Eka Dian Aprilia
Department Of Psychology, Universitas Syiah Kuala, Aceh, Indonesia

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Syiah Kuala Psychology Journal

Intensi Job Hopping pada Generasi Y dan Z Humaira, Sarah; Aprilia, Eka Dian; Mirza, Mirza; Khatijatusshalihah, Khatijatusshalihah
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 1 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i1.29672

Abstract

Fenomena job hopping telah dianggap menjadi masalah dalam lingkungan pekerjaan saat ini. Dalam lingkup pekerjaan, adanya perbedaan karakteristik antar generasi pekerja dapat mengakibatkan individu untuk melakukan job hopping. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran perbedaan intensi job hopping pada generasi Y dan generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode komparasi. Responden dalam penelitian ini sebesar 80 subjek untuk setiap kelompok generasi. Adapun jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini adalah 160 pekerja generasi Y dan pekerja generasi Z yang aktif bekerja di suatu instansi/perusahaan/organisasi dan bekerja kurang dari 2 tahun pada tempat kerjanya saat ini. Pengumpulan data penelitian menggunakan skala Job Hopping Intention Scale (JHI) dengan () 0,906. Hasil analisis data uji statistik Independent T-test menunjukkan nilai signifikansi (p) =0,000 (0,000 0,05). Ada perbedaan signifikan pada nilai pekerja generasi Y (M=73,75) dan pekerja generasi Z (M=85,00). Berdasarkan nilai mean, pekerja generasi Z lebih tinggi daripada pekerja generasi Y. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja generasi Z memiliki intensi Job hopping lebih besar dibanding pekerja generasi Y.The phenomenon of job hopping has been considered a problem in the current job environment. In the scope of work, differences in characteristics between generations of workers may result in individuals doing job hopping. This study aims to describe the differences in job hopping intentions in generation Y and generation Z. This study uses a quantitative approach with the comparative method. Respondents in this study amounted to 80 subjects for each generation group. The number of respondents taken in this study is 160 generation Y workers and generation Z workers who actively worked in an agency / company / organization and worked less than 2 years at their current workplace. The collection of research data using a Job Hopping Intention Scale (JHI) with () 0.906. The results of statistical test data analysis of the Independent T-test showed a significance value (p) = 0.000 (0.000 0.05). There is a significant difference in the value of generation Y workers (M= 73.75) and generation Z workers (M = 85.00). Based on the mean value, generation Z workers is higher than generation Y workers. This shows that generation Z workers have greater job hopping intentions than generation Y workers.
Job Embeddedness dan Turnover Intention Pada Guru Honorer Salvina, Desi; Rachmatan, Risana; Aprilia, Eka Dian; Riamanda, Irin
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 2, No 2 (2024)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v2i2.30560

Abstract

The problems of honorary teachers are quite complex, including income problems, low trust in the organization and dissatisfaction at work. These problems can make honorary teachers have the desire to leave their jobs. The desire to leave a person's job is called turnover intention. One of the factors that can inhibit turnover intention is job embeddedness (work engagement). This study aims to examine the relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. The subjects in this study were honorary teachers. The sampling technique in this study was accidental sampling with the number of participants being 270 honorary teachers. Data was collected using the Global Job Embeddedness Scale (GJES) and Turnover Intention Scale (TIS). The results of the analysis showed a significance value (p) = 0.000 (p0.05) with a correlation value (r) = -0.718 and a determination value of 51.5%. This shows that there is a negative relationship between job embeddedness and turnover intention in honorary teachers. Most subjects are in the category of high job embeddedness and low turnover intention. The benefits of this research can provide insights into the various factors that may encourage honorary teachers to remain in their jobs. By understanding the factors that make them feel connected to their work, educational institutions can develop more effective strategies in the future.Permasalahan guru honorer cukup kompleks di antaranya masalah penghasilan, rendahnya kepercayaan terhadap organisasi dan ketidakpuasan dalam bekerja yang dapat menyebabkan guru honorer memiliki keinginan untuk keluar dari pekerjaannya. Keinginan keluar seseorang dari pekerjaannya disebut turnover intention. Salah satu faktor yang dapat menghambat turnover intention adalah job embeddedness (keterikatan kerja). Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Subjek pada penelitian ini adalah guru honorer. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah accidental sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 270 guru honorer. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Global Job Embeddedness Scale (GJES) dan Turnover Intention Scale (TIS). Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi (p) = 0,000 (p0,05) dengan nilai korelasi (r) = -0,718 dan nilai determinasi sebesar 51,5%. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang negatif antara job embeddedness dengan turnover intention pada guru honorer. Mayoritas subjek berada pada kategori job embeddedness tinggi dan turnover intention rendah. Manfaat dari penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai berbagai faktor yang dapat membuat guru honorer bertahan di pekerjaannya, dengan memahami faktor yang dapat membuat mereka merasa terikat dengan pekerjaannya, sehingga nantinya institusi pendidikan dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif.
Durasi Penggunaan Media Sosial dan Kecenderungan Adiksi Belanja Daring Pada Mahasiswa Khairunnisa, Sarah; Aprilia, Eka Dian; Julita, Santi; Mirza, Mirza
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 3, No 1 (2025)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v3i1.32597

Abstract

This study aims to determine the relationship between the duration of social media use and the tendency toward online shopping addiction among students at Universitas Syiah Kuala. This research is based on two main data which show that students aged 1824 are the largest group of social media users and online shopping is the most dominant internet activity. Changes in consumption patterns due to social media have the potential to trigger addictive behavior in online shopping. This research uses a quantitative approach with purposive sampling technique and the sample criteria include students at Universitas Syiah Kuala who use social media for more than three hours per day and shop online at least twice per month. The instruments used were the Social Networking Time Use Scale (SONTUS) and the Online Shopping Addiction Scale (OSAS). The analysis using the Spearman Rho test showed a significant positive relationship between the duration of social media use and the tendency toward online shopping addiction (p = 0.001; r = 0.190). Although significant, the strength of the relationship is very weak. This indicates that the longer students use social media, the more likely they are to exhibit signs of online shopping addiction, although the influence is not dominant. Other factors such as economic conditions, purposes of social media use, and individual characteristics also play a role. This study suggests that students should develop awareness in managing their time on social media to prevent excessive consumer behaviors.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara durasi penggunaan media sosial dengan kecenderungan adiksi belanja daring pada mahasiswa Universitas Syiah Kuala. Penelitian ini didasarkan pada dua data penting bahwa mahasiswa usia 18-24 tahun merupakan pengguna media sosial terbesar dan belanja daring menjadi aktivitas dominan di internet. Perubahan pola konsumsi akibat media sosial menimbulkan potensi perlilaku adiktif dalam berbelanja secara daring. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik pemilihan sampel purposive dengan kriteria sampel adalah mahasiswa Universitas Syiah Kuala yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari dan berbelanja daring minimal dua kali per bulan. Instrumen yang digunakan yaitu Social Networking Time Use Scale (SONTUS) dan Online Shopping Addiction Scale (OSAS). Hasil analisis menggunakan uji Spearman Rho menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial dengan kecenderungan adiksi belanja daring (p = 0,001; r = 0,190). Meskipun hubungan tersebut signifikan, kekuatannya tergolong sangat lemah. Hal ini menunjukkan bahwa semakin lama mahasiswa menggunakan media sosial, maka kecenderungan untuk mengalami adiksi belanja daring meningkat tetapi pengaruhnya tidak dominan. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin lama mahasiswa menggunakan media sosial, maka semakin besar kemungkinan mereka memiliki kecenderungan untuk mengalami adiksi belanja daring. Namun demikian, durasi penggunaan media sosial bukanlah satu-satunya faktor yang memengaruhi kecenderungan tersebut. Faktor-faktor lain seperti kondisi ekonomi, tujuan penggunaan media sosial, dan karakteristik individu turut berperan. Penelitian ini menyarankan agar mahasiswa memiliki kesadaran dalam mengelola waktu di media sosial guna mencegah perilaku konsumtif berlebihan.
Grit dan Work Life Balance Pada Mahasiswa Berstatus Menikah Afifah, Nida; Aprilia, Eka Dian; Safrina, Lely; Mawarpury, Marty
Syiah Kuala Psychology Journal Vol 1, No 2 (2023)
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/skpj.v1i2.28434

Abstract

Mahasiswa berstatus menikah memiliki peran sebagai mahasiswa, pendamping dan orangtua, oleh karena adanya peran dan tanggung jawab yang harus dijalani dalam satu waktu mahasiswa harus memiliki semangat dan konsistensi tinggi sehingga mampu menyeimbangkan waktu dan tanggung jawab di kedua peran tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan grit dengan work life balance pada mahasiswa yang berstatus menikah di Banda Aceh. Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode non probability sampling dan teknik purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah 60 mahasiswa yang berstatus menikah di Banda Aceh. Pengambilan data menggunakan alat ukur grit-s (=0.782) dan work life balance scale (=0.880) menggunakan analisis korelasi Spearman-Brown Formula. Hasil menunjukkan koefisien r=0,040 (p=0,759, p0,05) yang berarti tidak terdapat hubungan antara grit dan work life balance pada mahasiswa berstatus menikah, dengan tinjauan kategorisasi grit berada pada tingkat sedang (48%) dan work life balance berada pada tingkat rendah (75%). Hal ini dapat terjadi karena berbagai faktor yang dialami oleh mahasiswa berstatus menikah.Married students have roles as students, companions and parents, because there are roles and responsibilities that must be carried out at one time, students must have high enthusiasm and consistency so that they are able to balance time and responsibility in both roles. The purpose of this study was to see the relationship with the work life balance of students who are married in Banda Aceh. Using an approach with non-probability sampling methods and purposive sampling techniques. The sample in this study were 60 married students in Banda Aceh. Retrieval of data using a measuring instrument, grit-s (=0.782) and a work life balance scale (=0.880) and using the Spearman-Brown Formula feature analysis. The results show the coefficient of r=0.040 (p=0.759, p0.05), which means that there is no relationship between grit and work life balance in married students, with a review of the grit categorization being at a moderate level (48%) and the work life balance being at a low level (75%). This can occur due to various factors that support married students.