Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

MANAJEMEN KANDANG TERNAK UNTUK MENINGKATKAN KESEHATAN DAN HASIL PRODUKSI TERNAK DESA BULUSAN KECAMATAN KALIPURO KABUPATEN BANYUWANGI JAWA TIMUR Albar Adetary Hasibuan; Khalid Rahman; In’amul Wafi; Irida Novianti
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 No. 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v6i2.43952

Abstract

Ketahanan pangan dan gizi masyarakat Indonesia sangat menjadi perhatian lebih-lebih sejak adanya program pemerintah makan siang. Ketercukupan pasokan daging dan susu merupakan hal utama yang perlu diperhatikan untuk memenuhi protein hewani bagi siswa-siswa di Indonesia. Dalam penyelenggaraan pengabdian ini, tim membidik sasaran program pengabdian pada bidang peternakan sebagai piranti penting meningkatkan gizi masyarakat dengan ketersediaan protein hewani agar ibu hamil dan anak-anak sekolah tidak mengalami kekurangan gizi untuk mendorong terciptanya generasi cerdas dan sehat. Tim pengabdian dengan pemerintah desa Bulusan kecamatan Kalipuro kabupaten Banyuwangi, membangun sinergitas dan diseminasi ilmu pengetahuan bersama kelompok ternak yang ada di desa Bulusan. Minimnya pengetahuan peternak terkait manajemen kandang untuk hewan ternak menjadi perhatian serius. Pengabdian masyarakat ini sebagai dorongan implementasi program pemerintah yang berkelanjutan yaitu SDGs (Sustainable Development Goals). Di desa Bulusan terdapat 741 orang peternak, dengan jumlah komoditas ternak sementara Sapi 376 ekor, kambing 222 ekor dan ayam 1.049 ekor. Jumlah tersebut masih sangat minim jika dibandingkan dengan kebutuhan asupan daging untuk masyarakat desa Bulusan yang berjumlah 8.035 jiwa. Solusi yang mampu diberikan adalah menggenjot produktivitas hewan ternak dengan pengetahuan modern yang melibatkan perguruan tinggi
Transmisi Bahasa Wolio dan Resiliensi Budaya pada Masyarakat Pesisir Kota Bau-Bau Arifandi Waikabo; Varissca Utari Tuharea; Aswar Muhidin; Muhamad Chairul Basrun Umanailo; Albar Adetary Hasibuan; Khalid Rahman
Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS) Vol 9, No 1 (2026): Journal of Education, Humaniora and Social Sciences (JEHSS), August
Publisher : Mahesa Research Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34007/jehss.v9i1.3116

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi ekosistem transmisi bahasa Wolio pada masyarakat pesisir Kota Bau-bau di tengah masifnya tekanan modernisasi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, kajian ini menolak ekstraksi data yang mekanis dengan mengadopsi paradigma akademik asubsisten, di mana proses penelitian diposisikan sebagai upaya etis untuk merawat makna dan suara autentik komunitas. Data naratif yang dihimpun dari lapangan dianalisis secara struktural dan spasial menggunakan perangkat lunak MAXQDA 24. Hasil penelitian mengungkap empat temuan fundamental: (1) internalisasi filosofi budaya, seperti nilai Pobinci-binciki kuli, beroperasi sebagai poros utama yang mendikte etika dan nilai bahasa Wolio; (2) pewarisan bahasa tidak bersifat instruksional, melainkan tumbuh secara organik melalui pola komunikasi keluarga yang diikat oleh kuatnya solidaritas sosial; (3) praktik ritual pesisir berfungsi sebagai benteng resiliensi terakhir yang menjaga kemurnian struktur bahasa dari arus profan modernitas; dan (4) konsistensi penggunaan bahasa serta kepatuhan pada etika tutur di ruang publik dan domestik menjadi prasyarat mutlak bagi keberlanjutan identitas. Disimpulkan bahwa daya tahan bahasa Wolio melampaui urusan pelestarian linguistik semata; ia merupakan praksis perlawanan kultural yang multidimensi, yang keberhasilannya sangat bergantung pada kedisiplinan komunitas dalam merawat memori kolektif dan martabat manusia pesisir.
Hilirisasi Pertanian Sebagai Strategi Peningkatan Ketahanan Pangan Masyarakat Kabupaten Buru Muhamad Chairul Basrun Umanailo; Mohamad Anas; Varissca Utari Tuharea; Albar Adetary Hasibuan; Khalid Rahman; Hamiru Hamiru
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pemerintahan (JIAPP) Vol 5, No 2 (2026): Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pemerintahan (JIAPP) - August
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/jiaap.v5i2.7113

Abstract

Agricultural downstreaming is an important strategy for increasing the added value of agricultural products while strengthening food security in rural communities. This study aims to analyze the role of local knowledge and village institutional support in promoting agricultural downstreaming as a strategy to strengthen food security in Buru Regency. The study employed a qualitative method with a phenomenological approach to understand community experiences and practices related to food management, livelihoods, and agricultural downstreaming. The research was conducted among farming and fishing households in seven villages: Parbulu, Seith, Waegeren, Waitele, Hatawano, Wamlana, and Waeperang. A total of 22 informants were purposively selected, and data were collected through in-depth interviews and participant observation. The data were thematically analyzed using MAXQDA 24. The findings indicate that agricultural downstreaming in Buru Regency is supported by three main aspects: local knowledge, community institutions, and technology adoption. Local knowledge contributes to maintaining food-processing practices and intergenerational knowledge transmission, while village institutions and community collaboration play an important role in supporting resource management and economic access. Technology adoption has begun to facilitate the processing of agricultural products into higher-value products, although product innovation and market access still need to be strengthened. Crop diversification also represents an important practice for maintaining ecological sustainability and supporting community livelihoods. The study concludes that strengthening food security through agricultural downstreaming requires synergy among technology, village institutions, local knowledge, and ecological protection. This strategy should focus on developing value-added innovations, expanding market access, and strengthening community capacity to adapt to environmental changes.