Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Parasit dan Bakteri Vibrio pada Kerang Darah (Anadara granosa) di perairan Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah Yulita Hoar; Yuliana Salosso; Priyo Santoso
Jurnal Akuatik Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Aquatik Edisi Oktober 2020
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.574 KB)

Abstract

Penelitian ini telah dilaksanakan selama bulan September – Oktober 2019 di Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang dan Laboraturium Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui jenis parasit apa yang menyerang kerang darah (Anadara granosa) diperairan Tanah Merah, untuk mengetahui bakteri vibrio Harveyi yang menyerang kerang darah diperairan Tanah Merah, untuk mengetahui berapa prevelensi parasit dan bakteri vibrio pada kerang darah (Anadara granosa) diperairan Tanah Merah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis parasit yang menyerang kerang darah diperairan Tanah Merah yaitu Carchesium sp dan Trichodina sp; Bakteri yang menyerang kerang darah (Anadara granosa) yaitu bakteri Vibrio harveyi.; dan Prevalensi parasit Charchesium sp yang menyerang kerang darah diperairan Tanah Merah adalah 60% danprevalensi Trichodina spadalah 40% sedangkan prevalensi serangan bakteri Vibrio harveyi adalah 100%. Kata kunci: Bakteri vibrio, Kerang Darah (Anadara granosa), Parasit
IMUNOSTIMULAN Gracilaria verrucosa PADA BUDIDAYA IKAN LELE Clarias sp Yudiana Jasmanindar; Yuliana Salosso; Nicodemus Dahoklory
Jurnal Akuatik Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Aquatik Edisi Oktober 2020
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.447 KB)

Abstract

Ikan lele Clarias sp merupakan komoditas perikanan yang banyak dibudidayakan karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan komoditas lainnya. Walaupun nilai jual belum semahal komoditas udang maupun biota budidaya lainnya. Selain itu teknologi budidaya ikan lele terbilang mudah diaplikasikan serta memiliki daya tahan terhadap serangan penyakit. Imunitas pada tubuh ikan merupakan hal yang penting dalam mengatasi serangan parasit maupun penyakit, terutama dalam tahap pendederan atau pemeliharaan benih ikan lele ukuran 3-5 cm. Respon imun pada ikan terdiri dari imunitas alami dan imunitas spesifik. Pengamatan dilapangan menunjukkan bahwa ikan lele ukuran benih rentan terhadap serangan parasit dan panyakit ikan sehingga kelangsungan hidupnya sangat rendah. Berbagai alternative pengendalian salah satunya dengan menggunakan imunostimulan sebagai bahan yang dapat meningkatkan daya tahan tubuh ikan lele. Rumput laut Gracilaria verrucosa dapat dimanfaatkan sebagai bahan stimulasi diharapkan dapat meningkatkan imunitas ikan lele sehingga dapat meningkatkan kelangsungan hidup. Benih lele rentan terhadap infeksi parasit dan penyakit terutama akibat serangan bakteri Aeromonas hydrophila. Kata kunci: Clarias, imunostimulan, rumput laut, verrucosa, imunitas
EKSPLORASI AKTIVITAS ANTIBAKTERI MADU HUTAN ASAL PULAU TIMOR TERHADAP BAKTERI Vibrio algynoliticus SECARA IN VITRO Yolanda Veronika Yuventa da Cunha; Yuliana Salosso; Franchy Christian Liufeto
Jurnal Akuatik Vol 3 No 2 (2020): Jurnal Aquatik Edisi Oktober 2020
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.747 KB)

Abstract

Madu bermanfaat bagi kesehatan, diantaranya sebagai zat antibakteri. Kandungan antibakteri yang terdapat dalam madu ini dapat digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan ikan akibat bakteri. Kemampuan madu sebagai zat antibakteri ini dapat digunakan sebagai alternatif antibakteri yang ramah lingkungan untuk mengatasi masalah kesehatan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui madu hutan pulau Timor yang paling baik digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri V.algynoliticus, untuk mengetahui konsentrasi madu hutan terbaik yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri V.alginolyticus dan untuk mengetahui kadar gula, kadar air serta pH dari madu hutan terbaik. Penelitian ini menggunakan 5 jenis madu hutan yang berasal dari Kefa, Soe, Naikliu, Amfoang dan Amfoang Selatan, yang kemudian di uji menggunakan uji cakram. Data hasil penelitian ini dianalisis dengan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa madu yang paling baik digunakan untuk menghambat pertumbuhan bakteri V.algynoliticus adalah madu hutan kefa dengan konsentrasi terbaik 75%, pH sebesar 4,06, kadar gula sebanyak 72,60% dan kadar air sebanyak 26,65%.
Pengaruh penggunaan ekstrak daun patikan kerbau (Euphorbia hirta) dalam pencegahan dan pengobatan bakteri Aeromonas hydrophilla pada ikan nila (Oreocromis niloticus) Godeliva Dawan; Yuliana Salosso; Yudiana Jasmanindar
Jurnal Akuatik Vol 4 No 1 (2021): Maret
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.453 KB)

Abstract

Ikan nila (Oreocromis niloticus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang paling banyak dibudidaya. Dalam kegiatan budidaya terdapat begitu banyak kendala yang dihadapi, salah satunya penyakit. Biasanya penyakit yang sering menyerang adalah penyakit akibat infeksi bakteri Aeromonas hydrophilla. Upaya yang dilakukan untuk mengatasi penyakit ini selain menggunakan bahan kimia, yang paling mudah dilakuakan adalah menggunakan bahan herbal seperti daun patikan kerbau. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi efektif ekstrak daun patikan kerbau. Perlakuan yang diberikan yaitu perlakuan pencegahan dan perlakuan pengobatan. Pada perlakuan pencegahan ikan nila terlebih dahulu direndam dalam ekstrak patikan kerbau selama 3 hari, kemudian diinfeksi bakteri. Sedangkan pada perlakuan pengobatan, ikan nila diinfeksi bakteri terlebih dahulu, setelah menunjukan gejala klinisnya baru diobati dengan cara direndam dalam ekstrak daun patikan kerbau. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan yang efektif digunakan adalah perlakuan pencegahan dimana jumlah rata-rata sel darah merah 5,12x106 sel/mm3, sel darah putih berjumlah 13,3x104sel/mm3, dan hemoglobin berjumlah 6,4 g/dl. Selain itu didukung perubahan morfologi ikan selama penelitian dimana ikan pada perlakuan pencegahan ikan sudah mulai sembuh. Kata kunci: Bakteri Aeromonas hydrophilla, Daun Patika Kerbau, Hematologi, Ikan Nila.
Pengaruh jarak tanam yang berbeda terhadap pertumbuhan rumput laut Caulerpa racemossa Oktovianus Bistolen; Agnette Tjendanawangi; Yuliana Salosso
Jurnal Akuatik Vol 4 No 1 (2021): Maret
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.008 KB)

Abstract

Salah satu spesies rumput laut yang potensial untuk dikembangkan adalah Caulerpa racemosa. Caulerpa racemosa mengandung vitamin A, B1, C, antioksidan, dan asam folik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jarak tanam dan jarak tanam yang tepat terhadap pertumbuhan C. racemosa yang dibudidaya dengan metode long line menggunakan kantong jaring dan penelitian ini telah dilaksanakan selama 2 bulan, mulai dari bulan November hingga bulan Desember tahun 2018 yang bertempat di Perairan Semau Desa Hansisi, Kecamatan Semau, Kabupaten Kupang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 3 perlakuan dan 3 ulangan yaitu A ( Jarak Tanam 20 cm), B ( Jarak Tanam 40 cm); dan perlakuan C ( Jarak Tanam 60 cm). Parameter yang diukur adalah laju pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak. Hasil penelitian mendapatkan laju pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak tertinggi ( 1, 74 g% / hari dan 67, 15 g ) dihasilkan pada perlakuan jarak tanam 60 cm, sedangkan terendah ( 1, 24 g% / hari dan 41, 72 g ) dihasilkan pada perlakuan jarak tanam 20 cm. Hasil ANOVA menunjukan jarak tanam 20, 40, dan 60 cm memberikan pengaruh yang sangat nyata P > 0,05 terhadap laju pertumbuhan harian dan pertumbuhan mutlak Caulerpa racemossa. Kata Kunci : Caulerpa racemossa, Jarak Tanam, Pertumbuhan
Pengobatan Ikan Kerapu Cantang (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) Yang Terinfeksi Bakteri Vibrio alginolyticus Menggunakan Ekstrak Air Daun Ketapang (Terminalia catappa) Maria Hildegardis Seuk; Yuliana Salosso; Yudiana Jasmanindar
Jurnal Akuatik Vol 4 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.015 KB) | DOI: 10.1007/aquatik.v4i2.5358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis ekstrak daun ketapang (Terminalia catappa) yang paling baik untuk mengobati ikan kerapu cantang (Epinephelus fuscoguttatus-lanceolatus) yang terinfeksi bakteri Vibrio alginolyticus. Dosis perlakuan yang digunakan untuk mengobati ikan kerapu cantang adalah 5%, 10%, 15% serta ditambah 2 unit kontrol yaitu kontrol negatif (disuntik bakteri tanpa pengobatan) dan kontrol positif (tidak disuntik bakteri dan tidak diberi pengobatan). Bakteri yang digunakan adalah Vibrio alginolyticus hasil aktivasi menggunakan pepton 2%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 5% mampu menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio alginolyticus dan mengobati ikan kerapu cantang yang terinfeksi bakteri Vibrio alginolitycus dengan meningkatkan kembali hematologi ikan kerapu cantang. Eritrosit pada akhir pengamatan mengalami peningkatan dari jumlah 2,04 x 106 sel/mm3 menjadi 3,68 x 106 sel/mm3, jumlah leukosit menurun dari 2,93 x 104 sel/mm3 menjadi 1,5 x 104 sel/mm3 dan hemoglobin meningkat dari jumlah 3,5 g% menjadi 6,36 g%. Selain itu morfologi ikan kerapu cantang (E. fuscoguttatus-lanceolatus) menunjukkan perubahan setelah perendaman menggunakan ekstrak daun ketapang.
Pengobatan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophyla dengan menggunakan madu dengan frekuensi yang berbeda Hidayat Un; Yuliana Salosso; Yudiana Jasmanindar
Jurnal Akuatik Vol 4 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.131 KB) | DOI: 10.1007/aquatik.v4i2.5360

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi pemberian madu lebah apis dorsata terhadap tingkat kesembuhan ikan nila yang terinfeksi bakteri aeromonas hydrophila. Penelitian ini dilaksanakan 1 bulan dan menggunakan pola rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan 3 ulangan dengan frekuensi yang digunakan yaitu A (1 kali), B (3 kali) C (5 kali) dan D sebagai data perbandingan ikan sehat dan ikan sakit. kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan uji BNT. Pengamatan dilakukan melalui hematologi ikan, gejala klinis dan kualitas air. Hasil hematologi yang didapat pada saat penelitian yaitu tidak berbeda nyata. Rata-rata nilai eritrosit terbaik pada perlakuan C yaitu 4.66 x 106, leukosit terbaik pada perlakuan C yaitu 3.13 x104 sedangkan Hb tertinggi pada perlakuan C yaitu 7.67. Selain itu didukung perubahan morfologi ikan yang lebih. Kata kunci: ikan nila, bakteri Aeromonas hydrophila, frekuensi, pengobatan, madu, Hematologi.
Pengobatan Ikan Kerapu Cantang Yang Terinfeksi Bakteri Vibrio alginolyticus Menggunakan Madu Dengan Frekuensi Yang Berbeda Nenti S Ollin; Yuliana Salosso; Yudiana Jasmanindar
Jurnal Akuatik Vol 4 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.304 KB) | DOI: 10.1007/aquatik.v4i2.5674

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas madu dalam menyembuhkan ikan kerapu cantang yang diinfeksikan dengan bakteri Vibrio alginolyticus jika diaplikasikan dengan frekuensi berbeda melalui perubahan hematologi ikan (eritrosit, leukosit, hemoglobin). Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan berupa perendaman menggunakan madu dengan frekuensi 1 kali, 3 kali, 5 kali, ditambah 2 perlakuan kontrol yaitu kontrol ikan sehat dan kontrol ikan sakit, setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Tingkat kepadatan bakteri yang digunakan adalah 106 dan disuntikan ke ikan dengan dosis 0,1 ml/ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan madu dengan frekuensi 1 kali saja sudah efektif dalam menyembuhkan ikan kerapu cantang yang terinfeksi bakteri melalui peningkatan jumlah eritrosit, penurunan jumlah leukosit, serta peningkatan jumlah hemoglobin. Kata kunci : frekuensi, kerapu cantang, madu, Vibrio alginolyticus
Isolasi dan Identifikasi Bakteri Vibrio harveyi yang Menginfeksi Ikan Bandeng (Chanos chanos) pada Tambak di Desa Timor Tengah Utara Antonius Klau; Yuliana Salosso; Ridwan Tobuku
Jurnal Akuatik Vol 4 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (434.341 KB) | DOI: 10.1007/aquatik.v4i2.5783

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya bakteri Vibrio harveyi, apa saja ciri-ciri bakteri Vibrio harveyi, dan berapa nilai prevalensi serangan Vibrio harveyi pada ikan bandeng (Chanos chanos) yang dibudidayakan di Desa Motadik (Timor Tengah Utara), Desa Silawan (Belu), dan Desa Lakekun (Malaka). Pengamatan dilakukan selama 1 bulan di Laboratorium Badan Karantina Ikan Pengawasan Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kota Kupang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik dan konvensional. Selanjutnya dilakukan isolasi bakteri, pengamatan morfologi, kultur murni kemudian dilakukan uji biokimia antara lain, uji-Katatase, uji-Gram, uji-Oksidase, uji-TSIA, uji-O/F, uji-Motilitas dan Indole, uji -Lisin dekarboksilase, uji-Ornithin dekarboksilase, Voges Uji Proskauer (Uji VP), Uji-Gelatin, Uji-Karbohidrat, Uji-Pertumbuhan TSA, Uji-Pertumbuhan 40°C, dan Uji-Swarming. Proses identifikasi bakteri V. harveyi menerapkan metode yang dikerjakan Austin dan Austin (2007) dan Bergey (1994). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan uji positif terinfeksi bakteri V. harveyi dengan nilai prevalensi serangan 100%. KataKunci: Identifikasi, Isolasi, Uji-Mikrobiologi Ikan Bandeng (Chanos Chanos)
Uji fitokimia dan aktivitas antibakteri daun binahong (Anredera cordifolia) terhadap bakteri Vibrio alginolyticus in-vitro Fransiska Seran; Yudiana Jasmanindar; Yuliana Salosso
Jurnal Akuatik Vol 5 No 1 (2022): Maret
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.395 KB) | DOI: 10.1007/aquatik.v5i1.6536

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun binahong (Anredera cordifolia) pada bahan pelarut dan konsentrasi yang berbeda dalam menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio alginolyticus secara In-Vitro. Bahan uji berupa ekstrak air daun binahong dan ekstrak metanol daun binahong yang diencerkan menggunakan akuades steril dengan konsentrasi 0,1%, 1% dan 10%. Hasil penelitian mununjukan bahwa ekstrak air daun binahong dan ekstrak metanol daun binahong pada konsentrasi 0,1%, 1% dan 10% mampu menghambat pertumbuhan bakteri V. alginolyticus. zona hambat tertinggi terdapat pada ekstrak air daun binahong konsentrasi 10% yaitu 19 mm, sedangkan pada ekstrak metanol konsentrasi 10% yaitu 16,33 mm. Hal ini dikarenakan kandungan fitokimia yang terdapat pada ekstrak air daun binahong lebih banyak dibandingkan ekstrak metanol daun binahong. Selain itu zona hambat yang terbentuk akan semakin meningkat seiring meningkatnya konsentrasi bahan antibakteri yang diberikan. Kata Kunci: Aeromonas hydrophilla, antibakteri, ekstrak daun binahong, Vibrio alginolyticus, zona hambat.