Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Identifikasi Pemenuhan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau berdasarkan Kebutuhan Oksigen Vera Safira Widyarti; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 1 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.302 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i1.2015

Abstract

Abstract. Oxygen is needed by humans to live. The fulfillment of oxygen needs can be met by developing green open spaces, which actually have a function as the lungs of the city that have not been replaced. In Bandung, green open space is below 30%, or around 12.25% in 2020, so the fulfillment of oxygen in Bandung is not necessarily fulfilled. The purpose of this study was to analyze the need for green open spaces in the city of Bandung in general and specifically in selected location based on their urgency of oxygen demand. This study uses a quantitative, descriptive and spatial approach. The area of ​​the green open space requirement is calculated using the Gerakis method that modified in Muis (2005). The determination of development priority locations is carried out using the overlay and scoring methods. Overlays are carried out on parameters, namely land use parameters, building density levels, vegetation density levels and distance to the main road. The results showed that Bandung requires 2,847,513,466.35 grams of oxygen each day, while the oxygen produced by the existing green open space is only 947,567,824.25 grams/day, so it still requires an oxygen supply 1,164,177,415.75 grams/day. Based on the calculation of the area of ​​green open space needed to fulfill the oxygen needs of Bandung, which is 2,812.36 Ha, with an urgent location requiring the development of green open space, namely SWK Tegalega which still requires an area of ​​429.12 ha of green open space. The results of the overlay carried out have resulted of the green open space development in SWK Tegalega covering an area of ​​85.87 Ha which is prioritized and an area of ​​1,156.98 Ha including the category of medium priority location. Abstrak. Oksigen merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia untuk hidup. Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau atau RTH yang sejatinya memiliki fungsi sebagai paru – paru kota yang merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan. Kota Bandung memiliki jumlah luasan RTH yang masih dibawah 30%, atau sekitar 12,25% pada tahun 2020 maka pemenuhan akan oksigen di Kota Bandung belum tentu terpenuhi. Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan Ruang Terbuka Hijau di wilayah Kota Bandung secara umum dan secara khusus di SWK terpilih yang dilhat dari urgensinya berdasarkan kebutuhan oksigen. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara kuantitatif, deskriptif dan spasial. Luas kebutuhan RTH dalam dihitung menggnakan metode gerakis yang dimodifikasi dalam Muis (2005). Sedangkan penentuan lokasi prioritas pengembangan dilakukan dengan metode overlay dan skoring. Overlay dilakukan pada parameter yang sebelumnya ditentukan terlebih dahulu dan akhirnya dipilih yaitu parameter penggunaan lahan, tingkat kepadatan bangunan, tingkat kerapatan vegetasi dan jarak terhadap jalan utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bandung membutuhkan oksigen sebanyak 2.847.513.466,35 gram oksigen per harinya, sedangkan oksigen yang dihasilkan RTH eksisting hanya sebanyak 947.567.824,25 gram/hari, sehingga masih memerlukan pasokan oksigen sebanyak 1.164.177.415,75 gram/hari. Dan berdasarkan pada perhitungan gerakis luas RTH yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan oksigen Kota Bandung yaitu seluas 2.812,36 Ha, dengan lokasi yang menjadi urgensi membutuhkan pengembangan RTH nya yaitu SWK Tegalega yang masih membutuhkan luas RTH sebesar 429,12 Ha. Hasil overlay yang dilakukan, menghasilkan luasan serta lokasi pengembangan RTH di SWK Tegalega seluas 85,87 Ha yang diprioritaskan dan seluas 1.156,98 Ha termasuk kategori lokasi prioritas sedang.
Identifikasi Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Mohamad Rizalby Yosliansyah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.982 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3081

Abstract

Abstract. The city of Cirebon is one of the cities in West Java that is experiencing rapid development, accompanied by an increase in the rate of population growth each year by 2,91% per year. This rapid development has led to changes in land use where vegetation land is turned into built-up land, it is stated that almost ± 55% of the area in Cirebon City is built-up land. Meanwhile, the amount of land designated as public green open space is still 10,5% less than the 20% should be, while for private green open space the amount is 10%. Therefore, it is necessary to identify the development of Green Open Spaces in Cirebon City. The approach method used is using remote sensing techniques to identify the development of green open space in the city of Cirebon using Landsat 8 Imagery by paying attention to 3 aspects, namely biological, physique and social aspects. The variables used are vegetation density or NDVI, comfort index or THI and population density. The data used are Landsat 8 imagery, population, climatology and land use. The purpose of this study was to determine the location and extent of green open space development in the city of Cirebon. The results of this study are Cirebon City is dominated by a very dense vegetation density level of 1.826,17 Ha, the comfort index is 4,49% uncomfortable conditions, 86,71% less comfortable and 8,80% comfortable from the area of ​​Cirebon City, dominated by The population density level is very dense at 82,67% of the area of ​​Cirebon City. Based on the results of overlapping maps of the three variables, namely NDVI, THI and population density, there are 2 zones of green open space development including the highly prioritized zone of 159,14 Ha and the prioritized zone of 2.587,82 Ha. Abstrak. Kota Cirebon termasuk kota di Jawa Barat yang mengalami pembangunan yang pesat, dibarengi pula oleh meningkatnya laju pertumbuhan penduduk tiap tahunnya sebesar 2,91% pertahun. Pembangunan yang pesat ini menimbulkan terjadinya perubahan guna lahan yang dimana lahan vegetasi berubah menjadi lahan terbangun, disebutkan bahwa hampir ± 55% wilayah di Kota Cirebon merupakan lahan terbangun. Sedangkan lahan yang diperuntukkan sebagai Ruang Terbuka Hijau publik jumlahnya masih kurang sebesar 10,5 % dari yang seharusnya 20%, sedangkan untuk Ruang Terbuka Hijau privat jumlahnya sudah memenuhi yakni 10%. Oleh karena itu, diperlukan adanya identifikasi pengembangan Ruang Terbuka Hijau di Kota Cirebon. Metode pendekatan yang digunakan adalah menggunakan teknik penginderaan jauh untuk mengidentifikasi pengembangan RTH di Kota Cirebon menggunakan Citra Landsat 8 dengan memperhatikan 3 aspek yakni aspek biologi, fisik dan sosial. Variabel yang digunakan adalah kerapatan vegetasi atau NDVI, indeks kenyamanan atau THI dan kepadatan penduduk. Data yang digunakan adalah Citra Landsat 8, jumlah penduduk, klimatologi dan penggunaan lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui lokasi dan luasan pengembangan RTH di Kota Cirebon. Hasil dari penelitian ini adalah Kota Cirebon didominasi oleh tingkat kerapatan vegetasi sangat rapat sebesar 1.826,2 Ha, indeks kenyamanan didapatkan kondisi tidak nyaman 4,49%, kurang nyaman 86,7% dan nyaman 8,8% dari luas Kota Cirebon, didominasi oleh tingkat kepadatan penduduk sangat padat sebesar 82,7% dari luas Kota Cirebon. Berdasarkan hasil tumpang tindih peta ketiga variabel yakni NDVI, THI dan kepadatan penduduk didapatkan 2 zona pengembangan RTH diantaranya adalah zona sangat diprioritaskan sebesar 159,1 Ha dan zona diprioritaskan sebesar 2.587,8 Ha.
Prediksi Perubahan Tutupan Lahan dan Suhu Permukaan Lahan: Studi Kasus Kota Surabaya Tri Bagus Armansyah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.583 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3597

Abstract

Abstract. The city of Surabaya as a metropolitan city cannot be avoided from the phenomenon of urbanization. This has an impact on increasing built-up land which has the potential to erode other lands, one of which is vegetation land so that it can trigger an increase in land surface temperature. The existence of the Cellular Automata method and the use of satellite imagery make it possible to predict changes in land cover and land surface temperature in the future. It was found that in 2034 in the city of Surabaya there was a change in land cover in the form of an increase in built-up land from 25692,15 Ha to 29982,19 Ha, a decrease in vegetation land from 3615,78 Ha to 1698,45 Ha, a decrease in vacant land from 3138,87 Ha to 889,04 Ha, decreased water area from 402,14 Ha to 280,25 Ha and found an increase in land surface temperature which was dominated by temperature class >30 °C by 30044,38 Ha, decreased temperature class from 28-30 °C to 2171,83 Ha, a decrease in the temperature class from 24-26 °C to 117,56 Ha, a decrease in the temperature class from 22-24 °C to 4,52 Ha without a temperature class of 20-22 °C and <20 °C. Abstrak. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan tidak terhindar dari adanya fenomena urbanisasi. Hal tersebut berdampak pada peningkatan lahan terbangun yang berpotensi mengikis lahan-lahan lain salah satunya lahan vegetasi sehingga dapat memicu peningkatan suhu permukaan lahan. Adanya metode Cellular Automata dan pemanfaatan citra satelit memungkinkan untuk memprediksi perubahan tutupan lahan dan suhu permukaan lahan di masa yang akan datang. Didapati hasil penelitian pada tahun 2034 di Kota Surabaya terjadi perubahan tutupan lahan berupa meningkatnya lahan terbangun dari 25692,15 Ha menjadi 29982,19 Ha, menurunnya lahan vegetasi dari 3615,78 Ha menjadi 1698,45 Ha, menurunnya lahan kosong dari 3138,87 Ha menjadi 889,04 Ha, menurunnya lahan perairan dari 402,14 Ha menjadi 280,25 Ha serta ditemui meningkatnya suhu permukaan lahan yang didominasi oleh kelas suhu >30 °C sebesar 30044,38 Ha, menurunnya kelas suhu 28-30 °C menjadi 2171,83 Ha, menurunnya kelas suhu 26-28 °C menjadi 510,65 Ha, menurunnya kelas suhu 24-26 °C menjadi 117,56 Ha, menurunnya kelas suhu 22-24 °C menjadi 4,52 Ha tanpa adanya kelas suhu 20-22 °C dan <20 °C.
Digitalisasi Kebudayaan Keraton Kanoman Cirebon Ibnu Amal Fadhilah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.088 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3662

Abstract

Abstract. Keraton Kanoman is one of the most historical cultural heritages in Cirebon City. Currently, the Canoman Palace still does not have an introduction media other than social media such as Instagram, Facebook, and Youtube. The purpose of this study is to design and create an android-based digital application. The application is a form of innovation in the digitization of culture at the Cirebon Canoman Palace. The benefit of this research is to make it easier for people to get to know the culture in the Cirebon Canoman Palace. In addition, this research can also be an innovation in the application of Smart City in Cirebon City, especially in the field of tourism. This research uses qualitative methods. Data or sample collection is carried out using four ways, namely observation, documentation, interviews, and literature studies. The data obtained is then processed to be packaged in a digital application. In designing and making applications, the Agile method is used which consists of six stages, namely Planning, Implementation, Testing, Documentation, Deployment, and Maintenance. Application creation is done by utilizing Android Studio software. The scope of this study is the Cirebon Canoman Palace. In the research conducted, there were four categories of data used, namely building sites, palace history, heirloom objects, as well as customs and rituals. The result of the study is an android-based digital application called DIGICIREBON. The application has several features that display building sites, heirloom objects, palace history, as well as customs and rituals. Each of these features comes with a description, photos, and videos. The compiled application is interactive with the availability of rating and review features. Abstrak. Keraton Kanoman merupakan salah satu cagar budaya yang sangat bersejarah di Kota Cirebon. Saat ini, Keraton Kanoman masih belum memiliki media pengenalan selain media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Youtube. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan membuat sebuah aplikasi digital berbasis android. Aplikasi tersebut merupakan bentuk dari inovasi dalam digitalisasi kebudayaan di Keraton Kanoman Cirebon. Manfaat penelitian ini adalah untuk memudahkan masyarakat untuk mengenal kebudayaan yang ada di Keraton Kanoman Cirebon. Disamping itu, penelitian ini juga dapat menjadi sebuah inovasi dalam penerapan Smart City di Kota Cirebon khususnya pada bidang pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengambilan data atau sampel dilakukan menggunakan empat cara yaitu observasi, dokumentasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang didapat selanjutnya diolah untuk dikemas dalam sebuah aplikasi digital. Dalam perancangan dan pembuatan aplikasi, digunakan metode Agile yang terdiri dari enam tahap yaitu Planning, Implementasi, Testing, Dokumentasi, Deployment, dan Maintenance. Pembuatan aplikasi dilakukan dengan memanfaatkan software Android Studio. Lingkup dari penelitian ini adalah Keraton Kanoman Cirebon. Dalam penelitian yang dilakukan, terdapat empat kategori data yang digunakan yaitu tapak bangunan, sejarah keraton, benda pusaka, serta adat dan ritual. Hasil penelitian merupakan sebuah aplikasi digital berbasis android bernama DIGICIREBON. Aplikasi tersebut memiliki beberapa fitur yang menampilkan tapak bangunan, benda pusaka, sejarah keraton, serta adat dan ritual. Masing-masing fitur tersebut dilengkapi dengan deskripsi, foto, dan video. Aplikasi yang disusun bersifat interaktif dengan tersedianya fitur rating dan ulasan.
KAJIAN PENENTUAN PRIORITAS RUANG TERBUKA HIJAU BERDASARKAN FENOMENA URBAN HEAT ISLAND DI KOTA CIREBON Irland Fardani; Mohamad Rizalby Yosliansyah
Jurnal Sains Informasi Geografi (J SIG) Vol 5, No 2 (2022): Edisi November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/jsig.v5i2.1708

Abstract

Urban Heat Island (UHI) is characterized by an increase in surface temperature that occurs in downtown areas which is higher than in sub-urban areas. Cirebon City in 2018 - 2023 years has an increased population growth rate of 2.9% per year and ± 55% of built-up land. Cirebon city also one of the 9 cities in West Java where there has been an increase in temperature where the UHI phenomenon occurred in 1989 – 2021 years with the downtown and sub-urban areas having a surface temperature difference of 3°C. So it is necessary to have a study regarding determining the priority of green open space reduce the effect of UHI in Cirebon City. The research methodology used is Landsat 8 image processing and with helping of a Geographic Information System (GIS) to determine priority green open space locations. The parameters used are vegetation index, population density and comfort index. The purpose of this study is to determine the priority locations in increasing the area of green open space to reduce the UHI effect based on the level of suitability of the Cirebon City Rencana Detil Tata Ruang (RDTR). The results of the study show that areas that are not suitable according to the RDTR of Cirebon City are the top priority that needs to be done. The priority is reforestation covering an area of ± 2,481.22 ha around built-up land by modifying green open space in the form of implementing green infrastructure (GI).
Perubahan Tutupan Lahan Terbangun di Kota Pekanbaru Tahun 2000-2022 Muhammad Ilyas Nizar; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6035

Abstract

Abstrak.Pekanbaru City is the Capital City of Riau Province, where many economic activities occur in Pekanbaru City. As a result of these activities it will cause population growth which causes an increase in built-up land due to the attraction in the form of jobs to come to Pekanbaru City. It is feared that population growth will lead to a less regular pattern of development of the built-up land cover and can cause inconvenience to living in the area. Based on the background that has been described, the formulation of the problem in this study is as follows: "How to change the built-up land cover of Pekanbaru City in 2000-2022". Furthermore, the objective of this research is to "Know the land cover change in Pekanbaru City in 2000-2022. The method used in this research is a method for predicting land cover change. In this analysis using a software tool, namely ArcGis. The method used to obtain information remotely is multispectral classification. Based on the results of the classification carried out, there were several land cover changes that occurred in Pekanbaru City in 2000-2022 in the form of an increase in built-up land cover which in 2000 amounted to 4,694.17 Ha and in in 2022 it will be 13,680.48 Ha and the decrease in Vegetation land cover which in 2000 was 38,755.12 Ha and in experiencing a decrease in area which in 2022 will be 30,066.05 Ha, which indicates that there is a large demand for built-up land for the needs of human activities Abstract. Kota Pekanbaru merupakan Ibu Kota Provinsi Riau, dimana banyak kegiatan perekonomian terjadi di Kota Pekanbaru. Akibat adanya kegiatan tersebut maka akan menyebabkan pertumbuhan penduduk yang menyebabkan peningkatan lahan terbangun karena adanya tarikan berupa lapangan pekerjaan untuk datang ke Kota Pekanbaru. Perkembangan penduduk dikhawatirkan akan menyebabkan pola perkembangan tutupan lahan terbangun yang kurang teratur dan dapat menyebabkan ketidaknyamanan untuk tinggal di daerah tersebut. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: “Bagaimana perubahan tutupan lahan terbangun Kota Pekanbaru tahun 2000-2022”. Selanjutnya, tujuan dalam penelitian ini berupa “Mengetahui perubahan tutupan lahan Kota Pekanbaru tahun 2000-2022.Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode untuk memprediksi perubahan tutupan lahan. Pada analisis ini menggunakan alat bantu perangkat lunak yaitu ArcGis. Metode yang digunakan untuk memperoleh informasi dari jarak jauh adalah klasifikasi multispektral.Berdasarkan hasil klasifikasi yang dilakukan terdapat beberapa perubahan tutupan lahan yang terjadi di Kota Pekanbaru tahun 2000-2022 berupa, naiknya tutupan lahan terbangun yang pada tahun 2000 sebesar 4.694,17 Ha dan pada meningkat pada tahun 2022 sebesar 13.680,48 Ha dan menurunnya tutupan lahan Vegetasi yang pada tahun 2000 sebesar 38.755,12 Ha dan pada mengalami penurunan luasan yang pada tahun 2022 menjadi sebesar 30.066,05 Ha, yang menandakan bahwa banyaknya permintaan lahan terbangun untuk kebutuhan aktivitas manusia.
Pengembangan Geodatabase Status Kepemilikan Lahan Permukiman Magersari Keraton Kanoman Kota Cirebon Fahad Sopian; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.7029

Abstract

Abstract. Land is an important thing and a source of human life, because it is on this land that they determine their income or even depend on it. The Magersari settlement which is located in the Kanoman Palace has problems that are still confusing regarding the ownership status of the Magersari land, namely there are differences of opinion between the palace, the community and the palace. From the problems and problems that occur, it is necessary to identify and develop a geodatabase on the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman so that there is clarity on the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman and to minimize or avoid land ownership conflicts and land disputes. The purpose of this research is to identify the land ownership status of the Magersari settlement and create a Geodatabase of land ownership status for the Magersari settlement, Keraton Kanoman Cirebon. The analytical method used in this study is the analysis of geospatial information systems using a mixed methods approach. The result of this research is the development of a geodatabase that contains information regarding the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman, Cirebon City, where the results of the development of this geodatabase are expected to minimize or prevent land dispute conflicts. Abstrak. Tanah merupakan hal yang penting dan merupakan sumber dari kehidupan manusia, karena di atas lahan tanah tersebut mereka menentukan penghasilan atau bahkan menggantungkan hidup mereka. Permukiman Magersari yang berada di Keraton Kanoman memiliki isu-isu yang masih simpang siur akan status kepemilikan lahan Magersari, yang dimana terdapat perbedaan pendapat antara pihak keraton, masyarakat dan pihak keraton. Dari isu-isu serta permasalahan yang terjadi perlu adanya identifikasi serta pengembangan geodatabase terhadap status kepemilikan lahan Magersari yang berada di Keraton Kanoman agar terwujudnya kejelasan dalam status kepemilikan lahan Magersari di Keraton Kanoman serta untuk meminimalisir ataupun menghindari terjadinya Konflik perebutan kepemilikan lahan dan sengketa tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengidentifikasi status kepemilikan lahan permukiman Magersari dan membuat Geodatabase status kepemilikan lahan permukiman Magersari Keraton Kanoman Cirebon. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis sistem informasi geospasial dengan menggunakan pendekatan mixed-method. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah pengembangan geodatabase yang berisi informasi mengenai status kepemilikan lahan Magersari Keraton Kanoman Kota Cirebon, yang dimana hasil dari pengembangan geodatabase ini diharapkan dapat meminimalisir ataupun mencegah terjadinya konflik sengketa lahan.
PENDAMPINGAN RENCANA TATA RUANG DESA (RTRD) BERBASIS PERENCANAAN PARTISIPATIF Irland Fardani; Nia Kurniasari; Ernady Syaodih; Gina Puspitasari Rochman; Fachmy Sugih Pradifta; T a r l a n i
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEMBANGUN NEGERI Vol 7 No 2 (2023): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Membangun Negeri
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pkm.v7i2.3472

Abstract

Perencanaan desa merupakan hal yang sangat penting dalam pengembangan sebuah desa, namun faktanya masih banyak desa di Indonesia yang belum mempunyai dokumen Rencana Tata Ruang Desa (RTRD). Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk melakukan pendampingan kepada Desa Sukamaju, dalam penyusunan dokumen RTRD. Pendekatan metodologi yang diterapkan adalah perencanaan partisipatif, dimana warga diminta untuk berperan aktif dalam penyusunan RTRD. Tahapan kegiatan yang dilakukan pada kegiatan PKM ini adalah scanning desa, Focus Group Disscussion (FGD) dan analisis Satuan Kemampuan Lahan (SKL). Kegiatan PKM ini menghasilkan dokumen RTRD yang terdiri dari rencana pola ruang, rencana pusat pelayanan dan indikasi program. Dalam rencana pola ruang lebih dititik beratkan untuk kegiatan pengihajauan, pada rencana pusat pelayanan ditetapkan pusat pelayan desa berada di kampung Madur Dusun 2. Untuk indikasi program pada bidang struktur ruang difokuskan pada peningkatan infratruktur, pada indikasi program bidang pola ruang difokuskan kepada pengihiajaun dan pada indikasi program bidang sosial ekonomi desa difokuskan pada kegiatan penguatan Bumdes. Semua hasil analisis ini dituangkan dalam dokumen RTRD.
Klasifikasi Tutupan Lahan Multitemporal Menggunakan Metode Random Forest di Kota Bekasi Fadhlul Razak; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8776

Abstract

Abstract. Bekasi City has experienced a very significant increase of built-up land expansion with the significant decrease proportion of the area of vegetation at once. This is due to its strategic location and directly adjacent to the capital, making Bekasi City a center of population settlement in Jabodetabek area. Remote sensing and Google Earth Engine software are used for the approach of this study. The aims of this study are to identify land cover expansion change in Bekasi City on 1988 - 2022. The data that used in this study consist of Landsat 5, Landsat 8, and Landsat 9 imagery. To identifying land cover, the random forest classification method was used, as well as the NDVI and NDBI methods to classify the level of vegetation density and built-up land density so the final result of land cover classification approaches the system of Local Climate Zone (LCZ) classification. The results showed that types of land cover that had a significant increase include high density built up land, medium & low density built up land. Whereas High density vegetation and shrubs had significant decrease in the last 34 years. Abstrak. Kota Bekasi mengalami peningkatan perluasan lahan terbangun yang sangat signifikan yang selaras dengan penurunan proporsi luasan vegetasi yang signifikan. Hal ini disebabkan letaknya yang strategis karena berbatasan langsung dengan ibukota menjadikan Kota Bekasi sebagai pusat pemukiman penduduk pada area Jabodetabek. Penginderaan jauh dan perangkat lunak Google Earth Engine digunakan untuk pendekatan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan perluasan tutupan lahan di Kota Bekasi tahun 1988 - 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari citra Landsat 5, Landsat 8, dan Landsat 9. Untuk mengidentifikasi tutupan lahan digunakan metode klasifikasi hutan secara acak, serta metode NDVI dan NDBI untuk mengklasifikasikan tingkat kerapatan vegetasi dan kerapatan lahan terbangun sehingga hasil akhir klasifikasi tutupan lahan mendekati sistem klasifikasi Local Climate Zone (LCZ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tutupan lahan yang mengalami peningkatan signifikan meliputi lahan terbangun dengan kepadatan tinggi, lahan terbangun dengan kepadatan sedang & rendah. Sedangkan vegetasi kerapatan tinggi dan semak belukar mengalami penurunan yang signifikan dalam 34 tahun terakhir.
Analisis Tingkat Risiko Bencana Longsor di Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya Dwi Rahma Putriana; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8806

Abstract

Abstract. Cibalong District is an area that has a high potential for landslides with the highest number of incidents in Tasikmalaya Regency, which resulted in damage to houses and roads, injuries to fatalities. The main cause of the landslide is influenced by the high intensity of rainfall and low community preparedness in dealing with disasters. This study aims to identify the level of risk of landslides and formulate landslide disaster mitigation in Cibalong District. The analytical method used in the hazard analysis refers to the prediction model from Puslittanak, while the vulnerability analysis and capacity analysis refers to PERKA BNPB No. 2 of 2012. Based on the results of the study it was found that the level of risk of landslides in Cibalong District is in the medium class with the largest area being in Setiawaras Village of 2,007.63 Ha or 32.85% of the total risk area. The mitigation that can be done in Cisempur Village and Parung Village are planting trees with deep roots, relocating people who are in landslide-prone areas, building wire gabions, avoiding building settlements on steep slopes. Whereas for Eureunpalay Village, Setiawaras Village, Cibalong Village, and Singajaya Village, namely by providing evacuation routes and places, installing hazard signs, reducing the level of steep slopes by prohibiting building settlements in landslide-prone areas, permanently relocating residents especially in areas that are at a high level of risk, improving the drainage system. In addition, there is a need to increase village community preparedness through outreach and disaster simulation. Abstrak. Kecamatan Cibalong merupakan daerah yang memiliki potensi rawan bencana longsor tinggi dengan jumlah kejadian terbanyak di Kabupaten Tasikmalaya, yang mengakibatkan adanya kerusakan bangunan rumah dan jalan, korban luka hingga korban jiwa. Penyebab utama longsor tersebut dipengaruhi oleh tingginya intensitas curah hujan dan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat risiko bencana longsor dan merumuskan mitigasi bencana longsor di Kecamatan Cibalong. Metode analisis yang digunakan pada analisis bahaya yang mengacu pada model pendugaan dari Puslittanak, sedangkan analisis kerentanan dan analisis kapasitas mengacu pada PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa, tingkat risiko bencana longsor di Kecamatan Cibalong berada pada kelas sedang dengan luasan terbesar terdapat di Desa Setiawaras sebesar 2.007,63 Ha atau 32,85% dari total luas risiko. Adapun mitigasi yang dapat dilakukan pada Desa Cisempur dan Desa Parung yaitu penanaman pohon perakaran dalam, relokasi masyarakat yang berada di daerah rawan longsor, membangun bronjong kawat, menghindari membangun permukiman di daerah berlereng terjal. Sedangkan untuk Desa Eureunpalay, Desa Setiawaras, Desa Cibalong, dan Desa Singajaya yaitu dengan penyediaan jalur dan tempat evakuasi, pemasangan rambu bahaya, mengurangi tingkat keterjalan lereng dengan larangan membangun permukiman didaerah rawan longsor, pemindahan penduduk secara permanen khususnya pada daerah yang berada pada tingkat risiko tinggi, meningkatkan sistem drainase. Selain itu, perlunya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat desa melalui sosialisasi dan simulasi bencana.