Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Remaja, Media Sosial, dan Cyberbullying: Kajian Literatur Baranandita A, Fritamarcelin; Nur Amin Barokah Asfari
Flourishing Journal Vol. 2 No. 10 (2022)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um070v2i102022p650-655

Abstract

Social media and teenagers are interrelated and almost inseparable. Since the pandemic, the level of mobile phone usage has increased because learning activities and social interactions have moved online. So, the use of social media among teenagers has also increased. On the other hand, social media plays an important role in supporting social interaction between them. However, being active on social media makes you vulnerable to cyberbullying. Cyberbullying is a form of bullying behavior carried out using information technology, such as the internet and mobile phones. Activities in cyberspace lead to a higher risk of cyberbullying because social boundaries in cyberspace are considered looser than in the real world, so that the perpetrators feel more courageous and think they do not need to take responsibility for their actions. Cyberbullying can have an impact on the psychological and social conditions of teenagers. The role of parents and teachers is needed as a protective factor so that teenagers avoid cyberbullying, both as perpetrators and victims. Abstrak Media sosial dan remaja merupakan dua hal yang saling berkaitan dan hampir tidak dapat terpisahkan. Semenjak pandemi melanda, tingkat penggunaan gawai pun meningkat lantaran aktivitas belajar maupun interaksi sosial berpindah ke dunia maya. Seiring dengan hal tersebut, penggunaan media sosial di kalangan remaja pun ikut meningkat. Di satu sisi, media sosial berperan penting dalam menunjang interaksi sosial tetap berlangsung. Akan tetapi, beraktivitas di media sosial rentan mengalami cyberbullying. Cyberbullying merupakan bentuk perilaku perundungan yang dilakukan menggunakan teknologi informasi, seperti internet dan gawai. Cyberbullying ditandai dengan adanya perilaku yang sengaja ditujukan untuk menyakiti dan dilakukan berulang-ulang, Aktivitas di dunia maya menyebabkan resiko cyberbullying lebih tinggi sebab batasan sosial di dunia maya dianggap lebhi longgar dibandingkan di dunia nyata sehingga pelaku merasa lebih berani dan menganggap tidak perlu mempertanggungjawabkan perbuatannya. Cyberbullying dapat berdampak pada kondisi psikologis dan sosial remaja. Peran orang tua dan guru sangat diperlukan sebagai faktor protektif agar remaja terhindar dari cyberbullying, baik sebagai perilaku maupun korban.
Peran work-life balance dan dukungan sosial terhadap kepuasan kerja karyawan generasi Z Sekar Ayu Kinasih; Nur Amin Barokah Asfari
Acta Psychologia Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ap.v8i1.85878

Abstract

Penelitian ini menguji peran dari keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan dukungan sosial terhadap kepuasan kerja karyawan Generasi Z. Regresi linear berganda adalah metode analisis data yang diterapkan dalam studi ini. Penelitian ini melibatkan 162 karyawan Generasi Z, yang dipilih menggunakan teknik accidental sampling. Penelitian ini menggunakan skala untuk kepuasan kerja yang diadaptasi dari Minnesota Satisfaction Questionnaire (MSQ) ke dalam bahasa Indonesia oleh Dewinda et al. (2020), skala work-life balance yang diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dari skala Work-Life Balance oleh Gunawan et al. (2019), dan skala dukungan sosial yang diadaptasi oleh Sulistiani et al. (2022). Temuan menunjukkan bahwa: (1) Work-life balance dan dukungan sosial secara bersama-sama berkontribusi terhadap kepuasan kerja karyawan Generasi Z (p=0,000; F=22,529; R²=0,221); (2) Work-life balance tidak dapat memprediksi kepuasan kerja apabila menjadi prediktor tunggal (p=0,000; t=6,650); (3) Dukungan sosial dapat memprediksi kepuasan kerja apabila menjadi prediktor tunggal (p=0,000; t=6,650). Temuan studi ini menunjukkan bahwa karyawan Generasi Z merasa puas dengan pekerjaannya ketika dapat menyeimbangkan perannya di kehidupan pribadi dan pekerjaannya serta mendapatkan dukungan dari keluarga, teman, dan significant others.
Metacognition and Critical Thinking Among Indonesian College Students: Examining the Role of Cognitive Load as a Moderating Factor Nur Amin Barokah Asfari; Anjarie Dharmastuti; Rizka Fibria Nugrahani; Laila Indra Lestari; Callista Justine Margandhi; Clay Alcander Marchelius Teguh
IJIP : Indonesian Journal of Islamic Psychology Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Da'wa Faculty of Islamic State University Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijip.v8i1.5574

Abstract

This study examined whether cognitive load moderates the relationship between metacognition and critical thinking among students in Indonesia. A total of 201 undergraduate and diploma students participated by completing an online questionnaire using the Indonesian version of the Metacognitive Awareness Inventory (MAI), the Leppink et al. adaptation of the Cognitive Load Scale, and the Sosu adaptation of the Critical Thinking Disposition Scale. Results showed that metacognition had a significant positive effect on critical thinking (p<.001), explaining approximately 47-50% of the variance across models. However, intrinsic, extraneous, and germane cognitive load did not significantly moderate this relationship. The interaction between metacognitive awareness and critical thinking disposition remains stable across varying levels of perceived cognitive load. These findings highlight metacognition as a robust predictor of critical thinking disposition and suggest that perceived cognitive load may not substantially alter this relationship at the dispositional level. Rather than contradicting Cognitive Load Theory, the results refine its applicability by indicating that cognitive load effects may be more observable in performance-based contexts. Future research may explore whether cognitive load exerts stronger moderating effects on performance-based critical thinking tasks under experimentally manipulated conditions.