Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pelatihan Pengintegrasian Pendidikan Pemilih Pemula pada Kurikulum Sekolah Menengah bagi Guru Kelompok IPS di Kota Padang Panjang Eka Vidya Putra; Reno Fernandes; Haldi Patra; Gusmira Wita; Rhavy Ferdyan; Sabar Aulia Rahman
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i3.1758

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan guru dalam mengintegrasikan pendidikan politik ke dalam pembelajaran intrakurikuler, khususnya bagi anggota MGMP Sosiologi di Kota Padang Panjang. Program dilaksanakan melalui kolaborasi antara Tim Pengabdian Masyarakat Prodi Sosiologi Universitas Negeri Padang (UNP) dan KPU Kota Padang Panjang, bertepatan dengan momentum menjelang Pilkada 2024. Metode pelaksanaan mencakup seminar, workshop, focus group discussion (FGD), dan microteaching. Materi inti meliputi pendidikan pemilih untuk generasi digital native, pengenalan Connected Political Education (C-PE), serta perencanaan dan implementasi pembelajaran berbasis C-PE. Pendampingan teknis dilakukan secara langsung, termasuk penyusunan perangkat pembelajaran (RPP, bahan ajar, dan instrumen evaluasi) dan simulasi pengajaran. Hasil kegiatan menunjukkan terjadinya perubahan paradigma peserta terhadap konsep politik; guru memahami bahwa pendidikan politik dapat dilakukan secara netral, terintegrasi dengan materi IPS dan PPKn, serta relevan bagi pembentukan sikap kritis siswa. Sebanyak 85% peserta menyatakan peningkatan pemahaman terhadap politik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, dan 72% mengaku siap mengintegrasikan pendidikan politik ke dalam pembelajaran. Kesimpulan dari kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antar-lembaga untuk memperkuat literasi politik generasi muda melalui pendidikan berbasis sekolah.
Optimalisasi Artificial Intelligence (AI) Berbasis Prinsip Etika dan Human-Centered dalam Penyusunan Modul Ajar bagi Guru di Kabupaten Tanah Datar Fernandes, Reno; Akbar, Amin; Muspita, Rila; Wita, Gusmira; Rhavy Ferdyan; Rahmadia, Rahmadia; Sabar Aulia Rahman; Widya Trisna
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i4.1718

Abstract

Artificial Intelligence (AI) memiliki kepraktisan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem pembelajaran. Kepraktisan tersebut sejatinya dapat menjadi penguat dengan penerapan prinsip etika dan human-centered apabila dimanfaatkan secara bijaksana. Guru di Kabupaten Tanah Datar belum mampu secara maksimal memanfaatkan AI berdasarkan kedua prinisip tersebut dan masih menggunakan secara sederhana tanpa melakukan validasi akan informasi untuk pembelajaran, termasuk dala menyusun modul ajar, artinya sangat diperlukan sebuah program dalam memberikan penguatan tersebut. Program ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan guru sebagai subjek aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan. Setelah dilaksanakan pemaparan makteri, workshop, dan sesi praktik penggunaan AI, menunjukkan bahwa program tersebut mampu meningkatkan pemahaman guru terhadap konsep dasar dan peran Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan. Peserta memperoleh pemahaman komprehensif mengenai definisi AI, perkembangan teknologi pendukung pembelajaran, serta peluang dan tantangan implementasinya di sekolah.
Pengaruh PBL Berbantuan E-LKPD terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Fase F pada Pembelajaran Sosiologi Mutiara Meydia Kasih; Gusmira Wita
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 5 No. 1 (2026): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (March 2026)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/nara.v5i1.417

Abstract

Permasalahan rendahnya kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran Sosiologi pada Fase F di SMAN 2 Painan terlihat dari dominasi pembelajaran konvensional dan rendahnya capaian indikator berpikir tingkat tinggi. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi model Problem Based Learning (PBL) berbantuan E-LKPD digital yang disusun berbasis indikator FRISCO (Focus, Reason, Inference, Situation, Clarity, Overview) dalam konteks Kurikulum Merdeka untuk mengoptimalkan pengembangan kemampuan berpikir kritis. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penerapan PBL berbantuan E-LKPD terhadap kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran Sosiologi. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design tipe pretest–posttest, melibatkan seluruh peserta didik kelas XI Fase F (N = 68) yang diambil dengan teknik total sampling, dengan XI F11 sebagai kelas eksperimen dan XI F12 sebagai kelas kontrol. Data dikumpulkan melalui tes esay kemampuan berpikir kritis berbasis FRISCO yang telah divalidasi secara isi dan dinyatakan reliabel (Cronbach’s Alpha > 0,70), kemudian dianalisis secara deskriptif dan inferensial menggunakan uji t setelah memenuhi prasyarat normalitas dan homogenitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berpikir kritis peserta didik di kelas eksperimen meningkat dari kategori lebih rendah menuju kategori lebih tinggi dan secara signifikan lebih baik dibandingkan kelas kontrol (p < 0,05) pada seluruh indikator FRISCO. Disimpulkan bahwa model PBL berbantuan E-LKPD efektif meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam pembelajaran Sosiologi dan dapat direkomendasikan sebagai strategi pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan Kurikulum Merdeka.
Internalisasi Nilai-Nilai Multikultural dalam Membangun Sikap Toleransi Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Tetti Eka Purnama; Isnarmi Moeis; Gusmira Wita
De Cive : Jurnal Penelitian Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 5 No. 6 (2025): Volume 5 Nomor 6 Tahun 2025
Publisher : Actual Insight

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56393/decive.v5i6.4387

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis internalisasi nilai-nilai multikultural melalui kedewasaan kultural mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) dalam membangun sikap toleransi pada masyarakat multikultural. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus pada mahasiswa PPKn Universitas Negeri Padang. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sumber untuk menguji keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedewasaan kultural mahasiswa berkembang melalui pengalaman langsung, interaksi sosial lintas budaya, refleksi diri, dan pembelajaran berbasis pengalaman. Proses tersebut membentuk sikap toleransi, empati, keterbukaan, kemampuan komunikasi inklusif, serta tanggung jawab sosial sebagai bagian dari civic disposition dan  civic responsibility mahasiswa. Faktor-faktor yang memengaruhi internalisasi nilai multikultural meliputi motivasi, kesadaran diri, latar belakang keluarga, kematangan emosional, lingkungan sosial, pengalaman lapangan, peran pendidikan, dan dukungan komunitas. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan multikultural berbasis proyek dan pengalaman sosial efektif memperkuat karakter demokratis, inklusif, dan kemampuan mahasiswa dalam membangun kohesi sosial di tengah masyarakat majemuk.
Multi-Stakeholder Synergy in Education Transformation in Disadvantaged Regions Nora Susilawati; Gusmira Wita; Hendra Haldi; Irhas Fansuri Mursal; Evelynd Evelynd
Jurnal Mamangan Vol 15, No 1 (2026): Jurnal Ilmu Sosial Mamangan Accredited 2 (SK Dirjen Ristek Dikti No. 0173/C3/DT
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v15i1.11104

Abstract

Disadvantaged regions continue to face challenges in educational development, particularly program fragmentation, limited facilities and infrastructure, geographical barriers, and weak inter-institutional coordination caused by sectoral ego. Drawing on the perspectives of collaborative governance and governance network theory, this study aims to analyze how multi-stakeholder synergy drives education transformation in a disadvantaged region. The research employed a qualitative approach with a case study design. Data were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that multi-stakeholder synergy functions as a cross-sectoral coordination mechanism that integrates the local government, regional apparatus organizations, nagari governments, companies, customary institutions, schools, and the community into a programmed, integrated, and coordinated education transformation agenda. This mechanism operates through vision alignment, strengthened communication, trust-building, facilitative regional leadership, and a clear division of roles in mobilizing financial, material, social, and logistical resources. This synergy contributes to transformative shifts in community mindsets toward education, expanded access for school dropouts, strengthened non-formal education, improved school infrastructure, expanded internet access in blind-spot areas, and the development of road access to remote schools through cross-sectoral self-managed initiatives. The study concludes that the effectiveness of education transformation in disadvantaged regions increases when local governments act as coordinators of collaborative networks and optimize the functions of existing local institutions without establishing new ones. The novelty of this study lies in the formulation of a locally grounded multi-stakeholder synergy model for educational transformation in disadvantaged regions, which demonstrates that collective action capacity can be built not through institutional expansion, but through the integration of formal institutions, customary structures, community participation, and local values of togetherness within an existing governance network.
Pengaruh Penerapan Metode Pembelajaran C3T Terhadap Hasil Belajar Siswa di SMAN 4 Solok Pada Mata Pelajaran Sosiologi Fase E Yoma Febti Aidha; Gusmira Wita
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 5 No. 2 (2026): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (June 2026)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/nara.v5i2.470

Abstract

Tinggi rendahnya hasil belajar mencerminkan kualitas Pendidikan dalam proses pembelajaran disekolah. Begitu pula dengan hasil belajar pada mata pelajaran sosiologi. Pencapaian hasil belajar yango ptimal menjadi cerminan dari keberhasilan proses pendidikan secara menyeluruh sehingga harus diintegrasikan dalam strategi pembelajaran agar peserta didik mampu mengembangkan potensi mereka secara utuh, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakat. Untuk mengatasi hal ini, peneliti mencoba menerapkan metode pembelajaran C3T (Cerdas, Cermat, Cepat dan Tepat). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Quasi Eksperimen. Populasi adalah seluruh peserta didik Fase E di SMAN 4 Solok sebanyak (123 orang), dengan sampel kelas E1 sebagai kelas eksperimen dan E3 sebagai kelas kontrol. Instrumen berupa tes pilihan ganda sebanyak 20 soal, dianalisis menggunakan Independent Sample T- Test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan hasil belajar peserta didik menggunakan metode C3T. Hal ini dapat dilihat pada rata-rata hasil belajar kelas eksperimen (95) lebih tinggi daripada kelas kontrol (70). Data berdistribusi normal dan homogen. Uji hipotesis menghasilkan nilai signifikansi < 0,001 (< 0,05), sehingga H₀ ditolak dan H₁ diterima. Artinya, terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelas, dan metode C3T berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar Sosiologi peserta didik fase E di SMAN 4 Solok.
Analisis Penggunaan Platform Smart E-School Sebagai Media Evaluasi Pembelajaran di MAN 3 Kota Padang Hafifah Khairina Azayu; Gusmira Wita
Naradidik: Journal of Education and Pedagogy Vol. 5 No. 2 (2026): Naradidik: Journal of Education & Pedagogy (June 2026)
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/nara.v5i2.476

Abstract

Evaluasi pembelajaran berbasis digital merupakan salah satu inovasi pendidikan yang diterapkan untuk meningkatkan efektivitas dan transparansi proses penilaian di satuan pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Smart E-School sebagai media evaluasi pembelajaran di MAN 3 Kota Padang dengan menggunakan teori difusi inovasi oleh M. Rogers. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Informan penelitian dipilih secara purposive sampling yang melibatkan 10 guru, 10 siswa, dan 2 operator madrasah. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Evaluasi yang terintegritas dalam sistem digital, memberikan Informasi hasil belajar dalam sistem evaluasi digital, adanya pengawasan ujian melalui sistem monitoring digital, serta proses adaptasi dan kendala dalam pelaksanaan evaluasi pada Smart E-School. Penerapan Smart E-School secara umum berjalan efektif, ditandai dengan kemudahan guru dalam menyusun, melaksanakan, dan mengelola evaluasi pembelajaran secara terpusat, percepatan proses pengolahan dan penyampaian hasil penilaian kepada siswa, serta meningkatnya transparansi dan akuntabilitas evaluasi. Selain itu, sistem ini membantu mengurangi beban administratif guru dan penggunaan kertas. Namun, efektivitas tersebut belum dirasakan secara merata karena adanya perbedaan tingkat penggunaan perangkat digital guru, kendala teknis, serta tekanan psikologis siswa dalam ujian berbasis waktu. Secara keseluruhan, Smart E-School dapat menjadi alternatif media evaluasi pembelajaran berbasis digital di madrasah dengan dukungan kesiapan sumber daya manusia dan sarana pendukung yang memadai.
Surau/MDTA sebagai Ruang Pembelajaran Berbasis Komunitas di Sumatera Barat Aisyah Zahra; Gusmira Wita; Adzmy Altha Azkiya; Annisya Sukma Dewi; Syiva Rezki; Marwatil Husna; Widya Trisna
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.576

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan berbasis surau/MDTA sebagai ruang pembelajaran berbasis komunitas dalam pembentukan karakter siswa, pewarisan nilai budaya Minangkabau, serta penguatan identitas sosial masyarakat di Nagari Sawah Tangah, Sumatera Barat. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh semakin kuatnya arus globalisasi, perkembangan teknologi digital, dan perubahan pola interaksi sosial generasi muda yang berpotensi mempengaruhi keberlangsungan pendidikan tradisional berbasis surau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang terdiri atas kepala MDTA, guru mengaji, orang tua siswa, alumni, serta siswa yang aktif mengikuti kegiatan pembelajaran di surau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis surau tidak hanya berfungsi sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga menjadi media pembentukan karakter melalui pembiasaan nilai disiplin, sopan santun, tanggung jawab, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta pembentukan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, surau juga berperan penting dalam mempertahankan nilai budaya Minangkabau melalui internalisasi norma sosial dan adat yang terintegrasi dengan ajaran Islam berdasarkan falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah. Di sisi lain, modernisasi dan penggunaan teknologi digital menjadi tantangan bagi keberlangsungan pendidikan berbasis surau karena mempengaruhi minat belajar serta pola interaksi sosial anak. Namun demikian, surau tetap relevan sebagai institusi pendidikan berbasis komunitas yang mampu memperkuat karakter, moralitas, dan ketahanan budaya masyarakat di tengah perubahan zaman.
Pendidikan Berbasis Surau di MDTA Nurul ‘Ulya dalam Pembentukan Karakter dan Ketahanan Budaya Minangkabau Eva Dwi Iswari; Gusmira Wita; Metra Alvionita; Shilva Putri Mahendra; Sandro J.O Tampubolon; Tasya Martasari; Hendra Wahyudi
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.577

Abstract

Pendidikan berbasis surau memiliki peran penting dalam pembentukan karakter anak dan pelestarian nilai budaya Minangkabau di tengah perubahan sosial masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk pendidikan berbasis surau, proses pembentukan karakter anak, serta peran MDTA Nurul ‘Ulya dalam menjaga nilai budaya Minangkabau. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teori interaksionisme simbolik Herbert Blumer sebagai kerangka analisis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada Mei 2026 dengan melibatkan tujuh informan yang terdiri atas guru mengaji, pengelola surau, peserta didik, dan orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MDTA Nurul ‘Ulya merepresentasikan bentuk modernisasi surau tradisional melalui penerapan kurikulum Kementerian Agama, pembiasaan ibadah, penguatan disiplin, kegiatan Didikan Subuh, serta keteladanan guru dalam aktivitas pembelajaran. Proses pembentukan karakter berlangsung melalui interaksi harian antara guru, siswa, dan orang tua, termasuk pemanfaatan grup WhatsApp sebagai media komunikasi untuk memantau tugas dan perkembangan belajar anak. Selain itu, MDTA Nurul ‘Ulya turut menjaga nilai budaya Minangkabau melalui pembiasaan sopan santun, penghormatan kepada orang yang lebih tua, etika berpakaian, serta penguatan nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan berbasis surau masih relevan sebagai ruang pendidikan agama, pembentukan karakter, dan ketahanan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi.
Eksistensi Pendidikan Surau dalam Pembentukan Karakter di Sumatera Barat Ratu Fitri Aisyah; Gusmira Wita; Nur Aisyah; Ratih Haifa Putri; Atiqah Mufidah; Zuama Furgani
Social Empirical Vol. 3 No. 1 (2026): Social Empirical: Prosiding Berkala Ilmu Sosial
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/scemp.v3i1.583

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan perubahan gaya hidup masyarakat saat ini membawa pengaruh terhadap kehidupan generasi muda, terutama dalam kebiasaan berinteraksi dan mengikuti kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar. Anak-anak dan remaja mulai lebih banyak menghabiskan waktu dengan gadget sehingga keterlibatan mereka dalam aktivitas sosial dan pendidikan agama mengalami penurunan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pembentukan karakter, seperti kedisiplinan, sopan santun, dan kepedulian sosial. Dalam masyarakat Minangkabau, surau sejak dahulu bukan hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi tempat belajar agama dan pembinaan akhlak bagi generasi muda. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana keberadaan pendidikan surau tetap bertahan dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman modern. Penelitian dilakukan di Masjid Raya Gantiang Kota Padang dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan penelitian terdiri dari pengurus masjid, guru mengaji, santri, orang tua, dan alumni surau yang dipilih secara purposive. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan surau masih memiliki peran penting dalam menanamkan nilai religius dan sosial kepada anak-anak dan remaja melalui kegiatan mengaji, hafalan doa, pembelajaran akhlak, salat berjamaah, serta kegiatan remaja masjid. Proses pembelajaran yang dilakukan secara rutin membuat anak-anak terbiasa bersikap disiplin, menghormati orang tua dan guru, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Walaupun penggunaan gadget menjadi tantangan bagi keberlangsungan kegiatan surau, masyarakat dan pengurus masjid tetap mempertahankan kegiatan pendidikan surau sebagai bagian penting dalam menjaga nilai agama dan budaya Minangkabau di tengah kehidupan modern saat ini.