Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Fon

KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI KARYA BRIAN KHRISNA MENGGUNAKAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA Mufidah Yasya' Hayati; Alfian Rokhmansyah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/4kcx8e61

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur kepribadian tokoh utama dalam novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna menggunakan pendekatan psikoanalisis Sigmund Freud. Fokus utama kajian ini adalah mengungkap dinamika id, ego, dan superego yang melandasi perkembangan karakter tokoh Ale. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik analisis isi terhadap data tekstual berupa narasi dan dialog dalam novel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepribadian Ale dibentuk oleh interaksi dialektis antara ketiga komponen psikis tersebut. Id merepresentasikan dorongan impulsif akibat trauma, sementara ego berkembang sebagai mediator realitas yang melakukan kalkulasi logis, dan superego berfungsi sebagai pengawas moral yang menginternalisasi nilai-nilai kesopanan serta empati. Ditemukan adanya perkembangan persepsi psikologis yang signifikan pada tokoh Ale, di mana terjadi transformasi dari fase keterpurukan emosional menuju perbaikan psikologis yang positif. Kematangan emosional ini dicapai melalui keberhasilan ego dan superego dalam mengelola impuls destruktif, yang menunjukkan proses pendewasaan tokoh dalam menghadapi konflik batin dan realitas kehidupan. KATA KUNCI: Kepribadian; psikoanalisis; Sigmund Freud; tokoh utama; novel.     PERSONALITY OF THE MAIN CHARACTER IN BRIAN KHRISNA'S SEPORSI MIE AYAM SEBELUM MATI: A LITERARY PSYCHOLOGY APPROACH     ABSTRACT: This study aims to analyze the personality structure of the main character in the novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati by Brian Khrisna using Sigmund Freud's psychoanalytic approach. The primary focus of this research is to uncover the dynamics of the id, ego, and superego that underlie the character development of Ale. The method employed is descriptive qualitative with content analysis techniques applied to textual data, including narrations and dialogues within the novel. The results indicate that Ale's personality is shaped by the dialectical interaction between these three psychic components. The id represents impulsive drives resulting from trauma, while the ego develops as a reality mediator performing logical calculations, and the superego functions as a moral supervisor internalizing values of politeness and empathy. The study found a significant development in Ale's psychological perception, marked by a transformation from a phase of emotional distress toward positive psychological improvement. This emotional maturity is achieved through the success of the ego and superego in managing destructive impulses, reflecting the character's maturation process in facing internal conflicts and life's realities. KEYWORDS: Personality; psychoanalysis; Sigmund Freud; main character; novel.  
KAJIAN PSIKOANALISIS FREUD DALAM CERITA RAKYAT PUAN DAN SI TADDUNG Shinta Putri Nurdila; Alfian Rokhmansyah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 22 No 1 (2026)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/waq4mr46

Abstract

ABSTRAK: Cerita rakyat tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga media yang merekam nilai budaya dan dinamika kepribadian manusia. Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengungkap bagaimana struktur kepribadian Freud tercermin dalam tokoh cerita rakyat Puan dan Si Taddung. Tujuannya adalah menganalisis wujud id, ego, dan superego pada kedua tokoh utama serta menjelaskan peran ketiganya dalam membangun konflik naratif dan pesan moral. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis konten terhadap teks cerita. Data berupa tindakan, dialog, dan reaksi emosional tokoh dikumpulkan melalui pembacaan mendalam, lalu diklasifikasikan ke dalam kategori tematik id, ego, dan superego. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Puan didominasi oleh kerja ego dan superego, terlihat melalui pengendalian diri, kepatuhan pada norma sosial, dan pertimbangan moral. Sebaliknya, Si Taddung menunjukkan dominasi id melalui impulsivitas, pencarian kepuasan sesaat, dan pengabaian konsekuensi sosial. Pertemuan dan benturan ketiga struktur kepribadian tersebut membentuk alur konflik sekaligus menguatkan pesan moral mengenai pentingnya pengendalian diri dan tanggung jawab atas tindakan. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan psikoanalisis Freud efektif untuk mengungkap kompleksitas karakter dan menginterpretasikan nilai budaya yang terinternalisasi dalam cerita rakyat Nusantara. Selain itu, analisis ini menunjukkan bahwa cerita rakyat dapat dimanfaatkan sebagai medium pembelajaran sastra dan psikologi. Penerapan konsep id, ego, dan superego membantu pembaca melihat hubungan antara dorongan batin, pertimbangan rasional, dan suara moral. KATA KUNCI: Freud; Kepribadian, Konflik; Nusantara; Moral   A FREUDIAN PSYCHOANALYTIC ANALYSIS OF THE FOLKTALE PUAN DAN SI TADDUNG   ABSTRACT: Folktales serve not only as entertainment but also as a vital medium for recording cultural values and the dynamics of human personality. This research is motivated by the need to uncover how Freud's personality structure is reflected in the folktale characters Puan and Si Taddung. The aim is to analyze the id, ego, and superego in the two main characters and explain their roles in constructing narrative conflict and conveying moral messages. A descriptive qualitative method was employed using content analysis techniques applied to the story text. Data, consisting of the characters' actions, dialogues, and emotional reactions, were collected through in-depth reading, then classified into thematic categories corresponding to the id, ego, and superego. The results demonstrate that Puan is dominated by the work of the ego and superego, evidenced through self-control, adherence to social norms, and moral considerations. In contrast, Si Taddung exhibits id dominance through impulsivity, the pursuit of instant gratification, and disregard for social consequences. The encounter and clash of these three personality structures shape the conflict flow while simultaneously reinforcing the moral message regarding the importance of self-control and responsibility for one's actions. These findings confirm that Freud's psychoanalytic approach is effective in uncovering the complexity of character and interpreting the cultural values internalized in Indonesian folktales. Furthermore, this analysis shows that folktales can be utilized as a dual medium for studying literature and psychology. The application of the concepts of id, ego, and superego helps readers see the relationship between inner drives, rational considerations, and moral judgment. KEYWORDS: Freud; Personality; Conflict; Archipelago; Morals