Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Penambahan Kultur Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae terhadap Kualitas Biji Kopi Arabika (Coffea arabica L.) Apria Ajeng Winanti; Yoga Aji Handoko
Agroteknika Vol 7 No 2 (2024): Juni 2024
Publisher : Green Engineering Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55043/agroteknika.v7i2.255

Abstract

Produksi kopi arabika (Coffea arabica L.) di Indonesia mengalami peningkatan dalam kurun waktu 10 tahun terkahir akibat melonjaknya permintaan yang berimbas pada peningkatan ekonomis kopi arabika. Ironisnya kualitas kopi arabika di Indonesia masih terbilang rendah akibat sebagian besar proses penanganan pascapanen dilakukan secara sederhana tanpa melewati proses fermentasi yang optimal. Biji kopi arabika yang berkualitas harus memenuhi standar SNI 01-02907-2008. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh metode fermentasi terbaik dalam menghasilkan biji kopi arabika berkualitas dengan membandingkan hasil fermentasi secara alami dan fermentasi dengan penambahan inokulan Lactobacillus plantarum dan Saccharomyces cerevisiae. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 7 kali ulangan. Perlakuan yang diberikan meliputi perlakuan tanpa penambahan kultur sebagai kontrol, perlakuan penambahan kultur tunggal Saccharomyces cerevisiae, perlakuan penambahan kultur tunggal Lactobacillus plantarum, serta perlakuan penambahan kultur campur Saccharomyces cerevisiae dan Lactobacillus plantarum. Parameter yang diuji diantaranya rendemen, kadar air, gula reduksi, total asam, kadar kafein, dan kadar abu. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan terbaik adalah perlakuan dengan penambahan inokulan Saccharomyces cerevisiae dengan nilai rendemen 39,71%, kadar air 7,34%, gula reduksi 0,98%, total asam 0,13%, kadar kafein 0,13%, serta kadar abu 4,59%.
ISOLASI BAKTERIOFAG Xanthomonas oryzae DARI LAHAN SAWAH DI KELURAHAN KECANDRAN, KECAMATAN SIDOMUKTI, SALATIGA DAN STABILITASNYA TERHADAP BERBAGAI pH Yasmine, Christiani; Setiawan, Andree Wijaya; Handoko, Yoga Aji
Jurnal Agrotek Tropika Vol 11, No 3 (2023): JURNAL AGROTEK TROPIKA VOL 11, Agustus 2023
Publisher : Departement of Agrotechnology, Agriculture Faculty, Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jat.v11i3.6031

Abstract

Hawar daun bakteri (HDB) merupakan penyakit yang menyerang tanaman padi dan disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae.Selama ini petani menanggulangi penyakit HDB ini dengan cara  menyemprotkan bakterisida,  pergiliran tanaman yang bukan inang patogen, dan menanam varietas tahan penyakit. Akan tetapi, pengendalian tersebut belum memberikan hasil yang maksimal, karena keragaman strain bakteri Xanthomonas oryzae. Pemberian bakterisida ini masih belum bisa menekan pertumbuhan bakteri sepenuhnya melainkan, hanya bisa memperlambat laju pertumbuhan bakteri Xanthomonas oryzae dan kemungkinan beresiko membunuh bakteri yang menguntungkan. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk mengendalikan bakteri Xanthomonas oryzae dengan mempertimbangkan bakteriofag sebagai agen biokontrol untuk menginfeksi bakteri Xanthomonas oryzae. Metode untuk mengisolasi bakteriofag Xanthomonas oryzae  diawali dengan  pengambilan sampel tanah di lahan sawah dengan cara transek sampling, isolasi, purifikasi, dan propagasi bakteriofag. Pengujian stabilitas bakteriofag berfungsi untuk mengetahui kekuatan partikel bakteriofag dapat bertahan terhadap pH asam dan basa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 sampel bakteriofag yang berhasil diisolasi yaitu K1 (Kecandran 1), K2 (Kecandran 2), dan K3  (Kecandran 3). Hasil uji stabilitas bakteriofag terhadap pH menunjukan ketiga sampel diperoleh titer bakteriofag stabil pada pH 7 dan pH 9, sedangkan pada pH 2 dan pH 5 bakteriofag cenderung mengalami penurunan titer dan menunjukkan tidak mampu bertahan pada kondisi asam. Dari ketiga sampel tersebut, pada pH 12 menunjukkan adanya penurunan titer yang mengakibatkan sebagian besar partikel bakteriofag tidak tahan terhadap kondisi basa.
RISET PASAR TEH BIT CELUP “BIETEN THEE” Dwi Septian, Bagas; Maria; Herawati, Maria Marina; Handoko, Yoga Aji; Nuswantara, Bayu; Simanjuntak, istok Hasiholan; Sutrisno, Alfred Jansen; Simamora, Liska; Yuliawati
Journal of Agribusiness, Social and Economic Vol. 4 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/jase.v4i2.5413

Abstract

Produk teh bit “Bieten Thee” dibuat untuk membantu menaikkan nilai tambah dari komoditas bit yang kurang diserap pasar. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan riset pasar produk baru yaitu minuman teh dari bit “Bieten Thee” dengan mengetahui karakteristik dan perilaku konsumen terhadap atribut produk yang diberikan apakah dapat diterima serta memuaskan konsumen. Data penelitian didapatkan melalui kuesioner yang diisi oleh 30 calon konsumen bieten thee dengan syarat sudah mencoba dan tertarik untuk membeli produk kedepannya. Metode analisis yang digunakan yaitu IPA (Importance Performance Analysis) dan CSI (Customer Satisfaction Index). Hasil pengukuran karakteristik konsumen dari data menunjukkan minat terbesar berasal dari rentan usia 20-30 yang memiliki keterbukaan besar terhadap inovasi baru dan mulai sadar tentang kesehatan tubuh. Mayoritas calon konsumen berjenis kelamin laki-laki (60%), dimana mayoritas-nya memiliki latar belakang pendidikan layak yang tergolong SMA ke atas. Penghasilan dari calon konsumen bieten thee mayoritas berada pada Rp.1.000.000-Rp.2.500.000 dimana pada tingkat pendapatan ini konsumen akan cenderung lebih selektif terhadap pembelian produk yang dibutuhkan. Perilaku dari konsumen terhadap atribut produk terlihat dari hasil olah data dari metode IPA pada kuadran I (manfaat produk membuat konsumen tertarik dan rasa produk dapat diterima dan dinikmati) dan III (aroma produk mernarik, aroma dapat diterima, rasa produk memuaskan, dan harga produk terjangkau) perlu diperbaiki dan kuadran II (warna produk menarik, warna dapat menjadi ciri khas, manfaat dari produk menjadi kelebihan, model kemasan mendukung keawetan produk, dan tampilan kemasan menarik) dan IV (harga produk sesuai dengan kelebihan yang ditawarkan) perlu dipertahankan.
Pengaruh penambahan santan kelapa (Cocos nucifera L.) terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik velva bit merah (Beta vulgaris L.) Sisilia Elen; Yoga Aji Handoko

Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v15i2.5347

Abstract

Red beetroot is a type of purplish red tuber with a slightly sweet taste accompanied by an earthy aroma. Several studies on the processing of red beet products have been carried out, one of which is Velva. The Velva product still has shortcomings because it still has a strong unpleasant taste and aroma, so it is necessary to add other ingredients such as coconut milk. Coconut milk contains high levels of galactomannan and phospholipids which can improve unpleasant taste and aroma. This research aimed to know the effect of adding coconut milk and determine the best concentration of coconut milk on the physicochemical and organoleptic characteristics of red beetroot. This research used RAK 6 treatments and 4 repetitions with varying concentrations of added coconut milk (0%, 20%, 40%, 50%, 60% and 80%). Sample parameters in this study include: overrun, melting power, TPT, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic (color, aroma, taste, texture). The results of the research showed that the addition of coconut milk to red beetroot velva with different concentrations influenced the overrun, melting power, TPT, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic properties produced. Based on these characteristics, BS4 is the best treatment, producing an overrun of 6.26%, melting power of 18 minutes, TPT of 18°brix, crude fiber of 17.71%, betacyanin content of 2.75µg/gram, and fat content of 9.67%. Additionally, the entire panel liked the color, aroma, taste, and texture of the BS4 treatment. The resulting color is red guava, fragrant coconut milk aroma, a delicious and savory taste, and a smoother velva texture.
KARAKTERISTIK FLAKES BERBAHAN DASAR TEPUNG PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KACANG HIJAU (Vigna radiata) Novia Dewi Permatasari; Yoga Aji Handoko
Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 26 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jtp.2025.026.01.2

Abstract

Mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, menuntut pemenuhan kebutuhan yang serba praktis dan mudah, satu diantaranya adalah kebutuhan makanan, sehingga diperlukan makanan yang praktis dan tetap dapat memenuhi nilai gizi harian seperti flakes. Komoditas untuk bahan dasar flakes di Indonesia sangat beragam, oleh karena itu, pemanfaatan umbi porang (Amorphophallus muelleri Blume) yang kaya akan serat dengan kandungan glukomanan hingga 65% dan kacang hijau (Vigna radiata) dengan sumber protein yang tinggi hingga 24% sebagai bahan baku dalam pembuatan flakes dapat dilakukan. Tujuan riset ini adalah menentukan konsentrasi tepung porang serta tepung kacang hijau untuk menghasilkan produk flakes terbaik. Rancangan percobaan adalah metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) 7 perlakuan dengan 3 kali pengulangan. Formulasi dibuat berdasarkan perbandingan persentase tepung porang dan tepung kacang hijau, yaitu P0 (kontrol) (100:0), P1 (80:20), P2 (60:40), P3 (50:50), P4 (40:60), P5 (20:80), dan P6 (0:100). Tahapan penelitian meliputi penyiapan tepung porang, pembuatan tepung kacang hijau, pembuatan flakes, serta uji kualitas flakes diantaranya kadar air, daya serap air, penetapan kadar karbohidrat, protein, serat kasar, dan organoleptik. Data-data yang diperoleh dianalisis berdasarkan metode Analysis of Variance (ANOVA), jika terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Data hasil uji kualitas flakes menunjukkan perlakuan P3 merupakan komposisi flakes terbaik dengan nilai kadar air 3,70%, daya serap air 0,90%, karbohidrat 2,37%, protein 14,15%, serat kasar 45,62%, serta uji organoleptik.  
THE EFFECT OF COLD BREW AND HOT BREW EXTRACTION METHODS AND DURATION OF FERMENTATION ON THE QUALITY OF ROBUSTA COFFEE WINE (Coffea canephora) TEMANGGUNG Nokabun, Karolus Yubel; Handoko, Yoga Aji
Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 8 No. 2 (2024): Agrisaintifika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v8i2.5957

Abstract

This study examines the effect of fermentation duration and extraction methods (cold brew and hot brew) on the quality of robusta wine coffee. Wine coffee is a beverage resulting from the fermentation process of coffee extract which is providing a unique taste with a blend of coffee and alcohol flavors, along with a characteristic wine aroma. Through these two extraction methods, cold brew and hot brew offer different characteristics to the chemical parameters such as pH, reducing sugar content, alcohol content, caffeine content, and flavor. The research results indicate that cold brew yields a lighter flavor, while hot brew tends to have a stronger or more bitter taste. The duration of fermentation significantly affects the chemical parameters, with a decrease in pH and reducing sugar content as fermentation time increases. The alcohol content in cold brew reaches 19.93% on day 28, higher than hot brew which has 18.40% of alcohol. Organoleptic analysis results show that cold brew is preferred by the panelists, especially on the 28th day of fermentation.
Hilirisasi hingga Komersialisasi Teh Bit Celup: Suatu Proses Pemberdayaan Masyarakat Desa Sumberejo, Magelang Handoko, Yoga Aji; Jatiningrum, Setia Humani; Putri, Christina Ari Pramono; Manao, Nancy Felicia; Jayanti, Malta Puspita; Putra, Imanuel Trisya; Simanjuntak, Bistok Hasiholan
Jurnal Dimas Vol 7 No 1 (2025): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI YAYASAN PHARMASI SEMARANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53359/dimas.v7i1.103

Abstract

Beta vulgaris L. atau umbi bit merah adalah komoditas hortikultura unggulan Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang. Umbi ini mempunyai manfaat kesehatan yang baik, karena mengandung antioksidan betasianin yang tinggi. Namun demikian, petani seringkali mengalami kerugian karena harga penjualan umbi bit segar yang cenderung di bawah dari harga pokok produksi. Tujuan dari pengabdian masyarakat yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sumberejo melalui proses pendampingan hilirisasi hingga komersialisasi produk teh celup bit. Pendampingan hilirisasi dilakukan mulai penciptaan inovasi produk olahan teh bit celup dengan memperoleh hak paten invensi, Sertifikat P-IRT, serta Sertifikat Halal, pelatihan Good Handling Practices dan Good Manufacturing Practices dalam produksi teh bit celup; penyusunan proposal kelayakan usaha; serta pendirian infrastruktur, pengadaaan alat produksi, dan pembuatan proptype produk teh bit celup. Proses pemberdayaan ekonomi melalui aspek komersialisasi teh bit celup dengan merek “Bieten Thee” juga telah dilakukan mulai: standarisasi kualitas produks, pemasaran, hingga distribusi. Hasil kegiatan hilirisasi teh bit celup ini menjadi model dan terebosan pertama masyarakat Desa Sumberejo dalam menaikkan nilai tambah hasil pertanian. Kata kunci: Beta vulgaris L., hilirisasi, komersialisasi, pemasaran, teh bit celup Beta vulgaris L. or red beetroot is a superior horticultural commodity of Sumberejo Village, Ngablak District, Magelang Regency. This tuber has good health benefits because it contains high levels of betacyanin antioxidants. However, the farmers often experience losses because the selling price of fresh beetroot tends to be below the cost of production. The aim of community service is to improve the welfare of the people of Sumberejo Village through the process of assisting the downstream process to the commercialization of beetroot tea bag products. Downstream assistance is carried out starting from the creation of innovations in processed beetroot tea bag products by obtaining invention patents, P-IRT Certificates, and Halal Certificates, training in Good Handling Practices and Good Manufacturing Practices in the production of beetroot tea bags; preparation of business feasibility study; as well as the establishment of infrastructure, procurement of production equipment, and the manufacture of beetroot tea bag prototypes. The process of economic empowerment through the commercialization of beetroot tea bags with the brand "Bieten Thee" has also been carried out starting from: standardization of product quality, marketing, until distribution. The results of the downstreaming of beetroot tea bags have become a model and the first breakthrough for the people of Sumberejo Village in increasing the added value of agricultural products. Keywords: Beta vulgaris L., beetroot tea bags, commercialization, downstream, marketing
Pengaruh penambahan santan kelapa (Cocos nucifera L.) terhadap karakteristik fisikokimia dan organoleptik velva bit merah (Beta vulgaris L.): Effect of adding coconut milk (Cocos nucifera L.) on the physicochemical and organoleptic characteristics of red beetroot velva (Beta vulgaris L.) Elen, Sisilia; Handoko, Yoga Aji
TEKNOLOGI PANGAN : Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Yudharta, Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35891/tp.v15i2.5347

Abstract

Red beetroot is a type of purplish red tuber with a slightly sweet taste accompanied by an earthy aroma. Several studies on the processing of red beet products have been carried out, one of which is Velva. The Velva product still has shortcomings because it still has a strong unpleasant taste and aroma, so it is necessary to add other ingredients such as coconut milk. Coconut milk contains high levels of galactomannan and phospholipids which can improve unpleasant taste and aroma. This research aimed to know the effect of adding coconut milk and determine the best concentration of coconut milk on the physicochemical and organoleptic characteristics of red beetroot. This research used RAK 6 treatments and 4 repetitions with varying concentrations of added coconut milk (0%, 20%, 40%, 50%, 60% and 80%). Sample parameters in this study include: overrun, melting power, TPT, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic (color, aroma, taste, texture). The results of the research showed that the addition of coconut milk to red beetroot velva with different concentrations influenced the overrun, melting power, TPT, fiber content, betacyanin content, fat content, and organoleptic properties produced. Based on these characteristics, BS4 is the best treatment, producing an overrun of 6.26%, melting power of 18 minutes, TPT of 18°brix, crude fiber of 17.71%, betacyanin content of 2.75µg/gram, and fat content of 9.67%. Additionally, the entire panel liked the color, aroma, taste, and texture of the BS4 treatment. The resulting color is red guava, fragrant coconut milk aroma, a delicious and savory taste, and a smoother velva texture.
Adakah yang Dibuang?Belajar Praktik Baik Pengelolaan Bahan Makanan Warung Kuliner Sore Hari di Kota Salatiga Handayani, Widhi; Handoko, Yoga Aji
Jurnal Ekologi, Masyarakat dan Sains Vol 5 No 2 (2024): Jul-Des 2024
Publisher : ECOTAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55448/rae4sn35

Abstract

Salatiga merupakan wilayah yang strategis di wilayah Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang, sehingga seringkali menjadi tempat persinggahan para wisatawan yang melintas ke tiga kota tersebut. Sebagai akibatnya, warung kuliner di kota Salatiga juga berkembang pesat dari waktu ke waktu yang berimplikasi pada potensi timbulan sampah makanan (food waste). Namun, studi mengenai sisa makanan tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi produksi makanan dan sampah makanan yang dihasilkan oleh warung kuliner dan konsumennya di Kota Salatiga. Studi dilakukan dengan metode kualitatif pada lima warung kuliner yang berjualan sore hingga malam hari di Kota Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampah makanan yang dibuang oleh warung kuliner adalah sampah makanan yang berasal dari bagian yang tidak dapat dimakan seperti kulit telur, minyak jelantah, dsb. Namun ada warung kuliner yang menunjukkan praktik baik dengan menyajikan porsi yang tepat bagi pembeli, sehingga memperkecil potensi menyampah. Selain itu, makanan yang tidak dihabiskan biasanya dibawa pulang oleh pembeli, sehingga tidak menjadi sampah.
KARAKTERISTIK DAN UJI ORGANOLEPTIK SELAI LABU KUNING Liem, Jennifer Larisa; Sugiarti, Shinta; Faisalma, Mohamad Wega; Handoko, Yoga Aji
Agros Journal of Agriculture Science Vol 22, No 1 (2020): edisi Januari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v22i1.1110

Abstract

Produksi labu kuning (Cucurbita moshata) Indonesia tahun 2010 adalah 369,846 ton dan tahun 2011 menjadi 428,197 ton, konsumsi masih di bawah lima kilogram per kapita per tahun. Salah satu olahan labu kuning adalah selai. Varietas yang dianjurkan untuk selai adalah cemre atau bokor karena tekstur daging buah halus, manis, warna orange. Proses pembuatan selai: pemilihan buah, pencucian, pemotongan, penghancuran, pengolahan, penambahan bahan penunjang, pasteurisasi, pegemasan. Takaran gula: 60 : 40 persen (labu kuning: gula), pektin komersial 1,5 persen dalam 98,5 persen bubur labu, selain itu dari tepung pisang takaran dua persen pada 90 persen labu kuning dan 10 persen gula, pH 3,10 hingga 3,46. Selai labu kuning diterima masyarakat, nilai rata-rata di atas 80 persen dengan pengujian organoleptik. Pengemasan disarankan menggunakan gelas jar atau plastik polypropilen. Tekanan tinggi, yaitu 4000 hingga 6000 kg per cm2 dapat menghasilkan selai dengan kualitas superior, dilihat dari warna, rasa, dan kadar vitamin C. Pada tekanan tinggi, populasi Zygosaccharomyces rouxii, Saccharomyces cervisiae, Staphylococcus, dan Salmonella berkurang, dihasilkan rasa, aroma, dan warna yang disukai oleh panelis
Co-Authors Adi Nugroho Adminarwati Hulu Adminarwati Hulu Agus, Yohanes Hendro Alfred Jansen Sutrisno Alvira Tuttan Dwi Maharani Andree Wijaya Setiawan Andrianto, Kurniawan Apria Ajeng Winanti Arita Putri Handayani Arita Putri Handayani Bayu Nuswantara Bellarose Novelia Kristina Pandeirot Bellarose Novelia Pandeirot Bistok Hasiholan Simanjuntak Brian Jordan Zendrato Briliani Ayu Arianita Chelsy Natalia Putirulan Christhoperus William Vincent Sucipto Christiani Yasmine Christina Ari Pramono Putri Damara Dinda Nirmalasari Zebua David Richard Hendarto Deshinta Tri Murty Archery Desy Mar’atul Fadlilah Dina Rotua Valentina Banjarnahor Donna Setiawati Dwi Septian, Bagas Eko Wahyu Widiyatmoko Eko Wahyu Widiyatmoko Elen, Sisilia Elisa Esterelita Elvi Fitriani Simarmata Erlitha Rahmawati Faisalma, Mohamad Wega Gabriella Desnata Yoan Anarki Gideon Febby Prima Andhika Gilang Andi Nugroho Hendrik Johannes Nadapdap Hildegardis Vania Santika Hulu, Adminarwati Indrabayu Indriatmoko Indriatmoko Ivan Tjahja Pranata Jatiningrum, Setia Humani Jayanti, Malta Puspita Jennifer Larisa Liem Johan Jimmy Carter Tambotoh Krisdania Agaperesa Lasmono Tri Sunaryanto Liem, Jennifer Larisa Liska Simamora Lois Hintanara Shine Tanggara Manao, Nancy Felicia Maria Maria Maria Maria Maria Maria Marina Herawati Megawati Haloho Murtiwulandari Murtiwulandari Ningrum, Priskilah Febi Widya Nokabun, Karolus Yubel Novani Wahyu Khristanti Novia Dewi Permatasari Nugraheni Widyawati Olsen O Pramana Panadi, Danendra Guido Pandeirot, Bellarose Novelia Kristina Paulya Eltje Leihitu Peli Rodo Pranata, Ivan Tjahja Pratiwi, Vera Handi Putra, Imanuel Trisya Rannes Ran Nes Rendha Kinasih Rony, Zahara Tussoleha Saputra, Delfio Arga Shinta Sugiarti Simanjuntak, istok Hasiholan Sisilia Elen Subagyo, Ni Jeni Fanira Sucipto, Christhoperus Vincent Sugiarti, Shinta Suprihati Suprihati Suprihati Surya Seno Pamungkas Teresha Elena Permata Theresa Dwi Kurnia Tinjung Mary Prihtanti Vania Putri Santoso Velian Sandy Wardana Wamilia Yulianingsih Wamilia Yulianingsih Widhi Handayani Yasmine, Christiani Yayi Suryo Prabandari Yetero Hendikus Hulu Yohanes Hendro Agus Yuli Kristiyanto Yulianingsih, Wamilia Yuliawati Yuliawati Yulius Adi Kristiawan Zai, Novice Enrich Zendrato, Yuniel Melvanolo