1, sedangkan LS3 memenuhi tahap S2. Sistem liquisolid menggunakan PEG 400 dan Avicel PH 102 mampu menghasilkan tablet candesartan cilexetil dengan karakteristik fisik yang baik serta memenuhi persyaratan disolusi.
FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN BELUNTAS (PLUCHEA INDICA L.) DENGAN VARIASI NILAI HLB TWEEN 80 DAN SPAN 80 Riana Putri Rahmawati; Intansari Setyaningrum; Emma Jayanti Besan; Fatarani Faradila
IJF (Indonesia Jurnal Farmasi) Vol 8, No 2 (2023): INDONESIA JURNAL FARMASI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/ijf.v8i2.2250

Abstract

Kosmetik merupakan sediaan yang digunakan pada tubuh guna membersihkan, mempercantik, mengharumkan atau mengubah penampilan namun tidak diperbolehkan untuk mempengaruhi kesehatan penggunanya. Ekstrak herbal pada umumnya bersifat multifungsi karena adanya khasiat seperti fotoproteksi, anti aging, moisturizer, astringen, antiiritasi dan antimikroba yang berkorelasi satu sama lain. Kosmetik herbal merupakan sediaan yang mengandung fitokimia dari berbagai macam sumber botani yang dapat memberikan nutrisi yang diperlukan untuk kesehatan kulit atau rambut, meskipun hanya menggunakan minyak aromatik dalam sediaannya. Salah satu tanaman tradisional yang diyakini banyak khasiat adalah beluntas yang menurut penelitian terdahulu telah ditemukan bahwa bagian daunnya memiliki kandungan flavonoid yang berkhasiat sebagai antibakteri sehingga cocok untuk diformulasikan sebagai krim kosmetik. Pada studi kali ini dilakukan formulasi sediaan krim dengan bahan herbal utama ekstrak etanol daun beluntas. Stabilitas sifat fisika kimia diuji pada penelitian kali ini sebagai evaluasi sediaan pada penggunaan emulgator dengan variasi nilai HLB tween 80 dan span 80.Rumus F1, F2, dan F3 disusun dengan menggunakan pendekatan eksperimental laboratorium; dua yang pertama memiliki nilai HLB 10, sedangkan yang ketiga masing-masing memiliki nilai HLB 11 dan 12. Dengan menggunakan pelarut yang mengandung etanol 96%, dilakukan prosedur maserasi untuk membuat ekstrak etanol daun beluntas. Pengujian mutu fisik sediaan meliputi jenis krim, organoleptik, homogenitas, viskositas, daya sebar, dan daya rekat, serta pH dan ukuran analisis lainnya. Selanjutnya hasil uji stabilitas dianalisis secara statistik dengan menggunakan bentuk uji t, yaitu proses freeze-thaw yang terdiri dari tiga siklus.Pada hari ke 0 sampai hari ke 6, konsistensi uji jenis krim, uji organoleptik, uji homogenitas x, dan uji pH ditunjukkan dari hasil uji stabilitas ketiga formula. Ketiga formula tersebut memberikan hasil yang sama ketika diuji daya rekat dan viskositasnya, menurun pada hari keenam. Uji daya dispersi juga menunjukkan adanya peningkatan pada ketiga formula.Penelitian menunjukkan bahwa formula F2 yang mengandung ekstrak etanol daun beluntas konsentrasi 15% merupakan resep terbaik. Basis krim formula ini mengandung pengemulsi Tween 80 dan Span 80 yang memiliki nilai HLB 11.