Claim Missing Document
Check
Articles

Kredibilitas Berita pada Akun Media Sosial dalam Meningkatkan Kepercayaan Followers Salim, Felicia; Loisa, Riris
Kiwari Vol. 5 No. 1 (2026): Kiwari
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ki.v5i1.36985

Abstract

This research is driven by the fast spread of information on social media, which requires trustworthy news to keep public faith. The primary question is how news credibility on the Instagram account @vereditum affects followers' trust. This study takes a quantitative approach, conducting a cross-sectional survey of 100 participants chosen using purposeful sampling. The primary ideas are news trustworthiness and follower trust, both measured using a Likert scale. Data was gathered through closed-ended questionnaires and documentation, then evaluated using validity and reliability studies, descriptive analysis, and simple linear regression. The findings indicate that news trustworthiness has a favorable and substantial influence on followers' confidence, as shown by the regression equation Y = 10. 312 + 0. 750X. An R Square value of 0. 492 suggests that about half of the variance in followers' trust is accounted for by news trustworthiness. These findings emphasize the significance of correctness, consistency, and dependability of information in gaining followers' confidence, as well as the function of news stories on social media as reliable sources of information. Penelitian ini didorong oleh penyebaran informasi yang cepat di media sosial, yang membutuhkan berita yang dapat dipercaya untuk menjaga kepercayaan publik. Penelitian ini ingin mengetahui bagaimana kredibilitas berita di akun Instagram @vereditum memengaruhi kepercayaan pengikut. Studi ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan melakukan survei lintas sektoral terhadap 100 partisipan yang dipilih menggunakan pengambilan sampel bertujuan. Ide utamanya adalah kepercayaan berita dan kepercayaan pengikut, keduanya diukur menggunakan skala Likert. Data dikumpulkan melalui kuesioner tertutup dan dokumentasi, kemudian dievaluasi menggunakan studi validitas dan reliabilitas, analisis deskriptif, dan regresi linier sederhana. Temuan menunjukkan bahwa kepercayaan berita memiliki pengaruh yang menguntungkan dan substansial terhadap kepercayaan pengikut, seperti yang ditunjukkan oleh persamaan regresi Y = 10,312 + 0,750X. Nilai R Kuadrat sebesar 0,492 menunjukkan bahwa sekitar setengah dari varians dalam kepercayaan pengikut dijelaskan oleh kepercayaan berita. Temuan ini menekankan pentingnya kebenaran, konsistensi, dan keandalan informasi dalam memperoleh kepercayaan pengikut, serta fungsi berita di media sosial sebagai sumber informasi yang dapat diandalkan.
Pengaruh Terpaan Konten Media Sosial Promotor terhadap Minat Beli Tiket Konser Gunawan, Thio Audrey Fransisca; Loisa, Riris
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36247

Abstract

The surge of the Korean Wave (Hallyu) in Indonesia has established social media as an essential instrument for concert promotion. This research investigates how exposure to Instagram content from @D, the organizer of the TDS 4 event,affects the purchase intentions of potential attendees. Grounded in Social Media Exposure theory and the AIDA marketing framework, the study utilized a survey-based approach. A sample of 100 dedicated fans and followers of @D was gathered through purposive sampling. Data analysis using simple linear regression confirms a statistically significant and positive correlation between social media engagement and the intent to buy tickets. Specifically, Instagram content exposure accounts for 58.3% of the variance in purchase intention. The results highlight that content relevance is the primary driver of consumer interest. Consequently, promoters are advised to refine the frequency and pertinence of their digital marketing strategies to further capitalize on the growing K-pop market.   Pesatnya tren Gelombang Korea (Hallyu) di Indonesia telah menempatkan media sosial sebagai instrumen promosi yang krusial bagi penyelenggaraan konser musik. Penelitian ini berupaya membedah sejauh mana paparan konten Instagram dari akun @D, selaku promotor TDS 4, memberikan dampak terhadap minat beli tiket calon penonton. Studi ini mengintegrasikan teori Terpaan Media Sosial dengan kerangka pemasaran AIDA. Melalui metode survei, data dihimpun dari 100 responden yang merupakan penggemar setia sekaligus pengikut @D yang dipilih menggunakan teknik pengumpulan data purposive sampling. Hasil analisis regresi linear sederhana membuktikan bahwa adanya pengaruh positif serta signifikan antara intensitas konten Instagram dengan keinginan membeli tiket. Temuan data menunjukkan bahwa paparan konten tersebut berkontribusi sebesar 58,3% terhadap fluktuasi minat beli tiket TDS 4. Faktor relevansi konten teridentifikasi sebagai elemen yang paling dominan dalam menarik perhatian audiens terhadap konten. Oleh karena itu, promotor disarankan untuk terus mengoptimalkan keterkaitan dan frekuensi publikasi digital guna memperkuat strategi pemasaran di masa mendatang.
Pemaknaan Publik terhadap Narasi Iklan dalam Platform Digital Christian, Charles; Loisa, Riris
Prologia Vol. 10 No. 1 (2026): Prologia
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/pr.v10i1.36467

Abstract

Over the past decade, the development of digital technology has significantly transformed marketing communication practices, particularly through digital advertising. One increasingly adopted approach is narrative, as it is considered effective in building emotional connections and creating more relevant experiences for audiences. This study aims to analyze how audiences interpret the narrative presented in a digital advertisement for a UHT milk product that offers a different approach compared to conventional milk advertisements, which typically emphasize nutritional value and positive family imagery. The research employs the narrative paradigm theory, focusing on the concepts of coherence and fidelity. A qualitative case study method was applied through in-depth interviews with four informants who had watched the advertisement. The findings reveal that audience interpretations vary, yet generally converge on a central meaning related to self-restoration and maintaining balance, both physically and emotionally. These results confirm that the meaning of digital advertising is constructed through the interaction between narrative structure and the audience’s lived experiences, rather than solely through the explicit message conveyed by the advertiser. Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir, telah membawa perubahan signifikan dalam praktik komunikasi pemasaran, khususnya melalui iklan digital. Salah satu pendekatan yang semakin sering digunakan adalah narasi, karena narasi diyakini mampu menghadirkan pengalaman yang lebih relevan bagi audiens. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana khalayak memaknai narasi dalam iklan digital produk susu UHT yang menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan iklan susu konvensional yang umumnya menekankan aspek gizi dan citra keluarga. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori paradigma naratif dengan menitikberatkan pada konsep koherensi dan fidelitas. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap empat informan yang telah menyaksikan iklan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan khalayak bersifat beragam, namun secara umum mengarah pada makna pemulihan dan penjagaan keseimbangan diri, baik secara fisik maupun emosional. Temuan ini menegaskan bahwa makna iklan digital terbentuk melalui interaksi antara struktur narasi dan pengalaman hidup audiens, bukan semata-mata dari pesan eksplisit yang disampaikan pembuat iklan.  
Peran Love Language dalam Komunikasi Keluarga Generasi Z untuk Membangun Self-Disclosure Kambey, Alannys Zefanya; Loisa, Riris
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.33277

Abstract

This study aims to analyze the role of love language in communication between parents and children of generation Z for self-disclosure. The love language proposed by Chapman (2014) includes five main forms: words of affirmation, acts of service, receiving gifts, quality time, and physical touch. The study used a qualitative approach with a phenomenological method. Data collection was carried out through in-depth interviews with six informants consisting of parents and children of generation Z. The results of the study showed that love language plays an important role in creating comfort, trust, and openness between parents and children. Self-disclosure occurs because of the comfort and trust that arise from smooth communication through love language. However, differences in understanding between parents and children can hinder the process of self-disclosure. This study recommends the importance of parents' understanding of their children's love language in order to strengthen family relationships. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana peran Love Language dalam komunikasi antara orang tua dan anak generasi Z untuk penyingkapan diri (self-disclosure). Love Langeage yang dikemukakan oleh Chapman (2014) mencakup lima bentuk utama: words of affirmation, act of service, receiving gift, quality time, dan physical touch. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi, Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari orang tua dan anak generasi Z. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa cinta berperan penting dalam menciptakan kenyamanan, kepercayaan, dan keterbukaan antara orang tua dan anak. Penyingkapan diri terjadi karena rasa nyaman dan kepercayaan yang muncul dari komunikasi yang berjalan lancar melalui bahasa cinta. Namun, perbedaan pemahaman antara orang tua dan anak dapat menghambat proses Self- Disclosure anak. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya pemahaman orang tua terhadap bahasa cinta anak guna mempererat hubungan keluarga.
Pola Komunikasi Pengguna Media Sosial dalam Perilaku People Pleasing terhadap Ekspektasi Sosial Anggraeni, Apriyani; Loisa, Riris; Irena, Lydia
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36378

Abstract

The development of technology and social media encourages users to adjust their communication patterns to gain social acceptance, which in turn gives rise to the phenomenon of people pleasing in the digital space. This study examines the communication patterns of Instagram users in meeting social expectations, particularly through the phenomenon of people-pleasing, from the perspective of Erving Goffman's dramaturgy. Social media, especially Instagram, is used by users to project a more perfect self-image as part of impression management, while their true identities are more often displayed in private spaces. This study uses a qualitative approach with a phenomenological method through in-depth interviews, observation of informants' Instagram accounts, and documentation. The results show that pressure from the social environment influences how a person communicates, selects content, edits posts, and chooses language to gain recognition from others. The phenomenon of people-pleasing emerges as a way to maintain a positive image and elicit responses from the audience through various channels such as stories, comments, and direct messages. The research findings also indicate that users utilize the DM feature as a place for more authentic interactions, while public posts become a "front stage" for presenting an ideal version of themselves. This research helps understand how social expectations shape communication in the digital world and emphasizes the importance of honest and balanced interactions. Perkembangan teknologi dan media sosial mendorong pengguna untuk menyesuaikan pola komunikasinya demi memperoleh penerimaan sosial, yang kemudian memunculkan fenomena people pleasing di ruang digital. Penelitian ini membahas pola komunikasi pengguna Instagram dalam berkomunikasi untuk memenuhi harapan sosial, khususnya melalui fenomena people pleasing, dilihat dari sudut pandang dramaturgi Erving Goffman. Media sosial, terutama Instagram, digunakan oleh pengguna untuk menunjukkan gambaran diri yang lebih sempurna sebagai bagian dari pengelolaan kesan, sementara identitas sebenarnya lebih sering ditampilkan di area pribadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi melalui wawancara mendalam, pengamatan akun Instagram informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekanan dari lingkungan sosial memengaruhi cara seseorang berkomunikasi, memilih konten, mengedit unggahan, serta memilih bahasa untuk memperoleh pengakuan dari orang lain. Fenomena people pleasing muncul sebagai cara untuk mempertahankan citra positif dan memancing respons dari audiens melalui berbagai saluran seperti story, komentar, dan pesan langsung. Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa pengguna memanfaatkan fitur DM sebagai tempat interaksi yang lebih autentik, sementara unggahan publik menjadi tempat "panggung depan" untuk menampilkan versi diri yang ideal. Penelitian ini membantu memahami bagaimana harapan sosial membentuk komunikasi di dunia digital dan menekankan pentingnya interaksi yang jujur serta seimbang.
Paparan Drama Tiongkok terhadap Pandangan Realitas Budaya Tiongkok pada Penonton di Indonesia Grace, Jennifer; Loisa, Riris
Koneksi Vol. 10 No. 1 (2026): Koneksi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/kn.v10i1.36464

Abstract

 This study is motivated by the growing penetration of Chinese dramas in Indonesia, which are increasingly competing with the dominance of Korean dramas, particularly among viewers aged 18–35 who are active consumers of digital media. This phenomenon indicates that foreign entertainment plays a role in shaping cross-cultural perceptions and has become part of the dynamics of cultural globalization. The study aims to measure the influence of exposure to foreign entertainment products on viewers’ perceptions of the reality of the producing culture, using Cultivation Theory as the main framework to explain how intensive and repetitive exposure can affect audiences’ understanding, attitudes, and behavioral tendencies. Variables such as frequency, duration, attention, and viewer involvement are derived from the concepts of media exposure and foreign entertainment, while the process of cultural perception formation is explained through the concept of stereotypes within the warmth–competence framework. This research employs a quantitative approach through an online survey of 100 respondents who meet the criteria of Chinese drama viewers. The findings affirm that foreign entertainment media plays a significant role as an agent of cultural transmission and contributes to shaping how audiences interpret cultural realities within the context of contemporary globalization.   Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penetrasi drama Tiongkok di Indonesia yang kini bersaing dengan dominasi drama Korea, terutama pada kelompok penonton berusia 18–35 tahun yang menjadi konsumen aktif media digital. Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan asing berperan dalam membentuk persepsi budaya lintas negara dan menjadi bagian dari dinamika globalisasi budaya. Studi ini bertujuan mengukur pengaruh terpaan produk hiburan asing terhadap pandangan tentang realitas budaya produsen dengan menggunakan Teori Kultivasi sebagai landasan utama untuk menjelaskan bagaimana terpaan yang intensif dan berulang mampu memengaruhi pemahaman, sikap, serta kecenderungan perilaku penonton. Variabel frekuensi, durasi, atensi, dan keterlibatan penonton dijelaskan melalui konsep terpaan media dan hiburan asing, sedangkan proses pembentukan persepsi budaya dijelaskan menggunakan konsep stereotip dalam kerangka warmth dan competence. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui survei daring kepada 100 responden yang memenuhi kriteria penonton drama Tiongkok. Temuan ini menegaskan bahwa media hiburan asing memiliki peran signifikan sebagai agen transmisi budaya dan turut membentuk cara audiens memaknai realitas budaya dalam konteks globalisasi kontemporer.